Pages

Monday, December 31, 2012

Misteri Villa forest garden - 6

Kembali Lia mengaduh dan merintih merasakan pedih dan rasa panas yang sangat tak terperikan pada lubang duburnya. Kontol Pedro yang terus mengocok-ngocok lubang itu sama sekali tak mengendorkan serangannya barang sedikit pun. Semakin keras rintihan yang kemudian disusul tangisan dari mulut Lia, semakin beringas pula Pedro menusukkan kontolnya ke dubur Lia. Hingga akhirnya Lia kembali pingsan. Dan itu justru membuat Pedro menggila. Dia meracau, mengumpat, mencaci. Semua kata-kata kotor bertebaran dalam ruang kamar pengantin yang sempit itu.

Sementara itu Tory telah siuman, dan Danny melihat Tory mendekatinya. Tanpa ba-bi-bu, Tory menerkam Danny. Ditelentangkannya Danny ke lantai. Rupanya Tory nafsunya bangkit kembali saat menyaksikan Pedro ngentot pantat Lia. Dan bagi Tory sama saja. Dia tidak akan sabar menunggu Pedro. Ditindihnya tubuh Danny, selangkangannya dipaksanya terbuka. Kemudian kaki-kaki Danny diangkat ke pundaknya. Kontol yang kaku besar panjang ngaceng itu tanpa menunggu pelumasan langsung ditembakkan ke anal Danny.

Saat itu Danny agak sadar, bahwa sebagai lelaki dia belum pernah dientot sesama lelaki. Tetapi Tory ini adalah tuannya, dan Danny adalah anjing setianya. Dia akan melayani Tory sebaik-baiknya. Direngkuhnya tubuh berotot Tory, dipeluknya. Dan saat Tory mendaratkan bibir tebal untuk melumat bibirnya, dia menyambutnya dengan penuh kegembiraan. Kegembiraan seekor anjing yang dapat memuaskan tuannya.

Tetapi, saat kontol besar panjang milik Tory itu benar-benar menusuk dengan tajam ke lubang pantatnya, sebagaimana yang dirasakan oleh Lia, seakan ada besi membara yang menghunjam pada analnya. Sakit, pedih, perih dan panasnya yang luar biasa. Kesakitan yang amat sangat yang menimpa Danny membuat pandangannya kabur, kabur, kabur.., kemudian gelap.., menyusul Lia istrinya, Danny ikut pingsan..

Pukul 7, pagi harinya..
Danny menggeliat. Panas matahari pagi yang menembus jendela kamar Villa Forest Garden jatuh ke wajahnya sehingga membuatnya tersadar. Samar-samar terlintas dalam ingatannya saat-saat yang sangat menyakitkan tadi malam, dengan perasaan yang penuh putus asa dan hati yang sangat kecut Danny membuka matanya pelan. Dimana Tory dan Pedro? Pantatnya masih terasa pedih karena tusukkan kontol Tory semalam.

Dilihatnya sekeliling kamar dengan ekor matanya, dan.. Dengan cepat serta penuh keterkejutan, serta merta Danny bangun dengan masih berbugil. Ini bukan kamar yang tadi malam, kamar ini adalah kamar yang diberikan oleh Tory penjaga villa untuk pasangan Danny dan Lia. Lukisan di dinding, lampu meja, gordyn, meja dan kursi rias itu. Dan pintu kamar itu.., sudah utuh kembali.. Pintu yang tadi malam hancur roboh diterjang para begundal itu..?

Lantas kamar yang tadi malam itu di mana? Apakah Tory dan Pedro memindahkan mereka kembali ke kamar ini?
Nampak Lia masih tidur disampingnya, yang kemudian juga menggeliat bangun disebabkan sinar matahari yang juga jatuh ke wajahnya.
'Lia ..', Danny memanggilnya pelan
Lia langsung membuka mata dan dengan gelagapan cepat bangkit duduk pula. Seperti halnya Danny, matanya juga menyapu interior kamar itu.
'Mas, kita dimana? Mana Tory dan Pedro ..?'.

Tapi Danny tidak langsung menjawab. Disingkapnya selimut istrinya. Masih sama-sama bugil. Di bukanya paha, selangkangan, dilihatnya mendekat, ada bercak darah mengering di pahanya. Itu pasti darah keperawanan Lia, tapi aku khan belum jadi bersanggama dengan kamu? Jadi..? Danny sepertinya protes. Atau kita hanya mimpi..? Mungkinkah ada mimpi kembar? Dua orang dalam mimpi yang sama? Mengalami kejadian yang sama? Dan akhirnya merasakan kepedihan yang sama pula? Tapi..

'Ssstt ..', dengan berjingkat Danny mengajak bangun.
Pertama-tama diintipnya keluar jendela. Aahh.., alangkah damainya. Pemandangan di luar jendela yang sangat asri dan segar. Nampak danau kecil di kejauhan yang ditimpa sinar matahari pagi, kabutnya belum sepenuhnya hilang dan kijang-kijang yang merumput. Indahnya alam ini.

Kemudian mereka menuju ke pintu. Masih terkunci tepat sebagaimana saat dia menguncinya tadi malam sebelum naik ke ranjang. Danny memutar kunci, klek.., dan memutar handlenya. Pintu terbuka. Dengan menuntun tangan Lia pelan-pelan, Danny melangkah keluar kamar, terus keluar, menuju beranda, tak ada meja besar, tak ada tiang obor itu, tak ada..

'Selamat pagi, Pak', sambut seorang lelaki tua, agak renta, disampingnya tampak lelaki yang agak muda, rasanya mereka bersaudara, mungkin bapak dengan anaknya.
'Pagii Pak, apa kabar?', Danny dan Lia berbareng menyahut.
'Bapak mau minum apa? Eeehh, maaf Pak. Saya baru bisa menghadap Bapak sekarang. Saya dan anak saya ini baru mudik dari desa seberang, maklum ada tetangga yang menikah, tidak enak kalau tidak datang..', Pak tua itu minta maaf pada pasangan Danny dan Lia.
'Ooohh yaa? Bapak ini siapa..?', tanya Danny dengan penuh curiga..
'Saya pelayan Pak Sumitra, Pak. Nama saya Tory. Dan ini anak saya Pedro yang menemani saya menjaga kebun Pak Sumitra ini..'.

Danny dan Lia tercekat. Tangan Lia yang langsung berkeringat dingin meremas tangan Danny.
'Ohh.., lantas yang tt..', Danny tidak menyelesaikan pertanyaannya karena keburu tangan Lia meremasnya agar tidak berbicara lebih jauh..
Suasana menjadi misterius. Tiba-tiba terdengar telepon berdering di kamar tidur mereka.
'Sebentar Pak..', Danny buru-buru beringsut sambil menarik tangan istrinya kembali ke kamar tidur.
Terdengar di ujung telepon, 'Hallo Danny, Lia, selamat bulan madu yaa..', itu suara Sumitra rekan Danny.
Lama Danny tidak menyahut, hingga, 'Hallo, ini Danny ya.., atau Lia..?'
'Yaa, yaa.. ini Danny.. apa kabar Pak Mitra?',
'Baikk, gimanaa.. enak tidur semalamm..?',
'Yaa.. enak Pakk.. terima kasih yaa..', Danny tidak ingin menceritakan peristiwa yang dialaminya.
'OK, baiklah, aku tidak akan mengganggu anda semua lho. Cuma cek dan ricek saja. Kalau perlu apa-apa suruh saja Pak Tory atau Pedro, mereka baik koq. Mereka sudah saya suruh untuk melayani sebaik-baiknya anda berdua. Jangan khawatir. O yaa, kalau ada perlu apa-apa telepon aku saja, nanti kubantu. Selamat Honey Moon.., byee..'.
Danny dan Lia langsung terduduk lemas. Lantas siapa yang mengaku Tory dan Pedro tadi malam? Dimana bunga sedap malam itu?
'Itu bukan mimpiku sendiri khan, Ma? Mama juga mimpi yang sama khan? Mama masih ingat saat pintu itu didobrak para begundal hingga hancur khan Ma? Mama lihat sendiri khan bagaimana ulah para begundal brutal itu?'
Pertanyan yang sama persis antara Danny dan Lia yang semua jawabannya semakin membuat misteriusnya apa yang dialami oleh Danny dan Lia semalam.

Dengan penasaran Danny menengok kamar sebelah. Terkunci. Dia perhatikan handlenya, diraihnya. Lho berdebu sekali, bukankah semalam Pedro membuka dan menutup pintu ini, yang tentunya meraih handle pintu ini..? Dengan alasan kagum dengan villa indah itu, Danny minta agar dibukakan pintu kamar itu pada Pak Tory. Agak lama Danny menunggu Pak Tory mengambil kunci.

'Maaf pak, kuncinya terselip di loteng, jadi saya cari dulu. Soalnya kamar ini sudah lama tidak pernah dibuka'.
Di kamar itu Danny melihat barang-barang tua, antik, yang ditumpuk begitu saja. Ada alat masak jaman Belanda, sendok garpu jaman Belanda, ada tangkai obor untuk para ambtenaar kalau bikin pesta kebun. Dan itu.., gramaphone di atas lemari tua.., Danny menggigil.
'Ini barang peninggalan pemilik lama Pak, orang Belanda, suami istri, kemudian diusir pulang ke negerinya karena ketahuan memperkosa pelayan lelakinya, aneh ya pak, sudah lama sekali, mungkin ada 70 tahun yang lalu, masih jaman Kompeni kata orang..', ujar Pak Tory.

Danny terkesiap mendengar cerita Pak Tory dan saat melihat barang-barang itu. Bukankah barang-barang ini yang tadi malam dipakai Tory untuk alat-alat makan malam? Dia tidak berani bertanya lebih jauh. Dia dapat mengira-ngira sendiri kurang lebih apa yang sebenarnya terjadi pada waktu itu.

Kemudian dia merapat ke dinding yang memisahkan kamar itu dengan kamar pengantin yang ditempatinya. Sekali lagi, Danny sungguh terkejut.., dilihatnya kotak yang dia gunakan sebagai tempat berdirinya semalam. Dan.. lubang itu.. tepat masih ada di situ.. Dan pada dinding itu.. Danny melihat ada cairan yang telah mengering.. Itu adalah spermanya yang muncrat tadi malam menyusul sesaat setelah Tory melepas spermanya juga.. Bulu kuduk Danny langsung berdiri..

Dan oleh karena ketakutannya yang amat sangat, dengan tanpa menunggu lebih lama lagi, Danny dan Lia memilih berbenah untuk pulang. Meninggalkan villa misterius itu. Setelah memberikan beberapa lembar ratusan ribu rupiah kepada Pak Tory dan Pedro, dengan alasan ada panggilan dari Jakarta, tanpa sempat meminum minuman yang disuguhkan oleh Pak Tory, Danny dan Lia segera meluncur membawa mobilnya, lari dari villa itu, pulang.

Sepanjang perjalanan mereka tidak banyak bicara. Masing-masing sepertinya telah terkena serangan trauma yang sangat hebat. Sangat menakutkan. Mereka berkesimpulan hutan tropis itu sangat angker. Apakah Pak Sumitra tidak tahu? Ataukah dia tidak percaya akan hal-hal seperti itu, sehingga dia tidak pernah memberi tahu padanya? Dan karena khawatir akan menimbulkan akibat yang tidak mengenakkan bagi kehidupan mereka berdua, Danny dan Lia sepakat untuk mengubur saja pengalaman yang mereka alami di villa itu. Mereka sepakat untuk tidak menceritakannya pada orang lain.

Dan pada akhirnya..
Tak ada hal yang berubah dalam pandangan umum pada kehidupan Danny dan Lia. Bagi orang lain di sekitar Danny dan Lia, keluarga di rumah, teman-teman kantor dan para relasi segalanya berjalan sebagaimana sebelumnya. Danny dan Lia secara teratur tetap rajin mengunjungi sanak saudaranya atau teman-temannya. Juga tidak pernah absen dari berbagai acara-acara keluarga maupun pertemuan-pertemuan antar teman sejawat.

Tetapi sebenarnya di luar pengetahuan orang lain, Danny dan Lia bukanlah Danny dan Lia yang pernah mereka kenal sebelum peristiwa bulan madu itu. Kini mereka menjadi pasangan yang paling terbuka dan dapat mengungkapkan masing-masing keinginannya dari lubuk hatinya yang paling dalam. Dan sekaligus dapat memenuhi harapan para undangan dalam pesta perkawinan mereka yang lalu, 'Semoga Danny dan Lia merupakan pasangan yang saling mendukung, membantu dan mengisi kekurangan yang satu terhadap yang lain'.

Pada suatu hari, sesaat setelah mereka berhubungan badan sebagaimana layaknya kehidupan suami istri.
'Mass.. aku rasanya koq ingin yang besaarr sekali.. bisa nggak, Mmaass..?',
'Oh yaa..? YANG HITAM yaa..? Aa.. aa.. aku ss.. setuju sekalii.., aku cc.. cariin yaa..?! Nanti aku yang NGELAYANIN yaa..?'.
Mata Lia nampak berbinar..

Jakarta, April 2003

Tamat

0 comments:

Post a Comment