Pages

Thursday, November 1, 2012

Petualangan Seks - 7

Aku menjilat bibirku yang belepotan sperma Burhan yang kental yang yang muncratnya tidak tepat ke mulutku. Ternyata rasa sperma itu berbeda-beda. Walaupun sama sekali tidak mengurangi kenikmatannya, aku merasakan sperma Burhan ini sangat pahit. Belakangan baru aku tahu dari dokter Boyke, seorang pakar seks, bahwa berbagai rasa mungkin akan berbeda dari sperma lelaki. Hal itu sangat dipengaruhi oleh makanan apa yang telah dikonsumsinya dalam 24 jam terakhir. Ia juga menyatakan bahwa sperma itu mengandung protein dan berbagai unsur vitamin lainnya. Informasi itu membuatku semakin senang dan selalu kehausan muntuk meminum sperma.

Burhan yang telah menumpahkan spermanya langsung telentang di kasur. Sementara Wijaya semakin cepat memompa memekku. Dan juga mulai kurasakan dan kulihat bagaimana wajah Wijaya yang menyeringai keenakan, pasti tak akan lama lagi Wijaya juga akan menyemprotkan air maninya. Kembali buru-buru kutarik Wijaya ke atas ranjang. Dan tanpa perlu kuminta lagi dia langsung berjongkok dan menyodorkan kontolnya ke mulutku dan langsung memompa kecil sementara mulutku mengulumnya.

Wijaya berteriak keras saat spermanya keluar. Kontolnya ditekankan ke mulutku dalam-dalam hingga menyentuh tenggorokanku. Hampir saja aku tersedak. Cairannya juga sangat kental dan hangat. Nikmat sekali mengenyam cairan sperma milik Wijaya ini. Kali ini aku merasakan rasa asin dan gurih. Sementara itu ternyata Burhan sudah kembali memasukkan kontolnya kembali ke memekku. Rupanya melihatku mengulum kontol Wijaya tadi, Burhan dengan cepat kembali horny dan ngaceng. Dia pompakan kembali kontolnya ke memekku. Burhan memompanya semakin cepat. Di lain pihak Wijaya masih belum bersedia mengangkat kontolnya dari mulutku. Tampaknya dia masih sangat horny juga.

"Mbak, aku pengin terus-terusan, nih, lihat Mbak Adit yang ayu", ujarnya.
Aku tidak dapat menjawab dengan kontolnya yang masih menyumbat ke mulutku. Aku hanya berkedip-kedip. Kemudian dia melepaskan kontolnya dari mulutku. Beringsut dari atas dadaku menuju ke kanan tubuhku dan menunduk. Bibirnya melumat bibirku dan tangannya meremas payudaraku beserta putingnya. Ahh., nikmat sekali dikeroyok dua lelaki yang hebat-hebat permainan seksnya.

Dan akhirnya Burhan berhasil mengisi lubang vaginaku dengan spermanya. Kehangatan cairannya di liang vaginaku itu sungguh membuatku sedemikian horny. Aku ingin mendapatkan orgasmeku dari mereka ini. Wijaya masih terus melumat bibirku dan kini bergerak untuk melumat dada dan payudaraku. Tanganku mencoba menggapai kontolnya. Sungguh hari yang luar biasa bagiku. Kontol Wijaya masih sangat tegar. Rupanya satu kali memuntahkan air maninya tidaklah cukup. Dia harus memuntahkannya lagi untuk yang kedua kali.

Aku merasa ini merupakan jalan untuk mencapai orgasmeku.
"Wid, tolong Mbak Adit kamu entot di nonok, ya sayangg..", bisikku.
Tentu saja itu bukan hanya sekedar permintaan bagi Wijaya. Tetapi itu lebih merupakan perintah mutlak yang dengan senang hati dia akan laksanakan. Dan tanpa perlu perintah susulan, Wijaya langsung turun dari ranjang menjemput nonokku. Kontolnya yang sudah ngaceng seperti tugu Monas langsung dihunjamkannya ke lubang memekku.

Wijaya langsung bergerak memompakan kontolnya di lubang vaginaku. Kenikmatan yang kuterima bukan main dahsyatnya. Kepalaku tak bisa diam, meggeleng ke kanan dan ke kiri menahan nikmat itu. Aku merintih dan mendesah. Kucari-cari tangan Burhan dan kutarik untuk agar rebah di sampingku.
"Burhaann, cium akuu.. Burhaann.. cium akuu..".
Dan langsung kurasakan lumatan bibir Burhan meruyak mulutku. Ludahnya kusedot. Kepalanya langsung kupeluk erat-erat agar aku dapat menciumnya lebih intens untuk menahan kenikmatan kontol Wijaya yang sangat gencar keluar dan masuk merobek-robek vaginaku. Dan saat rasa ingin kencing mendesak dari dalam vaginaku, segera kulepaskan mulutku dari mulut Burhan. Kupeluk tubuhnya hingga bibirku bisa kudaratkan pada bahunya. Dan tanpa ampun lagi gigiku menghunjam tajam masuk ke daging bahu Burhan.

Di tengah teriakan kesakitan dari mulut Burhan, memekku akhirnya mendapatkan kepuasannya. Aku meraih orgasmeku. Dan pada saat bersamaan pula, Wijaya juga mencengkeram kedua pahaku, pertanda dia telah mendapatkan orgasmenya pula.
Aku terkapar, Wijaya terkapar, begitu juga Burhan terkapar. Kami bertiga mendapatkan kepuasan tak terhingga. Sepi, kecuali tarikan nafas berat dan panjang dari kami bertiga. Kulihat jam tanganku, sudah pukul 6 sore, benar-benar lupa daratan.

Aku minta untuk cepat pulang. Mandi 5 menit, bersisir ala kadarnya, berdandan ala kadarnya. Kemudian aku keluar menemui Rendi. Sepi. Kulihat mobilnya sudah tidak ada. Ternyata dia benar-benar ngambek. Kedua temannya mentertawakan ulah Rendi tersebut. Mereka akan bertanggung jawab untukku hingga sampai di rumahku dengan selamat. Kami keluar dari villa pukul 6.15 menit. Mampir dulu di restoran Sunda kesukaanku, kami makan banyak sayuran dan sambal. Aku makan cukup banyak setelah kerja keras melayani Burhan dan Wijaya.

Pukul 8.30 aku sudah sampai di rumahku. Aku tidak berkeberatan mereka berdua mengantarku hingga sampai rumah. Tetangga tidak akan berfikir negatif kalau melihatku pulang beramai-ramai dengan 2 atau 3 orang teman. Aku sangat kelelahan hari itu. Pertama dan yang terutama aku lelah karena pikiranku pada Rendi. Sikap Rendi yang kuanggap bukan sikap lelaki. Hal itu sangat menyedot energiku. Yang kedua adalah karena untuk meraih 4 kali orgasme sebagaimana yang kudapatkan selama 2 hari berturut-turut ini ternyata memerlukan tenaga fisik dengan melayani 3 orang teman Mas Adit yang sangat menguras tenagaku.

Tetapi bagaimanapun aku merasakan kebahagiaan yang tak terhingga, bahwa ternyata aku masih bisa meraih orgasme, walaupun tidak dari suamiku sendiri. Aku sempatkan untuk mandi air panas sebelum tidur. Aku juga menyiapkan juice tomat dan yoghurt campur madu kesukaanku. Aku akan tidur istrirahat total malam ini. Aku sudah naik ke ranjang saat telepon berdering. Jam menunjukkan pukul 10.12 menit. Siapa yang meneleponku selarut ini? Mas Aditkah? Rendi? Atau siapa?

"Selamat Malam Bu Adit, saya Basri", kucoba mengingat siapa Basri.
"Saya yang suka nganter pulang Pak Adit Bu, saya Satpam kantor Pak Adit. Nanti kalau Pak Adit sudah pulang dari Banjarmasin, saya juga yang disuruh menjemput beliau di airport", begitu dia teruskan bicaranya hingga langsung mengingatkanku pada seorang Satpam muda di kantor Mas Adit.
"Maaf mengganggu Ibu malam-malam begini. Saya telepon Ibu tadi agak sore, tapi rupanya Ibu belum pulang dari Bogor", lho koq tahu-tahunya aku ke Bogor..?!

Pikiranku cepat berputar. Si Basri tahu kalau aku ke Bogor, tentunya pasti ada yang memberi tahu. Dan pasti "tahu"-nya itu tidak sekedar tahu begitu saja. Apakah Rendi..? Ah.. pasti dia. Rendi telah berbuat culas.
"Ya, kenapa Mas Basri..", tanyaku balik seakan tidak ada masalah apa-apa denganku.
"Begini Bu Adit, ntar hari Senin khan saya akan menjemput Pak Adit. Kalau beliau tanya tentang Ibu, bagaimana saya mesti menjawabnya..? Bahwa Bu Adit pergi ke Bogor, ke villa Pak Anggoro bersama Pak Burhan dan Pak Wijaya..?".

Kurang ajar juga Satpam kampungan ini. Kurang ajar sekali si Rendi ini. Aku terhenyak dengan ucapan Basri di telepon tadi. Aku masih terdiam ketika.
"Bagaimana kalau kita bicarakan saja malam ini, Bu? Saya tunggu Ibu di depan kompleks perumahan Ibu. Saya tunggu di Kijang saya. Saya tunggu benar lho Bu Adit, atau..".
Klik, telepon dimatikan. Aku belum sempat menjawab tetapi Basri telah memutuskan teleponnya. Dan menurutnya dalam telepon tadi, dia sekarang sedang menunggu di depan kompleks perumahanku ini dengan mobil Kijangnya. Ini pemerasan.. dia mau minta apa? Uang.. atau..? Aku tidak berani meneruskan pemikiranku. Jangan-jangan dia memintaku tidur dengannya.

Aku mencoba mengingat-ingat dan membayangkan postur si Basri ini. Aku perkirakan usianya sekitar 30 tahunan. Kulitnya yang hitam karena banyak terjemur, dibungkus dengan seragam putih dan celana birunya. Ada tali peluit di kantongnya dan ikat pinggangnya yang keemasan karena rajin dibraso. Sebagai Satpam di kantor suamiku, Basri dipilh dari banyak calon yang memenuhi syarat. Antara lain penampilannya harus gagah, badan sehat, tegas, pintar bela diri dan lain-lainnya. Dan postur seperti Basri memang meyakinkan untuk menjadikannya sebagai satpam kantor. Aku akan mendiamkannya saja. Biarlah pemerasan tinggal pemerasan. Dan sungguh suatu hal yang sangat tidak mengenal perikemanusiaan untuk memeras perempuan seperti aku di malam hari begini. Ah, persetan. Kutunggu saja apa yang akan dikerjakan Basri selanjutnya.

Tetapi aku jadi tidak bisa tidur. Aku jadi merasa tertekan. Apa mau Basri sebenarnya? Apa mau Rendi? Mungkinkah dia sengaja menghinaku? Merendahkanku? Dasar serigala pengecut. Akan halnya Basri, memang dia cukup berotot sebagai satpam, pantaslah. Dan bagaimana jika dia memerasku dengan memintanya untuk tidur dengannya? Akan kuturutikah? Keterlaluan, bagaimana pula kata orang nanti? Bagaimana kata Rendi yang pengecut itu nanti? Dan lagi, bagaimana mungkin aku keluar rumah pada malam-malam begini? Apa kata tetangga nanti? Kemudian kalau ini adalah memang hasil pemikiran Rendi, akankah hal ini akan dapat diselesaikan cukup dengan satu orang seperti Basri ini? Karena nanti pasti dia juga akan menyebarkannya kepada orang lain.

Aku semakin bingung ketika telepon kembali berdering.
"Bagaimana Bu..? Saya sudah tidak sabar nih..", nadanya jelas-jelas mengancam.
"Pak Basri mau ngapain? Ini khan udah malam, aku tidak enak sama tetangga. Dan terus terang aku takut malam-malam begini. Besok saja telepon lagi!", telepon aku banting.
Ganti aku sekarang yang memutuskan telepon. Agar dia tahu bahwa aku tidak bisa diperas seenaknya. Telepon langsung berdering kembali.
"Kalau Ibu berani ke Bogor, terang-terangan di gilir bertiga selama dua hari berturut-turut, kenapa sekarang takut keluar rumah. Ini Jakarta Bu, jam 10 malam itu masih sore untuk orang Jakarta".
Wah, benar-benar sudah nekat rupanya si Basri. Aku tidak menjawabnya dan langsung kututup kembali.

Kembali dering itu terdengar lagi, mukaku sudah memerah karena amarah yang sangat.
"Kalau Ibu tidak mau pergi sama saya sekarang, saya tidak bisa apa-apa kalau Pak Adit nanti tanya soal Ibu di Bogor itu. Terus terang Bu, saya juga ingin merasakan tidur dengan Ibu. Dan saya yakin bisa memberikan kepuasan pada Ibu lebih dari tiga orang teman Pak Adit itu. Ayolah Bu.., kasih kesempatan saya. Atau saya jemput Ibu ke rumah saja?".
"Terserah..!, kubanting lagi telepon itu untuk yang ketiga kalinya.
Tetapi jawabanku terserah itu? Apakah aku memang berniat memenuhi permintaannya? Aku jadi bingung. Ini semua memang rekayasa Rendi yang gila itu. Aku jadi pasrah. Aku tak biasa ditekan macam begini. Aku cepat menyerah. Aku mau apa lagi? Dan itu dia, datanglah si Basri brengsek itu. Yang kini terpikir olehku sekarang adalah, bagaimana caraku agar hal ini tidak mencolok pada pandangan tetangga kanan-kiriku. Bagaimana aku harus bersandiwara. Aku harus mengajak si Basri juga untuk bersandiwara. Sialan kamu Rendi..!

Aku bergerak bangkit. Kunyalakan terang-terang semua lampu rumah. Lampu halaman, lampu beranda, lampu ruang tamu, lampu ruang makan. Semuanya jadi terang benderang saat Basri datang dan masuk rumah. Perhitunganku adalah dengan cara itu, akan mengurangi kecurigaan tetangga bahwa di malam hari begini aku menerima lelaki asing dalam suasana remang-remang. Kusambut Basri dengan ramah di depan pintu, untuk memberikan kesan bahwa yang datang adalah sanak familiku hingga Basri sendiri heran.

Dan kubuka lebar-lebar ruang tamu di mana Basri kupersilakan duduk saat akan masuk rumah. Dan aku sendiri juga menemaninya duduk layaknya seseorang menerima tamu keluarganya. Aku juga berbicara keras-keras dan tertawa-tawa, sambil mengisyaratkan kedipan mataku pada Basri untuk juga mengikuti sandiwara ini. Basri tahu, dan cepat menyesuaikan diri. Dia berlagak bebas di rumahku, berdiri, jalan sana-sini, melihat fotoku bersama Mas Adit di tembok dan sebagainya.

Bersambung . . . .

0 comments:

Post a Comment