Pages

Thursday, November 1, 2012

Petualangan Seks - 1

Dari Banjarmasin, Mas Adit telepon bahwa besok, temannya yang bernama Rendi, mau ambil beberapa file penting yang ada dikomputer rumah untuk keperluan kantornya. Aku sempat berpikir, selama 8 tahun pernikahan, rasanya belum pernah ada tamu lelaki saat Mas Adit tidak di rumah. Ah, mungkin ini hanya kebetulan saja. Dan Mas Adit sendiri yang meminta agar aku menerima temannya itu karena ada hal, tentu yang sangat penting, yang harus di ambil dari komputernya.

Besoknya, sekitar pukul 9 pagi, ada mobil parkir di depan rumah. Seorang pemuda, tampan dan jangkung memakai jaket untuk membungkus badannya yang bidang, turun dari mobil itu, menyampaikan hormatnya.
"Pagi Bu. IBu Adit? Saya Rendi, Bu. Apakah Pak Adit sudah menelepon Ibu, bahwa saya akan kemari? Saya memerlukan beberapa file di komputer beliau untuk keperluan kantor yang harus saya dapatkan hari ini, Bu. Saya harap tidak akan mengganggu Ibu".
"O, ya, Dik Rendi ya. Ya, kemarin Mas Adit telepon saya. Silakan masuk, komputernya di sini dik", aku persilakan Rendi mengikutiku ke tempat ruang kerja Mas Adit.
Dia membuka jaketnya, mungkin merasa gerah di rumahku yang sempit ini. Aku lihat dia keluarkan beberapa lembar disket dari kantong kemejanya dan langsung menyalakan komputer Mas Adit. Aku sempat pula melirik dengan rasa kagum akan postur tubuhnya yang bidang itu.

Aku menawarkannya minum.
"Terima kasih Bu, jangan merepotkan Ibu. Saya tidak lama koq".
"Ya, aku buatkan saja teh panas di cangkir".
Kemudian nampak Rendi mulai berkutat di depan monitor dan keyboard mencari file yang dimaksud. Rupanya Mas Adit sudah memberikan ancar-ancar di lokasi dan folder mana, sehingga file itu langsung Rendi dapatkan dan nampak dia telah menekan ikon copy ke directory A, tempat disket yang dibawa Rendi tadi. Mungkin hanya sekitar 10 menit, semua yang dilakukannya telah selesai. Kemudian Rendi minta ijin untuk ke toilet sebentar.
"Silakan, itu di samping ruang makan", kupersilakan dia.

Tak ada hal-hal yang istimewa dari kedatangan Rendi pagi ini. Kecuali memang kalau aku perhatikan teman Mas Adit ini termasuk pria yang tampan. Penampilannya nampak bersih dan apik. Maklumlah orang kantoran. Dia harus tampil "perfect" di depan para relasinya. Sementara Rendi ke toilet, aku melanjutkan bebenah kamar tidurku sebagaimana yang rutin aku lakukan setiap pagi hari. Beberapa saat kemudian aku mendengar pintu kamar mandi terbuka dan langkah Rendi kembali menuju komputer di ruang kerja suamiku. Karena tanggung oleh pekerjaanku di kamar tidur aku tidak serta merta menyambanginya. "Ah, teman Mas Adit ini saja", pikirku. Saat itu aku sedang membetulkan seprei ranjang bekas aku tidur semalam. Pintu kamar tidurku terbuka dan kebetulan aku sedang dalam posisi bertumpu pada lututku di lantai membelakangi pintu kamar.

Aku mendengar suara langkah yang halus.
"Bu.., Bu Adit..", kudengar suara Rendi dan aku menoleh ke pintu. Aachh, apa yang nampak berada tepat di belakangku sama sekali berada di luar nalarku. Rendi, Rendi, benarkah ini, benarkah kamu Rendi. Di depanku yang sedang berposisi setengah jongkok di lantai, Rendi berdiri tanpa celana panjangnya dengan kontolnya yang keluar dari samping celana dalam putihnya dan diacung-acungkannya padaku. Sementara itu kemejanya juga setengah terbuka hingga menampakkan gumpalan dadanya.

Bagai terkena sihir nenek lampir, aku terpana, tak berkutik serasa ikan duyung yang terjerat dalam jaring nelayan, tak berdaya, dikarenakan seluruh bentuk kehendak dan jiwaku langsung terlempar jauh melayang tanpa tahu ke tempat mana akan jatuh tujuannya. Dan sihir itu juga membuat mataku langsung tak mampu berkedip maupun mengelak atau melepas pandanganku pada kontol Rendi yang hanya berjarak sekitar 2 jengkal dari wajahku. Aku langsung lumpuh, jatuh terduduk dengan punggungku yang tersandar pada ranjang. Aku ditimpa shock hebat hingga kehilangan setengah kesadaranku. Bahkan telingaku juga serasa tuli kecuali hanya mendengar suara jantungku yang dengan kerasnya sekana memukuli dadaku. Tidak sepenuhnya sadar pula ketika tanganku menggapai-gapai tepian ranjang untuk berpegangan agar tubuhku tidak limbung terjatuh.

"Mbak Adit..", itu suara bisikan.
Suara Rendi. Rendi bersuara dalam bisikan. Tetapi karena hanya suara itu, di samping suara jantungku sendiri yang memukuli dada, bisikkan itu terasa seperti suara guruh yang menggulung membahana di telingaku. Aku ingin sekali menyahut suara Rendi, semacam refleks reaktif dari apa yang membuatku shock hebat ini, tetapi lidahku dijerat kelu. Akupun seketika bisu total.

Dan mataku, oohh mataku, kenapa aku tidak mampu melepaskan pandanganku pada kontol itu. Dan leherku, mengapa leherku juga terbawa beku dan tidak mampu untuk memalingkan wajahku dari kemaluan Rendi itu. Dan yang terasa memukau pandangan dan perasaanku itu adalah adanya semacam pesona. Wajah dan mataku terpaku pada pesona erotik yang sensasional dan sangat spektakuler, kontol itu, betapa indahnya, betapa sedapnya, betapa nikmatnya. Rasanya aku tak lagi memiliki kesabaran untuk mengulum, mencium dan menjilati kontol seperti itu. Dan kepalanya itu yang bak jamur memerah mengkilat dikarenakan seluruh darah yang telah mendesak di sana. Lubang kencingnya yang nampak berlubang gelap di tengah bibir lubangnya yang begitu ranum. Warna batangnya yang coklat muda kemerahan yang dikelilingi urat-uratnya yang juga demikian indahnya, tampak sangat serasi dan sangat bersih. Tak terbayangkan bahwa ada kontol seindah itu di dunia. Penampilan kontol itu mencuatkan refleks biologisku. Lidahku bergerak menjilat bibir. Betapa ingin aku melumatinya. Aku menelan liurku sendiri dalam upaya menekan keinginan yang meledak-ledak untuk menelan kontol itu.

"Mbak Adit..", kembali bisikan itu terdengar.
Kali ini sedikit memberikan kesadaran bagiku. Aku menyadari bahwa kini Rendi memanggilku "Mbak", bukan lagi "Ibu". Aku jadi menyadari bahwa dia ingin lebih dekat kepadaku. Dan memang, kontol yang sangat mempesonakan mata dan hatiku itu sepertinya sengaja kuundang untuk bergerak mendekat.
Dan dengan sekali bisikan lagi, "Mbak Adit..", kontol itu telah menyentuh wajahku.
Mengusap-usap pipi, hidung dan bibirku. Langsung aroma kelelakian Rendi menerpa hidungku, yang kemudian menembus masuk keparu-paruku dan dengan tajamnya menghunjam ke sanubariku. Sihir nenek lampir itu dengan seketika membuatku lumpuh total. Dan aku tak mampu menolak saat kontol yang terus diusap-usapkan serta mendesak wajahku dan memaksa bibirku terkuak. Rendi terus mendesak-desakkan kontolnya itu, terus mendesak. Dan aku, hidungku, bibirku dan lidahku bak anak kecil yang disodori es cream yang super lezat hingga ingin langsung menjilatinya.

Dan kini, dengan disertai desah dan lenguh dari mulutku, bibirku pelan-pelan begerak melumat. Lidahku mulai menjilati jamur itu. Aku, bibirku mulai mengulum daging yang terasa kenyal itu di dalam mulutku. Kukulum, dan kemudian lidahku memindahkan segala rasa pada jamur itu dan membawanya masuk ke mulutku. Kontol itu benar-benar telah meruntuhkanku. Kontol itu telah meringkusku. Kontol itu telah membuatku kehilangan nalar sebagai istri setia Mas Adit. Kontol itu telah meluluh lantakkan dan melumatkanku sebagai istri yang untuk kesekian kalinya telah ingkar dan berselingkuh pada suaminya. Pesonanya yang dahsyat dalam bentuknya yang indah sensual, ototnya yang membuat batangnya menjadi sangat keras dan berkilat serta kekuatan erotik yang memancar dari kontol Rendi itu membuatku kini terduduk dengan bibirku yang penuh terjejali dan melumatinya.

"Aacchh.. Mbak Adit.. aachh.. Marini.., kamu cantik sekalii Marr.. bibirmu sangat indah Mbak Marr..", desah nikmat Rendi demi melihat bibir mungilku yang telah penuh oleh kontolnya.
Aku tidak lagi peduli akan suara-suara di sekitarku, yang kupedulikan kini adalah bibirku yang terus melumat-lumat dikarenakan pancaran pesona dahsyat kontol Rendi yang aroma, besar dan panjangnya mampu membuatku terlempar melayang dalam jerat erotik tanpa batas.

Belum pernah aku menyaksikan pesona kontol seindah, sebesar dan sepanjang itu. Aku tidak mampu mengukur seberapa besar ukuran sebenarnya. Yang kucoba mengingatnya hanyalah bahwa ukuran kontol Rendi yang mungkin 3 atau bahkan 5 kali lebih besar dan lebih panjang daripada kontol Mas Adit, hingga pesona erotiknya dapat melambungkan nafsu birahiku hingga jutaan kali nikmatnya. Oohh, ampuni aku Mass, aku telah terjajah dan diinjak-injak oleh birahiku sendiri Maass.. ampuni aku Maass..

Kini aku mulai menyadari bahwa sihir yang menimpaku ini adalah gelombang dahsyat yang menyeret dan menguras seluruh libidoku. Kontol Rendi telah membangkitkan gelombang dahsyat pada diri pribadiku. Dan mata hatiku, sang nakoda yang lemah ini, tak mampu lagi menanggulanginya kecuali akhirnya pasrah dalam sejuta kenikmatan yang ada dalam ingkar dan selingkuh pada suaminya. Dan yang terasa kini adalah prahara birahi yang merambat seluruh nurani dan organ-organ tubuhku. Dan saat ada tangan-tangan yang membongkar dan melepas busanaku, aku telah berada dalam penantian yang penuh nafsu. Dan ketika terasa jari-jari tangan Rendi memelintir puting susuku, tak terbayangkan lagi, entah di langit yang ke berapa aku melayang-layang dalam nikmat birahi tak terperikan ini.

Tiba-tiba saja kusadari bahwa tubuhku telah telanjang bulat. Dan tiba-tiba kusadarai bahwa Rendi juga telah dalam keadaan telanjang bulat dengan selangkangannya yang mengangkangi wajahku. Dan aku menjadi seperti anak lembu yang menyungkupkan mulutnya ke susu induknya untuk mencari jawaban atas kehausannya yang melanda dengan hebat. Mulutku dan bibirku kusorong-sorongkan ke biji pelir dan pangkal kontol Rendi untuk meraih kenikmatan yang telah Rendi siapkan sepenuhnya.

Tanganku yang kini tak bisa kutolak kemauannya itu, ikut ambil bagian menggenggam kontol Rendi, menaikkannya lekat-lekat ke perutku hingga kini mulutku lebih leluasa mencium dan menjilati pangkal dan bantangan kontol itu. Desahan dan rintihan yang terus keluar dari mulut Rendi menjadi pendorong semangat mulutku agar lebih ganas menjilatinya. Cekalan jari-jari Rendi pada urai rambutku menjadikanku lebih liar menyusup-nyusup ke biji pelirnya. Aku kini telah sepenuhnya terbakar nafsu birahiku. Tak ada lagi hambatan dan rambu-rambu yang bisa menghentikan.

Tidak ada protes dan sanggahan saat tangan-tangan kokoh Rendi mengangkat dan membimbing tubuhku naik ke ranjang. Dengan pantatku tetap di tepian ranjang dan lutut yang bertumpu di lantai, aku telungkup di kasur tempat tidur pengantinku yang biasa aku tiduri bersama Mas Adit suamiku. Dan tanpa ada waktu untuk berfikir, aku rasakan tubuh Rendi sudah menindih tubuhku. Dia pagut kudukku, dia pagut leherku, dia pagut tengkukku, bahuku, dia pagut dan jilati seluruh bukit dan dataran punggungku. Dia tinggalkan cupang-cupang berserak bekas-bekas sedotan hisapan bibirnya di seluruh wilayah yang dijarah bibir dan lidahnya. Dia buat kuyup seluruh pori-pori tubuhku. Tangannya menggapai tangan-tanganku yang terentang di kasur, dia remasi jari-jariku untuk bersama-sama menelusuri nikmat. Dan itulah awal tangan-tangan Rendi memulai menyusuri lenganku hingga wilayah ketiakku yang terus berlanjut ke buah dadaku.

Remasan-remasan tangannya ke kedua payudaraku memaksak mendesah dan merintih dengan hebatnya.
"Rendii.. ampuunn.. Rendii..".
Dan kemudian aku langsung terhempas ke awang-awang yang sangat tinggi saat bibir dan lidahnya meluncur dari punggungku, melewati wilayah pinggulku langsung turun lagi untuk mendesak belahan pantatku.

Bersambung . . . .

0 comments:

Post a Comment