Pages

Tuesday, November 27, 2012

Kehidupan seksku - 4

Malam itu aku 'habis' digumuli oleh kedua lelaki muda perkasa itu dan entah kapan berakhirnya serta berapa kali aku mengalami orgasme, yang jelas aku sudah tertidur pulas tanpa tahu kapan mereka pergi.

Waktu berjalan terus dan tak terasa sebulan lebih telah lewat sejak kali terakhir itu, kulihat anak-anak sedang bermain serta menonton TV dan bergurau dengan suamiku. Aku sempat tercenung.., salahkah aku bila mengikuti irama nafsu yang kini seringkali melanda..? Namun suamiku sendiri tampak semakin sayang dan kami menjadi semakin dekat dan terbuka, tidak ada lagi batasan antara kami untuk membicarakan sesuatu, bahkan fantasi sex yang paling liar pun dapat kami bicarakan dengan terbuka dan bahkan direalisasikan dan menyenangkan kami berdua.

Ridwan suamiku sendiri tidak berkeberatan dan bahkan sangat senang dengan gejolak dan gelora birahiku sejak aku disentuh oleh laki-laki lain di hadapannya dan menjadi seperti air bah yang bobol melewati bendungan, dan hubungan sex kami memang menjadi sangat intens, boleh dikata kini tiada hari tanpa sex antara kami berdua, tentunya kalau aku sedang 'lampu merah' ya stop dulu, hanya itu saja.

"Hai..", aku terkejut mendengar seruan suamiku di dekat telingaku.
"Ngelamun apa Ma..?", tanyanya.
"Ah.., Nggak..", aku menjawab sekenanya karena anak-anak memperhatikan kami. Baru setelah mereka tidur aku menceritakan kegundahanku pada suamiku yang lalu berupaya menghiburku.
"Ma.. Kita ini kan terikat pada suatu ikatan pernikahan dengan dasar cinta yang sangat kuat.., apa yang kita lakukan menurutku.., sepanjang kita lakukan dengan sadar, tanpa paksaan.. ataupun keterpaksaan.. dan benar benar dapat dinikmati oleh kita berdua.. Mengapa tidak?", katanya lagi.
"Tapi Mas.. Fifi cuma ingin tahu.. salah atau nggak sih.., kalau menikmati.. ya memang.., kalau terpaksa nggak.. dipaksa juga nggak.. Tapi apapun juga jangan sampai ada yang harus dikorbankan", jawabku.
"OK.. gini deh.., besok kita cari jawabannya dan yakinlah.." suamiku mengakhiri percakapan malam itu dengan memberi kecupan mesra padaku.

Pada sore hari esoknya, suamiku pulang cepat lalu mengajakku pergi, tentu saja anak-anak ingin ikut, namun dengan janji akhir minggu nanti akan diajak rekreasi, mereka akhirnya tenang dan mau tetap tinggal di rumah dengan pembantu tua yang sudah lama ikut kami.

Lalu kami menuju daerah Blok M, Jakarta Selatan dan berbelok di suatu jalan dengan pohon-pohon yang masih rindang. Suamiku memarkir mobilnya di depan sebuah rumah besar dengan papan nama Dr.., (nama seorang seksolog yang sangat terkenal karena kerap muncul di berbagai media massa).

Pada awalnya aku agak sungkan untuk ikut masuk, namun suamiku berhasil meyakinkanku dan setelah mendaftar yang ternyata suamiku sudah membuatkan janji sebelumnya, kami segera berada di dalam kamar praktek dokter psikolog yang selama ini hanya nama dan wajahnya saja yang kukenal lewat tulisan-tulisan dan komentarnya di acara TV.

Dengan ramah beliau yang penampilannya persis seperti di TV menanyakan permasalahan kami dan aku hanya bisa diam tertunduk, suamikulah yang lalu berbicara dan menceritakan seluruh kehidupan kami dengan jelas namun singkat, maklum dia seorang pelaku bisnis, jadi gaya bicaranya jelas dan sistematis, beda denganku yang sering kurang fokus. Dengan senyum yang tak pernah lepas, dokter itu lalu menjawab..

"Hmm.. Sebenarnya hal yang kalian utarakan itu adalah hal yang umum, banyak sekali pasangan yang melakukannya, dan di negara-negara barat bahkan sudah jauh lebih terbuka, memang di sini kadang-kadang masih memegang adab.. (dengan bisik jenaka).. Apa-apa ditabukan tapi kalau nggak ada yang lihat dilakukan dengan semangat.." dan dengan cerdasnya beliau berbicara hingga dapat memecahkan kebekuan suasana, bahkan aku pun jadi berani untuk ikut bertanya juga.

"Inti dari pasangan suami istri yang sehat adalah keterbukaan dan kalian telah memiliki hal tersebut, perihal perilaku sex, menurut saya sepanjang dikehendaki oleh kedua pihak, tidak akan menimbulkan akibat kesehatan, dan secara nurani dapat diterima oleh pasangan tersebut.. Ingat.. Secara nurani hanya oleh pasangan yang bersangkutan.. Bukannya oleh masyarakat, karena yang menjalaninya adalah kalian.. Sepanjang dapat menikmatinya.. Saya yakin tidak masalah", katanya menegaskan.

"Namun..", lanjutnya, "Ada beberapa pasangan atau orang yang terikat penuh.. Pada adat, budaya dan mungkin juga ajaran agama.. Hingga tidak dapat berdamai dengan dirinya dalam hal ini. Nah.. Untuk yang seperti itu.. Jangan dilakukan.. Karena akan timbul akibat psikologis yang tidak sehat, banyak orang seperti itu di dunia ini, ingin.. Tapi.. terikat pada hal-hal tadi.., akibatnya menjadi tidak baik, saling menyalahkan dan seterusnya yang berujung pada keretakan".

"Ada satu hal lagi pada pasangan dengan lifestyle seperti yang kalian jalani, kalau bertengkar janganlah menggunakan alasan hubungan sex yang telah dijalani atas kemauan bersama itu untuk mencaci maki, kalau itu dilanggar wah.. akibatnya berat.. paham?", tanyanya dan kami seperti anak SD saja hanya dapat mengangguk mengiyakan.

Pertemuan dengan psikolog kondang itu sungguh melegakan hatiku dan suamiku juga tampak senang karena ternyata 'teori' yang selama ini disampaikan padaku sejalan.

Kembali waktu berjalan dengan cepatnya. Hari itu kami sedang berada di sebuah bungalow di daerah Anyer, berlibur dengan anak-anak dan seperti umumnya bungalow, kami juga punya 'tetangga'. Di sebelah kiri kami ditempati sepasang suami istri dengan usia yang sebaya kami, dengan dua orang anak yang juga sebaya dengan anak kami, dan di sebelah kanan tinggal dua orang pemuda yang nampaknya sedang berlibur dan seharian cuma bermain jetski yang dibawanya sendiri dengan kendaraan khusus.

Pada hari kedua kami sudah saling akrab dengan Mas Willy dan Mbak Ratih, tetangga di bungalow sebelah kiri yang terlihat sangat serasi. Mas Willy berkulit putih, tinggi atletis berusia sebaya Mas Ridwan, dan istrinya juga sangat cantik, dengan payudara yang jauh lebih besar daripada punyaku, kutaksir berukuran sekitar 38. Aku dapat melihat dengan jelas bagaimana payudaranya berguncang ketika ia berkejaran dengan anak-anaknya di pantai siang tadi. Sementara Firman dan Yudi, tetangga sebelah kananku, keduanya adalah mahasiswa dari Jakarta. Terlihat jelas mereka adalah anak orang kaya, dan yang paling mengherankanku adalah bahwa Mas Ridwan suamiku dan Mas Willy sangat cepat menjadi akrab seakan sudah bersahabat bertahun-tahun.

"Tok.. Tok..", suara pintu depan yang diketuk membuatku bangkit dari tempat dudukku dan meletakkan novel yang sedang kubaca.
"Malam.., Mbak jangan tidur sore-sore.. Kita bikin barbekyu dulu di halaman belakang..", Mas Willy yang berdiri di depan pintu sudah nyerocos menjelaskan maksud kedatangannya.
"Ng.. Tapi kami sudah makan..", jawabku sambil melirik jam..

Wah.. Sudah jam 10 malam, memang sudah sepi, dan anak-anak sudah lelap kecapekan bermain seharian penuh.

"Ah.. Pantang tidur sore-sore di sini", Mas Willy berkata seakan mengerti yang kupikirkan. Dan suamiku sudah berdiri di sampingku. Entah kapan keluar dia ini.
"Ma.. Yuk.. Ah.. Nggak enak nolak undangan.. Kasihan.. Udah beli arang segerobag..", celetuknya lalu menarik tanganku mengikuti Mas Willy yang sudah melangkah menuju halaman belakang.

Di sana kulihat Mbak Ratih serta kedua mahasiswa itu pun sudah lebih dahulu ada di sana, malah Mbak ratih tampak cuma mengenakan bikini saja dan dililit sehelai kain pantai, namun payudaranya yang besar itu seakan tidak muat dalam bikini yang kecil itu, dan jelas kulihat mata kedua mahasiswa tersebut seperti tertarik oleh besi sembrani, dan.. eh.., ternyata suamiku juga ketularan.. Matanya tanpa malu-malu melahap pemandangan tersebut, aku sih tidak marah hanya agak iri..

Barbekyu yang dihidangkan sungguh sedap, dan minuman anggur yang menyertainya membuat suasana semakin santai dan perbincangan juga semakin 'mengarah'. Kami semua lalu sepakat untuk berenang di kolam renang di bagian halaman belakang yang hampir berbatasan dengan pantai. Suasana agak gelap karena sinar lampu tidak mampu menjangkau kolam tersebut, namun sinar bulan masih cukup sebagai penerangan dan ketika aku hendak pamit untuk berganti pakaian renang, ternyata mereka semua dengan santainya melepas semua pakaian yang dikenakan dan masuk kolam dalam keadaan telanjang bulat. Sempat kulirik suamiku masih mencoba 'mengincar' dengan pandangannya ke payudara Mbak Ratih sebelum berendam di air kolam.

"Ayo..", Mbak Ratih memanggilku karena melihatku masih tertegun. Karena suamiku juga sudah melepas pakaiannya maka apa boleh buat, aku pun melepas semua yang kukenakan lalu masuk kolam bergabung dengan yang lain.

Pada awalnya suasana masih agak kaku, aku meringkuk di sisi suamiku yang mendekapku, sementara Mbak Ratih juga berada di sebelah Mas Willy, namun kedua pemuda itu, dasar ngocol segera saja mencairkan suasana dan kami pun bercanda dengan ramai, bahkan terkadang saat berenang kami saling bertubrukan dan seringkali entah sengaja atau tidak, saat itu digunakan oleh mereka untuk mengelus payudaraku, bahkan entah siapa yang menyelam.. tiba-tiba aku menjerit kaget ketika ada jari yang 'nyelonong' menyentuh vaginaku.

Kondisi ini membuat kami semua semakin asyik bercengkarama dan tanpa terasa, tiba-tiba Yudi sudah berada di dekatku lalu memelukku dari belakang. Kurasakan kemaluannya tegang menyentuh bongkahan pantatku, sementara Mas Willy yang entah datang dari mana juga sudah berada di hadapanku lalu ikut memelukku. Tangannya tanpa ragu meremas payudaraku, dan aku yang sudah terhanyut dan sedikit mabuk oleh suasana, anggur dan lainnya juga 'membalas'-nya dengan memegang kemaluan suami Mbak Ratih itu sementara ketika kulirik.. Wah.., ternyata suamiku juga sudah 'nenen' di payudara Mbak Ratih yang besar itu.

Memang sejak awal melihat Mbak Ratih aku sudah sering membayangkan bagaimana kalau seandainya suamiku bermain sex dengan wanita itu, dan bayangan itu bukannya membuatku cemburu tetapi malah membuatku terangsang, kini dengan melihatnya secara langsung birahiku menjadi semakin cepat naik.

Bersambung . . . . .

0 comments:

Post a Comment