Pages

Tuesday, October 16, 2012

Sebuah Tantangan - 2

Meski sambil memendam kekesalan karena kalah, aku tetap melanjutkan kulumanku pada Tomi hanya untuk menyenangkan hatinya, namun hingga beberapa menit kemudian, tak terlihat ada tanda tanda menuju puncak, akhirnya aku menyerah dan menghentikan kulumanku, untungnya dia nggak marah.

"Nggak apa, kita lanjutkan nanti di hotel" katanya sembari mencium bibirku.

Dengan agak keras karena kesal, kuhempaskan tubuh hampir telanjang ke sofa diantara Yudi dan Tomi, aku benar benar kecewa dengan penampilanku sendiri, sungguh kusesali kekalahan dari Yeni dan Ana, bukan uang yang kupikirkan tapi lebih pada kebanggaan bahwa aku kalah dengan mereka pada situasi yang tidak kuharapkan.

"Tom, untung kamu dapat Lily, disamping body-nya oke, oralnya juga hebat lho aku perhatikan tadi" kata Yudi, kuanggap sebagai hiburan.
"Kalau saja dia nggak telanjang gitu, mungkin dia yang menang" lanjutnya mengagetkanku.
"Jadi.." tanyaku
"Ya, aku melihat bagaimana kamu ber-karaoke dengan tubuh hampir telanjang, makanya cepat naik" akunya cukup mengagetkanku, tak kusangka aku membuat kesalahan sefatal itu, kesalahan yang tanpa kusadari memberi peluang menang pada sainganku, mungkin juga Indra melakukan hal yang sama dan ternyata hal itu diakui olehnya.
"Melihat live show sambil di-oral tentu lebih cepat dibandingkan pemainnya sendiri" timpal Indra berteori sambil memangku dan memeluk Yeni, keduanya tertawa.

Dengan membawa kekalahan telak, kami kembali ke Hotel, aku masih kesal dengan kekalahanku ini tapi Tomi menghibur dengan membesarkan hatiku untuk mengembalikan kepercayaanku.

"Kamu sangat baik kok, cuma karena kalah strategi dan aku juga memang sangat jarang bisa orgasme hanya dengan oral, apalagi rame rame seperti itu, pasti nggak akan bisa keluar, Yeni tahu itu" katanya sesampai di kamar hotel. Aku terperangah, berarti aku sudah "dijebak" oleh Yeni, tetapi dia hanya tertawa saat kutelepon tentang pengakuan Tomi.

"Deal is deal" katanya sambil menutup HP-nya, aku dongkol bukan karena kehilangan uang tapi merasa dipermainkan, awas kubalas nanti, tekadku dalam hati.

Aku menghindar saat Tomi tanya soal uang taruhan permainan tadi, dia mau mengganti karena dia juga merasa terlibat.

"Urusan wanita" jawabku singkat sembari melepas pakaianku untuk kedua kalinya, namun kali ini benar benar telanjang dihadapan Tomi yang baru kukenal beberapa jam yang lalu.
"Body kamu bagus, kencang lagi" katanya sembari mengelus dan meremas buah dadaku, padahal dia sudah melakukannya sedari tadi.

Masih dengan pakaian lengkap, bibirnya langsung mendarat di puncak bukitku, dijilat dan dikulum penuh hasrat birahi, aku mendesah perlahan merasakan kegelian nan nikmat.

Tomi menelentangkan tubuh telanjangku di ranjang, secepat kilat dia melepas pakaiannya hingga kami sama sama bugil. Sedetik kemudian kepala Tomi sudah berada diantara kedua kakiku dengan lidah menari nari menyusuri klitoris dan daerah vagina. Dengan rakus dia menyedot cairan basah yang ada di vaginaku, aku menjerit mendesah nikmat sambil meremas remas rambutnya.

Lidahnya cukup lincah menikmati detail vaginaku yang telah merasakan 2 penis dari tamu sebelumnya, Tomi adalah tamu ketiga-ku di hari itu. Kami berposisi 69, saling melumat dan saling membagi kenikmatan birahi. Aku-pun mulai menapak bukit menuju puncak kenikmatan bersamanya.

Hanya dengan sekal dorong, melesaklah penisnya memenuhi vaginaku, tidak sebesar tamuku sore tadi tapi tetap saja terasa nikmat, apalagi ketika dia mulai mengocokku dari atas sambil menciumi bibir dan leherku, membuat semakin melayang cepat menuju puncak.

Tidak seperti saat oral tadi, hanya beberapa menit berselang dia mengocokku menyemburlah spermanya memenuhi vagina dengan kuatnya, aku menjerit terkaget nikmat menikmati denyutan demi denyutan hingga tetes sperma terakhir.

"Kamu terlalu sexy, nggak tahan aku lebih lama lagi" katanya seraya turun dari tubuhku, padahal aku masih setengah jalan ke puncak.

Mungkin karena foreplay terlalu lama atau masih terpengaruh suasana di tempat karaoke tadi makanya begitu cepat dia selesai, pikirku.

"Nggak apa, kan ada babak kedua, waktu kita masih panjang nggak usah buru buru" hiburku sambil meraih penisnya, dengan nakal aku menjilati sisa sperma yang masih ada di batang kejantanannya dan mengulumnya, dia menjerit kaget tapi tak menolak, aroma sperma begitu kuat menyengat hidung.

Malam itu kami habiskan dengan penuh nafsu birahi hingga pagi, meski Tomi tidak bisa bertahan lama tapi dia begitu cepat recovery, satu posisi satu orgasme hingga tak terasa 5 babak kami lewatkan hingga menjelang pagi dan kamipun tertidur setelah matahari mulai mengintip dari ufuk timur.

Belum lelap tidurku ketika terdengar telepon berbunyi, Tomi mengangkatnya, ternyata dari Ana yang ingin bicara dengan aku. Dia menawari setelah selesai dengan Tomi untuk gabung dengan Yudi, diluar kesepakatan tadi karena ini permintaan Yudi.

"Aduh, aku masih capek nih, barusan juga tidur, kalian udah ganggu" jawabku dengan mata masih berat karena ngantuk dan pengaruh alkohol semalam.

Ana nggak menyerah begitu saja, kini gantian Yudi yang bicara mendesakku, akhirnya aku sanggupi tapi setelah beres dengan Tomi. Kembali aku dan Tomi melanjutkan tidur berpelukan dengan tubuh masih sama sama telanjang, selimut menyatukan tubuh kami di atas ranjang.

Belum lelap tidurku, kembali telepon berbunyi, Tomi mengangkat dan langsung menyerahkan ke aku, dengan mata agak tertutup kuterima juga. Ternyata Yeni, dia mengajak untuk bertukar partner, sebenarnya aku agak malas meladeninya.

"Terserah Tomi deh" jawabku setengah ogah ogahan.

Ternyata Tomi nggak mau menukar aku dengan Yeni.

"Mendingan sama kamu aja, lebih pintar dan liar, lebih sexy dan lebih montok meski Yeni nggak kalah cantik sih, juga aku udah sering sama Yeni" katanya tanpa membuka matanya.
"Dia nggak mau, masih capek katanya, kita barusan tidur" jawabku berbohong.
"Ya udah kamu yang kesini gih, kita keroyok Indra" ajak Yeni.

Aku bingung karena sudah menyanggupi Ana, entah kenapa kok semua menginginkan aku padahal mereka sudah punya pasangan masing masing, mungkin karena tergoda penampilan dan postur tubuhku semalam, meski aku kalah telak.

"Tapi aku udah janji sama Ana ngeroyok Yudi setelah ini, kamu sih teleponnya telat" jawabku.

Meski Indra ikutan membujukku, aku tak bisa memenuhi ajakannya, kudengar nada kecewa darinya tapi apa boleh buat first in first serve.

Pukul 11 siang kami mandi bersama, itupun setelah Ana berulang kali menelepon untuk segera datang. Di kamar mandi kami lanjutkan satu babak permainan lagi. Tomi harus segera terbang ke Balikpapan, itulah sebabnya dia harus check out duluan.

Setelah berpakaian rapi kami menuju kamar Yudi, sengaja tak kukenakan bra dan celana dalamku karena toh sebentar lagi akan dilepas juga, padahal kaosku cukup menerawang transparan, kalau saja ada yang memperhatikan pasti dia bisa melihat bayangan putingku yang menonjol dibalik kaos Versace-ku, Tomi hanya tersenyum melihat kenakalanku.

Ternyata Ana dan Yudi belum berpakaian, mereka sedang makan pagi hanya mengenakan balutan handuk di tubuhnya.

"Eh masuk, kami barusan makan pagi atau makan siang nih" sambut Ana sambil mendaratkan ciumannya di bibir Tomi, begitu juga Yudi menyambutku dengan pelukan dan ciuman bibir, pasti dia bisa merasakan buah dadaku yang tidak terlindung bra.

"Yud, aku harus segera terbang, titip Lily ya" kata Tomi sambil menyalami sobatnya.
"Sip, nggak usah khawatir kalau dengan aku, pasti well maintained" balas sobatnya.
"Oh ya, sebentar lagi si Indra juga terbang ke Denpasar, kalau kamu mau Yeni juga hubungi aja dia" lanjut Tomi.

Setelah memberikan ciuman di bibir padaku dan juga pada Ana, dia meninggalkan kami bertiga.

"Ini dia yang sok pamer semalem" kata Yudi seraya menarik tubuhku dalam pelukannya dan disusul ciuman pada leherku. Aku spontan menggelinjang geli, tangan Yudi sudah menyelinap di balik kaos dan mulai meremas remas buah dadaku. Ana hanya mengamati sambil meneruskan makannya seakan tak terpengaruh kehadiranku.

Kubalas cumbuan Yudi dengan menarik handuknya dan kugenggam penisnya yang mulai menegang, tak kusangka ternyata lebih besar dari perkiraanku semalam, bahkan melebihi punya Tomi. Satu persatu pakaianku terlepas hingga kami sama sama telanjang, namun dia tak melanjutkan cumbuannya, ditatapnya tubuhku yang sekarang telanjang sama sekali.

"Kita makan dulu yuk" ajaknya setelah mengamati tubuhku dari atas bawah depan belakang.

Secepat mungkin kami menghabiskan makanan yang tersedia di meja tanpa sisa, aku tak bisa menolak ketika Ana dan Yudi mengajakku mandi lagi.

Ketiga tubuh telanjang kami akhirnya ber-basah basah dibawah siraman air hangat dari shower, aku benar benar diperlakukan bak ratu oleh mereka, Yudi menyabuniku dari depan sementara Ana dari belakang, padahal setengah jam yang lalu aku sudah mandi.

Empat tangan berada di kedua buah dadaku, aku terjepit dalam pelukan mereka di depan dan belakang, ada erotisme tersendiri seperti ini.

Yudi membalik tubuhku hingga berhadapan dengan Ana, kami saling berpelukan ketika kaki kiriku diangkat ke bibir bathtub. Kupeluk Ana erat saat penis Yudi mulai mengusap bibir vaginaku dari belakang, dan pelukanku semakin erat ketika dia melesakkan penisnya, diiringi desah kenikmatanku.


Bersambung . . . . .

0 comments:

Post a Comment