Pages

Thursday, October 25, 2012

Sang Dewi - 1

Aku sama sekali tak menyangka bakal ketemu Dewi di lobby sebuah hotel berbintang di kawasan pantai senggigi Lombok bersama seorang laki laki cina yang sudah cukup umur, mungkin sekitar 55 tahun, yang aku tahu pasti bukan suaminya, mereka bergandengan mesra melintasi lobby tanpa memperhatikan sekitarnya, aku yakin dia tidak melihat keberadaanku di sana, mereka menuju sebuah mobil mewah yang sudah menunggu di depan lobby dan melesat pergi.

Aku tak bisa memikirkan hal itu lebih lama karena acara "Manager Gathering" segera di mulai, hari ini adalah hari terakhir dari tiga hari acara yang diselenggarakan kantor pusat, acara yang rencananya selesai pukul 19:00 molor dan ditutup pada pukul 21:30.
Dari kejauhan kulihat Dewi melewati lobby sendirian menuju lift, kupercepat jalanku untuk menyapanya sebelum dia masuk lift.

"Dewi!!" teriakku sambil berlari menenteng map hasil meeting tadi
"mas Hendra!!" jawabnya kaget sambil menyalamiku.
"lagi berlibur nih, mana Agus kok sendirian aja" tanyaku pura pura tidak tahu padahal aku yakin Agus, suaminya tidak ikut, entah dengan siapa dia pergi.
"ah enggak mas, kebetulan ada acara keluarga, Mas Agus kan lagi ke Medan ada tugas kantor, mungkin baru bulan depan balik, maklum lagi baru dapat promosi jadi harus kelihatan rajin ke daerah" jawabnya, aku yakin dia berbohong tapi aku tak bisa bertanya lebih lanjut. Pintu lift sudah terbuka dia segera masuk, aku ingin mengikutinya tapi takut ngganggu acaranya.
"aku di kamar 502, kalau perlu teman ngobrol atau bantuan lain just call me" kataku lancang sebelum pintu lift tertutup. Sesaat aku masih terbengong di depan pintu lift hingga aku tersadar dan pergi ke kamarku.

Telepon berbunyi ketika aku sedang asik mandi air panas menyegarkan badan setelah seharian mengikuti acara yang melelahkan, sambil tetap telanjang aku terima telepon itu, dan diluar dugaan ternyata suara Dewi di seberang sana.
"malam mas, udah tidur? maaf ngganggu nih" suara merdu dari seberang sana
"ah enggak baru juga mandi, ini belum selesai, masih telanjang lagi" jawabku
"wah kalau saja bisa lihat dari telepon pasti asik deh" kembali suara dari seberang dengan manja
"boleh asal nggak keberatan, aku sih oke oke saja" jawabku asal
"emang Mas sendirian disana" tanyanya dengan nada selidik
"iya dong, emangnya asrama satu kamar rame rame, kalau kamu kan enak ada temannya, jadi nggak sepi" aku mulai memancing
"ah enggak mas, Dewi lagi sendirian nih, sepi deh, teman temanku pada ada acara keluar, aku lagi nggak enak badan jadi tinggal sendirian di kamar"
"yang tadi pagi itu?" pancingku
"yang mana sih?" dia berusaha mengelak
"emang ada berapa sih, itu bapak yang tadi pagi naik BMW hitam"
tak terdengar suara jawaban
"hallo, Dewi, hallo hallo" aku mulai khawatir
"mas kesini deh, ngobrol di sini kan lebih asik, aku tunggu ya, kamar 1003" jawabnya langsung menutup telepon.

Sejenak aku tercenung, kamar itu adalah deretan kamar suite karena semua jajaran direksi menginap di kamar dengan nomer 10 keatas alias kelas suite. Tak mau terlalu lama dalam keraguan, tanpa menyelesaikan mandi aku langsung berpakaian dan menuju kamar Dewi yang letaknya cukup jauh dari tempatku, alias menyebrang dari sayap utara ke selatan. Aku berusaha untuk tidak terlihat kawan kawan, karena sudah pasti mereka akan mengajak bergabung dan tentu saja sulit untuk menolak dan melepaskan diri.

Setelah berjalan agak memutar menyusur pantai di keremangan lampu taman, akhirnya aku temukan kamar yang dimaksud. Aku berdiri agak ragu di depan pintu sebelum memencet bel pintu, tak lama kemudian muncullah wajah cantik Dewi dari balik pintu dan langsung mempersilahkan masuk.

Dewi hanya mengenakan pakaian tidur tipis warna putih, bisa kulihat bayangan bra hitam berenda dan setelan celana dalamnya. Sambil mempersilahkan aku duduk Dewi mengambil minuman dan mengangsurkan padaku, bisa kunikmati belahan buah dadanya yang putih montok saat dia membungkuk memberikan minuman itu.

Kami duduk di ruang tamu, tanpa canggung Dewi duduk di sebelahku, bau parfumnya tercium begitu lembut romantis. Kami saling tukar cerita mengenai panorama alam Lombok, selama pembicaraan mataku sering mencuri pandang pada buah dadanya yang menantang, apalagi ketika dia agak membungkuk, aku bisa menikmati keindahan bukit mulusnya yang masih terbungkus bra hitam-nya dari celah pakaian tidur, sesekali bukit itu menyenggol lenganku ketika dia tertawa mendekat tubuhku. Kami seperti sahabat lama yang baru bertemu, padahal sehari hari kami tidaklah terlalu akrab karena Dewi memang pendiam, sedangkan dengan suaminya aku terkadang main tennis.

"emang kamu ke sini sama siapa?" tanyaku setelah kekakuan diantara kami mencair.
Dia memandangku tajam, kubalas dengan pandangan tak kalah tajamnya, wajahnya memerah terlihat makin cantik dengan sorot mata indahnya, bibirnya yang tipis sexy dengan sapuan lipstik tipis membuat dia makin menawan.
"Mas tolong jaga rahasia ini, rahasia keluargaku dan tak seorangpun tahu kecuali kita ini, aku tak kuat menahan rahasia ini sendirian, aku perlu teman yang bisa dipercaya untuk curhat, Mas bisa kan" katanya dengan mimik serius, aku hanya menjawab dengan anggukan kepala sambil menatapnya tajam untuk menengok isi hatinya.
"Aku tahu Mas Agus sering main perempuan, dan sekarang selingkuh dengan sekretarisnya, dan aku juga tahu kalau dia ke Medan bersama sekretarisnya itu, aku sudah capek mengingatkan kelakuannya itu tapi dia tidak pernah berubah, akhirnya kuputuskan untuk membalas perlakuannya, aku ingin membalas yang lebih menyakitkan, aku tahu ini bukan jalan terbaik tapi aku sudah putus asa, maka disinilah aku sekarang. Kalau Mas lihat aku tadi pagi, dia adalah Bossku Mas Agus, direktur marketing, aku mencari orang yang status kedudukan dan levelnya di atas Mas Agus, dua dari empat direktur sudah pernah tidur denganku, memang bukan kepuasan fisik yang aku cari tapi aku puas secara batin telah membalas kelakuan Mas Agus meski secara sexual aku tidak mendapat kepuasan dari mereka, Mas kan tahu apalah artinya bercinta dengan orang setua mereka, nafsunya aja yang gede tak sebanding dengan tenaganya, maklum rata rata kan di atas 50 tahun alias seusia papa-ku. Untuk kepuasan sex aku bisa dapatkan dari beberapa anak buahnya yang masih muda dan rata rata masih bujangan. Aku tak peduli apa kata mereka tentang aku, yang penting aku puas membalas perlakuan Mas Agus melebihi perlakuannya padaku" dia bercerita dengan lancarnya sambil diselingi menghisap Marlboro putih.

Aku terdiam, tercengang, kaget, marah, cemburu, nafsu semua bercampur menjadi satu, tak bisa berkata kata, kejantananku sudah menegang mendengar penuturannya.
Dewi, tetanggaku yang selama ini aku kenal sebagai seorang ibu rumah tangga yang baik, pendiam, cantik, imut imut, ramah, dan tidak pernah terdengar gossip, ternyata menyimpan begitu banyak misteri dalam dirinya.
Sungguh beruntung orang orang yang telah menikmati kehangatan dan kemolekan tubuh Dewi, entah apa aku termasuk orang yang beruntung tersebut.

Kupandangi wajah Dewi, sungguh cantik sekali, begitu manis terlalu sayang untuk dilewatkan, tubuhnya yang montok putih mulus, pasti membuat laki laki normal menelan ludah menikmati postur tubuhnya. Meski tidak terlalu tinggi, mungkin 160, tapi potongan tubuh yang proporsional dan penampilannya yang modis ditambah lagi lekuk tubuhnya yang tergolong sexy pasti akan menarik perhatian banyak laki laki.

Dia menyandarkan kepalanya di pundakku, aku terdiam membiarkan dia menumpakan segala apa yang dipendamnya, kami sama sama terdiam. Kuberanikan diri untuk membelai rambutnya yang keemasan tergerai di pundak, dia diam hanya menatapku penuh misteri, tanpa kuduga Dewi langsung melayangkan ciumannya di bibirku, begitu halus lembut bibir tipis itu melumat bibirku, segera kubalas dengan lumatan bibir ringan, lidah kami bermain dan saling bertautan, napas kami menyatu dalam kehangatan.

Ciuman kami makin lama makin panas, tanganku mengelus rambut dan punggungnya, lalu tanpa kusadari sudah berada di daerah dadanya yang lembut, kuremas buah dadanya yang montok, sungguh padat dan kenyal, ciuman Dewi makin ganas di mulutku, lidahnya sudah menjelajah ke mulutku, menggigit ringan bibirku dan menyedot lidahku, napasnya sudah turun naik menahan birahi, begitu juga nafsuku sudah memuncak hingga kepala.

"Mas puaskan aku, sudah dua hari aku melayani si tua itu, dan belum mendapatkan kepuasan, kini dia mencampakkan aku seperti pelacur ketika istrinya meminta dia segera pulang" katanya menatapku kali ini dengan tatapan sayu.

Tanpa kesulitan segera kubuka baju tidurnya hingga tampak tubuhnya yang putih mulus terbungkus bra hitam, sungguh kontras, menambak seksi penampilannya. Dewi begitu bernafsu melapas bajuku, bibirnya menyusuri dadaku sambil melepas celanaku sekaligus dengan celana dalamnya, dia berhenti di selangkanganku memegang batang kejantananku yang 17 cm dan memandangku dengan sorot mata kagum dengan senyum penuh arti. Dia lalu berlutut di antara kakiku, masih mengenakan bikininya, kubiarkan saja karena aku masih ingin menikmati penampilannya seperti itu lebih lama.

"yess I like it" komentarnya langsung menjilati kejantananku dari ujung hingga pangkal batangnya, begitu ber-ulang ulang, lalu memasukkan ke mulutnya, begitu sempurna dia bermain oral pertanda sudah banyak pengalaman. Melihat bibir Dewi yang tipis dan mungil mempermainkan kejantananku, nafsuku makin naik tinggi, kupegang kepalanya dan mendorongnya supaya penisku lebih dalam masuk dalam mulut mungilnya. Sambil mengulum, tangan mungilnya ikutan mengocok batang penisku yang tidak tertampung di mulutnya.

"very big, keras lagi" komentarnya di sela sela kulumannya, tentu saja keras karena sudah tiga hari tidak tersalurkan.

Penisku semakin cepat meluncur keluar masuk mulutnya, tangannya pun semakin keras mencengkeram dan mengocoknya, dengan lihai lidahnya menari nari di kepala penisku, tarian lidah layaknya seorang professional, sungguh pintar dan dia tahu timing untuk mengocok, mengulum dan menjilat, suatu kombinasi yang membawaku terbang dalam kenikmatan bersama Dewi yang cantik.

Cukup lama Dewi berlutut di selangkanganku menikmati kejantananku, sepertinya dia ingin menelan semua kejantananku, sedangkan aku sendiri belum banyak menjamah dan menikmati tubuhnya.

Bersambung . . . .

0 comments:

Post a Comment