Pages

Friday, September 7, 2012

perawan plus plus

Halo… Kali ini aku mau cerita tentang musibah yang berubah menjadi anugerah. Sekitar setahun yang lalu, aku kenal dengan seorang mahasiswi keperawatan di salah satu universitas di Jakarta. Namanya Renna, dia keturunan Chinese yang hampir lulus, karena sewaktu aku berkenalan dengannya, dia sudah sedang menyusun tugas akhirnya. Anaknya cantik, kulitnya kuning langsat, rambutnya sebahu dan bodynya cukup langsing dengan dada yang tidak terlalu besar, tapi juga tidak terlalu kecil. Sejak itu, kita sering sms-an dan kirim2 email. Hubungan kami sebenarnya hanya sebatas sahabat, kita suka bertukar pikiran dan aku sering menanyakan masalah kesehatanku. Suatu kali dia sms dan minta tolong untuk carikan kost yang bagus tapi murah di Bali, tapi untuk bulan berikutnya. Karena dia mendapat kabar bahwa lamarannya diterima di sebuah RS kecil yang bekerja sama dengan RS di Siangapura B**C. Kebetulan, kamar disebelah kamar kostku masih kosong, aku langsung saja booking dan bayar kepada pemilik kost ku karena takut akan terisi sebelum bulan depan.

Pada saat kedatangannya di Bali, dia kaget karena ternyata kamarnya disebelah kamarku, dalam hati memang sengaja aku atur supaya aku ada teman. Dan kebetulan, di Bali juga hampir tidak ada angkot, jadi aku yang antar dia untuk melihat2 Bali dengan motor. Sangat senang rasanya, karena akhirnya aku mendapat teman dari Jakarta, apalagi dia cantik dan sekarang sedikit tergantung padaku. Singkat cerita, setelah dia bekerja sekitar 7 bulan, aku mendapat musibah, dimana aku ditabrak oleh motor lain dari arah samping kanan yang menyebabkan kakiku luka-luka. Sialnya keperjakaanku juga menjadi korban, karena tertimpa oleh stang motor saat aku sedikit terpental. Rasanya sakit sekali, aku pikir salah satu buahnya pecah, karena ada bercak darak di celanaku. Untungnya, hal ini terjadi pada hari Jumat, dimana besok jadwal Renna off (dalam seminggu boleh memilih 2 hari off, Renna memilih Sabtu dan Minggu). Jadi setidaknya kalau aku dirawat dirumah atau di RS, ada Renna yang bisa menemani dan mengurusi aku. Setelah aku dibawa ke dokter dan dirawat, aku sedikit lega, karena ternyata darah dicelanaku disebabkan karena selangkanganku yang sobek, bukan keperjakaanku. Tetapi tetap saja aku tidak bisa pakai celana, hanya sarung. Aku juga diizinkan pulang, selanjutnya aku hanya rawat jalan, tetapi itupun tidak aku laksanakan karena ada Renna yang merawatku di rumah.



Sorenya, Renna pulang dengan menebeng temannya karena aku tidak bisa jemput dan aku sudah kabari sejak siang. Sesampainya di kost, dia langsung ke kamarku dan mendapati aku telanjang, hanya bagian kemaluanku saja ditutup handuk. Renna sepintas agak malu masuk ke kamarku, mungkin merasa takut aku malu juga. Tapi aku suruh dia untuk masuk, aku katakan tidak apa-apa. Diapun menanyakan keadaanku, lalu dia berpamitan sebentar untuk kembali ke kamarnya untuk mandi. Setelah mandi, dia datang lagi dan menanyakan kalau aku mau bersih-bersih atau tidak, karena jalanpun susah bagiku. “Aku mau-mau saja, tapi apa Renna mau memandikan aku dengan washlap?” tanyaku. Jawabannya sungguh membuat aku tenang, katanya: “Gw ini perawat, emang uda tugas gw kali...”. lalu dia mempersiapkannya, dibawanya sebuah ember berisi air. Badanku pun mulai dilap olehnya, mulai dada, perut sampai punggung. Sambil memandikan aku, dia tanya bagian mana saja yang luka, akupun tunjukan lukaku yang rata2 di kaki. Dan aku katakan, satu lagi lukaku di bagian selangkangan. Setelah badan bagian atas selesai di lap, dengan hati-hati dia membersihkan luka-lukaku. Lalu, meminta izin untuk melihat luka yang dari tadi belum dilihatnya, bagian selangkangan. Akupun sempat berfikir, apa aku beri izin atau tidak, tapi aku malu, tapi yah mau bagaimana lagi... hanya dia yang bisa kuandalkan saat ini. Renna pun akhirnya kuizinkan, tapi handuk penutupnya aku yang buka. Setelah terbuka, Renna sempat sedikit tersipu, karena melihat barang punya temannya sendiri. Dengan hati-hati dia memegang dan menyampingkan tombakku beserta buahnya, dan aku sendiri... aku hanya bisa merem menahan malu sekaligus sedikit nikmat karena dipegang cewek cantik. Renna kemudian membersihkan lukanya.



Keesokan harinya, Renna kembali datang ke kamarku dan kembali memandikan aku. Setelah itu, dia membawa motorku ke bengket terdekat untuk diservice dan membelikan makan siang untukku. Sore hari, Renna juga kembali melakukan apa yang dikerjakannya kemarin. Rutin ia bersihkan semua lukaku dan diaobati selama sekitar seminggu sampai luka ku membaik, sampai-sampai aku dan Renna pun sudah hampir tidak malu lagi karena aku telanjang. Luka di selangkangankupun mulai membaik, dan Renna bilang, selanjutnya bersihkan sendiri yah, karena lukanya sudah kering dan hampir sembuh. Saat dia bilang itu, aku mengatakan padanya, “Renna, thanks yah... Lu uda mau ngerawat gw, biar gw harus telanjang, lu masi setia ngerawat gw”. Dia hanya tersenyum membalas perkataanku. Setelah selesai, dia duduk di sebelahku dan aku mulai menggodanya.

“Ren, gw boleh tanya ga?”
“Kenapa”
“Tapi jangan marah yah... Lu ngerasa risih ga waktu pertama harus ngebersiin luka gw yang di itu...?”
“... (terdiam sejenak) Ya... Sebenernya sih gw malah ga enak ama lu... Soalnya lu terpaksa nahan malu. Kalo gw sendiri...”
“Kenapa Ren...???”
“Tapi lu jangan bilang sapa2 yah... (dia berbisik dikupingku) Sebenernya gw uda ga virgin...”
“Hah... (akupun kaget...). Yah.... sebenernya gw... gw juga... uda pernah sih...”

Akhirnya pembicaraan kita malah mengarak pada pengakuan satu sama lain. Kita saling kaget, karena ga pernah nyangka kalo satu salam lain uda pernah ngelakuinnya... dan saat itu, aku langsung pegang tangan Renna dan bilang... “Ren, jangan bilang kesiapa-siapa kalo ada luka di selangkangan gw dan lu yang ngerawat gw yah...”. Renna hanya tersenyum dan mengangguk, rupanya dia tau kalo aku malu. Lalu, ga tau dari mana, pikiran kotorku kembali, dan aku tanya Renna: “Ren, sorry yah... Ng.... Mmm... Boleh ga... gw... liat punya... lu...?” Saat itu, Renna baru pulang dari kerjanya dan belum mandi, jadi dia masih pake baju perawat. Setelah Renna terdiam sejenak, dia mulai bicara lagi: “Mmm... Kalo lu mau liat... lu harus sembuh dulu..., kalo lu uda sembuh, nanti gw pikir-pikir lagi...”. sambil ngomong itu, mukanya memerah, tanda dia tidak menolak tapi tidak langsung mengijinkan juga... Mungkin dia takut terasngsang, tapi tidak bisa melampiaskan karena selangkanganku masih baru akan sembuh. 4 hari kemudian, aku sudah sembuh, hanya luka di kaki saja yang masih ditutup perban, sedangkan yang diselangkangan, bekas lukanya sudah megelotok. Saat menjemput Renna, sembari diperjalanan aku kembali menggudanya dengan menyuruh pegangan yang erat, karena memang saat itu, angin berhembus kencang, membuat sesekali motor menjadi oleng.



Di perjalanan pulang, aku kembali mempertanyakan keinginanku yang sempat aku utarakan. “Ren, kan sekarang uda sembuh, aku boleh dong liat itu...???”. Renna kembali membisu sesaat, lalu dia mendekatkan mulutnya ke kupingku, aku pikir dia mau membisikan sesuatu, ternyata dia menjewer halus kupingku dengan mulutnya, lalu dia bilang “Liat aja nanti... Sekarang di jalan, bahaya”. Dengan jawaban itu, aku makin menggebu dan menancap gas supaya cepat sampai kost. Sesampainya di kost, ternyata Renna langsung masuk ke kamarnya, dan aku sedikit kecewa karenanya. Tapi tidak lama berselang, dia SMS, “Bisa ke kamarku sekarang ga?”. Wah... mendapat sms seperti itu, aku langsung bangun dan ke kamarnya, didepan pintu kamarpun, tombakku sudah tegang. Aku ketuk kamarnya dan dia membalas supaya aku lagsung masuk. Di dalam, Renna ternyata ada di atas ranjang dengan pakaian perawatnya masih dipakai, aku kembali sdikit kecewa tapi tidak ditunjukan.



“Kenapa Ren?”
“Lu beneran... pengen... liat punya gw?”
“Yah... gw... sekedar... tanya aja...”
“Oh... jadi Cuma tanya doang... ga serius khan??? Soalnya kalo serius... yah... Boleh...”
“Eh... yah... kalo lu mau... gw juga ga nolak...”
“Tapi lu tanggung jawab ya...”.
Awalnya aku ga tau apa maksudnya dia bicara seperti itu. Dan ternyata, di balik roknya yang tertutup, dia sudah melepas CD nya. Dengan posisi tiduran, dia mengangkat kakinya menekuk dan menarik roknya. Terlihatlah bukit kemaluannya... dan rupaya dia minta tanggung jawab, karena ternyata setelah itu, aku pun langsung terangsang. Bagaimana tidak... ternyata Renna rajin mencukur halus bulu-bulunya, sehingga terlihat bersih sekali, klinis. Renna memanggilku untuk mendekat, setelah mendekat, dia mulai membukakan celanaku dengan alasan mau lihat perkembangan lukanya, karena sejak 4 hari terakhir, aku yang membersihkan sendiri. Dalam hitungan detik, akupun kembali teanjang di hadapannya, dan aku sudah tidak bisa menahan sabar lagi, aku langsung mengayunkan tanganku kedalam roknya yang terangkat sembari melepaskan roknya dengan tangan yang 1 lagi. “Oh... Lex... Jangan dipegang... Nanti gw... aaauuh...” Kata-katanya terpotong, karena aku sedikit memasukan jari jempolku kedalamnya... Kemudian aku langsung melumat bibirnya dan melepaskan bajunya, mungkin terkesan agak sedikit kasar, karena kancingnya semapt putus 2, tapi ini jug karena dia yang merangsang, pelorku di pegang dengan tangan kiri dan tombaknya dengan tangan kanan.dengan ccepat, aku menelanjanginya dan untuk pertama kalinya, aku melihat dia telanjang. Tangannya melepaskan tombakku dan menutupi dadanya, lalu aku mengatakan untuk tidak perlu malu, karena dia sudah melihat semua badanku dan akupun juga. Barulah setelh kukatakan itu, dia melepas kembali tangannya dan membantuku juga melepas kaosku, kamipun telanjang bulat bersama.



Dengan keadaan telanjang bulat bersama, kami mulai melampiaskan nafsu yang tidak lagi tertahan. Sambil berciuman, aku meremas pantatnya, Renna menjambak rambutku. Ciumanku kemudian turun sampai ke leher dan dadanya, tercium dengan kuat aroma tubuhnya... terutama karena Renna juga baru pulang kerja dan belum sempat mandi, sungguh membuatku bertambah nafsu. Dengan nafsu yang begitu menggebu, aku berinisiatif menggendongnya dan memasukkan tombakku sambil menggendongnya. Kedua tangannya merangkul kepalaku sehingga kepalaku tepat ad di depan dadanya, sedangkan kakinya melingkari pinggangku. Secara perlahan aku merenggangkan tanganku yang menahan perutnya sehingga ia turun dan tombakku dapat tepat menancap pada lubangnya. Saat Tombakku mulai menyodok masuk, Renna kelihatan sedikit menahan dan mengangkat pantatnya. “Aauuu... Lex... Sakit...” keluhnya... Akupun heran, karena ia sebelumnya sudah pernah melakukannya. Sekalipun ia merasa sakit, aku tetap meneruskan niatku, aku kembali menurunkannya perlahan-lahan. Secara lamban tapi pasti, jleb... masuklah akhirnya tombakku seluruhnya dengan diiringi rintihan-rintihan kecil. Kemudian kakinya berpindah pada pahaku agar dapat berpijak, kemudian Renna mulai bergerak-gerak naik turun dan pantatnya digoyang-goyangkan. Aku juga tidak menyangka kalau lubanynya masi sangat kesat dan sempit. Plak...plak...plak... bunyi pantatnya yang putih beradu dengan pahaku... selain suara itu, suara kami juga menambah keramaian kamar kostnya. Lalu ia meraih remot Tv dan menyalakan dengan suara agak besar, agar menyaingi suara kami.

“Ah... Lex... Ah... Oh God... Oh...”
“Damn... yeah... yeah... Ren... Trus Ren... Goyang... Shss....”
“Anj***... Ah... Lex... tahan... stop...stop...”
Lalu aku menghentikan dan bertanya ada apa... Renna menyuruhku duduk dipinggir ranjangnya dan ia memutar badannya dengan tombakku masih menancap...
“Aaa...aaa...aah... Ren...Aauuuh...” tidak menyangka ia tau caranya memberikan kenikmatan lebih... Kulit tombakku otomatis bergesekan dengan dinding-dinding lubangnya membuatku bertambah melayang. Setelah berputar, ia kembali menggenjot dan kali ini aku menjilati punggungnya dan kedua tanganku kedepannya dan mencubit-cubit buah dadanya yang menggantung. Dengan posisi yang baru ini, kami bermain cukup lama, ekitar 45 menit, sampai akhirnya tubuh kami mengejang hebat dan kami mencapai puncak bersama sama. Crot...crot...crot... spermaku ditembakkan di dalam lubangnya dan dia pun juga membanjiri lubangku dengan cairannya... kamipun terkulai lemas, aku berbaring diranjangnya dan dia juga langsung merebahkan tubuhnya diatas tubuhku. Dan yang hebat, tombakku juga tidak terlepas dan masih mengganjal.



Sambil mengambil nafas, aku menanyakan kenapa dia masih merasa sakit sewaktu tadi tombakku mulai menancap, padahal sebelumnya sudah pernah... Ternyata dia melakukan itu baru sekali, dan itupun sudah 3 tahun yang lalu, saat dia baru masuk kuliah smester 2. Setelah kami beristirahat sejenak, kami memutuskan untuk mandi, tetapi di kamar ku, karena kamar mandinya lebih besar dan ada showernya. Di kamar mandi kami sebenarnya ingin melakukan lagi, tetapi aku kasihan melihat Renna, baru pulang kerja dan kelihatan agak kecapean. Rencanaku pun aku urungkan, namun tetap membuat aku menikmati mandi kali ini, bagaimana tidak, aku minta dibolehkan menyabuni seluruh tubuhnya, dengan begitu, tidak ada bagia tubuhnya yang tidak tersentuh tanganku. Setelah mandi, aku menghandukinya dengan handukku karena dia lupa membawa handuknya dri kamarnya dan kami istirahat dengan keadaan telanjang bulat, kami putuskan malam itu untuk bertelanjang ria dan tidur bersama. Keesokan harinya, sampai seminggu kemudian, ia meminum obat penunda kehamilan agar terhindah dari kehamilan, mengingat seluruh spermaku masuk kedalam tubuhnya. Beruntung, ia tidak hamil dan kamipun melanjutkan permainan kami ini di setiap kami inginkan, bahkan sampai sekarang. Sayangnya tidak dapat kami lakukan setiap hari, karena kost kami sekarang berbeda, ia pindah ke kost yang lebih dekat dengan tempatnya bekerja.

0 comments:

Post a Comment