Pages

Friday, September 7, 2012

lesbian sama kakak

type='html'>
Ini mungkin sebuah pengalaman yang paling gila (menurutku), karena orang
pertama yang mengajarkan seks kepadaku adalah kakak kandungku sendiri.
Aku adalah seorang gadis berumur 18 tahun (sekarang), dan kakakku
sendiri berusia 23 tahun. Sudah lama aku mengetahui kelainan yang ada
pada diri kakakku. Karena ia sering mengajak teman perempuannya untuk
tidur di rumah, dan karena kamarku berada persis di sebelah kamarnya,
aku sering mendengar suara-suara aneh, yang kemudian kusadari adalah
suara rintihan dan kadang pula teriakan-teriakan tertahan. Tentu saja
meskipun orang tuaku ada di rumah mereka tak menaruh curiga, sebab
kakakku sendiri adalah seorang gadis.Ketika aku mencoba menanyakannya pada awal Agustus 1998, kakakku sama
sekali tidak berusaha menampiknya. Ia mengakui terus terang kalau ia
masuk sebuah klub lesbian di kampusnya, begitu juga dengan kekasihnya.
Waktu itu aku merasa jijik sekaligus iba padanya, karena aku menyadari
ada faktor psikologis yang mendorong kakakku untuk berbuat seperti itu.
Kekasihnya pernah mengecewakannya, kekasih yang dicintainya dan menjadi
tumpuan harapannya ternyata telah menikah dengan orang lain karena ia
telah menghamilinya. Kembali pada masalah tadi, sejak itu aku jadi
sering berbincang-bincang dengan kakakku mengenai pengalaman seksnya
yang menurutku tidak wajar itu. Ia bercerita, selama menjalani kehidupan
sebagai lesbian, ia sudah empat kali berganti pasangan, tapi hubungannya
dengan mantan-mantan pacarnya tetap berjalan baik.
Begitulah kadang-kadang, ketika ia kembali mengajak pasangannya untuk
tidur di rumah, pikiranku jadi ngeres sendiri. Aku sering membayangkan
kenikmatan yang tengah dirasakannya ketika telingaku menangkap suara
erangan dan rintihan. Aku tergoda untuk melakukannya. Pembaca,
hubunganku yang pertama dengan kakakku terjadi awal tahun 2000, ketika
ia baru saja putus dengan pasangannya. Ia memintaku menemaninya tidur di
kamarnya, dan kami menonton beberapa CD porno, antara tiga orang cewek
yang sama-sama lesbian, dan aku merinding karena terangsang secara hebat
mengingat kakakku sendiri juga seperti itu.
Awalnya, aku meletakkan kepalaku di paha kakakku, dan ia mulai
mengelus-elus rambutku.
"Aku sayang kamu, makasih ya, mau nemenin aku", katanya berbisik di
telingaku.
Mendengar hal itu, spontan aku mendongakkan wajah dan kulihat matanya
berlinang, mungkin ia teringat pada kekasihnya. Refleks, aku mencium
pipinya untuk menenangkan, dan ternyata ia menyambutnya dengan reaksi
lain. Di balasnya kecupanku dengan ciuman lembut dari pipi hingga ke
telingaku, dan di sana ia menjilat ke dalam lubang telingaku yang
membuat aku semakin kegelian dan nafsuku tiba-tiba saja naik. Aku tak
peduli lagi meski ia adalah kakakku sendiri, toh hubungan ini tak akan
membuatku kehilangan keperawanan. Jadi kuladeni saja dia. Ketika ia
menunduk untuk melepaskan kancing-kancing kemejaku, aku menciumi
kuduknya dan ia menggelinjang kegelian.
"Oh.. all..", desahnya.
Aku semakin liar menjilati bagian tengkuknya dan memberi gigitan-gigitan
kecil yang rupanya disukai olehnya.
Ketika kusadari bahwa kemejaku telah terlepas, aku merasa tertantang,
dan aku membalas melepaskan T-shirt yang ia kenakan. Ketika ia menunduk
dan menjilati puting susuku yang rupanya telah mengeras, aku
menggelinjang. Kakakku demikian lihai mempermainkan lidahnya, kuremas
punggungnya.
"Oohh.. Kaakk, ah.. geli", Ia mendongak kepadaku menatap mataku yang
setengah terkatup, dan tersenyum.
"Kamu suka?".
"Yah..", kujawab malu-malu, mengakui.
Ia kembali mempermainkan lidahnya, dan aku sendiri mengusap punggungnya
yang telanjang (kakakku tak biasa pakai bra ketika hendak tidur) dengan
kukuku, kurasakan nafasnya panas di perutku, menjilat dan mengecup. Aku
memeluknya erat-erat, dan mengajaknya rebah di peraduan, lantas kutarik
tubuhku sehingga ia berada dalam posisi telentang, kubelai payudaranya
yang kencang dan begitu indah, lantas kukecup pelan-pelan sambil lidahku
terjulur, mengisap kemudian membelai sementara jemariku bermain di
pahanya yang tidak tertutup. Aku menyibakkan rok panjang yang dipakainya
kian lebar, dan kutarik celana dalamnya yang berwarna merah sementara ia
sendiri mengangkat pantatnya dari kasur untuk memudahkanku melepaskan CD
yang tengah dipakainya.
Ketika aku meraba ke pangkal pahanya, sudah terasa begitu basah oleh
cairan yang menandakan kakakku benar-benar sedang bergairah. Aku sendiri
terus menggelinjang karena remasannya di payudaraku, tapi aku ingin
lebih agresif dari pada dia, jadi kubelai lembut kemaluannya, dan
merasakan jemariku menyentuh clitorisnya, aku membasahi jemariku dengan
cairan yang ada di liang senggamanya kemudian kuusap clitorisnya, lembut
pelan, sementara ia mendesah dan kemudian meremas rambutku kuat-kuat.
"Oh.. Yeahh.. Ukkhh, ahh, terus, teruss, ahh", celoteh kakakku dengan
ributnya. Aku terus mengusap clitoris kakakku, dan tiba-tiba kurasakan
tubuhnya mengejang kuat-kuat, jemarinya meremas punggungku, lantas ia
merebah lemas.
Aku memandang ke wajahnya yang bersimbah keringat, "Sudah Kak?" Ia
mengangguk kecil dan tersenyum.
"Thanks yah", aku mengedik.
Aku belum puas, belum. Kukeringkan jemariku sekaligus kemaluan kakakku,
kemudian aku turun, dan menciumi pahanya.
"Ohh.. teruskan terus.. yeah.. terus..", aku tak peduli dengan erangan
itu, aku mendesakkan kepalaku di antara kedua pahanya dan sementara aku
mulai menjilati selangkangannya, kulepaskan ritsluiting rok kakakku, dan
menariknya turun. Aku juga melepaskan sendiri celana jeans pendek yang
tengah kupakai, kemudian aku memutar badanku sehingga kemaluanku berada
tepat di atas wajah kakakku. Ia mengerti dan segera kami saling
menjilat, pantat serta pinggul kami terus berputar diiringi
desahan-desahan yang makin menggila. Aku terus menjilati clitorisnya,
dan kadangkala kukulum, serta kuberi gigitan kecil sehingga kakakku
sering berteriak keenakan. Kurasakan jemarinya bergerak mengelusi
pantatku sementara tangan kirinya merayap ke pinggir dipan.
Sebelum aku menyadari apa yang ia lakukan, ia menarik tanganku dan
menyerahkan sebuah penis silikon kepadaku.
"Kak?", bisikku tak percaya.
"Masukkan, masukkaan, please.." Ragu, aku kembali ke posisi semula
dengan ia terus menjilati clitorisku, kumasukkan penis buatan itu
perlahan-lahan, dan kurasakan ia meremas pantatku kuat-kuat, pinggulnya
berputar kian hebat dan kadang ia mendorong pantatnya ke atas, aku
sendiri menyaksikan penis itu masuk ke lubang kemaluan kakakku dan asyik
dengan pemandangan itu, kusaksikan benda tersebut menerobos liang
senggamanya dan aku membayangkan sedang bersetubuh dengan seorang lelaki
tampan yang tengah mencumbui kemaluanku.
Lama kami berada dalam posisi seperti itu, sampai suatu ketika aku
merasakan ada sesuatu di dalam tubuhku yang membuatku seolah merinding
seluruh tubuh karena nikmatnya, dan tahu-tahu aku menegang kuat-kuat,
"okh.. kaakk.. ahh.. ahh!" Tubuhku serasa luluh lantak dan aku tahu aku
telah mengalami orgasme, kucium paha kakakku dan kumasukkan penis
silikon itu lebih cepat, dan pada ritme-ritme tertentu, kumasukkan lebih
dalam, kakakku mengerang dan merintih, dan terus-terang, aku menikmati
pemandangan yang tersaji di depanku ketika ia mencapai orgasme.
Terakhir, aku mencium clitorisnya, kemudian perut, payudara dan
bibirnya. Lantas ketika ia bertanya, "Nyesel nggak?" aku menggeleng
dengan tegas. Malam itu kami tidur dengan tubuh telanjang bulat, dan
sekarang kami kian sering melakukannya

0 comments:

Post a Comment