Pages

Friday, September 7, 2012

Hanungh story

Namaku Hanung, aku seorang pemuda mahasiswa dari sebuah perguruan tinggi swasta di Jakarta. Tak ada yang menarik dariku selain kenyataan bahwa aku adalah seorang anggota pecinta alam di kampusku. Walaupun begitu aku memiliki sebuah cerita yang mungkin tidak kalian miliki. Cerita yang merubah jalan hidupku selamanya.
Semua bermula dari setahun yang lalu. Saat aku bersama anggota pecinta alam yang lain melakukan perjalanan untuk mendaki gunung Gede di wilayah Bogor. Bersama dengan kami ada juga mahasiswa lain yang bukan dari group pecinta alam. Mereka adalah mahasiswa yang berburu nilai untuk jenis ekstrakulikuler dari fakultas masing-masing. Sementara itu mendaki gunung merupakan jenis ekstrakulikuler yang tidak membutuhkan biaya yang sangat besar. Sekitar 10an mahasiswa non pecinta alam yang mengikuti perjalanan kali ini.
Akhirnya begitu tiba dilokasi awal pendakian, kami saling membagi kelompok. Setiap kelompok mendapat satu orang ketua yang bertugas mengawasi anggota kelompoknya agar tidak ada yang tersesat ataupun tertinggal nantinya. Aku sendiri mendapat kelompok terakhir bersama 4 orang bersamaku. Dua orang dari pecinta alam sementara dua sisanya adalah mahasiswa biasa.
Untungnya salah satu dari mahasiswa pemburu nilai itu adalah pria sehingga aku bukan laki-laki satu-satunya dikelompokku, karena yang lain adalah perempuan. Aku-pun ditunjuk sebagai ketua kelompok.
Baru sekitar satu jam perjalanan kami melihat seorang dari anggota pecinta alam yang seorang perempuan mengalami musibah. Kakinya terkilir dan dia kesulitan melanjutkan perjalanan yang bahkan belum setengah jalan itu.
“Aduh gimana nih?” seorang dari mahasiwa pencari nilai itu panik. Gadis yang satu ini emang sedikit manja terutama kepada pacarnya yang juga satu team dengannya ini. Nama gadis itu Sheila sementara pacarnya bernama Anton, laki-laki selain diriku yang ada di tim terakhir ini.
“Ya sudah. Biar gua aja yang bawa Emy kebawah balik ke base awal. Lo bertiga lanjut aja. Tuh khan masih ada Dini, dia juga anggota pecinta alam kayak gua dan Emy, dia bisa jadi guide kalian biar kagak nyasar.” Sahutku lalu sambil memanggul tubuh Emy. Untungnya teman satu tim ku ini badannya kecil sehingga mudah aku gendong. Untungnya lagi tenda milikku sudah dibawa tim yang lain sehingga aku tidak punya tanggung jawab apapun dalam pendirian tenda nantinya.
Hampir dua jam baru aku bisa sampai di base awal pendakian. “Maafin aku ya. Gara-gara aku kamu terpaksa harus gendong aku sejauh ini.” Kata Emy tertunduk lesu. Sepertinya dia memang benar-benar merasa bersalah.



“Sudahlah. Ngapain juga lo mikirin hal itu? Toh kita udah nyampai sini khan. Lagipula kaki lo tuh cukup parah juga terkilirnya. Sampai bengkak gitu.” Kataku sambil mengarahkan mataku kearah betisnya dan pergelangan kaki Emy yang sedikit bengkak dan membiru. Sepertinya karena tersandung batu dan terpeleset langsung kebawah sedalam hampir satu meter itu membuat kenangan yang menyakitkan di kaki kanan Emy.
Aku berikan pertolongan darurat dengan obat pereda rasa sakit dan penurun demam untuk menjaga-jaga kalau nanti dia demam akibat shock dari luka memar tersebut. “Makasih ya Hans.” Ucapnya lirih sambil lagi-lagi menahan rasa sakit. Emy dan anak-anak pecinta alam lainnya memang suka memanggilku dengan sebutan Hans karena mereka bilang wajahku mirip dengan seorang dosen senior di kampus kami yang kebetulan bernama sama denganku.
“Kamu pake sleeping bag aja trus pake kaus kaki biar hangat. Pondok ini udah kita sewa sampai besok sore kok jadi gak masalah kalau lo menginap disini. Gua mau nyari minum dulu yang hangat biar kamu kagak kedinginan. Soalnya kalau lagi memar tulang bisa sakit kalau kena hawa dingin terus-terusan. Lagian gua juga lagi ada gejala flu juga nih. Asli nyebelin hehehe.” Kataku menyerocos lalu aku beranjak pergi keluar.
Tepat sebelum aku menutup pintu pondok, Emy berseru padaku, “Jangan lama-lama yah!” Aku menjawabnya dengan senyuman.
Sekitar lima menit aku mencari warung yang buka akhirnya aku bisa dapat juga. Yang membuatku kaget adalah aku melihat Dini yang sedang duduk-duduk di warung tersebut. “Heh, ngapain lo disini? Bukannya lo harusnya sedang bareng-bareng yang laen ke base camp kita?” tanyaku sambil menepuk pundak Dini.
Dini terkaget dan nyaris menumpahkan kopi yang dia pesan. “Sialan lu ah. Ngagetin aja. Gue sebenernya udah mau lanjutin perjalanan tapi mau gimana lagi, lu tau khan si Sheila yang manja itu? Dia ngomong kalo kakinya pegal trus kecapekan dan kagak bisa lanjutin jalan lagi. Benar-benar bikin gue jengkel tuh anak. Trus pacarnya si Anton itu juga ikut-ikutan belain dia. Akhirnya mereka berdua jalan turun gunung sekarang kagak tau deh lagi dmana.” Dini menjelaskan dengan penuh rasa kesal dan amarah dari raut wajahnya. Memang Sheila ini benar-benar manja namun kali ini sudah terlalu juga karena sudah merusak agenda kegiatan dengan cara turun gunung sendirian.
“Gimana coba kalau mereka tersesat?” tanyaku pada Dini. Dini hanya melengos sambil meminum habis kopinya.
“Emangnya gue pikirin. Biar aja mereka nyasar. Gak ada urusannya dengan gue lagi. Gue males kalo disuruh nyari mereka.” Jawabnya sambil kembali memesan kopi.
Memang Dini mempunyai kebiasaan minum kopi jika dia sedang dalam emosi yang tidak stabil. Herannya hal tersebut malah membuatnya lebih tenang, mungkin karena dia menderita darah tinggi.
Akhirnya setelah aku bujuk, Dini bersedia menemaniku mencari dua bocah hilang itu. Tentu saja setelah menengok Emy sambil memberikan bungkusan minuman hangat padanya agar tubuhnya hangat.
Sekitar satu jam lebih kami mencari dan tidak ada hasil. Dini yang jengkel akhirnya memutuskan untuk berpencar, aku sebenarnya tidak setuju namun yah ide itu ada benarnya juga karena menyingkat waktu.


Dini Story:


Namaku Dini, aku seorang anggota pecinta alam berusia 22 tahun. Cukup senior dikalangan para pecinta alam. Kali ini aku sedang kebingungan mencari dua anggota timku yang menghilang karena memutuskan untuk turun gunung sendiri tanpa persetujuan. Benar-benar pasangan yang mengacaukan semua rencana naik gunungku.
Aku berpisah dengan Hanung, temanku sesame pecinta alam yang sudah senior juga. Dia juga mencari dua burung tersesat ini sehingga untuk menghemat waktu kami berpencar.
Aku putuskan untuk menunggu mereka di bus wisata yang kami sewa untuk event naik gunung ini. Tanpa sadar aku tertidur, karena hari memang sudah malam, jam tanganku menunjukkan pukul 7 malam. Seharusnya tim yang lain sudah mencapai base camp satu jam yang lalu pikirku dalam hati. Akh, sementara aku disini malah disibukkan dengan hilangnya dua mahasiswa tak tau diri ini.



Aku terbangun tiba-tiba karena aku mendengar sayup-sayup suara orang bercengkrama. Aku dengarkan dengan seksama selagi aku masih tiduran diatas kursi dibarisan kedua dari depan. Ternyata suara itu merupakan suara yang kukenal benar.
“Sayang. Bagaimana kalau kita nanti ketahuan? Aku takut sayang.” Rajuk sebuah suara perempuan yang ternyata adalah Sheila. Yang membuatku kaget adalah kegiatan yang sedang mereka lakukan. Mereka berdua menggelar dua buah matras besar di lorong bus ber AC ini sambil bercumbu satu dengan yang lainnya.
“Jangan khawatir. Mana ada yang balik kesini sayang. Si sok jagoan itu pasti sedang berduaan di pondok pendakian sambil mungkin ngentotan sama cewek yang dibopongnya itu. Keliatan dari wajah ceweknya tuh wajah mesum hahahaha…” canda Anton. Pastilah yang dia maksudkan adalah Hanung dan Emy. Aku geram juga mendengar perkataan mereka.
“Trus kalau yang datang cewek yang berambut pendek itu gimana?” nampaknya si Sheila masih takut juga namun takutpun juga terlambat karena sekarang baik dia dengan pacarnya sudah tinggal mengenakan celana dalam saja. Sementara itu Anton masih sibuk meremas dan menghisap kedua payudara Sheila yang besar itu. Lebih besar dari milikku yang C-Cup ini, batinku dalam hati.
“Halah, dia paling yang gak mungkin datang. Dia khan pecinta gunung pastilah melanjutin pendakiannya sendiri. Siapa tau disana dia ketemu sama sodaranya, monyet gunung hehehe…gak bakalan ada yang kemari sayang, don’t be worry deh.” Jawab Anton sekenanya lalu mencium bibir Sheila.
Berulang kali mereka berpagutan mesra sembari tangan keduanya mengejelajahi tubuh pasangannya. Tangan Anton tak henti-hentinya meremas-remas kedua payudara Sheila yang cukup besar itu sementara tangan Sheila dengan leluasanya memelorotkan celana dalam Anton hingga sedikit turun dan membetot keluar batang kemaluan kekasihnya itu. Aku kaget juga setelah melihat penis Anton yang menegang itu benar-benar besar. Selama ini aku tidak pernah melihat batang kemaluan lelaki dewasa manapun, habis pacar saja aku tidak punya.
Entah berapa lama mereka bercumbu aku tidak begitu tahu karena asyik melihat pertunjukan gratis ini. Saat aku sadar keduanya sudah telanjang bulat. Anton yang dalam posisi diatas sudah menindih Sheila dan menggesek-gesekkan penisnya di bibir vagina kekasihnya itu sambil sesekali ditusuk-tusukkannya pelan. Lalu mulailah dia melakukan penetrasi penuh. Dengan penuh nafsu, Anton melesakkan batang kejantanannya kedalam liang senggama pacarnya itu. Sepertinya Sheila memang sudah terangsang berat, buktinya dengan mudah Anton memasukkan seluruh barang miliknya kedalam vagina Sheila.
“Sayang, kamu seksi sekali malam ini. I love you baby.” Ucap Anton sambil terus memompa tubuh Sheila. Berulang kali penisnya tercabut dari dalam vagina Sheila karena saking semangatnya namun akhirnya malah membuat Sheila semakin horny saja dengan perlakuan itu, mungkin karena secara tidak sengaja kejadian itu menyentuh klitoris Sheila sehingga membuat dia semakin terangsang saja.



Saat persenggamaan itu sedang memasuki puncak-puncaknya, tiba-tiba dari pintu belakang masuk dua orang lelaki dewasa berperawakan buas. Kalau tidak salah mereka berdua ini merupakan penjaga pasar yang juga merangkap keamanan tempat parkir. Memang pondok pendakian awal yang kami inapi ini memang bersebelahan dengan pasar dan tempat parkirnyapun menjadi satu dengan pasar tersebut. Memang hanya pasar yang sangat kecil namun entah kenapa mereka memakai jasa keamanan yang lebih tepatnya disebut preman.
“Wah wah wah. Ada apaan nih? Tontonan asyik nih kayaknya heheheh…” gelak seorang dari mereka yang berambut gondrong dan berperawakan agak tinggi. Sementara itu temannya yang berambut cepak bersungut-sungut sambil melompati tubuh Sheila dan Anton yang masih bugil dengan kondisi penis menancap di vagina Sheila itu.
“Mau apa kalian? Ini bus wisata kami. Cepat keluar!” seru Anton mencoba mengatasi kegugupannya. Sheila berusaha mengambil pakaian untuk menutupi tubuhnya yang bugil namun sudah terlambat. Pakaiannya yang dia letakkan di kursi penumpang sudah disambar oleh si cepak.
“Wah wah wah. Galak bener nih cowok heheheh. Kita khan cuman numpang lewat aja. Eh ternyata ada yang lagi asyik indehoi disini hahahah…” Ejek si gondrong lagi sementara si cepak matanya memelototi keindahan tubuh Sheila terutama payudara dan pahanya yang luar biasa mulus itu.
“Waduh, Gus, udah jangan lama-lama! Aku udah kagak tahan nih. Liat aja body nih cewek udah kayak porselen gitu, mulus pisan oiii…” seru si cepak memanggil temannya.
Si gondrong yang di panggil dengan sebutan Gus itu nyengir kuda terus dengan cekatan dia melemparkan pakaian Anton keluar bus lewat pintu dan menutup pintu itu. “Apa mau kalian hah? Kembaliin pakaian gua! Shel, ayo kita pergi!” seru Anton panik.
Si gondrong dengan cekatan menghalangi langkah Anton sementara Anton sendiri yang menarik tangan Sheila sepertinya menyadari hal yang tak beres dengan kekasihnya itu. Ternyata setelah dia menengok kebelakang dia melihat Shiela sedang dirangkul tubuhnya dari belakang oleh si cepak. Sheila mencoba berontak tapi jelas dia bukan lawan yang seimbang bagi pemuda cepak itu.
“Udah deh kamu mending diem aja disini. Liatin kita-kita kasih pelajaran tambahan sama pacar kamu yang montok itu.” Seru si gondrong yang kemudian menyarangkan tinjunya di perut Anton hingga pemuda ini terhuyung-huyung akan jatuh. Kemudian pukulan kedua mengenai rahang Anton dan menjatuhkannya pingsan. “Cih, pemuda kota lemah semua ya. Baru dua pukulan langsuh keok. Payah.”
Babak keduapun dimulai. Sekarang aku dapat melihat bagaimana gadis manja Sheila sedang dikerjai dua preman ini. Si cepak saat itu sedang menindih tanan Sheila yang terbaring di matras sementara itu kedua kaki Sheila dipegangi oleh si gondrong. “Waduh waduh. Keren juga nih memeknya ni cewek. Merah merekah gini. Waduh, yang ginian sih kagak bisa kita temuin di desa kita. Hahahah.” Ejek si gondrong yang kemudian melucuti seluruh pakaiannya sambil tak henti-hentinya mengagumi vagina Sheila yang memang terawat itu.
Sheila berusaha memberontak dan berusaha teriak. Namun setelah mendapatkan ancaman dari si cepak dengan pisaunya maka dia urung juga untuk kembali teriak-teriak minta tolong. Keringat dingin membasahi tubuhnya begitu menyadari apa yang akan mereka berdua lakukan padanya. Apalagi ketika dia melihat si gondrong sudah mengeluarkan batang penisnya yang ternyata lebih besar dari pada milik Anton.
“Nah. Neng. Sekarang eneng bisa lihat kehebatan barang milik akang nih. Dijamin lebih paten dibanding milik anak kota itu yang yah cuman segitu-segitu aja.” Kata si gondrong sambil mengarahkan batang penisnya kearah vagina Sheila.
“Sakit…jangan dimasukin! Jangan! Saya mohon jangan bang!” pinta Sheila memelas namun hal itu tidak membuat kedua preman itu mereda nafsunya. Yang ada malah mereka semakin bergairah begitu mendengar suara Sheila.
Dalam hitungan detik saja akhirnya batang kejantanan si gondrong berhasil masuk seluruhnya menerobos liang vagina Shiela yang sangat sempit itu. Tentu saja dengan sedikit paksaan namun karena sebelumnya Sheila sudah bercinta dengan Anton tentu saja hal tersebut mempermudah penetrasi si gondrong. “Wah, udah masuk sekarang heheheh. Sempit juga yah, enak bener. Coba kalau tadi sebelum di kerjain sama cowoknya pasti lebih asoy deh.” Cerocos si gondrong sambil mulai menyodok-nyodokkan penis besarnya yang coklat kehitaman itu kevagina Sheila.
Tubuh Sheila terguncang-guncang sehingga buah dadanya seperti berayun kesana kemari karena memang ukurannya besar. Air mata dan suara juga tenaga Sheila sudah habis untuk memohon tadi sehingga sekarang dia hanya bisa pasrah menerima keadaan kalau ternyata sekarang tubuhnya sedang dinikmati oleh seorang preman rendahan yang berbadan besar namun tak terawat ini. Bahkan Sheila tidak tahu siapa namanya tapi tubuhnya malah sudah bisa dinikmati mahluk tanpa nama ini.
Si gondrong sepertinya sudah sadar kalau tenaga Sheila sudah habis lalu menyuruh si cepak untuk melepaskan tangan Sheila dan mengikat tubuh Anton yang masih pingsan. Sekarang si gondrong dengan leluasa mengerjai tubuh Sheila semaunya. Dengan kasar dia memompa liang kewanitaan gadis cantik ini hingga sesekali aku dapat mendengar suara Sheila mengerang mengaduh menahan sakit saat sodokan penis besar si gondrong mengenai dinding rahimnya. Sementara itu tanpa peduli rasa sakit yang diderita oleh Sheila, si gondrong masih dengan gaya kasar melumat bibir Sheila yang ranum itu dan merembet kepayudara gadis cantik ini.
Sesekali si gondrong menggigiti pelan puting Sheila hingga seluruh bagian payudaranya memerah, sementara tangannya tak henti-hentinya meremasi buah dada Sheila. Selama ini gadis manja itu tidak pernah terpikir akan dikerjai hingga sekasar ini. Bahkan Anton sekalipun selama ini jika ingin mencumbu payudaranya akan dia lakukan dengan perlahan dan lembut karena memang buah dada Sheila cukup sensitive sehingga jika terlalu banyak terkena gesekan makan akan memerah dan kemudian sakit.
“Akhhh…nikmatnya. Aa keluar nih neng.” Seru si gondrong sambil mengejang lalu menumpahkan seluruh cairan haramnya itu kedalam vagina Sheila. Mata Sheila terpejam dan meneteslah air mata penghabisan miliknya begitu tahu kalau didalam rahimnya terdapat cairan ejakulasi milik orang yang tak dikenalnya itu.
Si cepak mulai pasang posisi begitu tahu si gondrong sudah selesai bercinta dengan Sheila. Si cepak ini walaupun lebih pendek dari si gondrong tapi tubuhnya kekar dan batang kejantanannya lebih besar walaupun sedikit lebih pendek dari si gondrong. Tubuhnya sedikit lebih putih tapi dipenuhi dengan tato dimana-mana. “Tuh pacarnya udah bangun barusan. Kita pamerin aja kehebatan pacarnya ngelayanin kita-kita heheheh.” Ejek si cepak yang kemudian dengan cepat melesakkan batang penisnya kedalam vagina Sheila. Gadis cantik itu menjerit tak tahan dengan penetrasi yang dilakukan oleh si cepak yang jelas-jelas berbatang besar namun melakukan penetrasi dengan cara yang kasar dan terburu-buru. Saking cepatnya hingga bibir luar vagina Sheila ikut melesak masuk seiring dengan gesekan keras penis si cepak.
Si cepak mana peduli dengan rintihan Sheila, dia malah terlihat menikmati memperkosa gadis cantik itu, bahkan dengan sangaja dia bertambah kasar dalam mengerjai Sheila. Anton yang sudah dalam kondisi terikat tubuhnya itu tak punya kemampuan untuk melawan dan hanya terbaring melihat bagaimana kekasihnya dipaksa harus melayani nafsu si cepak setelah sebelumnya dia terpaksa harus melayani nafsu si gondrong.



Siluet-siluet penuh adegan panas itu melintas di benak Anton tanpa dapat dia usir keberadaannya. Dalam hati dia tidak mau melihat pacarnya dipaksa melayani nafsu bejat dua preman itu namun ada sisi gelap dalam dirinya yang ingin melihat kejadian langka tersebut.
Aku maupun Anton hanya bisa melihat saja ketika si cepak menjadi semakin kasar menyodokkan batang kejantanannya di vagina Sheila. Ketika si cepak akhirnya menyuruh Sheila untuk berganti posisi merangkak dan memperkosanya dari belakang sementara mulut Sheila dipaksa oleh si gondrong untuk melakukan oral seks padanya hingga baik si cepak maupun si gondrong berejakulasi dalam dua lubang milik Sheila. Saat itu baik mulut maupun vagina Sheila meneteskan cairan putih kental yang lengket. Entah apa yang dipikirkan Anton saat melihat pemandangan itu. Tapi aku jelas-jelas menjadi terangsang dibuatnya. Apakah karena aku belum pernah disentuh laki-laki?
Setelah keduanya beristirahat sebentar, lalu mereka berdua kembali mengerjai Sheila hingga sekitar jam dua malam. Berbagai posisi mereka praktekkan, mulai dari memperkosa Sheila dengan posisi merangkak hingga menyuruh Sheila melayani nafsu mereka sementara preman-preman itu hanya terlentang saja sementara Sheila dipaksa menggoyangkan tubuhnya di atas tubuh mereka bergantian. Pernah sekali cepak memaksa memasukkan batang kemaluannya kedalam liang anus Sheila hingga gadis cantik ini mengalami pendarahan walaupun tidak besar di liang anusnya. Berulang kali hingga si cepak berejakulasi didalamnya. Akhirnya sekitar jam dua pagi ketika aku melihat di luar sudah ada truk pengangkut sayur yang melintas, kedua preman itu pergi dengan meninggalkan tubuh telanjang Sheila yang berlumuran sperma dimana-mana. Sheila sendiri sepertinya pingsan setelah hampir sepuluh kali diperkosa oleh kedua preman ini.
Saat aku ingin beranjak dari kursi tempatku bersembunyi aku berhenti. Aku melihat Anton akhirnya berhasil melepaskan diri dari ikatan tali raffia itu. Lalu entah apa yang ada di benak pemuda ini. Anton bukannya menolong Sheila dengan menyadarkannya malahan dia mengocok penisnya sendiri diatas tubuh Sheila yang pingsan. Lalu sesaat kemudian spermanya muncrat membasahi wajah Sheila. Anton kemudian menggosokkan ujung penisnya yang masih belepotan sperma kebibir Sheila yang seksi itu. Lalu dia keluar untuk mencari pakaiannya. Saat itu aku langsung mempergunakannya untuk pergi kembali ke pondok.

0 comments:

Post a Comment