Pages

Saturday, July 28, 2012

Kerja lembur



Nama panggilanku Sari. Aku berusia 25 tahun dan bekerja di sebuah perusahaan swasta di Surabaya pada posisi yang cukup menyenangkan baik secara status maupun secara ekonomi. Aku seorang blasteran Jawa-Jepang, namun secara fisik, banyak orang mengira aku keturunan Chinese karena warna kulitku putih dan mataku tidak lebar. Rambutku pendek seleher. Aku tergolong wanita yang kurus dengan tinggi badan 176 cm dan berat 59 kg. Namun aku merasa memiliki bentuk tubuh yang bagus, dengan kaki yang panjang, dan payudara yang tidak besar namun padat dan kencang. Sejak remaja, kehidupan seksualku tergolong cukup 'bebas' untuk orang Indonesia. Selama aku cocok dan dia cocok, aku easy going sajalah. Mungkin sikap ini juga yang membuatku belum mendapatkan pasangan 'resmi' hingga sekarang, tapi..., peduli amat? aku toh enjoy aja dengan ini semua.


Waktu itu akhir bulan Juni 99. Karena akhir bulan, seperti biasa aku sibuk membaca dan mengevaluasi laporan hasil kerja anak buahku, dan menuliskan laporan untuk atasanku. Karena waktu sudah sangat sempit, aku memutuskan untuk bekerja overtime sampai selesai. Gedung perkantoran tempatku bekerja tergolong pelit, mereka mematikan lampu dan listrik utama setelah lewat pukul enam sore. Karena itu aku menyewa sebuah ruang khusus yang memang disediakan gedung itu untuk orang-orang yang ingin lembur. Ruangan itu kecil sekali, sekitar 3x3 meter, tidak berjendela, sehingga terkesan seperti dikurung dalam sebuah kotak korek api, dan AC-nya tidak begitu dingin. Namun karena tuntutan karier, ya sudahlah, aku langsung menginput data ke dalam notebook untuk diemailkan pada kantor pusat. Tak terasa, aku sudah bekerja hingga pukul delapan malam.

Karena AC yang kurang bagus, aku merasa kegerahan dan haus. Aku ingat, di luar bilik kecil ini, di dekat lift, ada sebuah dispenser air minum, aku segera berdiri dan keluar dari ruang itu untuk mengambil air minum. Ketika aku membuka pintu, aku melihat seorang pria sedang mengambil air di dispenser itu. Nah, aku lega bahwa ternyata dispenser itu bekerja. Aku segera menghampiri dispenser itu, mengambil gelas, dan menuangkan air ke gelasku. Pria yang sedang minum tadi tersenyum menyapaku, aku tersenyum balik, sekedar ramah tamah basa-basi. Pria itu berbadan besar, tingginya sekitar 180-an lebih tinggi dariku yang tergolong jangkung. Ia tidak terlalu kurus atau gemuk, meskipun tidak juga berbentuk seperti binaragawan. Tubuhnya terbungkus rapi oleh kemeja Kenzo warna hijau muda dan di lehernya terikat dasi bercorak ramai khas Gianni Versace. Wajahnya pun biasa saja, tampang orang pengejar karir di usia pertengahan duapuluhan.

"Sedang lembur juga, Mbak?", Tanyanya mencoba mencairkan suasana sepi.
"Iya, biasa, Mas, akhir bulan. Pas hari Jumat lagi."
"Oh, pasti lagi nyelesaikan progress report yah?
"Iya, untung udah selesai barusan."
"Wah, baguslah. Eh, omong-omong, Mbak kantornya di lantai berapa?".
"Di lantai sebelas, di PT (perusahanku). Kalau Mas?".
"Saya di lantai delapan, di PT (perusahaannya).""Oh, wajarlah kalau kita nggak pernah ketemu".
"Haha, iya, rupanya ada gunanya juga lembur. Kita bisa saling kenal." Pria itu berkesan begitu sopan dan ramah, matanya sedari tadi memandang hanya ke mataku, tidak ke arah kemejaku yang dua kancing atasnya terbuka, sehingga nampak putihnya kulit dadaku mengintip keluar.
"Oh iya, kita belum kenalan, Namaku Ditto." Katanya sambil mengulurkan tangannya mengajak berjabatan tangan.
"Aku Sari." Jawabku sambil tersenyum semanis yang aku bisa.
"Sari pulang nanti naik apa?".
"Oh, aku bawa mobil sendiri. Kalau kamu?".
"Aku naik mobil juga..., Eh, Sari keberatan nggak kalau kita makan malam bareng setelah ini?".
Wah, orang ini 'direct' juga yah? pikirku kegirangan.
"Boleh aja, apa Ditto nggak ada yang nungguin di rumah?".
"Ah, belum kok." Jawabnya sambil mengerdipkan mata kiri dan tersenyum manis.
"OK, aku akan beres-beres dulu yah!", Kataku sambil melangkah balik ke bilikku.

Aku segera mengemasi notebook dan kertas-kertas kerjaku secara terburu-buru. Ada yang aneh di pikiranku. Aku merasakan ada gairah yang mendorongku untuk berhubungan lebih intim dengan Ditto. Padahal orangnya biasa saja, kulitnya rada gelap, rambutnya cepak, wajahnya biasa saja meski ukuran tubuhnya memang cukup besar untuk ukuran orang sini. Tapi cara dia bicara, cara dia tersenyum, cara dia memandang mataku, benar-benar hangat, namun tidak nakal atau kurang ajar. Nyatanya, ia tidak berusaha mencuri pandang ke arah yang tidak-tidak seperti pria lainnya yang pernah ketemu aku. Hmm... Kira-kira apakah dia ada keinginan untuk bercumbu denganku atau tidak yaa?
Selagi aku asyik mengkhayalkannya, terdengar ketukan di pintu.
"Masuk!" Kataku sambil berharap bahwa itu adalah Ditto.

Ternyata benar, Ditto berdiri di pintu itu sambil menenteng tas notebook di tangan kanannya. Dasinya telah dilepas, dan kancing bajunya terbuka yang di atasnya, sehingga nampak rambut-rambut halus di situ.
"Gimana, udah selesai?", Tanyanya.
"Iya, udah, tapi sewa overtime nya sampai jam sepuluh nih, jadi masih rugi kalau aku tinggalkan sekarang!" Aku mencoba mengajak bercanda.
"Haha, pelit juga kamu, Sar! Boleh aku masuk?".
"Silakan aja, asalkan kamu nggak keburu pulang".
"Ah, nggak kok, ini kan Jumat, biasanya juga pulang telat".
"Biasanya kemana aja kalau Jumat malam?".
"Paling-paling pergi sama teman-teman main badminton atau basket".
"Oh, seru dong? Apa sekarang nggak ditungguin teman-temannya?".
"Ah, mendingan juga di sini nemenin Reni. Sekali-kali boleh kan ganti suasana?"Kami kembali tertawa-tawa.

Ia duduk di meja kerja, sementara aku duduk di kursi kerjaku yang tadi.
"Wah, panas sekali di sini..., AC-nya kurang bagus yah?" Katanya sambil menggulung lengan bajunya ke atas, dan membuka satu lagi kancing baju di dadanya. Aku menahan diri untuk tidak melihat ke arah rambut-rambut di dadanya.
"Sar, kamu nggak panas pakai blazer di ruang kaya gini?" Tanyanya dengan nada yang terkesan wajar, meski mungkin saja tujuannya nakal.
"Well, sebenarnya iya sih..., boleh nggak aku copot blazernya?"
"Hahaha, kok pakai minta izin segala sih? Memangnya aku Papa mertua kamu?".

Humornya membuatku tertawa geli, tapi juga sekaligus membuatku ingin berbuat lebih jauh dengannya. Maka aku berdiri dari kursi, dan melepaskan blazerku dengan gaya yang aku buat-buat agar nampak seksi. Aku menunggu apa reaksi dia kalau dia melihat bahwa ternyata kemeja yang aku kenakan ini tidak berlengan, sehingga kehalusan bahuku bebas dilihatnya.
"Wah, ternyata nggak ada lengannya toh?, Bisa-bisa nanti orang hanya menempelkan selembar kain saja di bawah blazer". Candanya mengomentari.
"Sialan, aku kira kamu akan bilang aku seksi, Dit!", Jawabku menggoda.
"Hah? wah, kalau itu sih..., apa kamu masih kurang yakin? sampai-sampai aku perlu meyakinkan diri kamu lagi?"
"Hihihi, ada-ada saja. Tapi thanks lho!", Kataku sambil mengerdipkan mata.

Lalu dengan gaya yang kocak ia menceritakan bahwa seorang pialang saham ulung akan lebih merasa tersanjung bila dipuji atas kepandaiannya memasak daripada atas kepiawaiannya menganalisis saham. Wow, aku jadi merasa tersanjung juga karena itu berarti dia mengakui keindahanku.
Tiba-tiba dia berkata lagi, "Kamu nggak minta dipijitin sekalian, Sar? Kan kalau di film-film semi, adegan cewe buka blazer dilanjut dengan adegan pijit itu trus berlanjut dengan adegan yang biasanya disensor?".

Ya ampun..., caranya begitu jantan sekali dan sama sekali nggak kurang ajar..., Aku jadi luluh juga dibuatnya, dan aku jadi rela untuk menyerahkan tubuhku padanya..., meski sebenarnya akulah yang menginginkannya.
Aku segera menjawab, "Terserah deh, tapi nggak usah disensor juga nggak apa-apa kok".
"OK deh, itu berarti adegan yang disensor itu bisa aja dilakukan nanti?"Katanya, sambil berdiri di belakang kursiku dan mulai memijit bahuku.


Kami terdiam sejenak, ia memijit bahuku lewat kemejaku. Rasanya mantap juga, tapi tali bra yang kukenakan terasa menyakitkan sedikit. Dan dia bukannya tak tahu itu, ia menyingkapkan kemeja tanpa lenganku ke bawah, sehingga kini pundakku terpampang di hadapannya.
"Huh, tali ini menggangguku memamerkan keahlianku memijit!" Katanya sambil menyingkirkan tali bra ku ke samping, aku jadi merasa begitu seksi, ditelanjangi perlahan-lahan seperti ini membuat pikiranku jadi aneh-aneh.
"mm..., nikmat sekali Ditt...", Kataku sambil menikmati pijitannya yang memang nikmat dan membuatku menggeliat-geliat sedikit.

Tangannya dengan mantap memijiti pundak dan leherku, membuatku merasa begitu rileks, dan terus terang saja..., terangsang. Tiap kali jemarinya yang hangat itu menyentuhku, rasanya begitu nikmat hingga aku mengerang keenakan.
"mm..., mm..., aduuh, enaknyaa..., boleh juga tangan kamu, Dit!"
"Eh, rintihannya jangan dibuat-buat gitu dong! Nanti aku jadi ingin mijit bagian yang lain!". Ia membuatku jadi makin terangsang dengan pilihan katanya yang selalu di luar perkiraanku.
"Berarti kalau aku merintih-rintih yang dibuat-buat, kamu pijit bagian yang lain yah?"
"OK! Setuju!" Candanya dengan nada seperti orang sedang rapat kampung. "Aahh... mmhh..., Ohh.." Rintihku aku buat-buat sambil bercanda.

Tiba-tiba tangannya langsung turun meremas kedua payudaraku yang masih terbungkus bra itu. Tangannya diam di situ, dan dia bilang, "Tuh kan? apa aku bilang? kalau kamu buat-buat gitu, tanganku jadi memijit bagian yang lain!" Katanya sambil bercanda..., padahal aku sudah mabuk kepayang dan ingin tangannya segera meremas kedua payudaraku.
"Udahlah Dit..., sekarang kita mulai aja deh", Kataku dengan nada serius.
"Baiklah, Saya juga ingin melakukannya sejak tadi, kalau kamu yang minta oke lah!", Katanya.

Ia pun langsung menurunkan bra-ku ke bawah, hingga kedua susuku kini terbuka lebar. Ia memutar kursiku hingga kami kini berhadapan. Ia berlutut di depanku, matanya menatap mataku yang telah sayu terlanda birahi. Aku menggerakkan tanganku untuk melepas kacamata minusku, namun ia menghalanginya.
"Nggak apa-apa, Sar..., Aku senang melihat kamu dengan kaca mata itu..., seksi sekali!" Katanya sambil mengedipkan mata kiri.

Tanpa banyak kata, ia lalu memajukan kepalanya dan mengulum bibirku, aku terpejam ketika merasakan lidahnya menerobos mulutku. Aku agak terkejut ketika ia melepaskan bibirnya dari bibirku. Belum sempat aku membuka mata, aku sudah merasakan jilatan lidahnya membasahi leherku yang jenjang, merambat menyusuri bahuku..., hangat sekali rasanya.
"Nngg...", Aku mulai merintih pelan sambil menengadahkan kepalaku. Sementara lidahnya melingkar-lingkar mengolesi leherku, turun ke belahan dadaku..., menari-nari di situ..., uhh..., aku semakin tak karuan rasanya.
"Augh, cium yang aku mesra...!" Aku meracau tak karuan.
"Wah..., ketahuan nih, udah pengen yaa?", Godanya nakal. Aku sudah kesetanan, segera kudekap kepalanya dan kutarik mendekati dadaku, dan kubusungkan kedua dadaku agar ia segera mengulum puting susuku. Dia malah berkata lagi, "Iya, iya aku tahu maksudnya kok..., sslurp".
"Uhgkk", Mulutnya menangkap puting susuku yang kanan, lidahnya menjilat-jilat lembut, aduuh..., rasanya gelii dan nikmaat sekali..., aku menggelinjang-gelinjang menahan geli yang luar biasa, lidahnya seperti melingkar-lingkari puting susuku dengan cepat namun lembut. Begitu gelinya hingga punggungku terlepas dari sandaran kursi dan melengkung seperti busur panah.

Kini lidahnya berpindah ke puting susuku yang kiri, mengait-ngaitnya..., Aduuhh aku semakin lupa daratan, Aku nggak tahu kenapa, tapi jilatan Ditto rasanya begitu berbeda, benar-benar membuatku seperti melayang-layang kegelian, rasanya seluruh badanku kehilangan energi..., lemas sekali, tapi terasa nikmaat sekali. Puting susuku yang kanan kini dipilin-pilinnya.

Uhhfff..., Kedua puting susuku yang sensitif ini menjadi bulan-bulanan mulut rakus Ditto, aku merintih dan mengerang sebisaku, keringatku mulai menetes, rasanya sulit sekali untuk bernafas teratur, tiap kali menarik nafas selalu terhenti oleh rasa geli yang menyengat puting susuku.
Tiba-tiba ia berhenti. "Sar, naik ke meja dong?", Katanya sambil mendirikan tubuhku. Karena sudah terangsang tak karuan, aku menurut saja ketika ia menelentangkan tubuhku di meja kantor, kemejaku telah terbuka kancingnya, namun ia tidak melepasnya, hanya menyingkirkan ke kiri kanan. Aku sempat tertegun melihat kemeja Ditto masih tampak rapi, hanya celananya saja yang terlihat menonjol karena desakan kejantanannya. Aku tertegun juga ketika melihat kedua pentil susuku terlihat kemerahan, berdenyut denyut dan mencuat tinggi sekali. Aku segera kembali terpejam ketika mulut rakusnya kembali menyerang kedua susuku. Puting-putingku dijilat, dihisap, digigit, dan aku tak tahu diapakan lagi..., rasanya luar biasa geli dan nikmat. Aku hanya bisa telentang di meja itu sambil terengah-engah dan menggelinjang menahan serbuan birahi.
"Ahhkk..., sshh..., mmh...", Aku mendesah dan meracau tak karuan. Sementara tangan kananku mulai gatal dan menyusup kebalik rok mini dan celana dalamku, menggosok-gosok bibir kelaminku yang rupanya telah lembab dan basah sekali dari tadi.

Kini Ditto memilin-milin kedua puting susuku dengan jari-jarinya, dan lidahnya menyusuri perutku yang langsing, menjilati pusarku. Lidahnya mendarat di tempat-tempat tak terduga yang memberiku sensasi yang luar biasa selain pilinan jarinya pada puting susuku. Paha bagian dalamku tak luput dari jilatan-jilatannya yang mesra dan buas. Disingkapkannya rok miniku ke atas, lalu jemarinya kembali ke puting susuku seolah tak membiarkan mereka istirahat. Digigitnya karet celana dalamku, secara refleks aku merapatkan kaki dan mengangkat punggungku agar ia mudah melepaskannya. Aku tak tahu diapakan, tapi celana dalamku segera lepas. Secara sukarela aku mengangkangkan kedua tungkaiku lebar-lebar agar ia bisa memandangi kewanitaanku yang telah membanjir karena ulahnya.

Ditto melepaskan kedua putingku, lalu menekan pahaku keluar, agar ia lebih bebas lagi memandangi kewanitaanku. Aku hanya terengah-engah memandangi langit-langit dalam keadaan terangsang sekali. Akhirnya aku mampu menarik nafas panjang, karena kedua putingku tak lagi menerima sengatan birahi darinya. Tapi tiba-tiba kurasakan hawa dingin di kewanitaanku, ia meniup-niupnya, memberiku rasa geli yang aneh..., membuatku semakin tak tahan lagi, ingin ia segera menancapkan kejantanannya ke tubuhku.
"Ohh..., cepatlahh Dittoo..., ayo..., kamu hebat... deh!".
"Sar..., badan kamu indah sekali..., luar biasa..., cantik sekali".
"Please, lakukan sesuatu..." Aku merintih memintanya segera menyelesaikannya."Ahhgg...", Aku menjerit dan menggelinjang hebat ketika lidahnya tiba-tiba menyayat clitorisku dengan cepat dan tajam. Lalu kewanitaanku seperti diselimuti oleh sesuatu yang basah, panas, dan lunak, terhisap-hisap, dan clitorisku tersayat-sayat oleh sesuatu.

Karuan saja aku makin tak tahan, menggeliat-geliat tak karuan, punggungku terangkat-angkat dari meja itu, mataku tak mampu kubuka, nafasku kian terasa berat, rasanya gelii sekali..., nikmat tak terkira, "Oohh..., Dittoo..., uuhh..., enaak sekalii..., sshh..., kamu apain akuu..., aduuhh".
Rintihanku kian tak terkendali, aku segera memlintir-mlintir kedua puting susuku untuk menambah kenikmatan, meremas kedua susuku yang kenyal, sementara Ditto tak henti mengirimkan kehangatan birahi lewat bibir kewanitaanku. Jilatan dan hisapan mulut Ditto kian buas menerpa kewanitaanku. Apalagi ketika jarinya ditusukkannya ke dalam liang kewanitaanku, dan menari-nari di dalamnya..., Aduuh..., benar-benar tak terperi nikmatnya.

Tusukan jari Ditto menyentuh tempat yang tepat..., berkali-kali..., Aduhh..., terasa seluruh energiku seperti terhisap ke tempat itu..., terkumpul di situ..., lalu meledak.
"Aahhgg Dittoo..., uhh..", Aku segera mencapai klimaks. Orgasme yang luar biasa sekali..., merenggut sebagian kesadaranku..., hingga kini aku terkulai lemas. Aku mencoba mengatur nafas..., tapi sia-sia..., kenikmatan ini benar-benar membuatku terbang melayang. Aku terpejam, merasakan nikmatnya diriku terombang-ambing ke alam tak sadar..., menggumam.
"mmhh..., Ditto..., nikmat sekali..., hh".
"Sari, mau istirahat dulu?".
"Ngghh..., nggak..., langsung aja, goyang yang cepat! sekarang!", Aku tak mampu mengontrol pilihan kataku lagi, birahiku telah menguasai diriku.
"Well, baik kalau begitu..", Itu kata terakhir yang kudengar dari Ditto, lalu sambil hanya dapat memandangi langit-langit aku merasa pahaku dikangkangkan, tiba-tiba..., sspp..., Kejantanannya mengisi tiap rongga di liang kewanitaanku ini.
"Aduuhh..., Ohh..., terusin sayangghh..., deeper...", Aku merintih tak karuan ketika ia mulai menggerakkan tubuhnya. Ia berdiri sementara aku telentang di meja, jelas ia sangat leluasa menggerakkan tubuhnya, kejantanannya terasa menyodok dan menggerus-gerus seluruh bagian dalam kewanitaanku dengan buas dan garangnya.

Aku tak mampu bergerak membalas karena masih lemas oleh orgasme yang pertama tadi..., namun persetubuhan ini rasanya lebih hebat lagi..., rasa-rasanya seluruh tubuhnya memasuki liang kewanitaanku, aku hanya memejamkan mata, menggeliat, merintih. "Uhh...". Sodokan-sodokan kejantanannya terasa kian dalam menerobos dasar kewanitaanku telapak-telapak tangannya yang kasar tak henti meremas dan memegang kedua susuku.

Beberapa menit kemudian, Ditto tiba-tiba menarik kejantanannya dari kewanitaanku, lalu dengan begitu cepat membalikkan tubuhku hingga kini badanku tengkurap di meja, namum kakiku menjuntai ke lantai, puting susuku terasa geli merasakan dinginnya meja kantor itu, aku hanya terengah.

Ditto menikamkan kejantanannya lagi ke lubang kewanitaanku dari belakang..., "Uffhh...", sensasi yang berbeda lagi..., ia mengocok tubuhku keras sekali hingga meja itu bergoyang-goyang, saat itu juga, aku merasakan klimaks menyambar tubuhku..., kewanitaanku serasa mengejang, menggigit kejantanan Ditto, kedua tanganku mencengkeram ujung meja kuat-kuat, tubuhku menegang, dan aku merasakan adanya gelombang kenikmatan yang menyapu jiwaku, merenggut tenagaku, aku menjerit tertahan "Ahkk!". Lalu aku merasakan nikmat yang luar biasa dan tubuhku serasa lemas sekali.
"Aduuh..., Ditt..., Enakk sekali.., hh".
"Tahan sebentar, ya Sari..., bisa kan?", Jawabnya sambil mempercepat gerakannya.
"Ahhkk..., sakit..., pelan-pelan dongg..", Kewanitaanku terasa ngilu.
"Sebentar saja yang..., sebentaar lagii".
"Ohh..., Uhhg..., Ngg..", Aku mengerang-erang menahan ngilu, namun rasa sakit itu tak bertahan lama ketika tiba-tiba kehangatan kembali mengalir lewat kewanitaanku. Aku serasa melambung lagi oleh orgasme yang ketiga, ketika sperma Ditto menyembur menghangatkan sudut-sudut liang kewanitaanku. Kali ini, kenikmatan itu mengantarkanku ke alam tak sadar untuk beberapa saat.

Cukup lama aku tertelungkup di meja itu, terengah-engah, dibanjiri keringat, lemas sekali seperti setengah pingsan. Yang dapat kurasakan hanya rasa nikmat dan kepuasan tiada tara, aku sempat melihat Ditto melemparkan tubuhnya ke kursi kerja, lalu memejamkan matanya.

Beberapa saat kemudian, aku tersadar. Dengan sisa tenagaku aku mencoba berdiri dan merapikan kemejaku yang telah kusut tak karuan karena habis bersetubuh tanpa melepaskan pakaian. Tak kukenakan kembali celana dalamku karena telah sedikit basah oleh cairan kenikmatanku ketika foreplay tadi.

Kukenakan kembali blazerku, kulihat Ditto sedang berdiri bersandar di pintu tanpa ada kusut sedikitpun di kemejanya, namun wajahnya tampak berseri-seri.
"Sari, udah jam sepuluh seperempat!".
"Iya, sudah waktunya pulang nih".
"Nah, dengan begini kamu nggak rugi kan?".
"Apanya yang nggak rugi?".
"Kan bayar sewa ruang overtimenya sampai jam sepuluh!?".

Kami tertawa-tawa lagi. Lalu berjalan menuju tempat parkir mobil kami di lantai lima. Di lift, sebenarnya ingin juga sekedar berpelukan atau berciuman, tapi sayang sekali satpam gedung ikut berada di lift, senyam senyum memandangi wajah-wajah kami yang kusut meski berseri-seri. Semenjak itu, aku masih beberapa kali lagi melakukannya dengan Ditto, sampai ia dipindah tugaskan menjadi kepala pemasaran di daerah lain. Dan aku?
Well..., Ia memang luar biasa, tapi availability ialah segalanya, bukan? Aku kembali mengejar karier, sambil bertualang dari satu pelukan ke pelukan lain para pria (dan kadang-kadang wanita) yang aku taklukkan dengan tubuhku.


TAMAT

0 comments:

Post a Comment