Pages

Tuesday, July 17, 2012

4 Cewek Memperkosaku

Mungkin anda semua berpikir kalau korban perkosaan pasti adalah wanita, namun tidak
demikian dengan saya. Yang saya alami ini adalah nyata.
Perkenalkan, nama saya Andi. Saat ini saya berusia 22 tahun. Secara fisik banyak
yang bilang saya tampan. Namun bisa dibilang saya ini culun abis dan agak kurang
pergaulan. Sejak dari SD saya terbiasa mengancingkan kerah baju bagian atas. Dan
entah kenapa sampai saat ini, saya nyaman-nyaman saja dengan penampilan saya itu


meskipun banyak yang bilang culun. Saya juga sudah sangat sering menjadi korban
jahil teman-teman.
Kejadiannya kurang lebih 6 tahun yang lalu, ketika saya masih SMA kelas 1. Hari itu
hari sabtu. Semua terasa biasa saja, sampai jam menunjukkan pukul 3 yang merupakan
waktu pulang sekolah. Kejadian itu takkan pernah saya lupakan. Saya
merupakan anak terakhir yang meninggalkan kelas pada saat itu.
Karena rasa kebelet kencing saya sudah tidak terelakkan, saya bergegas ke kamar
kecil. Begitu sampai disana, langsung kubuka resleting dan piss curr,…. (*maaf,
memang saya merasa kurang nyaman dengan celana dalam, jd saya hampir tidak prnah
mmakai celana dalam, hehe). Selanjutnya saya bergegas keluar dari kamar mandi dan
selanjutnya pulang.
Tiba-tiba begitu melewati depan kamar mandi wanita, ada seorang teman sekelas saya
wanita menyapa. namanya Jenny.
“Hai ndi, blum pulang?” tanya Jenny.
“Iya Jen, ini baru mau pulang” jawabku.
“Mau bareng gak?” tanya Jenny.
“Oh, nggak usah Jen. Aku ngekos didepan situ kok” jawabku.
“Hmmm, yaudah” jawab Jenny agak ketus.
“Duluan ya Jen” aku pamit
Jenny tidak mnjawab. Tiba2 dia memanggilku.
“Eh, Andi sini dong” pinta Jenny.
“Ada apa?” tanyaku penasaran.
Tiba-tiba dari dalam kamar mandi muncul 3 orang temannya yang juga merupakan teman
sekelasku. Mereka langsung membekapku
dengan sapu tangan dan menyeretku ke dalam kamar mandi. Dari sapu tangan itu, aku
mencium bau-bau alkohol seperti yang biasanya ada di Lab. Kimia. Seketika itu aku
pun tak sadar.
Begitu sadar, aku merasa pusing sekali. Tapi aku bingung. Dimana aku?? Kenapa aku
masih mengenakan baju seragam lengkap?? Lalu aku menyadari bahwa aku ditidurkan
dengan tangan kakiku diikat dipojok-pojok kasur. Mulutku juga dilakban. Ada apa
ini?? Siapa yang menjahiliku??
Beberapa menit kemudian muncul seorang wanita yang kukenal. Tak lain tak bukan
adalah Jenny dan ketiga temannya, Rini, Eka, dan Cindy. “Welcome to my house, Andi”
kata Jenny sambil tersenyum. “Oh, tidak. Apa yang yang akan mereka lakukan padaku”
pikirku dalam hati. Kucoba meronta-ronta tapi mereka tidak menggubrisnya. Mereka
malah tertawa-tawa. Tiba-tiba Jenny bertanya pada Cindy, “Let’s start the party?”,
“Ok guys, Tancaaap!!” jawab Cindy.
Tiba-tiba mereka semua melepas semua pakaian mereka, alias telanjang atau bugil.
Seumur-umur baru kali itu saya
melihat wanita tanpa busana. Bahkan saya tidak pernah melihat bokep sebelumnya.
Secara alamiah penis saya tiba-tiba ereksi. Cindy melihatnya, kemudian berkata pada
Jenny “Jen, lihat tuh”. Mereka semua langsung tertawa terbahak-bahak begitu melihat
ada yang menonjol dari celana saya.
Tanpa instruksi, tiba-tiba Rini membuka resleting celana seragam abu-abu saya. Dia
kaget dan berkata “Parah!! Ni anak kagak pake kancut. Eh, tapi lumayan gede jg titit
lo”.
Aku yang sedang bingung dan ketakutan hanya terdiam saja.
“Gue nyicip duluan ye” kata Rini. Tiba-tiba dia langsung mengulum dan menghisap
penisku. Aku yang tidak tahu apa-apa tentang seks sebelumnya langsung terkejut.
Seperti disetrum rasanya. Inginku meronta-ronta tapi semua sia-sia. Ikatan tali itu
telalu kuat. Mulutku juga dilakban.
Tiba-tiba ada rasa seperti ingin kencing, tapi ini lain. Terasa nikmat sekali. Dan
“aaagghhh” aku merasakan ada cairan yang keluar dari penisku dan masuk ke mulut
Rini.
“Apa ini??” pikirku
“Hmm, boleh juga lo” kata Rini padaku.
“Ni, siapa mau? Tar klo uda gw lagi ye.” kata dia pada yang lain.
“Gampaang. Hari ini mpe besok, Andi buat kita. Hahahhaa” kata Jenny sambil tertawa.
“Apa?? Aku diginikan sampai besok?? Dimana orang-orang rumah ini??” pikirku dalam hati
Tidak seperti Rini, Jenny tidak mengulum penisku. Dia langsung memasukkan ke dalam
lubang di daerah pantatnya. “Apa ini vagina??” pikirku sambil ketakutan. Selanjutnya
Jenny menggenjotnya dengan penuh semangat.
“Aaagghh, tolong hentikan ini” pintaku dengan tidak jelas karena mulutku masih
dilakban.
Tiba-tiba rasa ingin kencing itu muncul lagi. Dan, akhirnya cairan itu keluar lagi.
Kali ini didalam vagina Jenny. Setelah cairan itu keluar, Jenny melepaskan vaginanya
dari penisku kemudian dia menjilati cairan sperma yang tersisa di penisku. Jenny pun
selesai denganku. Aku benar-benar merasa jijik dengan ulah mereka semua. Mereka
semua menyetubuhiku yang masih dengan seragam lengkap.
Jenny kemudian berkata pada Eka “Tuh, giliran lu”
“Nggak ah, gw ga ada nafsu sama sekali ma tu anak” jawab Eka.
“Parah lu, dasar lesbi” timpal Cindy.
“Biarin, EGP” jawab Eka.
“Alhamdulillah, cobaan ini telah berakhir” pikirku begitu Eka menolak menyetubuhiku.
Tapi aku baru sadar bahwa Cindy belum melakukannya.
“Yaudah, klo ga mau biar gw yang ngabisin, hahha” kata Cindy.
“Astagaaa” pikirku.
“Ok Ndi, ronde ke-3 dimulai. Are u ready?” tanya Cindy.
Aku menggeleng-gelengkan kepala minta ampun supaya dihentikan semua ini. Namun Cindy
tidak menggubrisnya. Seperti Rini, dia memulai dengan mengulum penisku. Karena sudah
agak loyo, kali ini spermaku keluar setelah hampir 20 menit. Setelah puas nyepong
aku, dia pun menjilati sisa-sisa sperma tanpa sisa. Dia benar-benar seperti
profesional dan aku yakin ini pasti bukan yang pertama baginya.
Aku benar-benar tersiksa dengan keadaan ini semua.
Ternyata dia masih melanjutkan ronde ke-4. Dia memasukkan penisku ke dalam
vaginanya. Tapi yang ini lain, aku benar-benar terbawa dalam permainannya dan aku
merasakan kenikmatan. Dia menggenjot dengan perasaan. Aku yakin dia benar-benar
profesional. Akhirnya aku pun orgasme dan cairan itu keluar di dalam vagina Cindy.
Setelah itu aku benar-benar merasa teler telah meladeni ketiga wanita itu.
Tiba-tiba Jenny bertanya “Mau makan Ndi?” Aku mengangguk. “Yauda, mandi sana dulu”
Lalu Jenny melepaskan ikatanku. Kemudian dia berkata “Jangan kabur lu. Lu mpe nyoba
kabur ga segan-segan gw potong tu penis. hahaha”
“Iya Jen” jawabku dengan takut. Kemudian aku pun mandi. Karena tak punya baju ganti,
kupakai lagi seragam putih dan celana abu-abu itu. Kemudian aku menuju ruang makan
dimana mereka berkumpul. “Ayo Ndi makan, ga usah malu-malu gitu lah” canda Cindy.
Aku hanya tersenyum. Setelah itu aku pun makan dengan lahapnya. Kemudian aku
bertanya “Kapan aku bisa pulang Jen?”
“Besok ya Ndi” jawab Jenny. “Karena….”
“Karena apa Jen” tanyaku.
“Karena malam ini lu belum selesai, hahaha” kata Jenny.
Seketika dia langsung mencengkeramku bersama 3 orang temannya dan mengikatku lagi
persis seperti posisi awal tadi.
“Oh, Tuhan. Cobaan belum usai” pikirku.
Dan seperti sebelumnya mereka menggilirku. Tapi kali ini aku sudah bisa agak
menikmati permainan mereka, meskipun dengan rasa agak tersiksa.
Keesokan sorenya aku diantarkan pulang oleh Jenny. Dia berpesan “kalo sampe lu
bongkar, lu mati!!”. Aku hanya mengangguk. Dan akhirnya sampai lulus SMA saya tetap
menjaga rahasia itu. Bahkan ketika dulunya masih bertemu dikelas, mereka pun
tersenyum-senyum dan saya membalasnya dengan senyum yang agak terpaksa. Yah,
setidaknya saya sedikit menikmat permainan mereka meskipun dengan agak tersiksa.

0 comments:

Post a Comment