Pages

Tuesday, June 12, 2012

Tuker memek ABG



Aku terbangun karena hp ku berdering. Kulihat Dina, abg yang kugarap
tadi malam, masih terlelap. Toketnya yang montok bergerak seiring dengan
tarikan napasnya. Pengen aku menggelutinya lagi, tetapi temanku Ardi
sedang menunggu diujung hp. Aku keluar kamar supaya Dina gak terganggu
dengan pembicaraanku. "Baru bangun ya", terdengar suara Ardi diujung
sana. "Iya, mau ngapain pagi gini dah nelpon, masih ngantuk", jawabku.
"Gini ari baru bangun, udah jam 10 nih. Pasti ngegarap abg ya". "La iya
lah", jawabku. "Ada apa". "Tukeran abg yuk, aku semalam main ama
pembantu sebelah". "Pembantu? emangnya gak ada cewek yang lain", kataku,
rada kesel. Masak Dina mau dituker ama pembantu. "Tunggu dulu, biar
pembantu Ana cantik kaya anak gedongan.Bodinya montok banget dan napsunya gede banget, maunya terus2an main.
Kamu pasti puas lah main ama dia". "Masak sih, kalo cewekku Dina, anak
skolahan, montok dan binal kalo di ranjang", jawabku lagi. "Ya udah,
kita tukeran aja, mau enggak. Kalo mau aku ama Ana cabut kerumahmu
sekarang". Aku tertarik juga dengan tawaran, pengen juga aku ngeliat
kaya apa sih pembantu yang katanya kaya anak gedongan, "Ok, dateng aja".
Pembicaraan terhenti. Aku kembali ke kekamar.

Dina udah bangun. "Ada apa om, mau maen lagi gak", katanya sambil
tersenyum. "Belum puas semalem ya Din. Temen om tadi nelpon ngajakin om
tuker pasangan. Dina mau gak maen ama temennya om. Dia juga ahli kok
nggarap cewek abg kaya Dina", jawabku. "Kalo nikmat ya Dina sih mau
aja", Dina bangun dari tempat tidur dan masuk kamar mandi. Aku
menyusulnya. Sebenarnya aku napsu lagi ngeliat Dina yang masih telanjang
bulat, tetapi karena Ana mau dateng ya aku tahan aja napsuku. Kita mandi
sama sambil saling menyabuni sehingga kon tolku ngaceng lagi. "Om, kon
tolnya ngaceng lagi tuh, maen lagi yuk", ajak Dina sambil ngocok kon
tolku. "Kan Dina mau maen ama temennya om, nanti aja maennya. Temen om
ama ceweknya lagi menuju kemari", jawabku. Sehabis mandi, kita sarapan
dulu. Dina tetep aja bertelanjang bulat sementara aku cuma pake celana
pendek saja. Selesai makan aku menarik Dina saung dipinggir kolam renang
yang ada dibelakang rumahku. Dina kupeluk dan kuciumi sementara tanganku
sibuk meremes2 toket montoknya. Dinapun gak mau kalah, kon tolku
digosok2nya dari luar celana ku.
Sedang asik, Ardi dan Ana datang. Ardi sudah biasa kalo masuk rumahku
langsung nyelonong aja kedalem, karena kami punya kunci rumah masing2.
Ana ternyata cantik juga, seperti bintang sinetron berdarah arab yang
aku lupa namanya. Ana make pakean ketat, sehingga toketnya yang besar
tampak sangat menonjol. Pantatnya yang besar juga tampak sangat
menggairahkan. Ana terkejut melihat Dina yang bertelanjang bulat.
Kuperkenalkan Dina pada Ardi, Ardi langsung menggandeng Dina masuk ke rumah.
"An, Ardi bilang dia nikmat banget ngen tot sama kamu, no nok kamu bisa
ngempot ya, aku jadi kepingin ngerasain diempot juga", kataku sambil
mencium pipinya. "An, kamu napsuin banget, tetek besar dan pantat juga
besar". "Dina kan juga napsuin pak", jawabnya sambil duduk disebelahku
di dipan. "Jangan panggil pak dong, panggil om. Kan saya belum tua",
kataku sambil memeluknya. Kucium pipinya sambil jemariku membelai-belai
bagian belakang telinganya. Matanya terpejam seolah menikmati usapan
tanganku. Kupandangi wajahnya yang manis, hidungnya yang mancung lalu
bibirnya. Tak tahan berlama-lama menunggu akhirnya aku mencium bibirnya.
Kulumat mesra lalu kujulurkan lidahku. Mulutnya terbuka perlahan
menerima lidahku. Lama aku mempermainkan lidahku di dalam mulutnya.
Lidahnya begitu agresif menanggapi permainan lidahku, sampai-sampai
nafas kami berdua menjadi tidak beraturan. Sesaat ciuman kami terhenti
untuk menarik nafas, lalu kami mulai berpagutan lagi dan lagi.
Kubelai pangkal lengannya yang terbuka. Kubuka telapak tanganku sehingga
jempolku bisa menggapai permukaan dadanya sambil membelai pangkal
lengannya. Bibirku kini turun menyapu lehernya seiring telapak tanganku
meraup toketnya. Ana menggeliat bagai cacing kepanasan terkena terik
mentari. Suara rintihan berulang kali keluar dari mulutnya di saat
lidahku menjulur menikmati lehernya yang jenjang. "Om...." Ana memegang
tanganku yang sedang meremas toketnya dengan penuh napsu. Bukan untuk
mencegah, karena dia membiarkan tanganku mengelus dan meremas toketnya
yang montok."An, aku ingin melihat toketmu", ujarku sambil mengusap
bagian puncak toketnya yang menonjol. Dia menatapku. Ana akhirnya
membuka tank top ketatnya di depanku. Aku terkagum-kagum menatap
toketnya yang tertutup oleh BH berwarna hitam. Toketnya begitu
membusung, menantang, dan naik turun seiring dengan desah nafasnya yang
memburu. Sambil berbaring Ana membuka pengait BH-nya di punggungnya.
Punggungnya melengkung indah. Aku menahan tangan Ana ketika dia mencoba
untuk menurunkan tali BH-nya dari atas pundaknya. Justru dengan keadaan
BH-nya yang longgar karena tanpa pengait seperti itu membuat toketnya
semakin menantang. "toketmu bagus, An", aku mencoba mengungkapkan
keindahan pada tubuhnya. Perlahan aku menarik turun cup BH-nya. Mata Ana
terpejam. Perhatianku terfokus ke pentilnya yang berwarna kecoklatan.
Lingkarannya tidak begitu besar sedang ujungnya begitu runcing dan kaku.
Kuusap pentilnya lalu kupilin dengan jemariku. Ana mendesah. Mulutku
turun ingin mencicipi toketnya. "Egkhh.." rintih Ana ketika mulutku
melumat pentilnya.
Kupermainkan dengan lidah dan gigiku. Sekali-sekali kugigit pentilnya
lalu kuisap kuat-kuat sehingga membuat Ana menarik rambutku. Puas
menikmati toket yang sebelah kiri, aku mencium toket Ana yang satunya
yang belum sempat kunikmati. Rintihan-rintihan dan desahan kenikmatan
keluar dari mulut Ana. Sambil menciumi toket Ana, tanganku turun
membelai perutnya yang datar, berhenti sejenak di pusarnya lalu perlahan
turun mengitari lembah di bawah perut Ana. Kubelai pahanya sebelah dalam
terlebih dahulu sebelum aku memutuskan untuk meraba no noknya yang masih
tertutup oleh celana jeans ketat yang dikenakan Ana. Aku secara
tiba-tiba menghentikan kegiatanku lalu berdiri di samping dipan. Ana
tertegun sejenak memandangku, lalu matanya terpejam kembali ketika aku
membuka jeans warna hitamnya. Aku masih berdiri sambil memandang tubuh
Ana yang tergolek di dipan, menantang. Kulitnya yang tidak terlalu putih
membuat mataku tak jemu memandang. Perutnya begitu datar. Celana jeans
ketat yang dipakainya telihat terlalu longgar pada pinggangnya namun
pada bagian pinggulnya begitu pas untuk menunjukkan lekukan pantatnya
yang sempurna.
Puas memandang tubuh Ana, aku lalu membaringkan tubuhku disampingnya.
Kurapikan untaian rambut yang menutupi beberapa bagian pada permukaan
wajah dan leher Ana. Kubelai lagi toketnya. Kucium bibirnya sambil
kumasukkan air liurku ke dalam mulutnya. Ana menelannya. Tanganku turun
ke bagian perut lalu menerobos masuk melalui pinggang celana jeans Ana
yang memang agak longgar. Jemariku bergerak lincah mengusap dan membelai
selangkangan Ana yang masih tertutup CDnya. jari tengah tanganku
membelai permukaan CDnya tepat diatas no noknya, basah. Aku terus
mempermainkan jari tengahku untuk menggelitik bagian yang paling pribadi
tubuh Ana. Pinggul Ana perlahan bergerak ke kiri, ke kanan dan sesekali
bergoyang untuk menetralisir ketegangan yang dialaminya.
aku menyuruh Ana untuk membuka celana jeans yang dipakainya. Tangan
kanan Ana berhenti pada permukaan kancing celananya. Ana lalu membuka
kancing dan menurunkan reitsliting celana jeansnya. CD hitam yang
dikenakannya begitu mini sehingga jembut keriting yang tumbuh di sekitar
no noknya hampir sebagian keluar dari pinggir CDnya. Aku membantu
menarik turun celana jeans Ana. Pinggulnya agak dinaikkan ketika aku
agak kesusahan menarik celana jeans Ana. Akupun melepas celana pendekku.
Posisi kami kini sama-sama tinggal mengenakan CD. Tubuhnya semakin seksi
saja. Pahanya begitu mulus. Memang harus kuakui tubuhnya begitu menarik
dan memikat, penuh dengan sex appeal. Kami berpelukan. Kutarik tangan
kirinya untuk menyentuh kon tolku dari luar CD ku. "Oh.." Ana menyentuh
kon tolku yang tegang. "Kenapa, An?" tanyaku. Ana tidak menjawab, malah
melorotkan CD ku. Langsung kon tolku yang panjangnya kira-kira 18 cm
serta agak gemuk dibelai dan digenggamnya.
Belaiannya begitu mantap menandakan Ana juga begitu piawai dalam urusan
yang satu ini. "Tangan kamu pintar juga ya, An,"´ ujarku sambil
memandang tangannya yang mengocok kon tolku. "Ya, mesti dong!" jawabnya
sambil cekikikan. "Om sama Dina semalem maen berapa kali?" tanyanya
sambil terus mengurut-urut kon tolku. "Kamu sendiri semalem maen berapa
kali sama Ardi?" aku malah balik berrtanya. Mendapat pertanyaan seperti
itu entah kenapa nafsuku tiba-tiba semakin liar. Ana akhirnya bercerita
kalau Ardi napsu sekali tadi malem menggeluti dia. Mau berapa kali Arif
meminta, Ana pasti melayaninya. Mendengar perjelasan begitu jari-jariku
masuk dari samping CD langsung menyentuh bukit no nok Ana yang sudah
basah. Telunjukku membelai-belai i tilnya sehingga Ana keenakan. "Kamu
biasa ngisep kan, An?" tanyaku. Ana tertawa sambil mencubit kon tolku.
Aku meringis. "Kalo punya om mana bisa?" ujarnya. "Kenapa memangnya?"
tanyaku penasaran. "Nggak muat di mulutku," selesai berkata demikian Ana
langsung tertawa kecil. "Kalau yang dibawah, gimana?" tanyaku lagi
sambil menusukkan jari tengahku ke dalam no noknya. Ana merintih sambil
memegang tanganku. Jariku sudah tenggelam ke dalam liang no noknya. Aku
merasakan no noknya berdenyut menjepit jariku. Ugh, pasti nikmat sekali
kalau kon tolku yang diurut, pikirku. Segera CD nya kulepaskan.
Perlahan tanganku menangkap toketnya dan meremasnya kuat. Ana meringis.
Diusapnya lembut kon tolku keras banget. Tangannya begitu kreatif
mengocok kon tolku sehingga aku merasa keenakan. Aku tidak hanya tinggal
diam, tanganku membelai-belai toketnya yang montok. Kupermainkan
pentilnya dengan jemariku, sementara tanganku yang satunya mulai meraba
jembut lebat di sekitar no nok Ana. kuraba permukaan no nok Ana. Jari
tengahku mempermainkan i tilnya yang sudah mengeras. kon tolku kini
sudah siap tempur dalam genggaman tangan Ana, sementara no nok Ana juga
sudah mulai mengeluarkan cairan kental yang kurasakan dari jemari
tanganku yang mengobok-obok no noknya. Kupeluk tubuh Ana sehingga kon
tolku menyentuh pusarnya. Tanganku membelai punggung lalu turun meraba
pantatnya yang montok. Ana membalas pelukanku dengan melingkarkan
tangannya di pundakku. Kedua telapak tanganku meraih pantat Ana, kuremas
dengan sedikit agak kasar lalu aku menaiki tubuhnya. Kaki Ana dengan
sendirinya mengangkang.
Kuciumi lagi lehernya yang jenjang lalu turun melumat toketnya. Telapak
tanganku terus membelai dan meremas setiap lekuk dan tonjolan pada tubuh
Ana. Aku melebarkan kedua pahanya sambil mengarahkan kon tolku ke bibir
no noknya. Ana mengerang lirih. Matanya perlahan terpejam. Giginya
menggigit bibir bawahnya untuk menahan laju birahinya yang semakin kuat.
Ana menatap aku, matanya penuh nafsu seakan memohon kepadaku untuk
memasuki no noknya."Aku ingin mengen totmu, An" bisikku pelan, sementara
kepala kon tolku masih menempel di belahan no nok Ana. Kata ini ternyata
membuat wajah Ana memerah. Ana menatapku sendu lalu mengangguk pelan
sebelum memejamkan matanya. aku berkonsentrasi penuh dengan menuntun kon
tolku yang perlahan menyusup ke dalam no nok Ana.
Terasa seret, memang, nikmat banget rasanya. Perlahan namun pasti kon
tolku membelah no noknya yang ternyata begitu kencang menjepit kon
tolku. no noknya begitu licin hingga agak memudahkan kon tolku untuk
menyusup lebih ke dalam. Ana memeluk erat tubuhku sambil membenamkan
kuku-kukunya di punggungku hingga aku agak kesakitan. Namun aku tak
peduli. "Om, gede banget, ohh.." Ana menjerit lirih. Tangannya turun
menangkap kon tolku. "Pelan om". Soalnya aku tahu pasti ukuran kon tol
Ardi tidaklah sebesar yang kumiliki. Akhirnya kon tolku terbenam juga di
dalam no nok Ana. Aku berhenti sejenak untuk menikmati denyutan-denyutan
yang timbul akibat kontraksi otot-otot dinding no nok Ana. Denyutan itu
begitu kuat sampai-sampai aku memejamkan mata untuk merasakan kenikmatan
yang begitu sempurna. Kulumat bibir Ana sambil perlahan-lahan menarik
kon tolku untuk selanjutnya kubenamkan lagi.
Aku menyuruh Ana membuka kelopak matanya. Ana menurut. Aku sangat senang
melihat matanya yang semakin sayu menikmati kon tolku yang keluar masuk
dari dalam no noknya. "Aku suka no nokmu, An.. no nokmu masih rapet"
ujarku sambil merintih keenakan. Sungguh, no nok Ana enak sekali. "Kamu
enak kan, An?" tanyaku lalu dijawab Ana dengan anggukan kecil. Aku
menyuruh Ana untuk menggoyangkan pinggulnya. Ana langsung mengimbangi
gerakanku yang naik turun dengan goyangan memutar pada pinggangnya.
"Suka kon tolku, An?" tanyaku lagi. Ana hanya tersenyum. kon tolku
seperti diremas-remas ditambah jepitan no noknya. "Ohh.. hh.." aku
menjerit panjang. Rasanya begitu nikmat. Aku mencoba mengangkat dadaku,
membuat jarak dengan dadanya dengan bertumpu pada kedua tanganku. Dengan
demikian aku semakin bebas dan leluasa untuk mengeluar-masukkan kon
tolku ke dalam no nok Ana.
Kuperhatikan kon tolku yang keluar masuk dari dalam no noknya. Dengan
posisi seperti ini aku merasa begitu jantan. Ana semakin melebarkan
kedua pahanya sementara tangannya melingkar erat di pinggangku. Gerakan
naik turunku semakin cepat mengimbangi goyangan pinggul Ana yang semakin
tidak terkendali. "An.. enak banget, kamu pintar deh." ucapku keenakan.
"Ana juga, om", jawabnya. Ana merintih dan mengeluarkan erangan-erangan
kenikmatan. Berulang kali mulutnya mengeluarkan kata, "aduh" yang
diucapkan terputus-putus. Aku merasakan no nok Ana semakin berdenyut
sebagai pertanda Ana akan mencapai puncak pendakiannya. Aku juga
merasakan hal yang sama dengannya, namun aku mencoba bertahan dengan
menarik nafas dalam-dalam lalu bernafas pelan-pelan untuk menurunkan
daya rangsangan yang kualami.
Aku tidak ingin segera menyudahi permainan ini hanya dengan satu posisi
saja. Aku mempercepat goyanganku ketika kusadari Ana hampir nyampe.
Kuremas toketnya kuat seraya mulutku menghisap dan menggigit pentilnya.
Kuhisap dalam-dalam. "Ohh.. hh.. om.." jerit Ana panjang. Aku
membenamkan kon tolku kuat-kuat ke no noknya sampai mentok agar Ana
mendapatkan kenikmatan yang sempurna. Tubuhnya melengkung indah dan
untuk beberapa saat lamanya tubuhnya kejang. Kepalaku ditarik kuat
terbenam diantara toketnya. Pada saat tubuhnya menyentak-nyentak aku tak
sanggup untuk bertahan lebih lama lagi. "An, aakuu.. keluaarr, Ohh..
hh.." jeritku. Ana yang masih merasakan orgasmenya mengunci pinggangku
dengan kakinya yang melingkar di pinggangku. Saat itu juga aku
memuntahkan peju hangat dari kon tolku. Kurasakan tubuhku bagai
melayang. secara spontan Ana juga menarik pantatku kuat ke tubuhnya.
Mulutku yang berada di belahan dada Ana kuhisap kuat hingga meninggalkan
bekas merah pada kulitnya. Telapak tanganku mencengkram toket Ana.
Kuraup semuanya sampai-sampai Ana kesakitan. Aku tak peduli lagi. Pejuku
akhirnya muncrat membasahi no noknya. Aku merasakan nikmat yang tiada
duanya ditambah dengan goyangan pinggul Ana pada saat aku mengalami
orgasme. Tubuhku akhirnya lunglai tak berdaya di atas tubuh Ana. kon
tolku masih berada di dalam no nok Ana. Ana mengusap-usap permukaan
punggungku. "Ana puas sekali dien tot om," katanya. Aku kemudian
mencabut kon tolku dari no noknya. Dari dalam Ardi keluar sudah
berpakaian lengkap. "Pulang yuk An, sudah sore", ajaknya.
Aku masuk kembali ke kamar. Dina ada di kamar mandi dan terdengar shower
nyala. Aku bisa mendengarnya karena pintu kamar mandi tidak ditutup. Tak
lama kemudian, shower terdengar berhenti dan Dina keluar hanya bercelana
pendek. Ganti aku yg masuk ke kamar mandi, aku hanya membersihkan
tubuhku. Keluar dari kamar mandi, Dina berbaring diranjang telanjang
bulat. "Kenapa Din, lemes ya dien tot Ardi", kataku. "Lebih enak ngen
tot sama om, kon tol om lebih besar soalnya", jawab Dina tersenyum.
"Malem ini kita men lagi ya om". Hebat banget Dina, gak ada matinya.
Pengennya dien tot terus. "Ok aja, tapi sekarang kita cari makan dulu
ya, biar ada tenaga bertempur lagi nanti malem", kataku sambil
berpakaian. Dina pun mengenakan pakaiannya dan kita pergi mencari makan
malem. Kembali ke rumah sudah hampir tengah malem, tadi kita selain
makan santai2 di pub dulu.
Di kamar kita langsung melepas pakaian masing2 dan bergumul diranjang.
Tangan Dina bergerak menggenggam kon tolku. Aku melenguh seraya menyebut
namanya. Aku meringis menahan remasan lembut tangannya pada kon tolku.
Dina mulai bergerak turun naik menyusuri kon tolku yang sudah teramat
keras. Sekali-sekali ujung telunjuknya mengusap kepala kon tolku yang
sudah licin oleh cairan yang meleleh dari liangnya. Kembali aku melenguh
merasakan ngilu akibat usapannya. Kocokannya semakin cepat. Dengan
lembut aku mulai meremas-remas toketnya. Tangan Dina menggenggam kon
tolku dengan erat. Pentilnya kupilin2. Dina masukan kon tolku kedalam
mulutnya dan mengulumnya. Aku terus menggerayang toketnya, dan mulai
menciumi toketnya. Napsuku semakin berkobar. Jilatan dan kuluman Dina
pada kon tolku semakin mengganas sampai-sampai aku terengah-engah
merasakan kelihaian permainan mulutnya.
Aku membalikkan tubuhnya hingga berlawanan dengan posisi tubuhku.
Kepalaku berada di bawahnya sementara kepalanya berada di bawahku. Kami
sudah berada dalam posisi enam sembilan! Lidahku menyentuh no noknya
dengan lembut. Tubuhnya langsung bereaksi dan tanpa sadar Dina menjerit
lirih. Tubuhnya meliuk-liuk mengikuti irama permainan lidahku di no
noknya. Kedua pahanya mengempit kepalaku seolah ingin membenamkan
wajahku ke dalam no noknya. kon tolku kemudian dikempit dengan toketnya
dan digerakkan maju mundur, sebentar. Aku menciumi bibir no noknya,
mencoba membukanya dengan lidahku. Tanganku mengelus paha bagian dalam.
Dina mendesis dan tanpa sadar membuka kedua kakinya yang tadinya
merapat. Aku menempatkan diri di antara kedua kakinya yang terbuka
lebar. kon tol kutempelkan pada bibir no noknya. Kugesek-gesek, mulai
dari atas sampai ke bawah. Naik turun. Dina merasa ngilu bercampur geli
dan nikmat. no noknya yang sudah banjir membuat gesekanku semakin lancar
karena licin. Dina terengah-engah merasakannya. Aku sengaja melakukan
itu. Apalagi saat kepala kon tolku menggesek-gesek i tilnya yang juga
sudah menegang. "Om.?" panggilnya menghiba. "Apa Din", jawabku sambil
tersenyum melihatnya tersiksa. "Cepetan.." jawabnya. Aku sengaja
mengulur-ulur dengan hanya menggesek-gesekan kon tol. Sementara Dina
benar-benar sudah tak tahan lagi mengekang birahinya. "Dina sudah pengen
dien tot om", katanya.
Dina melenguh merasakan desakan kon tolku yang besar itu. Dina menunggu
cukup lama gerakan kon tolku memasuki dirinya. Serasa tak sampai-sampai.
Maklum aja, selain besar, kon tolku juga panjang. Dina sampai menahan
nafas saat kon tolku terasa mentok di dalam, seluruh kon tolku amblas di
dalam. Aku mulai menggerakkan pinggulnya pelan2. Satu, dua dan tiga
enjotan mulai berjalan lancar. Semakin membanjirnya cairan dalam no
noknya membuat kon tolku keluar masuk dengan lancarnya. Dina mengimbangi
dengan gerakan pinggulnya. Meliuk perlahan. Naik turun mengikuti irama
enjotanku. Gerakan kami semakin lama semakin meningkat cepat dan
bertambah liar.
Gerakanku sudah tidak beraturan karena yang penting enjotanku mencapai
bagian-bagian peka di no noknya. Dina bagaikan berada di surga merasakan
kenikmatan yang luar biasa ini. kon tolku menjejali penuh seluruh no
noknya, tak ada sedikitpun ruang yang tersisa hingga gesekan kon tolku
sangat terasa di seluruh dinding no noknya. Dina merintih, melenguh dan
mengerang merasakan semua kenikmatan ini. Dina mengakui keperkasaan dan
kelihaianku di atas ranjang. Yang pasti Dina merasakan kepuasan tak
terhingga ngen tot denganku. Aku bergerak semakin cepat. kon tolku
bertubi-tubi menusuk daerah-daerah sensitivenya. Dina meregang tak kuasa
menahan napsuku, sementara aku dengan gagahnya masih mengayunkan
pinggulku naik turun, ke kiri dan ke kanan. Erangannya semakin keras.
Melihat reaksinya, aku mempercepat gerakanku. kon tolku yang besar dan
panjang itu keluar masuk dengan cepatnya. Tubuhnya sudah basah
bermandikan keringat. Aku pun demikian. Dina meraih tubuhku untuk
didekap. Direngkuhnya seluruh tubuhku sehingga aku menindih tubuhnya
dengan erat. Dina membenamkan wajahnya di samping bahuku. Pinggul nya
diangkat tinggi-tinggi sementara kedua tangannya menggapai pantatku dan
menekannya kuat-kuat. Dina meregang. Tubuhnya mengejang-ngejang. "om..",
hanya itu yang bisa keluar dari mulutnya saking dahsyatnya kenikmatan
yang dialaminya nersamaku. Aku menciumi wajah dan bibirnya. Dina
mendorong tubuhku hingga terlentang. Dia langsung menindihku dan
menciumi wajah, bibir dan sekujur tubuhku. Kembali diemutnya kon tolku
yang masih tegak itu. Lidahnya menjilati, mulutnya mengemut. Tangannya
mengocok-ngocok kon tolku. Belum sempat aku mengucapkan sesuatu, Dina
langsung berjongkok dengan kedua kaki bertumpu pada lutut dan
masing-masing berada di samping kiri dan kanan tubuhku. no noknya berada
persis di atas kon tolku. "Akh!" pekiknya tertahan ketika kon tolku
dibimbingnya memasuki no noknya.
Tubuhnya turun perlahan-lahan, menelan seluruh kon tolku. Selanjutnya
Dina bergerak seperti sedang menunggang kuda. Tubuhnya melonjak-lonjak.
Pinggulnya bergerak turun naik. "Ouugghh.. Din.., luar biasa!" jeritku
merasakan hebatnya permainannya. Pinggulnya mengaduk-aduk lincah,
mengulek liar tanpa henti. Tanganku mencengkeram kedua toketnya, kuremas
dan dipilin-pilin. Aku lalu bangkit setengah duduk. Wajah kubenamkan ke
dadanya. Menciumi pentilnya. Kuhisap kuat-kuat sambil kuremas-remas.
Kami berdua saling berlomba memberi kepuasan. Kami tidak lagi merasakan
panasnya udara meski kamar menggunakan AC.
Tubuh kami bersimbah peluh, membuat tubuh kami jadi lengket satu sama
lain. Dina berkutat mengaduk-aduk pinggulnya. Aku menggoyangkan
pantatku. Tusukan kon tolku semakin cepat seiring dengan liukan
pinggulnya yang tak kalah cepatnya. Permainan kami semakin meningkat
dahsyat. Sprei ranjang sudah tak karuan bentuknya, selimut dan bantal
serta guling terlempar berserakan di lantai akibat pergulatan kami yang
bertambah liar dan tak terkendali. AKu merasa pejuku udah mau nyembur.
Aku semakin bersemangat memacu pinggulku untuk bergoyang. Tak selang
beberapa detik kemudian, Dina pun merasakan desakan yang sama. Dina
terus memacu sambil menjerit-jerit histeris. Aku mulai mengejang,
mengerang panjang. Tubuhnya menghentak-hentak liar. Akhirnya, pejuku
nyemprot begitu kuat dan banyak membanjiri no noknya. Dina pun rasanya
tidak kuat lagi menahan desakan dalam dirinya. Sambil mendesakan
pinggulnya kuat-kuat, Dina berteriak panjang saat mencapai puncak
kenikmatan berbarengan denganku. Tubuh kami bergulingan di atas ranjang
sambil berpelukan erat. "om, nikmaat!" jeritnya tak tertahankan. Dina
lemes, demikian pula aku. Tenaga terkuras habis dalam pergulatan yang
ternyata memakan waktu lebih dari 1 jam! akhirnya kami tertidur kelelahan

0 comments:

Post a Comment