Pages

Monday, June 11, 2012

Tubuh mulus indah

siang menyengat kota Yogya, dengan langkah gontai Anton berjalan di koridor kampus menuju ruang administrasi. Dia harus mendaftar ulang hari ini, hingga jam 12 siang, bila ingin ikut KKN. Rambut setengah bahu dan tak pernah berrcumbu dengan sisir, tidak membuatnya risi di tiup angin kemarau siang itu. "Siang Anton" sapa suara lembut dari ruangan sebelah kiri tempatnya dia berjalan. "Eh, siang nDah" sapanya kepada asal suara tadi. Indah, teman seangkatan Anton, dengan otak brilliannya sekarang menjadi assistent dosen. "Daftar KKN ya ton..? tanya Indah mengerlingkan mata bundarnya. "Iya non, ikutan KKN juga?" balas tanya Anton. "Iya laah, kan aku panitia" sambung manja Indah.
::
Siapa tak kenal Anton, cowok urakan dengan dandanan semaunya tapi memiliki otak encer serta trik halus dalam memperlakukan wanita. Andai saja Anton rajin, mungkin sudah kemarin-kemarin lulus dia, pikir Indah, Tapi peduli setan liwatlah, yang penting, sebagai salah satu cewek yang mengagumi Anton, Indah tak begitu memperhatikan hal itu. Hatinya sedikit berbunga, mendengar kabar Anton ikut KKN, bukan karena ingin Anton segera menyelesaikan kuliahnya, terlebih Indah dapat berdekatan dengan Anton. Karena Indah sebagai assisten dosen, yang secara kebetulan dia bertugas mendampingi mahasiswa menlaksanakan KKN di suatu daerah terpencil, akan banyak kesempatan untuk mendekati Anton. Sosok Indah yang bertubuh sintal dengan dada membusung, rambut lurus sepinggang, ditambah tai lalat mampir dekat dagunya, menambah manis dan seksi.
::
Singkat cerita sampailah rombongan KKN di daerah terpencil, setelah pembagian penginapan yang di putuskan dalam breafing di pendopo kelurahan, Anton berlima satu rumah dengan Indah. Semua itu telah diatur Indah sebagai panitia yang mempunyai wewenang dalam pembagian penginapan, mereka mendiami belakang rumah pak Lurah, sebagai gambaran, desa tempat KKN berupa perbukitan tandus dan jauh dari kota, sarana serta prasarana sangat minim, listrik belum ternjangkau. Satu-satunya sumber mata air berjarak 300 meter dari desa. Kegiatan sehari-hari KKN adalah memberi penyuluhan kepada masyarakat yang dilaksanakan sehari penuh, anggota KKN baru kembali ke penginapan sekitar pukul 9 malam.
::
Satu bulan berlalu, Jumat sore setelah tugas selesai seharian, tiba giliran mahasiswa yang ingin pulang ke rumah masing-masing, anggota KKN mendapat cuti selama dua hari, yaitu Sabtu dan Minggu. "Gimana Ton? kamu ikut pulang? tanya Indah pada Anton. "Yah, liat aja lah. Kalo ada yang bayarin gue pulang, kalo enggak yah jaga posko, abis semuanya pada pulang" jawab Anton sekenanya. "Udah di sini aja nemenin aku" kata Indah setengah berharap, sebagai panitia Indah tidak mendapat jatah cuti. "Boleh, sapa takut? jawab Anton, Indah pun mengangguk sembari tersenyum lega. "Ton, mau nggak temani aku ke sumber" tanya Indah memelas kepada Anton. Sumber adalah tempat mata air di mana semua kegiatan mandi dan mencuci dilakukan anggota KKN. Indah ketinggalan teman-teman putrinya mandi tadi, sementara Anton cukup dua hari sekali mandi. "Nggak takut sama aku?" canda Anton, "Emangnya kamu rabies ya? tanya Indah senyum di kulum. Wah rejeki nomplok nih, batin Anton, tak terasa celana jin sobek yang dikenakannya terasa sesak, terutama daerah selangkangannya. "Ati-Ati lho nDah, jalan ma setan" teriak Dini teman se kamar Indah sambil mengerlingkan mata ke arah Anton. Anton gemas, diambilnya batu kecil dan dilemparkannya ke arah Dini, "awas ya kamu, entar malem aku grayangin" ancam Anton. Hi... hi... siapa takut di gerayangin kamu, emangnya berani?" tantang Dini. "Udah ah, gak usah dilayanin, ayo nati keburu kemaleman di sana" kata Indah sambil menarik lengan Anton.
::
"Kok sepi ya Ton, dan dingin pula daerah sini" kata Indah sambil merapatkan tubuhnya ke Anton. "Namanya aja hutan, ya jelas sepi dong" jawab Anton. "Kamu udah mandi Ton?" tanya Indah. "Ha... ha... ha... kayak gak tau aku aja, rencana sih besok aja mandinya" jawab Anton. "Temenin aku mandi ya Ton?" pinta Indah setengah berbisik, "Gak usah di suruh lagi tuan putri, hamba siap melayani permintaan tuan putri" gaya Anton berpantomim. "Ihhh, genit, awas ya..." ujar Indah sambil mencubit pinggang Anton.
Keduanya berbugil ria masuk ke pancuran tempat untuk mandi, mereka berpelukan. "Ton... udah berapa wanita yang kamu gauli?" selidik Indah. "Ha... ha... ha... sama kamu udah yang ke 1001 non" canda Anton. "Nakal aya kamu, apa sih yang membuat cewek tergila-gila sama kamu Ton?" keja Indah sambil mencubit Anton dengan mesra. "Mungkin mereka tergila-gila sama adikku ini" kata Anton sembari memainkan penisnya yang mulai berdiri. "Boleh aku kenalan sama adikmu?" kerling manja Indah, "Ati-ati lo, dia suka ngeludahin cewek" goda Anton. Dipegangnya penis Anton dan dibelai mesra tangan halus Indah. "Dingin ya Ton airnya" kata Indah, "Ah enggak... anget kok" jawab Anton sambil meraba selangkangan Indah. "Ahhh... Ton... enak banget, daleman lagi dong sayaaang..." rintih Indah tanpa melepaskan tangannya dari penis Anton. Segera di sambarnya bibir Indah, mereka berciuman mesra, tangan Anton tidak berpindah dari selangkangan Indah. "Tooonnn... enak tonn... nyampe niihh... erang Indah. Tak berapa lama tubuh sintal Indah mengejang, dipeluknya Antoh erat-erat. "Emmhh... hhh... hhh..." rintih Indah. Beberapa saat Indah mengatur nafas, kemudian ia jongkok di depan Anton, diraihnya penis Anton, diusap, kemudian perlahan dan pasti dimasukkan kepala penis Anton ke dalam mulut Indah. "Ahh... enak nDah, terus... yang dalam..." rintih Anton.
Setelah di rasa cukup, Anton meraih pundak Indah untuk berdiri, kemudian memutar tubuh Indah dan meminta indah untuk setengah membungkuk sambil berpegangan pada pancuran depan Indah, kemudian Anton membuka sedikit kaki Indah dimasukkannya penis ke vagina Indah dari belakang perlahan-lahan. Asshhh... enak ton... tapi pelan-pelan ya masuuknya, punyamu gede banget sih" erang Indah. Pelan-pelan penis Anton maju, sampai melesak penuh ke dalam vagina Indah.
Dimaju-mundurkan gerakan penisnya, kedua tangannya segera meraih payudara Indah yang menggelantung jatuh bak buah pepaya matang di pohon. Sss...hhh... Ton... enak Ton... Oh... my god... terus Ton... aku nyampe lagiii..." rintih Indah keenakan. "Aku juga nDah... bentar lagi ngludah nih adikku, di keluarin di mana nDah" tanya Anton. "Kalo gitu sama-sama aja keluarnya Toonn... enghhh... keluarin di dalem aja... dua hari lagi dapet kok eemmhhh..." gelinjang Indah. Semakin semangat Anton mendengar jawaban Indah, dipercepat gerakan maju mundurnya penis dalam lobang Indah. "Toonnnn... aku sammm... pee niihh..." erang Indah. "Sabar saya...ng aku.. juga nih... buru Anton. dan Hmm... mmm... mm.... tujuh semprotan sprema Anton menembus dinding vagina Indah. "Ahh... hhh... hh..." Indah pun mencengkeram pancuran air, di naikkannya pantat serta di kejangkannya otot vagina seolah menjepit penis Anton.
::
Mereka berdua terkapar lemas, diburu nafas yang menderu, bagai pelari yang mencapai garis finish. Diraihnya wajah Indah, dikecup bibir mungilnya, "Gimana sayang, puas?" tanya Anton kepada Indah. "He eh... enak sekali penismu, sampe sesak lobang vegi ku" jawab Indah di sela nafas yang masih memburu. Kemudian mereka mandi dan saling menyabuni satu sama lain, "Udahan yuk, aku di tunggu Kadek sama Maya di base camp" kata Indah. "Lho, nggak ada ronde ke dua nih?" protes Anton. "Sori sayang, aku janjian sama mereka, kami mau ke rumah pak Carik" sergah Indah. "Wah... padahal adikku minta jatah lagi nih", rintih Anton memelas, "Kacian kamu" kata Indah sambil mengelus penis Anton yang sudah siap lagi untuk menembak, "Maapin kakak ya, mmuuahh" cium Indah pada penis Anton. "Kakak harus tanggung jawab lho besok, kasian nih dedek" canda Anton pada Indah. Kembali mereka berdua berciuman mesra, "Udahan yuk, gak enak nih sama mereka" desak Indah. Keduanya berpakaian dan bergandengan mesra kembali menuju rumah pak Lurah.
Sedotan Dini

Benar saja, sesampai di sana mereka telah di tunggu Kadek dan Maya yang ditemani Dini. "Mandi apa dimandiin nDah?" tanya Kadek menyindir. "Ihhh... mau tau aja... emang si Maya gak kamu sabunin tadi" balas Indah sambil melirik Maya di sebelah Kadek, yang dilirik salah tingkah dan mencubit Kadek. "Hi... hi... jadi malu" jawab Kadek sambil menutupi selangkangannya. Bagi mereka sudah tidak ada lagi tabu-tabuan, mereka saling mengerti karena hal tersebut sudah lumrah buat mereka, hanya mereka saling meledek saja. "Duhhh... kasian deh gue... gak ada pasangannya sendiri..." protes Dini. "Kamu sih Din... kenapa Doni kamu suruh pulang tadi sore" kata Indah. "Iya... ibunya sakit, sementara dia harus mengantar adiknya ke rumah pamannya" jawab Dini. Setelah mengambil kebutuhan yang akan di bawa ke rumah pak Carik, mereka bertiga berpamintan kepada Anton, tinggalahAnton dan Dini di rumah pak Lurah. "Udah ya, kalian berdua kita tinggal, jangan lupa beres-beres semua" canda Indah. "Enak aja lu, emangnya gua pembantu" protes Anton. Ha... ha... ha lepas tawa Kadek, Maya, Indah dan Dini melihat tingkah sewot Anton. "Udah sana pergi... jangan lupa, pulangnya bawain martabak ya" pinta Anton. "Lu kira di kota, ada martabak. Entar deh gua bawain batu" ledek Kadek.
::
"Din, kok elo gak ikut mereka sih?" tanya Anton. "Enggak ah, badan gue agak meriang nih" jawab Dini. "Nak Anton..." terdengar panggilan dari dalam rumah, "Saya bu..." jawab Anton setengah berlari masuk ke dalam rumah. "Ada apa bu?" tanya Anton sopan kepada bu Lurah, "Ini... saya dan bapaknya mau pergi nengok famili di desa sebelah, katanya anak mereka sakit, nak Anton dan nak Dini jaga rumah ya" jawab bu Lurah. Pak Lurah sudah berumur, mereka memiliki empat orang anak, sedang anak2 mereka telah berkeluarga dan pindah ke luar kota, sehingga tinggal mereka berdua yang mendiami rumah tersebut. "Boleh bu, nanti saya jaganya" kata Anton, "Kemungkinan besar kami menginap nak Anton" kata pak Lurah keluar dari dalam kamarnya. "Baik pak, nanti saya jaga dan kunci semua pintunya "jawab Anton. "Ayo bu berangkat sekarang, mereka sudah menanti kita di sana" ajak pak Lurah pada istrinya sembari menuntun sepeda kumbangnya ke luar halaman rumah. "Selamat jalan dan hati-hati di jalan pak" kata Anton berbasa-basi sembari melambaikan tangan ke arah bapak dan ibu Lurah.
::
"Wah, tinggal berdua nih" goda Anton kepada Dini setelah melepas kepergian ibu dan bapak Lurah. "Emangnya trus kenapa, kalo tinggal berdua?" sungut Dini sambil menoleh kepada Anton. "Ya nggak ngapa-ngapa" jawab Anton menggaruk rambut yang tidak gatal sambil cengengesan. Mereka masuk ke dalam rumah, dan Dini ternyata telah menyiapkan makanan untuk mereka berdua. "Udah makan belon lu?" tanya Dini, "Tadi si udah dapet camilan, tapi cuman adek gue, guenya sendiri belom" jawab Anton berjalan menuju ke arah makanan yang tersaji. "Camilan apaan, trus adek lo yang mana?" gusar Dini bingung sembari mengambil nasi serta lauknya. "Apemnya Indah, gurih dan legit" canda Anton. "Gila lu Ton... emang tadi elo em-el ya ma Indah di pancuran?" kejar Dini, "He-eh" kata Anton sambil ikut mengambil nasi dan lauknya. "Gue heran sama Indah, dia tu cakep, bodynya lumayan, smart lagi, kok gak serius ya sama laki-laki" tanya Dini, "Biarin aja, emang orangnya kayak gitu" cuek si Anton. Setelah mereka berdua selesai makan dan membereskannya, mereka duduk di ruang tamu yang hanya di terangi oleh lampu minyak, Dini mengenakan daster sementara Anton berkain sarung tanpa daleman "Ton, gue mo nanya nih, boleh gak?" tanya Dini, "Tanya aja" jawab Anton sambil membersihkan gigi dengan sebatang korek api. "Gimana ceritanya em-el sama Indah tadi" tanya Dini penasaran. "Emang elo belom pernah Din?" balas Anton bertanya. "Udah sih, sama Doni" jawab Dini. "Terus ngapain elu tanya-tanya, kan elo sendiri dah pernah" kata Anton, "Yah... sekedar pengen tau ceritanya aja" ujar Dini, "Kalo elu, dah berapa cewek yang lu rasain Ton?" tambah Dini, "Elu tu ya, nanyanya kayak polisi aja, entar pengen lagi" sindir Anton yang merasakan penisnya perlahan bangkit lagi setelah mendengar penasarannya di Dini. "Siapa takut" balas Dini sambil berdiri berjalan menuju kamar. Wah horny tu cewek, mana malam tambah dingin lagi, yang tadi belum tuntas, pikir Anton sambil meraba penisnya yang mulai tegang terbalut kain sarung.
::
Anton bangkit dan berjalan menuju kamar Dini. Seperti rumah-rumah desa sekitarnya, kebanyakan kamar tidur tidak berdaun pintu, jadi hanya ditutup dengan sehelai kain saja. "Din... elu horny ya?" tanya Anton sambil menyibakkan kain penutup pintu kamar. "Gue gak enak badan nih, badan gue meriang" jawab Dini mengalihkan pembicaraan sembari duduk memegangi lehernya. "Mau gue pijitin Din?" tawar Anton. Tanpa menunggu jawaban Dini, Anton melangkah maju mendekati Dini serta mulai memijat pundak Dini. "Nah bener, situ agak sakit Ton" kata Dini sambil meringis kesakitan. "Tenang aja non, gue pinter kok mijitin, elu tu masuk angin nih" ujar Anton sambil terus memijat. Dasar wanita, tak mau terus terang kalo dirinya butuh kehangatan, ejek Anton dalam hati.
Terasa gumpalan daging di selangkangan Anton bertambah keras, membuat gundukan di sarungnya. Pundak Dini terlihat berkilat di terpa cahaya lampu tempel, membuat pemandangan indah, di tambah daster yang dikenakan Dini terbuat dari bahan halus dan agak rendah. Sedikit bergetar Anton, begitu disadarinya bahwa Dini tidak mengenakan bra, walau suasana remang-remang oleh lampu tempel, tetapi rabaan tangan Anton tidak menemukan seutas talipun sebagai tanda keberadaan bra. Pijatan Anton sesekali turun ke punggung Dini, kemudian naik lagi ke pundak, Dini mengerang keenakan.
::
Setelah beberapa saat, timbul pikiran nakal Anton, ditempelkan ujung penisnya ke punggung Dini, sementara ke dua tangannya memijat bahu depan, "Ton... adek lu keras tu di punggung gue" sindir Dini. Perlahan-lahan pijitan Anton turun menyusuri leher ke bawah hingga menyentuh payudara Dini. Dini tersentak, kemudian memegang tangan Anton. Anton berpikir kalo Dini akan marah, tetapi ternyata tangan Dini malah membimbing tangan Anton untuk meremas kedua payudaranya. Rupanya sedari pertama Dini bertanya kepada Anton tentang kejadian dengan Indah di pancuran tadi, membuat Dini terangsang. Emmm... enak Toonnn... terusss... remas... keduanyaa... shsss... rintih Dini sembari mendongakkan kepalanya. Situasi ini tidak disia-siakan Anton, segera disambarnya leher jenjang Dini, dicumbunya leher Dini sesekali dijilatinya. "Esss... Toonnn... enaakk sayang..." erang Dini, sementara tangan kanan Dini meremas rambut gondrong Anton. Tangan kiri Anton meraih tangan kiri Dini, sementara tangan kanannya tetap meremas payudara kiri Dini. Dibimbingnya tangan kiri Dini untuk mengelus penis tegangnya yang masih terbalut sarung tanpa celana dalam. "Sss... Toonn... punya lu gede yahhh..." erang Dini sambil mengelus penis Anton.
::
Kemudian Anton menyetop aktivitasnya, dia berdiri dan menghadapkan Dini ke posisinya, diturunkannya sarungnya serta disodorkannya penis tegangnya ke wajah Dini, diraih penis itu serta mengulumnya, Anton mendesis sambil memegangi kepala Dini, "Ohhh... yesss... Din... terus sedottt yang dalam sayangg... yahhh..." keluh Anton.
Lima menit berlalu, Anton kemudian berjongkok di depan Dini, mengangkat kedua kaki Dini dan meletakkannya di tepi ranjang. Diciumnya kedua belah paha dalam Dini naik hingga ke tengah selangkangan Dini yang masih terbalut celana dalam. Dihirupnya dalam-dalam sembari sediki gigitan di sekitar vagina Dini, kemudian perlahan tapi pasti, Anton mulai menanggalkan celana dalam Dini. "Ssshhh... ayo sayang... jilati lubangku... gatal rasanya..." pinta Dini setengah memaksa Anton. Kecipak... kecipak... bunyi lidah Anton beradu dengan vagina Dini yang telah banjir pelicin, dan tak lama kemudian Dini mengejan, dijepitnya kepala Anton dengan kedua belah pahanya, dijambaknya rambut Anton sembari menenkan kepala Anton ke dalam vaginanya. "Tooonnn.... gue keluaaarrr... sssssshhh..." kejang Dini. Di luar terdengan orkestra hewan malam yang menambah romantisnya orgasme Dini, ditelannya air kenikmatan Dini oleh Anton.
::
[CENTER]Setelah bersih, Anton merangkak naik dan mencumbu bibir Dini. Memang beda antara Dini dengan Indah, tetapi masing-masing mempunyai ciri sendiri-sendiri yang sayang untuk dilewati... pikir Anton. Mereka berciuman agak lama, sembari tangan Anton meremas payudara Dini, setelah dirasa cukup, Anton berdiri diantara ke dua paha Dini, perlahan diarahkannya penis ke arah vagina Dini, tangan Dini pun membantu dengan memegang dan mengarahkannya ke dalam liang kenikmatan Dini.
[/URL]
Setelah dirasa pas, mulailah Anton memaju-mundurkan senjatanya di liang Dini. "Toonn... punya lu gede amat... sesek nih lobangku... rintih Dini.
Sebetulnya lebih sempit Indah dibanding Dini, batin Anton, keseringan ditembak Doni rupanya. Tak begitu lama, Dini memuntahkan orgasme keduanya, menambah becek liang senggama Dini.
::
Anton pun mencabut senjatanya dari lobang Dini dan bertanya , "Gimana sayang... enak gak adik gue...? "Gila lu ya Ton... gue udah dua kali ngecrot... elu belon apa-apa" jawab Dini. "Kalo sama barangnya Doni, enakan mana? kejar Anton. "Mmmm sama enaknya... cuman punya lu bikin lobang gue seret banget... dan juga lamaan elo Ton..." imbuh Dini. "Oke non... sekarang elo bangun trus nungging ya" instruksi Anton, Kemudian Dini bangkit dan mulai nungging membelakangi Anton, setelah di rasa cukup, perlahan Anton kembali menusukkan pisang ambonnya ke dalam lubang Dini tak lupa sedikit mengelap vagina Dini yang memang over oleh cairan. Mulailah Anton memaju-mundurkan penisnya di lobang Dini, waktu terus berjalan, kemudian Dini tak tahan lagi, menggeleparlah dia untuk ketiga kalinya, "Damn... Toonnn... gue kalaahhh... lagiii... ehhhhh..." erang Dini. "Gila elo ya, lama banget gak keluar-keluar" kata Dini sembari masih terengah-engah.
::
"Oke... oke posisi lo tetep aja nungging ya non" kata Anton, "Eh... elo mau ngapain Ton?" tanya Dini penasaran. Perlahan ditusukkannya penisnya ke lubang dubur Dini, "Ton... sakit dong..." protes Dini. "Tenang aja non, enak kok, lagian gue pelan-pelan deh masukkinnya" sergah Anton. Errghh... pelan... pelannn dong Tonn... kata Dini masih kesakitan. "Iya... ini juga pelan-pelan masukinnya..." bela Anton. Perlahan tapi pasti, sedikit demi sedikit, masuklah penis Anton ke dalam dubur Dini, karena cairan yang dikeluarkan Dini banyak sehingga tidak perlu lagi menambah cairan untuk memuluskan jalannya penis Anton memasuki dubur Dini. Dua tigakali masuk, akhirnya lancar juga jalannya penis Anton di dubur Dini, sementara Dini sendiri sudah bisa menikmati sensasi gesekan penis Anton di lubang duburnya, keluarlah erangan Dini lagi. "Sssshhh... enak juga ya... ton..." puji Dini. "Nikmatin aja ya sayang... gue juga dah pengen sampe nih..." kata Anton. Rupanya Dini gak mau kalah, tangan kanannya menggosok kelentitnya sendiri sementara Anton memompanya di liang Duburnya. Tak lama kemudian terasa di lobang Dini, penis Anton menegang, dipercepatlah gerakan tangan Dini pada kelentitnya. Anton melenguh panjang, "Ahhhh... keluaarrrr Dinnn..." teriak Anton, dan crot... crot... di dalam lubang Dini. Dinipun sampai pada puncak keempatnya, ditekannya kuat-kuat jari-jari tangannya pada kelentitnya. "Gue... juga.... toooonnn... lenguh Dini.
Sedotan layaknya Vacum Cleaner
Berdua tergeletak kelelahan, "Gila elo ya Ton... pantesan cewek-cewek pada kesengsem ama pisang lo" puji Dini pada Anton. "Padahal guenye biasa-biasa aja loh, mereka-mereka aja yang tergila-gila ma adik gue" aku Anton. "Indah juga dong tadi di pancuran?" kejar Dini mendesak Anton lagi. "Kali... tanyain aja sama dia besok" jawab Anton sekenanya. "Dasar buaya buntung" ujar Dini sambil meremas mesra penis Anton. Mereka saling berpelukan diantara deru nafas kelelahan mereka, Anton memainkan jarinya di puting payudara Dini, "Doni sering ngedot pentilmu ya Din" tanya Anton. "Iya... dia kayak anak kecil yang ngedot ama ibunya" jawab Dini. "Tetek lo gede juga ya Din... sering di sedot Doni" lanjut Anton. "Resek lu ah, namanya juga tetek, keseringan di sedot jadi gede lagi" ketus Dini. "Tapi mantab non" rayu Anton.
::
"Ton... adik lo bangun lagi tuh..." kata Indah yang sedari tadi tangannya mengelus penis Anton. "Tanggung jawab lo... dia pengen muntah lagi deh kayaknya" jawab Anton seenaknya. "Ya udah sini, gua isepin aja ya..." tawar Dini, "Lho... emangnya kenapa gak dimasukin aja ke vegi elu Din" tanya Anton. "Vegi gua ngilu... ngebayangin dimasukin ma adik lu" alasan Dini. Tanpa menunggu protes Anton lagi, Dini segera bangkit dan mengulum penis Anton maju mundur, sedangkan Anton tidak jadi protes dan menikmati saja isapan Dini di penisnya. Ternyata Dini pintar memainkan mulut dalam mengulum penis, terbukti tak berapa lama kemudian keluarlah mani Anton. "Dinnn... gila ya sedooootann elu... gw mo nyampeee.... niiihhh..." erang Anton. Dan crooot... crooot... croooottttsss... keluarlah air mani Anton di dalam Mulut Dini yang juga langsung ditelannya hingga bersih tanpa bersisa lagi.
"Eehhh... hebat lu Din..." puji Anton keenakan. "Sapa dolo dong... Dini... dah pernah ngerasain sensasi yang kayak gini gak Ton dari cewek2 elu?" tanya Dini. "Sumpah... baru ama elu ini Din, yang pinternya gak ketulungan..." jawab jujur Anton.Berdua tergeletak kelelahan, Keduanya pun berpelukan kelelahan dan tertidur, satu selimut tanpa selembar pakaian menempel dengan wajah tersenyum puas.

0 comments:

Post a Comment