Pages

Thursday, June 14, 2012

Siapa yang mandul

Namaku Aldino, warga keturunan WNI Cina, aku mempunyai orang tua yang
kaya raya, sehingga selepas kuliah aku langsung mendapat warisan salah
satu perusahaan ayahku, apalagi aku anak tunggal. Pada umur 25 tahun,
aku menikah dengan Nunik, adik kelasku di SMA yang sangat cantik. Waktu
itu umur Nunik baru 22 tahun. Sebenarnya orang tuaku menentang
pernikahan kami, karena dia anak orang miskin. Tetapi karena aku
mencintainya, akhirnya mereka terpaksa menerima. Selama 5 tahun,
keluargaku hidup bahagia tetapi kami belum juga dikaruniai anak. Hingga
suatu saat, ayahku sakit dan aku dipanggilnya.
"Aldi, ayah sudah tua tapi ada satu hal yang membuat ayah merasa kalau
hidup ini belum lengkap. Ayah mengharapkan punya cucu dari kamu, kapan
kamu punya anak? Cobalah periksa ke dokter, kalau memang isteri kamu
mandul, ceraikan saja, kamu menikah lagi, toh kamu masih muda." kata ayahku.Setelah hari itu, aku bersama isteriku ke dokter. Hasilnya bukan
isteriku yang mandul, tetapi mungkin justru aku yang mandul. Hari-hari
kulalui dengan merenung, tekanan dari orang tua terus kuterima. Mereka
masih beranggapan isteriku pembawa sial dan mandul, padahal aku sangat
mencintai isteriku.
Pada suatu hari, aku bertemu Joni Hasan, teman akrabku sewaktu di SMA
yang keturunan Arab. Penampilannya masih belum berubah, rambut keriting,
kulit hitam dan selalu memakai kaca mata. Pertemuan itu sedikit
menghiburku, karena aku bisa curhat dan konsultasi kepadanya.
"Wah, nasibmu memang Kurang beruntung, walau kamu kaya tapi kurang
bahagia, aku saja sudah punya 3 anak, dan yang besar sudah kelas 2 SD."
katanya.
Setelah pertemuan dengan temanku itu, aku kembali bertemu ayah.
"Al, aku sudah punya pilihan buat calon isterimu. Watik, anaknya mang
Husni, akan kukawinkan dengan kamu kalau sampai 6 bulan ini kamu ngga
ada tanda-tanda punya anak." ancam ayahku.
Malamnya pikiranku sangat kacau, isteriku hanya pasrah kalau memang dia
harus dicerai, saat lagi stres aku dan isteriku nonton VCD porno. Siapa
tahu ada teknik yang baru, pikirku. Ceritanya tentang orang yang punya
hutang dibayar dengan tubuh isterinya. Tiba-tiba aku punya ide, aku
ingin bantuan orang lain menghamili isteriku. Yang ada dalam benakku
saat itu adalah Joni. Lalu kuutarakan pada isteriku.
"Gila, kamu mas, mending ceraikan aku saja." kata isteriku.
Aku tetap berusaha, hingga akhirnya aku mendapatkan akal dan
kurundingkan dengan Joni. Kesannya memang setengah perkosaan. Hari itu
aku menelpon Joni agar datang jam 8 malam ke rumahku saat aku tidak ada.
Joni kuminta menggantikan peranku sebagai suami dari isteriku. Jam 7
malam, setelah makan, aku memberi minum kepada isteriku yang sudah
kuberi obat perangsang. Setelah itu, biasanya aku mencumbunya dan kami
siap untuk bermain cinta. Akhirnya, setelah setengah jam pemanasan,
isteriku nampak terangsang berat dan tidak dapat mengendalikan
birahinya. Dari bawah dasternya, kumasukkan tanganku ke dalam celana
dalamnya yang sudah sangat basah.
"Ouuhh, teruus mas." isteriku terus mengerang.
Buah dadanya yang tanpa BH terasa semakin membulat di dadaku. Tanganku
yang satu meremas buah dadanya.
"Aaah.. enghh.. yaahh.. masukkan saja kontolmu mas, aku ngga tahan.."
Lalu kubuka dasternya. Tubuh isteriku memang indah sekali, tinggi 165
cm, kulit putih mulus dan wajahnya mirip Dina Lorenza. Penampilannya
sangat menggairahkan, siapa pun pasti tidak menolak saat disuguhi tubuh
yang montok ini.
Saat kupelorotkan celana dalamnya, tiba-tiba ada telpon yang memang
sudah masuk dalam skenarioku, karena Joni kusuruh menelpon kalau sudah
sampai di depan rumahku. Kepada isteriku aku membuat alasan seolah-olah
ayahku menelpon dan aku disuruh ke rumahnya malam ini. Tampak sekali
wajah yang kecewa pada wajah manis isteriku. Sebelum kutinggalkan
isteriku, aku sempat melihat isteriku bermain sendiri dengan tangannya,
lalu aku keluar dan bertemu Joni di luar.
"Kamu masuk saja, nanti alasan nyari aku, udah ya, aku nunggu di luar
dulu." pesanku pada Joni.
Lalu Joni mengetuk pintu. Setelah itu tampak isteriku membukakan pintu.
Isteriku keluar dengan memakai daster tipis yang dari luar terlihat
belum sempat memakai pakain dalamnya.
"Aku mau ada janjian dengan suamimu malam ini." kata Joni.
"Dia pergi ke rumah bapak. Ngga tahu pulang jam berapa, biasanya cuman
satu jam, rumahnya dekat kok." kata isteriku.
"Kalau gitu, aku nunggu di sini saja, ya?"
"Yahh.. silakan duduk! Mau minum?"
"Boleh," kata Joni dengan matanya terus mengawasi buah dada isteriku
yang naik turun dan memperlihatkan dua titik hitam menerawang di balik
daster putih tipisnya.
Setelah membuat minum, isteriku keluar lagi dan menemani Joni mengobrol.
"Wajah Kamu kelihatan memerah dan berkeringat, kamu sakit ya?" tanya
Joni basa-basi, padahal isteriku baru saja horny.
"Ahh, ngga, tadi baru saja olah raga." kata isteriku berbohong.
"Nunik, kamu kelihatan cantik lho, kalau penampilan kamu gini."
"Kamu, bisa aja, isteri teman di rayu."
"Benar lho, bahkan ngga cuman cantik, tapi juga seksi dan jujur saja
saat ini aku terangsang sama kamu." kata Joni to the point (langsung
pada inti permasalahan).
"Kamu jangan macem-macem yah, nanti suamiku datang bisa berabe!"
Lalu Joni duduk di sebelah Nunik. Nunik agak menggeser duduknya. Dari
balik jendela luar, aku terus mengintip dan mengawasi gerak-gerik mereka.
"Nik kita ada waktu satu jam, ngga ada siapa-siapa di rumah ini selain
kita berdua, boleh dong aku menikmati tubuhmu?" Joni terus merayu.
"Ingat Jon, aku isteri sahabatmu, kalau kamu lancang, aku teriak lho!"
tapi Nunik kelihatan berdebar saat Joni meremas tangannya.
"Santai saja sayang, kamu kan belum pernah merasakan kontol Arab. Kau
lihat punyaku ini!"
Memang Joni sudah membuka restlutingnya dan kepala kejantanannya
berusaha keluar. Isteriku sempat tertegun. Dalam hati pasti dia
mengukur. Wah, paling tidak panjangnya 18 cm. Dengan tidak sabar, Joni
memagut bibir isteriku dan tangannya terus meremas buah dada isteriku.
Isteriku berusaha meronta tetapi tenaga Joni lebih kuat.
"Jangan Jon, aku isteri yang setia." kata isteriku.
Lalu saat tangannya berhasil lepas, dia menampar muka Joni. Joni semakin
beringas, dia lalu menarik tubuh isteriku dan dimasukkannya ke dalam
kamar. Kemudian pintu kamar ditutup dan dikunci. Aku pun kemudian pindah
mengintip dari lubang ventiasi jendela kamar. Dari luar kulihat Joni
menanggalkan semua pakainnya dan batang kemaluan hitam yang panjang dan
besar itu mulai berdiri dan memang lebih panjang dari punyaku.
"Sekarang kamu boleh teriak karena ngga ada yang dengar."
"Kumohon, jangan Jon, pergilah!"
Lalu dengan kasar, Joni merobek kancing daster istriku dan terbukalah
buah dadanya yang kuning ranum dengan rakus diremas dan putingnya
dipilin. Tampak istriku memejamkan mata, dia berusaha menolak tetapi
rangsangan obat yang kuberikan masih mempengaruhinya, karena dosisnya
memang kuberikan dobel.
"Ouuhh, jangan Jon, lepaskan aku.." erangan isteriku kelihatan berubah,
"Aaah, tidak.."
Lalu Joni menarik daster istriku ke bawah, maka kelihatan isteriku dan
Joni sama-sama bugil.Tangan Joni segera merayap ke selangkangan Nunik.
Ditusuknya kemaluan isteriku dengan jarinya yang sekali-kali diremas dan
ditusuk-tusukkan.
"Aaahh, ouu, Jon," tampak mulut isteriku terus mendesah dan merintih
menikmati rangsangan yang diberikan Joni.
Sekarang tidak ada perlawanan lagi, bahkan justru tangan isteriku segera
menangkap batang kemaluan Joni dan diremasnya.
Tanpa sadar isteriku membisik, "Ouuh, Jon, puaskan aku.."
Lalu Joni menghentikan aksi tangannya. Isteriku dibaringkannya di kasur,
kakinya yang berjuntai di lantai dibuka lebar, nampak liang kemaluan
isteriku yang merah kecoklatan berkilat karena banyaknya cairan yang keluar.
Dengan tanggap, Joni menjilati kemaluan isteriku di daerah clirotisnya.
Dijilatinya terus dengan penuh nafsu.
"Enghh, yaakk terus sayaang, ouh, ahh, puaskan aku," isteriku terus
merintih semakin lama rintihannya semakin keras, aku sampai jelas
mendengarnya dari luar.
"Aaahh, Joon, cukup, tusuk aku dengan punyamu sayang, pinta Nunik."
Aku sendiri sudah mengocok kemaluanku. Lalu Joni segera berdiri dan
meletakkan rudalnya yang hitam dan panjang itu di depan liang kemaluan
isteriku, lalu ditusukkan ke bawah.
"Ouugh.. pelan aja sayang, punya kamu besar sekali!"
Lalu dimasukkannya lagi lebih dalam, isteriku seperti kesakitan, Joni
tidak menyerah lalu ditusuknya lebih dalam dan akhirnya masuk semua.
Isteriku terus merintih, "Aaauuh.. aahh, ouuhh."
Pantat isteriku ditariknya ke atas dengan tanganya di bawah pinggul
isteriku. Lalu dipompanya liang surga istriku dengan batang
kejantanannya. Gerakan naik turun itu berlangsung lama sekali. Aku
melihat isteriku mengelinjang hebat, sebelumnya belum pernah seperti itu
denganku.
"Aaah.. enghh.. aah.. aku mau keluar, uuh sayang," didekapnya pinggul
Joni ke bawah.
Kakinya mengejang, ternyata isteriku mengalami orgasme terlebih dulu,
padahal Joni belum apa-apa.
"Gimana, kamu puas, Nik?" tanya Joni, dan isteriku hanya tersenyum.
"Mau kan kamu ganti memuaskan aku? Aku pingin kamu nungging."
Joni segera mencabut burungnya yang panjang. Lalu dengan gaya nungging
mereka melakukannya lagi.
"Clop.. clop.." bunyi dari liang nikmat Nunik yang digenjot rudal Joni.
Terlihat benda panjang hitam itu keluar masuk di tengah bongkahan pantat
isteriku yang putih, aku semakin terangsang melihat pemandangan itu.
Saat rudal Joni ditarik keluar, bibir liang vagina isteriku ikut merekah
keluar. Dan kebalikannya, saat ditusuk ke dalam, bibir liang nikmat
Nunik ikut merejut ke dalam. Irama kenikmatan tersebut diiringi oleh
tangan Joni dengan terus meremas buah dada isteriku yang
bergoyang-goyang. Sungguh pemandangan yang merangsang sekali.
"Ahh, ahh, ahh, ouuhh, oughh, ahh.." isteriku terus merintih penuh
rangsangan, hingga akhirnya terdengar jeritan kecilnya sambil menahan
pantat Joni ke depan dengan tangannya, "Auuhh.."
Bersamaan dengan itu, Joni juga mendesakkan kemaluannya ke depan dan
ditahan, keduanya mengejang.
"Seerr.." cairan mani Nunik mengalir dengan derasnya, terasa oleh Joni
bersamaan itu, "Crott, crott, crott.." mani Joni juga muncrat ke dalam
vagina isteriku.
Nampak keduanya orgasme bersamaan. Lalu Joni melepas kejantanannya dan
istirahat di samping isteriku.
"Jon, makasih yaa, aku puas sekali, tapi tolong rahasiakan ini yahh!"
pinta isteriku.
"Boleh aja, asal aku boleh minta lagi nanti."
"Terserah kamu, asal kamu bisa mengatur waktu dan merahasiakan pada
suamiku dan keluarganya," kata isteriku.
Aku yang mendengar hanya tersenyum karena sandiwara yang kubuat ternyata
berhasil.
Sejak kejadian malam itu, hubunganku dengan isteriku semakin bergairah,
aku malah terobsebsi saat isteriku disetubuhi laki-laki lain. Dan memang
akhirnya, Nunik mengaku malam itu Joni datang memperkosa dirinya.
Lalu kutanya, "Apa kamu sampai orgasme?"
Dengan malu-malu dia mengangguk.
"Ya udah, dulu kan aku udah minta, tapi kamu menolak, kalau memang
dengan Joni kamu bisa memuaskan hasratmu, sekarang juga kamu boleh
telpon Joni agar malam ini bisa ngentot sama kamu." kataku.
"Tapi mas, kamu ngga cemburu nanti?" tanya Nunik.
"Nunik sayang, aku cinta kamu, kalau memang itu membuat kamu bahagia,
aku akan ikut bahagia." aku terus meyakinkan isteriku.
Lalu dia menelpon Joni.
"Boleh, aja Nik, tapi boleh ngga aku bawa teman? Karena setelah
mendengar ceritaku, dia penasaran, mau ikut menikmati tubuhmu yang
montok." tanya Joni.
"Mas, kata Joni dia akan bawa teman satu, mau ngentot bertiga, boleh
ngga?" tanya Nunik.
"Terserah kamu Nik, yang penting kamu puas." kataku.
"Halo Jon, suamiku setuju kamu bawa teman, ya udah sampai nanti malaam
ya..!"
Lalu telpon ditutup isteriku. Dan Malam itu jam 19:15, Joni datang
membawa teman yang kurus dan tinggi seperti orang Ambon.
"Kenalkan, ini temanku Alex dari Ambon. Dia baru saja diceraikan sama
isterinya gara-gara maen sama mertuanya sendiri." kata Joni.
"Wah, kamu jangan buka rahasia teman dong," sergah Alex.
Lalu kami berempat tertawa. Setelah berbasa-basi, lalu aku mempersilakan
kedua tamuku langsung masuk ke kamar, dan diikuti isteriku yang dari
tadi sudah salah tingkah. Dengan sengaja pintu tidak ditutup, jadi aku
leluasa melihat dari ruang tamu. Tampak Joni dan Alex berebutan
menelanjangi isteriku. Nunik hanya diam saja, pasrah dengan apa yang
diperbuat mereka, tampak tubuhnya berkeringat karena gugup. Kemudian,
Joni dan Alex juga menanggalkan pakaian mereka sendiri. Setelah isteriku
telanjang bulat, Joni meremasi kedua buah dada Nunik, terkadang dikenyot
puting susunya. Sedangkan Alex berjongkok, tangannya beraksi di lubang
surga isteriku, dirojohnya lubang itu dengan jari-jarinya, dan berlanjut
terus hingga clitnya digosok-gosok sampai memerah, lalu bergantian
dijilati dengan lidahnya.
"Ougghh, ahh.." isteriku terus merintih menahan nafsunya yang dari tadi
ditahannya.
Sungguh pemandangan yang mempesona, saat melihat isteriku disetubuhi dua
pejantan yang ukuran batang kemaluannya lebih panjang dari aku. Memang
Alex mempunyai ukuran panjang batang kemaluannya 16 cm tetapi
diameternya lebih besar dari pada batang kemaluannya Joni yang
panjangnya 18 cm, sedang punyaku hanya 13 cm.
Tampak kemaluan isteriku semakin basah akibat rangsangan yang
diterimanya. Akhirnya pertahanannya bobol juga, isteriku mengejang tidak
kuat berdiri. Dia mencengkeram punggung Joni, setelah itu ambruk di
kasur. Banyak sekali cairan mani yang keluar dari liang kenikmatannya.
Aksi berikutnya, isteriku yang sudah telentang di kasur, tampak pasrah
menerima rangsangan dari kedua laki-laki itu. Pelan-pelan Alex
membentangkan kedua kaki isteriku, lalu rudalnya ditempelkan di
permukaan lubang nikmat isteriku. Setelah tepat, lalu diterobosnya
halangan menuju kenikmatan tersebut. Dan memang agak sulit sedikit.
Sedikit demi sedikit, benda panjang hitam itu mulai membenam dan masuk
ke dalam kemaluan isteriku.
"Ouughh.." isteriku melenguh panjang, tubuhnya menggelinjang hebat,
mulutnya terus mendesis, "Ssshh.. uhh.. oouuhh.."
Lalu Alex bergerak maju mundur memompakan rudal besarnya ke dalam liang
senggama Nunik yang sudah pasrah. Sementara itu, Joni menyodorkan
kemaluannya di depan muka Nunik. Dengan gemas tangan Nunik menyambutnya
dan pelan-pelan dijilatinya seperti permen Loli.
"Ouugghh.." Joni melenguh.
Tanpa disuruh, Nunik memasukkan batang kejantanan Joni ke dalam mulutnya
dan Joni menggerakkannya maju mundur, terlihat kontras sekali mulut atas
dan mulut bawah isteriku dimasuki batang kemaluan Joni dan Alex. Suara
Ranjangku berdecit-decit saat ketiga makhluk yang sudah dipenuhi nafsu
tersebut memperagakan aksinya.
"Ciitt, kreekk.."
Alex semakin lama semakin mempercepat gerakannya.
"Aahh, Uhhgg.." lalu dia mengejang, akhirnya dia orgasme duluan.
"Creett.. creett.. crett.." air maninya segera memenuhi rahim isteriku.
Setelah itu batang kejantanannya dicabut, dia ambruk di samping istriku.
"Jon.. aku belum.. puaas.." rintih isteriku.
Lalu Joni mengambil bantal dan diganjalkan di bawah pantat isteriku,
maka clirotis isteriku nampak merekah keluar. Sementara banyak sekali
cairan yang sudah menetes dari kemaluannya. Tidak lama benda ajaib Arab
itu segera menusuk liangnya Nunik. Kemaluan yang sudah basah dan lembab
itu segera dipenuhi rudal Joni. Lalu gerakan naik turun Joni membuat
isteriku menggelinjang-gelinjang. Dia mengimbanginya dengan
menggoyangkan pinggulnya ke kiri dan ke kanan, kadang diputarnya.
Sungguh mereka mengejar kenikmatan masing-masing.
"Ouhh, sshh, aagghh, kau hebaat.. Joon.." desah isteriku, "terus..
oohh.. emhh.." isteriku terus merancu.
Kakinya digapitkan di pinggang Joni, dan akhirnya isteriku mengejang.
"Joon, aku mauu, ouuhh.." tembus juga akhirnya pertahanannya dan,
"seerr.. seerr.." maninya banyak yang keluar, dia mendekap erat tubuh Joni.
Kemudian disusul Joni yang mendekap erat tubuh isteriku, dia mencapai
klimaksnya.
"Aaahh.." maninya muncrat ke dalam rahim isteriku.
Malam itu mereka bermain lama sekali secara bergantian keduanya
menyetubuhi isteriku hingga jam 08.00 pagi, dan lalu mereka pulang.
Semenjak itu, kalau isteriku lagi mood, kubiarkan dia menelpon Joni atau
alex. Pembaca, 4 bulan kemudian, oleh dokter, isteriku dinyatakan
positif hamil dan orang tuaku mendengarnya dengan gembira. Kabar baik
tersebut mengubah rencana, tidak jadi menikahkan aku dengan Watik.
Di dalam hati, saya hanya berpikir, "Mungkin inilah yang disebut dengan
original sin.

0 comments:

Post a Comment