Pages

Tuesday, June 26, 2012

Nadia namaku

Cerita berikut adalah cerita dari salah satu teman korespondensi saya,Nadia. Dia menceritakan kisah nyata dia tentang pengalaman dia berhubungandengan anak tetangganya sendiri. Cerita tersebut akan saya paparkan dengantambahan pernak-pernik sensual agar menarik untuk dibaca.


Nadia, 29 tahun, adalah seorang ibu rumah tangga dengan 2 orang anak 3dan 5 tahun. Suaminya, Herman, 36 tahun, adalah karyawan dari salah satuperusahaan swasta besar di Bandung. Perawakan Nadia sebetulnya biasa sajaseperti kebanyakan. Yang membuatnya menarik adalah bentuk tubuhnya yang sangatterawat. Buah dadanya tidak terlalu besar, tapi enak untuk dipandang, sesuaidengan pinggangnya yang ramping dan pinggulnya yang bulat.


Kehidupan rumah tangga mereka sangat harmonis. Dengan 2 anak yangsedang lucu-lucunya, ditambah dengan posisi Herman yang cukup tinggi diperusahaannya, membuat mereka menjadi keluarga yang cukup di hormati dilingkungan kompleks mereka tinggal. Nadia pada dasarnya adalah istri yangsangat setia kepada suaminya. Tidak pernah ada niat berkhianat terhadap Hermandalam hati Nadia karena dia sangat mencintai suaminya. Tapi ada satu peristiwayang menjadi awal berubahnya cara berpikir Nadia tentang cinta..

Suatu siang, Nadia sedang mengasuh anaknya di depan rumah. Dikarenakankedua anaknya waktu itu berlari jauh dari rumah, maka Nadia langsung mengejarmereka. Tapi tanpa disengaja, kakinya menginjak sesuatu sampai akhirnya Nadiaterjatuh. Lututnya memar, agak mengeluarkan darah. Nadia langsung berjongkokdan meringis menahan sakit. Pada waktu itu, Darmawan, anak tetangga depan rumahNadia kebetulan lewat mau pulang ke rumahnya. Ketika melihat Nadia sedangjongkok sambil meringis memegang lututnya, Darmawan langsung lari ke arah Nadia.

"Kenapa tante?" tanya Darmawan.
"Aduh, lutut saya luka karena jatuh, Wan..." ujar Nadia sambilmeringis.
"Bantu saya berdiri, Wan..." kata Nadia.
"Iya tante," kata Darmawan sambil memegang tangan Nadia dandibimbingnya bediri.
"Wan, tolong bawa anak-anak saya kemari.. Anterin ke rumah saya,ya..." kata Nadia.
"Iya tante," kata Darmawan sambil segera menghampirianak-anak Nadia.

Sementara Nadia segera pulang ke rumahnya sambil tertatih-tatih. WaktuDarmawan mengantarkan anak-anak Nadia ke rumahnya, Nadia sedang duduk di kursidepan sambil memegangi lututnya.

"Ada obat merah tidak, tante?" tanya Darmawan.
"Ada di dalam, Wan," kata Nadia.
"Kita ke dalam saja..." kata Nadia lagi sambil bangkit dantertatih-tatih masuk ke dalam rumah.

Darmawan dan anak-anaknya mengikuti dari belakang.

"Ma, Donny ngantuk," kata anaknya kepada Nadia.
"Tunggu sebentar ya, Wan. Saya mau antar mereka dulu ke kamar.Sudah waktunya anak-anak tidur siang," kata Nadia sambil bangkit dantertatih-tatih mengantar anak-anaknya ke kamar tidur.

Setelah mengantar mereka tidur, Nadia kembali ke tengah rumah.

"Mana obat merahnya, tante?" tanya Darmawan.
"Di atas sana, Wan..." kata Nadia sambil menunjuk kotakobat.

Darmawan segera bangkit dan menuju kotak obat untuk mengambil obatmerah dan kapas. Tak lama Darmawan segera kembali dan mulai mengobati lutut Nadia.

"Maaf ya, tante.. Saya lancang," kata Darmawan.
"Tidak apa-apa kok, Wan. Tante senang ada yang menolong,"kata Nadia sambil tersenyum.

Darmawan mulai memegang lutut Nadia dan mulai memberikan obat merahpada lukanya.

"Aduh, perih..." kata Nadia sambil agak menggerakkanlututnya.

Secara bersamaan rok Nadia agak tersingkap sehingga sebagian pahamulusnya nampak di depan mata Darmawan. Darmawan terkesiap melihatnya. TapiDarmawan pura-pura tak melihatnya. Tapi tetap saja paha mulus Nadia menggodamata Darmawan untuk melirik walau kadang-kadang. Hati Darmawan agak berdebar..Biasanya dia hanya bisa melihat dari kejauhan saja lekuk-lekuk tubuh Nadia.Atau kadang-kadang hanya kebetulan saja melihat Nadia memakai celana pendek.

Darmawan biasanya hanya bisa membayangkan saja tubuh Nadia sambilonani. Tapi kini, di depan mata sendiri, paha mulus Nadia sangat jelasterlihat. Nadia sepertinya sadar kalau mata Darmawan sesekali melirik ke arahpahanya. Segera Nadia merapikan duduknya dan juga menutup pahanya. Darmawanpunsepertinya terkesima dengan sikap Nadia tersebut. Darmawan menjadi malusendiri..

"Sudah saya berikan obat merah, tante..." kata Darmawan.
"Iya, terima kasih," kata Nadia sambil tersenyum.
"Sekarang sudah mulai tidak terasa sakit lagi," ujar Nadialagi sambil tetap tersenyum.

Darmawan, 16 tahun, adalah anak tetangga depan rumah Nadia. Masihduduk di bangku SMP kelas 3. Seperti kebanyakan anak laki-laki tanggunglainnya, Darmawan adalah sosok anak laki-laki yang sudah mulai mengalami masapuber.

"Kenapa kamu nunduk terus, Wan?" tanya Nadia.
"Tidak apa-apa, tante..." ujar Darmawan sambil sekilasmenatap mata Nadia lalu menunduk lagi sambil tersenyum malu.
"Ayo, ada apa?" tanya Nadia lagi sambil tersenyum.
"Anu, tante.. Maaf, mungkin tadi sempat marah karena tadi sayasempat melihat secara tidak sengaja..." kata Darmawan sambil tetapmenunduk.
"Lihat apa?" tanya Nadia pura-pura tidak mengerti.
"Lihat.. Mm.. Lihat ini tante," kata Darmawan sambiltangannya mengusap-ngusap pahanya sendiri. Nadia tersenyum mendengarnya.
"Tidak apa-apa kok, Wan," kata Nadia.
"Kan hanya melihat.. Bukan memegang," kata Nadia lagi sambiltetap tersenyum.
"Lagian, saya tidak keberatan kok kamu melihat paha tantetadi," kata Nadia lagi sambil tetap tersenyum.
"Kamu kan tadi sedang menolong saya memberikan obat," kata Nadia.
"Benar tante tidak marah?" tanya Darmawan sambil menatap Nadia.

Nadia menggelengkan kepalanya sambil tetap tersenyum. Darmawanpun jadiikut tersenyum.

"Tante sangat cantik kalau tersenyum," kata Darmawan mulaiberani.
"Ihh, kamu tuh masih kecil sudah pintar merayu..." kata Nadia.
"Saya berkata jujur loh, tante," kata Darmawan lagi.
"Kamu sudah makan, Wan?" tanya Nadia.
"Belum tante. Saya pulang dari rumah teman tadi belummakan," kata Darmawan.
"Makan disini saja, ya.. Temani saya makan siang," ajak Nadia.
"Baik tante, terima kasih," kata Darmawan.

Mereka menikmati makan siang di meja makan bulat kecil. Ketika sedangmenikmati makan, tanpa sengaja kaki Darmawan menyentuk kaki Nadia. Darmawankaget, lalu segera menarik kakinya.

"Maaf tante, saya tidak sengaja," kata Darmawan.
"Tidak apa-apa kok, Wan..." kata Nadia sambil matanyanenatap Darmawan dengan pandangan yang berbeda.

Ketika kaki Darmawan menyentuh kakinya, seperti terasa ada sesuatuyang berdesir dari kaki yang tersentuh sampai ke hati. Nadia merasakan sesuatuyang lain akan kejadian tak sengaja itu.. Tiba-tiba Nadia merasakan ada sesuatukeinginan tertentu muncul yang membuat perasaannya tidak menentu. Sentuhan kakiDarmawan terasa begitu hangat dan membangkitkan suatu perasaan aneh..

"Kamu sudah punya pacar, Wan?" tanya Nadia sambil menatapDarmawan.
"Belum tante," kata Darmawan sambil tersenyum.
"Lagian saya tidak tahu caranya mendapatkan perempuan," ujarDarmawan lagi sambil tetap tersenyum. Nadiapun ikut tersenyum.
"Pernah tidak kamu punya keinginan tertentu terhadapperempuan?" tanya Nadia lagi.
"Keinginan apa tante?" tanya Darmawan. Nadia tersenyum.
"Kita habiskan dulu makannya. Nanti kita bicara..." kata Nadia.

Selesai makan, mereka duduk-duduk di ruang tengah.

"Kamu ada sesuatu yang harus diselesaikan di rumah tidak saatini?" tanya Nadia.
"Tidak ada, tante," kata Darmawan.
"Tadi tante mau tanya apa?" kata Darmawan penasaran.
"Begini, apakah kamu suka kepada wanita tertentu? Maksud sayasuka kepada tubuh wanita?" tanya Nadia.
"Kita bicara jujur saja, ya.. Saya tidak akan bicara padasiapa-siapa kok," kata Nadia lagi.
"Kamu juga mau kan jaga rahasia pembicaraan kita?" kata Nadialagi.
"Iya, tante," kata Darmawan.
"Kalau begitu jawablah pertanyaan tante tadi..." kata Nadiasambil tersenyum.
"Ya, saya suka melihat perempuan yang tubuhnya bagus. Saya jugasuka tante karena tante cantik dan tubuhnya bagus," kata Darmawan tanparagu.
"Maksudnya tubuh bagus apa," tanya Nadia lagi. Darmawan agakragu untuk menjawab.
"Ayolah..." kata Nadia sambil memegang tangan Darmawan.Tangan Darmawan bergetar.. Nadia tersenyum.
"Mm.. Saya pernah.. Pernah lihat majalah Playboy, juga.. Juga..Juga saya pernah lihat VCD porno.. Mm.. Mm.. Saya lihat banyak perempuantubuhnya bagus..." kata Darmawan dengan nafas tersendat.
"Oh, ya? Di VCD itu kamu lihat apa saja," kata Nadiapura-pura tidak tahu, sambil terus menggenggam tangan Darmawan yang terusgemetar.
"Mm.. Lihat orang sedang begituan..." kata Darmawan.
"Begituan apa?" tanya Nadia lagi.
"Ya, lihat orang sedang bersetubuh..." kata Darmawan.

Nadia kembali tersenyum, tapi dengan nafas yang agak memburu menahansesuatu di dadanya.

"Kamu suka tidak film begitu?" tanya Nadia.
"Iya suka, tante?" kata Darmawan sambil menunduk.
"Mau coba seperti di film, tidak?" kata Nadia.

Darmawan diam sambil tetap menunduk. Tangannya makin gemetar. Nadiamendekatkan tubuhnya ke tubuh Darmawan. Wajahnya di dekatkan ke wajah Darmawan.

"Mau tidak?" tanya Nadia setengah berbisik.

Darmawan tetap diam dan gemetar. Wajahnya agak tertunduk. Nadiamembelai pipi anak tanggung tersebut. Lalu diciumnya pipi Darmawan. Darmawantetap diam dan makin gemetar. Nadia terus menciumi wajah Darmawan, laluakhirnya dilumatnya bibir Darmawan.. Lama-lama Darmawanpun mulai terangsangnafsunya. Dengan pasti dibalasnya ciuman Nadia.

"Masukkan tangan kamu ke sini..." kata Nadia dengan nafasmemburu sambil memegang tangan Darmawan dan mengarahkannya ke dalam baju Nadia.
"Masukkan tangan kamu ke dalam BH saya, Wan.. Pegang buah dadasaya," kata Nadia sambil tangannya meremas kontol Darmawan dari luarcelana.

Sementara tangan Darmawan sudah masuk ke dalam BH Nadia dan mulaimeremas-remas buah dada Nadia.

"Mmhh.. Terus sayang..." kata Nadia.
"Tangan saya pegal, tante..." kata Darmawan polos.
"Uhh.. Kita pindah ke kamar, yuk..." ajak Nadia sambilmenarik tangan Darmawan. Sesampainya di dalam kamar..
"Buka pakaian kamu, Wan..." ujar Nadiapun melepas seluruhpakaiannya sendiri.
"Iya, tante..." kata Darmawan.

Nadia setelah melepas seluruh pakaiannya, segera naik dan telentang ditempat tidur. Darmawan terkesima melihat tubuh telanjang Nadia. Seumur-umurDarmawan, baru kali ini dia melihat tubuh telanjang wanita di depan mata.Apalagi wanita tersebut adalah wanita yang sering di bayangkannya bila onani.Kontol Darmawan langsung tegang dan tegak..

"Naik sini, Wan..." kata Nadia.
"Iya, tante..." kata Darmawan.
"Sini naik ke atas tubuh saya..." kata Nadia sambilmengangkangkan pahanya.

Darmawan segera menaiki tubuh telanjang Nadia. Nadia langsung melumatbibir Darmawan dan Darmawanpun langsung membalasnyanya dengan hebat. Sementarasatu tangan Darmawan meremas buah dada Nadia yang tidak terlalu besar.Sementara kontol Darmawan sesekali mengenai belahan memek Nadia.

"Ohh.. Mmhh.. Terus remas.. Terus..." desah Nadia sambilmemegang tangan Darmawan yang sedang meremas buah dadanya, dan tangan merekabersamaan meremas buah dadanya.
"Ohh.. Sshh..." kata Nadia. Darmawanpun dengan bernafsuterus meremas dan menciumi serta menjilati buah dada Nadia.
"Wan, jilati memek ya, sayang..." pinta Nadia.
"Tapi saya tidak tahu caranya, tante," kata Darmawan polos.

"Sekarang dekatkan saja wajah kamu ke memek, lalu kamu jilatibelahannya..." kata Nadia setengah memaksa dengan menekan kepala Darmawanke arah memeknya.

Darmawan langsung menuruti permintaan Nadia. Dijilatinya belahan memekNadia sampai tubuh Nadia mengejang menahan nikmat.

"Ohh.. Mm.. Ohh.. Terus jilat, sayang..." desah Nadia sambilmeremas kepala Darmawan.
"Wan, kamu jilati bagian atas sini..." kata Nadia sambiljarinya mengelus kelentitnya.

Lalu lidah Darmawan menjilati habis kelentit Nadia.. Nadia kembalimenggelepar merasakan nikmat yang teramat sangat.

"Teruss.. Sshh.. Ohh..." desah Nadia sambil badannya semakinmengejang.

Pahanya rapat menjepit kepala Darmawan. Sementara tangannya semakinmenekan kepala Darmawan ke memeknya. Tak lama..

"Ohh..." desah Nadia panjang. Nadia orgasme.
"Sudah, Wan.. Naik sini," kata Nadia.

Darmawan lalu menaiki tubuh Nadia. Nadia lalu mengelap mulut Darmawanyang basah oleh cairan memeknya. Nadia tersenyum, lalu mengecup bibir Darmawan.

"Mau tidak kontol kamu saya hisap," kata Nadia.
"Mau tante," kata Darmawan bersemangat.
"Bangkitlah.. Sinikan kontol kamu," kata Nadia sambiltangannya meraih kontol Darmawan yang tegang dan tegak.

Darmawan lalu mengangkangi wajah Nadia. Nadia segera mengulum kontolDarmawan. Tidak hanya itu, kontol Darmawan lalu dijilat, dihisap, lalu dikocoknyasilih berganti. Darmawan tubuhnya mengejang menahan rasa nikmat yang teramatsangat. Tangannya berpegangan pada pinggiran ranjang.

"Ohh.. Tantee.. Enaakk..." jerit kecil Darmawan sambilmemompa kontolnya di mulut Nadia.
"Masukkin ke memek, sayang..." kata Nadia setelah diabeberapa lama menghisap kontol Darmawan.

Darmawan lalu mengangkangi Nadia. Sementara tangan Nadia memegang danmembimbing kontol Darmawan ke lubang memeknya.

"Ayo tekan sedikit, sayang..." kata Nadia.

Darmawan berusaha menekan kontolnya ke lubang memek Nadia sampaiakhirnya.. Bless.. Bless.. Bless.. Kontol Darmawan berhasil masuk dan mulaimemompa memek Nadia. Darmawan merasakan suatu kenikmatan yang tiada tara padabatang kontolnya.

"Bagaimana rasanya, Wan?" tanya Nadia sambil tersenyum danmenggoyang pantatnya.
"Ohh.. Sangat enakk, tanttee..." kata Darmawan tersendatsambil memompa kontolnya keluar masuk memek Nadia.

Nadia tersenyum.. Setelah beberapa lama memompa kontolnya, tiba-tibatubuh Darmawan mengejang. Gerakannya makin cepat. Nadia karena sudah mengertilangsung meremas pantat Darmawan dan menekankannya ke memeknya. Tak lama..Crott.. Croott.. Croott.. Croott..

"Ohh.. Hohh..." desah Darmawan. Tubuhnya lemas dan lunglaidi atas tubuh Nadia.
"Udah keluar? Bagaimana rasanya?" tanya tante Nadia sambilmemeluk Darmawan.
"Sangat enak, tante..." kata Darmawan.

*****

Itulah pengalaman nyata dari Nadia yang saya paparkan sesuai denganaslinya ditambah sedikit reka-reka sensual dari saya. Menurut Nadia, kejadianini baru berjalan mulai 2 bulan yang lalu. Sampai saat ini mereka masih seringmelakukan persetubuhan di rumah Nadia setiap ada kesempatan. Menurutnya lagi,dalam satu hari/sepanjang siang, mereka biasanya bisa melakukan 2 kalipersetubuhan, mungkin karena Darmawan masih muda. Perlu dijelaskan bahwamenurut Nadia, cintanya pada Herman tidak pernah berubah. Kejadian itu bermulatanpa ada niat dan keinginan. Terjadi begitu saja. Hanya saja menurut Nadia,ternyata cinta tidak selamanya membuat terikat pada sesuatu atau seseorang.Demikian.

TAMAT

0 comments:

Post a Comment