Pages

Monday, June 11, 2012

Jangan suka jajan


Tia memberikan HP-nya kepada kakak iparnya untuk memperlihatkan foto-foto yang diambilnya dari HP suaminya, Bram. Citra, kakak ipar Tia, menyandarkan punggung ke kursi salon yang didudukinya sambil membuka satu per satu foto-foto itu. Di cermin terlihat pantulan muka Tia yang cemberut.

“Oo,” gumam Citra tanpa ekspresi, “Beginian. Dasar Bram. Penyakit lama, nih”.


Tia agak kesal melihat kakak iparnya—merangkap pemilik salon tempat mereka berdua ngobrol—‘biasa saja’ melihat foto-foto perempuan lain yang membikin Tia dan Bram bertengkar dua hari lalu. Waktu itu Tia makin marah ketika Bram mengakui bahwa perempuan-perempuan itu PSK.


“Penyakit lama, Kak Citra? Apa dari dulu Mas Bram memang suka jajan?”

“Emmm…” gumam Citra sambil mengambil sebatang rokok dari bungkusnya yang ada di meja, “Iya sih. Lho kamu kok malah baru tahu. Gimana. Kamu kan istrinya.”

Tia malu sendiri. Tapi dia memang tidak bisa disalahkan, karena pernikahannya dengan Bram baru berjalan setahun, dan sebelumnya mereka berdua tidak pernah pacaran. Keduanya memang dijodohkan oleh orangtua masing-masing yang rekanan bisnis, dan sekarang mereka sama-sama disiapkan jadi penerus usaha keluarga besar mereka. Tia dan Bram sudah kenal sejak kecil, tapi mereka baru mulai saling mengakrabkan diri setelah menikah. Satu yang Tia tahu, keluarga Bram memang longgar dalam mendidik anak-anaknya. Jadi seharusnya dia tidak heran kalau Bram ketahuan punya kebiasaan buruk seperti itu. Sama saja dengan kakak Bram, Citra. Citra yang sekarang berumur 30-an tadinya malah disiapkan untuk dijodohkan dengan seorang saudara Tia, tapi karena terbiasa bergaul sangat bebas, Citra dihamili temannya waktu kuliah dan terpaksa dinikahkan—dan selanjutnya diusir karena bikin malu keluarganya.


“Terus gimana nih?” Citra bicara sambil menjepit rokok yang baru dinyalakan dengan bibirnya yang tersaput lipstik merah jambu tebal. “Kamu udah dua hari nggak ngomong sama Bram. Apa mau terus-terusan? Ah, tapi kamu kan anak baik. Pasti kamu mikirin keluarga besar kita. Gak enak sama mereka kalau sampai… cerai.”


“Nggak!” jerit Tia. “Bram emang salah sih, tapi Kak, aku nggak niat cerai sama dia. Aku udah mulai belajar sayang dia Kak. Dan aku juga baru tahu kebiasaan dia yang ini. Makanya aku datang minta saran Kak Citra, gimana baiknya aku hadapi masalah ini. Kak Citra kan lebih kenal Bram,” suara Tia mengecil karena malu, “…lagian aku nggak mau nyusahin orangtua kita semua.”


Baik banget ini anak, pikir Citra. Cuma saat itu juga Citra merasa dapat satu lagi alasan yang bisa dia kasih kalau ada orang tanya pendapat dia tentang menikah tanpa pacaran. Tia, yang tidak pernah pacaran dengan Bram, kaget waktu kebiasaan buruk Bram ketahuan sekarang. Kalau Tia pacaran dulu sama Bram, pastinya mereka bisa lebih saling ngerti, atau bisa putus tanpa repot kalau memang Tia nggak suka. Citra mengisap rokoknya dalam-dalam, lalu menyemburkan asap dari mulut.


Tia menghindar sambil mengipas-ngipas di depan muka. Kakak iparnya itu sudah merokok sejak SMA, dan kadang-kadang Tia mengira Citra selalu bermake-up tebal (seperti saat mereka ngobrol sekarang) untuk menutupi penuaan dini di mukanya yang sudah belasan tahun kena asap rokok. Citra memang tidak pernah tampil tanpa riasan lengkap, rambut tertata, dan pakaian mencolok; tidak hanya sejak dia membuka salon, tapi sejak dia remaja.



Citra

Tia melihat Citra seperti berpikir sambil merokok, lalu membetulkan tali sackdressnya yang melorot dari bahu. Sackdress hitam agak transparan itu gagal membuat bra merah yang ada di bawahnya tidak kelihatan. Citra lalu menaruh rokoknya di asbak, tersenyum, berdiri, lalu mendekati Tia.


“Kalau menurutku sih begini saja…”


***


“KOK GITU SIH CARANYA???” Tia tidak bisa menahan volume suaranya setelah mendengar saran Citra sampai habis. Yang memberi saran dengan santainya mengambil lagi rokok yang tadi ditinggal lalu meneruskan menyedot batang rokok.


“Terserah kamu sih. Saranku ya gitu. Kalau mengingat sifatnya Bram sih kupikir cara itu mempan. Kalau kamu mau coba tanya orang lain, silakan.”


“…” Tia diam saja.


“Kalau kamu mau, aku siap bantu. Gratis,” kata Citra, sambil nyengir. “Bukan cuma sekali, tapi seterusnya juga boleh. Hitung-hitung balas budi sama kalian yang udah bantu aku selama ini.”


“…Sebentar. Aku pikir-pikir dulu,” bisik Tia, menimbang-nimbang.


Ternyata dia perlu waktu lama sekali buat menimbang-nimbang. Berkali-kali dilihatnya lagi foto-foto yang diambilnya dari HP Bram.


***


“Mas, aku mau bicara sama kamu nanti malam.” SMS itu Tia kirim ke HP Bram.


Bram, yang sudah uring-uringan sejak bertengkar dengan Tia setelah ‘foto-foto kenangan’nya ketahuan, menarik nafas lega di kantor.


***


Menjelang sore.


Sesudah memastikan jalanan di luar kosong, Tia langsung keluar dari salon Citra dan secepatnya menuju rumah besar di sebelahnya. Rumah itu rumah Bram dan Tia; Citra tinggal dan buka usaha di sebelah rumah mereka berdua.


Sewaktu mau membuka pagar rumahnya sendiri, Tia kalang-kabut ketika melihat mobil Mercedes-Benz hitam muncul di ujung jalan. Tapi dia sempat masuk ke rumah sebelum Mercy itu lewat. Mercy itu tidak berhenti di rumahnya, karena memang itu mobil orang lain; mobil mewah itu berhenti di depan salon Citra. Dari balik pintu supirnya keluar seorang laki-laki, yang lantas mengunci Mercy itu, lalu masuklah dia ke salon Citra.


Semua itu tidak sempat diperhatikan Tia. Tia sendiri sudah cukup lega karena tidak kepergok siapapun dalam perjalanan yang cuma beberapa meter saja dari tempat kakak iparnya.


***


“Aku pulang kira-kira sejam lagi.”


SMS dari Bram masuk ke HP Tia.


Tia duduk sendirian di dalam kamar di depan cermin. Normalnya dia bakal melihat rona mukanya sendiri berubah merah karena perasaannya yang campur aduk, tapi kali ini agak susah bagi dia.


Rumah itu baru terisi mereka berdua, Bram dan Tia, yang menikah tahun lalu. Belum ada anak. Selama ini kehidupan mereka lancar-lancar saja. Tia ‘si anak baik’ menerima saja ketika orangtuanya dan orangtua Bram memutuskan perjodohan mereka. Bram juga bukan suami brengsek. Setidaknya sampai belangnya ketahuan beberapa hari lalu. Hanya saja Tia sering merasa Bram seperti bosan dengan dirinya.


Tia masih muda. Bram lebih tua sedikit. Setelah lulus kuliah keduanya dijodohkan dan tak lama sesudahnya menikah. Karier mereka berdua terjamin karena mereka berdua akan meneruskan usaha yang dirintis orangtua-orangtua mereka, dan mereka sama-sama sedang bekerja di sana, hanya di bagian yang berbeda. Tia punya banyak waktu luang dan bisa bekerja di rumah, sedangkan Bram banyak bepergian keliling kota dan kadang-kadang ke daerah.


Sebenarnya Bram tidak bisa dibilang rugi dijodohkan dengan Tia, yang berwajah lumayan menarik. Citra, yang sudah kenal duluan dengan Tia sebelum Tia mengenal Bram, pernah bilang dia iri dengan tubuh Tia yang lebih sintal daripada tubuhnya sendiri. Tapi kalau keduanya berjejer, orang bakal lebih banyak yang menengok ke arah Citra daripada Tia, karena Citra selalu tampil ‘meriah’ dengan dandanan cenderung menor dan pakaian seksi, sementara Tia selalu terlihat polos dan biasa berpakaian konservatif.


Tia masih tidak percaya kenapa akhirnya dia setuju mencoba saran Citra. Tapi, pikirnya, dicoba sajalah… tidak ada salahnya.


***


Bram menyetir pulang membawa oleh-oleh kue coklat untuk istrinya yang dia kira masih ngambek, tapi sudah beritikad baik mengajak berdamai. Dia sadar, dia sendiri salah. Sudah kawin kok masih doyan jajan. Tapi, yah, kebiasaan lama susah luntur. Dan ada hal-hal yang dia kira tidak bakal dia dapat dari Tia.


Bunyi SMS datang di antara bunyi radio mobil. Pesan dari seorang perempuan yang fotonya sampai tadi pagi ada di HP Bram. Sekarang semua foto itu sudah hilang dari HP Bram (tapi pindah ke tempat-tempat lain, tentu saja). Dan Bram tidak menanggapi ajakan dalam SMS itu.


Jangan dulu deh, pikir Bram.


***


Tia mendengar bunyi mobil Bram dan sesudahnya bunyi pintu rumah dibuka. Dia menenangkan diri, mengulang lagi semua yang mau dia lakukan (atas saran Citra), dan bersiap-siap. Tangannya dingin.


Berjam-jam sudah dia habiskan untuk persiapan dengan dibantu Citra tadi. Dalam hati dia berusaha membenarkan pilihannya dengan mengatakan, mungkin ini memang perlu, demi kami berdua, dan demi keluarga. Tapi dalam hatinya berkali-kali terselip rasa penasaran. Dia ingin tahu, bagaimana jadinya nanti. Bagaimana kira-kira reaksi Bram. Bagaimana kira-kira reaksi dia sendiri.


Sudah waktunya.


***


Bram melongo di pintu, memelototi Tia yang berdiri di depannya.


Malam itu, Tia berubah. Tia yang sederhana dan terkesan baik-baik sedang tidak hadir. Sebagai gantinya…


Tia tampil beda. Dia memakai gaun mini ketat berbahan satin berwarna hitam yang panjangnya tidak sampai menutupi setengah pahanya, sehingga memperlihatkan stocking jala hitam yang membungkus kedua kakinya sampai berujung ke sepasang stiletto hak tinggi. Di atas pinggang, gaun mini itu mendesak sepasang payudara Tia sampai nyaris tumpah ke luar, sementara pundaknya terbuka.


Kebetulan warna kulit Tia coklat muda. Bukan putih atau kuning atau sawo matang, tapi warna di antaranya. Itu juga yang membuat lapisan bedak yang membuat mukanya lebih putih terkesan lebih kentara, karena kontras antara warna muka dan badan. Ketika Tia berkedip, tampak rona biru muda di kelopak matanya, di bawah alis yang dibentuk dan dipertegas. Kedipannya juga menunjukkan bulu mata palsu yang menempel di kedua mata. Pipinya bersemu merah, tapi karena polesan.


“Kok bengong aja, Mas? Kamu suka yang kayak gini, kan?”


Kata-kata itu meluncur dengan nada menantang dari sepasang bibir Tia yang kali ini tidak telanjang. Biasanya Tia paling-paling hanya memakai lip gloss, namun malam itu mata Bram tidak bisa lepas dari bibir Tia yang tampak lebih penuh dan sensual. Merah, mengilap, menantang.


Seperti itulah saran Citra untuk Tia. “If you can’t beat ‘em, join ‘em.” Citra kenal benar dengan Bram. Adiknya itu tidak bisa dibilang ganteng, malah tampangnya terhitung pas-pasan. Maka itu sejak dulu Bram selalu kurang mujur dalam percintaan; biarpun dia anak pengusaha, tetap saja jarang ada cewek yang mau dengannya. Jadi dia terbiasa lewat jalan pintas dengan jajan. Dan seleranya jadi terbentuk ke arah penampilan ‘khas’ cewek-cewek penjaja cinta: dandanan seksi tapi terkesan murahan. Perempuan-perempuan macam itulah yang fotonya Tia temukan di HP Bram.


“Tia… kamu… ini maksudnya…?”


Melihat Bram bengong saja, Tia mengingat-ingat lagi apa kata Citra mengenai bagaimana dia harus bersikap. Jadi dia segera maju mendekati Bram dan menarik dasi Bram. Bram melihat istrinya menatap tajam matanya, sambil mencium bau parfum yang lumayan keras.


“Kenapa? Gak seneng kalo aku kayak gini?”


Bram kewalahan, takut salah ngomong di depan istrinya yang entah kesambet apa sampai mendadak makeover jadi seperti WP langganannya. Dia cuma bisa menjawab pelan-pelan.


“Bukan… bukan gitu… tapi kamu… Aku… nggak…”


Tia tambah sewot. Maksudnya apa itu? Apa dia malah gak suka aku jadi seperti ini? Melihat muka Bram yang tambah panik, Tia memberanikan diri untuk agresif. Dipepetnya Bram ke tembok, sambil masih memegang pangkal dasi Bram—seperti siap mau mencekik. Bram lebih besar dari Tia, tapi saat itu seperti tidak punya kekuatan untuk melawan Tia. Sementara tangan kanannya siap membuat Bram susah bernafas, tangan kiri Tia mencari-cari bagian tubuh Bram yang paling jujur.


Tuh, kan… pikir Tia. Dia merasakan kemaluan Bram mengeras di balik celana.


Tia meremas pelir Bram. “Masih mau bohong?” katanya sengit. “Aku udah tahu. Kamu paling suka ngelihat cewek dandan sampe kelihatan murahan kayak gini kan? Itu kan alasannya kamu masih terus aja jajan di luar biarpun kamu udah punya aku kan?”


Bram mau menjawab, sekaligus merasa agak nyeri di bijinya yang ada di cengkeraman Tia. Tia sudah kelihatan marah sekarang. Tapi Bram tidak bisa menyangkal bahwa dia terangsang melihat Tia berani tampil seperti itu. Cuma dia tidak berani bilang.


“Gak usah nyangkal,” desis Tia. “Aku udah tahu seperti apa kamu sebenarnya, Mas. Tapi aku gak senang kalau kamu gak terus terang aja. Aku kan istri Mas Bram? Apa susahnya sih ngasih tau aku apa yang kamu suka?”


“Habisnya…” Bram meringis. “…ya, kupikir dibilangin juga kamu ga bakal mau…”


“Jadi kamu ga nanya dulu, nyangka aku ga mau, makanya kamu milih ngent*t sama lonte? Gitu? Apa ga pernah kepikiran kalau aku bisa aja mau ngikutin kemauan Mas?”


Bram menunduk, tidak berani bicara. Pada saat yang sama, dia tambah terangsang mendengar Tia berani ngomong jorok seperti itu. Tambah sempit saja celananya terasa. Tia juga merasakan itu.


“Tuh, yang di bawah situ udah ngaku,” sindir Tia. “Bilang aja kalo suka, Mas. Jujur aja.”


“Eh… i… iya… kamu… em… cantik?” Bram merasa salah ngomong, tapi tidak tahu yang benarnya seperti apa.


“Cih. Kaya’ gini yang dianggap cantik? Seleramu payah amat, Mas,” maki Tia, walaupun dalam hati kecilnya dia senang juga dipuji seperti itu. “Tapi daripada kamu gak mau berhenti jajan…”


Sudah waktunya, pikir Tia. Lanjut…


“…mending kukasih aja.”


Didorongnya Bram ke sofa ruang depan sampai Bram terduduk. Dengan tidak sabaran Tia langsung naik ke pangkuan Bram dan memaksa mencium bibir Bram. Bram awalnya kelabakan, tapi langsung menyerah pada desakan Tia. Hampir 10 menit bibir mereka bertempur, lidah mereka saling serang.


Buat Tia sendiri, perlu kekuatan tekad sangat besar untuk bisa berpenampilan dan bersikap seperti saat itu. Seumur hidup belum pernah dia seagresif itu, jadi dia deg-degan sendiri waktu akhirnya berani bicara keras di muka Bram. Tapi itu baru permulaan. Dia sudah berniat mau habis-habisan malam itu, dan meyakinkan Bram untuk seterusnya bahwa dia tidak mau lagi Bram main-main di luar. Artinya, dia sendiri harus melakukan semuanya supaya Bram tidak lagi punya alasan.


Tangan kiri Tia membuka kancing dan resleting celana Bram. Tia belum pernah melakukan seks oral dengan Bram sebelumnya, karena Bram tak pernah minta, dan Tia sendiri kurang inisiatif. Tapi malam itu Tia tidak ragu-ragu dan tidak menunggu Bram. Setelah penis Bram yang sudah mengeras terbebas dari celana, Tia langsung menggarapnya. Jilat dan sedot. Bram terpana melihat bibir merah Tia naik-turun mengelus anunya. Bukan pertama kali dia disepong; cewek-cewek langganannya lebih kenal dengan rasa kemaluan Bram daripada Tia. Karena itu juga Bram mulai bisa tenang lagi, menghilangkan kaget sambil memikirkan apa yang sedang terjadi.


Sambil menjilati ereksi Bram, Tia terus menahan rasa malu dan segan. Dia sudah tidak merasa jadi diri sendiri sejak pertama kali Citra selesai mempermak habis penampilannya dan dia melihat sendiri mukanya di cermin. Wajah perempuan bermake-up tebal yang asing itu terlihat norak sekaligus menggoda. Tia sempat terpikir bahwa itu sudah berlebihan, tapi dia mencoba menerima saja hasil karya Citra di mukanya. Perempuan di cermin itu tidak terlihat seperti dia, tapi itu memang dia. Pakaian yang dipinjamkan Citra pun tidak mencerminkan kepribadiannya yang biasa, tapi Tia diam saja. Biarpun harus menahan malu, dia harus mencoba dulu. Demi Bram. Demi dia sendiri…


Berhubung Tia baru pertama kali mempraktekkan fellatio, aksinya masih canggung. Dia tidak tahu apakah Bram suka atau tidak. Dia berhenti lalu melirik ke arah muka Bram.


Bram sudah merasa pegang kendali.


Satu hal yang tidak diceritakan Citra ke Tia, karena Citra sendiri tidak tahu: kalau bersetubuh dengan wanita bayaran, Bram terbiasa dominan dan cenderung melecehkan lawan mainnya. Itu juga salah satu alasan Bram ragu-ragu meminta Tia mengikuti kemauannya. Bram tidak yakin istrinya bakal mau, dan kuatir kalau Tia tahu apa kesukaannya, masalah bisa muncul. Beda kalau dengan PSK; dia tinggal bayar lebih supaya mereka mau meladeni permintaannya, atau cari cewek lain yang mau. Sekarang ternyata Tia sendiri memberi sinyal bahwa sebenarnya dia mau mengikuti kemauan Bram. Dan Bram mulai sadar bahwa justru itulah yang dia tunggu-tunggu.


“Kok berhenti?” kata Bram, dengan nada tegas. “Udahan, nih?”


Sekarang gantian Tia yang kaget. Dia menganggap apa yang dia lakukan itu semacam akting, role-playing, bermain peran. Dia tidak menyangka Bram bakal secepat itu mengerti dan ikut ‘bermain’. Gara-gara salah perhitungan itu, perannya buyar. Dia merasa konyol karena bengong sementara bibirnya masih di seputar burung Bram.


“Jangan dipaksain kalo emang gak bisa,” kata Bram, mulai yakin bahwa dia sudah membalik keadaan. “Tapi kamu sendiri yang ‘masang’. Ya udah. Sekalian.”


Tia melihat sekilas Bram nyengir jahat lalu merasakan kedua tangan Bram mencengkeram kedua sisi kepalanya. Sebelum Tia sempat bicara, Bram berdiri, lalu dengan gencar memaksa kepala Tia bergerak maju-mundur menyervis anunya. Tia kelabakan sendiri, dan cuma bisa mengeluarkan bunyi-bunyi tak jelas selagi mulutnya berubah jadi alat masturbasi Bram. Bram memutar tubuh sambil menarik Tia sehingga sekarang Tia membelakangi sofa. Lalu Bram menundukkan badan sehingga kepala Tia terdorong sampai berbantalkan jok sofa. Setelah dalam posisi itu, Bram langsung menggerakkan pinggulnya membabi-buta, penisnya mengaduk-aduk seisi mulut Tia yang tidak bisa apa-apa selain menerima. Beberapa genjotan kemudian, Bram melenguh keras dan muncrat di dalam mulut Tia.


Setelah ejakulasi, Bram keluar dari mulut Tia. Tia terbatuk, berusaha mengeluarkan mani Bram dari dalam mulutnya. Bram melihat itu dan langsung menghardik. “Heh. Siapa suruh muntahin? Telan.” Tia yang masih kaget tidak sempat berpikir apa-apa lagi, secara refleks diikutinya perintah Bram. Tia memalingkan muka selagi menelan. Dia berusaha bangun, sementara Bram berdiri mengangkang di atas badannya. Tia beringsut ke sofa. Bram tersenyum penuh kemenangan sambil membuka dasinya. Dilihatnya Tia meringkuk di sofa. Sekarang istrinya itu terlihat ketakutan. Memang. Tia seperti baru melepaskan anj1ng galak dari ikatan, dan sekarang anj1ng galak itu malah mengancamnya.


Ganti Bram yang mendesak Tia di sofa. Kedua tangan Bram memegangi kedua pundak Tia sementara tubuhnya merapat ke tubuh Tia. Dilihatnya lagi wajah Tia yang sedang main pura-pura jadi sundal itu. Walau ada yang cemong sedikit gara-gara mukanya tadi digagahi, bibir Tia masih merah, maskaranya belum luntur, bedaknya masih ketebalan. Topeng wanita murahan-nya masih ada. Cuma ekspresinya memang berubah; kalau tadi ekspresi PSK cari mangsa, sekarang tampang PSK kena razia. Tapi Bram yang mulai menikmati perubahan istrinya tidak mau membiarkan Tia balik lagi seperti yang dulu. Bram terpikir untuk bersikap gentleman dengan langsung melepas Tia, meminta Tia menghapus semua rias wajahnya dan ganti baju biasa, lalu meminta maaf dan kembali bersikap mesra. Tapi Bram tidak mau buru-buru melepas kesempatan. Mumpung istrinya lagi ingin bergaya binal, kenapa tidak dimanfaatkan sepuasnya?


“Mestinya dari dulu kamu begini,” kata Bram di depan muka Tia, “Tapi kalo udah susah-susah dandan kayak gini, jangan setengah-setengah dong! Terusin aja.” Tia seperti berusaha meraih mukanya—maksudnya mau minta french kiss dari Bram, tapi Bram berkelit. Dia belum lupa tadi habis membuang apa di mulut Tia. Selagi Tia kecewa, Bram menyerang sasaran lain. Dibuatnya leher, pundak, dan bagian atas payudara Tia berbekas cupang merah. Lalu diangkatnya ujung bawah gaun mini Tia. Di situ Bram mendapati Tia tidak pakai celana dalam.


“Niat banget, ya? Sengaja ga pake CD?” goda Bram. “Atau sedari tadi kamu udah gak tahan jadi self service dulu?” Yang digoda membuang muka karena malu.


Dengan leluasa Bram melalap selangkangan istrinya. Hingga malam itu kehidupan seks Tia dan Bram relatif monoton; mereka biasanya cuma berhubungan seks biasa, sekadar bermesraan, petting, setubuh dengan posisi normal, tak banyak variasi. Tia tidak mempermasalahkan; Bram merasa kurang tapi tidak mau bilang ke Tia dan memilih melampiaskannya di luar. Jadinya, ya, baru kali itu juga Tia menikmati memeknya dimakan Bram. Sensasinya langsung membuat Tia mendesah-desah keenakan sambil menjepit kepala Bram dengan kedua pahanya. Tia sampai lupa terpikir untuk membalas perlakuan Bram tadi dengan tindakan yang sama, berhubung posisinya sekarang kebalikan yang tadi. Bram berkali-kali menyenggol G-spot Tia dengan lidahnya.


“Mmmhhh…. Aaa!! Brammm!!”


Tia terengah-engah karena kenikmatan melanda badannya. Tangannya gemetaran, mulutnya menganga. Tapi tiba-tiba Bram berhenti dan berdiri.


“Yahh??” Tia merengek kecewa. Bram menatapnya dengan pandangan lapar… dan iseng. Bagaimana kalau kita main-main dulu… pikir Bram.


“Mas Bram… terusin dong…” pinta Tia. Bram cuek.


“Gak mau.”


“Mas Braamm…”


Bram maju. Tangannya memegang tangan Tia. Bibirnya mendekati bibir Tia, seolah mau mencium, tapi sekali lagi Bram berkelit dan malah mengulum telinga Tia. Sementara itu tangannya membawa tangan Tia ke arah kemaluan Tia.


“Main sendiri. Sana. Di depanku. Aku pengen lihat lonteku ngobok mekinya sendiri. Gih.”


Bram lalu mundur dan melepas tangan Tia. Tia diam sejenak, lalu dengan ragu-ragu mulai. Entah kenapa, biarpun kata-kata Bram tadi sangat melecehkan kalau dalam keadaan normal, Tia justru malah terangsang mendengarnya. Dia membebaskan buah dadanya dari balik baju dan mencubit-cubit pentilnya yang mengencang. Tangan satunya lagi mengelus-elus bibir vagina.


“Kayak gini Mas?... Gimana… ah… ahhh… Lihat aku Mas…”


Bram sendiri sibuk mengocok anunya, sambil terus ngomong.


“Ya. Terus. Gitu. Masukin jarimu ke sana. Jangan cuma satu, tapi dua sekalian. Kobel terus. Gimana. Udah tahu gimana rasanya jadi sundal? Enak?”


“Ah… ah… Mas lihatin aku… enak mas…“


“Mainin terus tuh pentilmu… jepit, cubit. Ah, sayang susumu gak segede itu. Kalo lebih gede kamu bisa gigit-gigit sendiri tuh pentil. Remas terus. Pencet terus.”


“Maafin kalo kurang gede Mas… uh, ungh… Mas aku jangan dibiarin sendiri terus dong… isep toketku Mas…”


“Gak. Pokoknya aku mau lihat kamu sampe klimaks. Terusin aja ngent*t jari-nya.”


“Ah… ah… iya Mas… ini kuterusin… engh…” Erangan Tia diseling suara becek dari vaginanya yang dia obok-obok sendiri.


“Gimana Tia? Suka gak jadi lonte? Tau nggak, aku langsung ngaceng begitu lihat kamu yang dandan abis tadi. Sampe sekarang juga masih. Biarpun tadi udah, kayaknya sebentar lagi aku ngecrot lagi.” Bram terus memancing-mancing Tia.


“Auhhh…. Engg... Hahh, iya, iya Mas, ah… ah…”


“Ini baru di dalam rumah. Coba kalo kamu tadi keluar. Bayangin orang banyak ngelihat kamu. Apa nggak konak semua mereka.”


Kata-kata Bram memancing khayalan Tia. Bram tidak tahu tadi Tia sempat ada di luar sebentar, waktu buru-buru pergi dari salon Citra ke rumah. Tadi Tia bersyukur tidak kepergok siapapun—termasuk orang di mobil Mercy hitam yang lewat. Sekarang dia membayangkan sendiri andai dia tadi kepergok. Bukan cuma oleh satu orang, tapi banyak. Dan mereka semua terangsang melihat penampilannya yang menggoda. Dan dia dikerubuti oleh mereka, dipegangi, ditelanjangi, dipaksa…


“AHH~!!” Bibir merah Tia menganga, mengerang tertahan, selagi kepalanya tersentak ke belakang dan sekujur tubuhnya gemetar. Dia orgasme gara-gara khayalan tadi.


“Ah… hah… ah…” nafas Tia tersengal-sengal setelah mencapai klimaks. Bram mendekati Tia, setengah mati berusaha menahan semburan dalam penisnya, menarik Tia, dan dengan lega menyemprotkan spermanya ke muka Tia yang bermake-up tebal itu.


CROTT…. CROTT…


Tia terduduk di lantai. Dia mau mengusap cairan lengket di mukanya, tapi Bram menahan tangannya.


“Biarin dulu! Aku mau lihat mukamu kayak gini!”


Bram melihat maninya berleleran melintang di pipi dan hidung Tia. Muka pelacur yang habis dientot.


Dia merasa lebih suka istrinya yang versi ini.


“Ahh… Maass…” Tia merengek. Entah karena apa. Dan Bram merasa masih kuat melanjutkan. Tapi dia perlu istirahat sebentar—


“Gak pernah aku lihat kamu seseksi ini,” kata Bram. “Tuh, yang di bawah udah pengen lagi.”


“Kamu juga jadi lain, Mas…” Tia bilang, “Aku baru tahu… apa ini yang Mas dapat dari cewek-cewek lain itu?”


Bram agak kesal karena Tia masih juga mengungkit-ungkit kebiasaannya, dan tidak menjawab. Dia malah menyuruh Tia menungging di depannya. Tia menurut, berharap Bram melanjutkan ronde 3. Biarpun sudah orgasme satu kali, Tia masih ingin vaginanya dipenetrasi. Dia merasakan tangan Bram di pinggangnya, sementara penis Bram yang mulai tegang lagi menggosok-gosok bibir bawahnya.


“…masukin dong Mas…” bisik Tia.


“Apa?” Bram pura-pura nggak mendengar.


“Masukin dong Maaas,” rengek Tia.


“Masukin apa ke mana? Yang jelas dong?”


Tia terdiam sebentar lalu berkata, “Masukin kontolmu ke memekku Mas…” dengan malu-malu.


“Bagus… kamu udah bisa ngomong kayak mereka,” celetuk Bram, sambil menyodok memek istrinya. Tia tidak menjawab, dan cuma mendesah karena nikmat. Tapi Bram masih terus berniat menggoda istrinya. Sambil merapat ke punggung Tia, Bram berbisik. “Becek amat di dalam sana, licin. Hayo ngaku. Udah dipake berapa orang kamu hari ini, lonte?”


Tia menggigit bibir, malu karena diledek Bram. Dia mendengking waktu Bram menampar pantatnya. Tapi ternyata beberapa lama kemudian Bram mencabut burungnya dari kemaluan Tia. Sebelum Tia sempat protes, Bram menggenggam satu tangannya dan mendorong Tia ke arah sofa sampai kepalanya bersandar di sofa. Tia bertanya-tanya apa mau Bram, tapi dia langsung sadar ketika Bram menowel-nowel lubang anusnya…


“Mas? Mas Bram mau apa…?”


“Mau merawanin pantatmu…”


Sesudahnya, ada jeritan yang sampai terdengar oleh Citra di rumah sebelah.


***


Citra tersenyum puas mendengar suara berisik di rumah adik dan adik iparnya. Sarannya kepada Tia untuk coba berubah menjadi seperti perempuan-perempuan yang fotonya ada di HP Bram sepertinya manjur.


Baguslah, pikirnya. Daripada Bram bawa pulang penyakit atau anak haram, mendingan dengan Tia.


Orang yang tadi datang dengan Mercy hitam baru saja pergi dari salon Citra, puas dengan pelayanan Citra dan memberi tips cukup banyak. Citra kembali memulaskan lipstik di bibirnya; tadi lipstiknya terhapus ketika dia memberi servis blowjob kepada si pengendara Mercy…


***


Satu jam sudah berlalu sejak Bram pulang. Sekarang dia terlentang telanjang, mandi keringat, di ruang tamu. Di dadanya bersandar Tia yang awut-awutan, make-up tebalnya luntur setelah entah berapa ronde berperan sebagai pelacur demi Bram. Dari lubang duburnya yang terasa agak nyeri, mengalir sedikit benih Bram yang tadi dikeluarkan Bram di sana.


Dua-duanya terlalu capek untuk ngobrol ataupun merasa bersalah.


Yang jelas, Tia merasa tambah yakin Bram tidak akan perlu lagi jajan di luar.


Dan sepertinya, Tia sendiri juga menemukan sisi baru dalam dirinya…

0 comments:

Post a Comment