Pages

Thursday, June 14, 2012

Jadi istri kedua

Aku seorang wanita (sebut saja Melati) umurku saat ini 30 th.
Perawakanku terbilang kecil dengan tinggi 153 cm dan berat 40kg. Aku
boleh dikatakan sangat menjaga diri, bahkan aku selalu mengenakan busana
muslimah dengan rapat setiap keluar rumah. Itulah sebabnya kulitku
selalu kelihatan putih terawat meskipun aku tidak pernah melakukan
perawatan diri ke salon kecantikan. Bahkan teman-temanku mengatakan
kalau wajahku masih seperti anak kuliahan. Aku tinggal di dekat
lingkungan pesantren di kota J.Kejadian ini bermula tahun 2005 saat aku menikah dengan seorang yang
telah beristri, dan aku menjadi istri keduanya waktu itu. Suamiku ini

sebenarnya baik dan mencintai aku. Dan aku pun mencintai dia. Akan
tetapi kehidupan rumah tanggaku biasa-biasa saja. Hal itu terjadi
mungkin karena pernikahanku sejak awal tidak atas izin istri pertamanya.
Sehingga perjalanan rumah tanggaku banyak terjadi permasalahan
dikarenakan hal itu. Suamiku pun pada akhirnya dihadapkan pada pilihan
yang sulit, sehingga tidak bisa berlaku adil kepada istri-istrinya.
Bahkan buat diriku sangat jarang dia bisa bermalam bahkan hanya untuk
satu malam saja. Pertemuanku dengan suami sangat terbatas hanya pada
siang hari saja, meskipun itu aku anggap cukup untuk merajut kemesraan
bersamanya. Akan tetapi lama kelamaan aku jadi sering merasa kesepian.
Hal itu cukup lama berjalan, tapi aku tetap berusaha untuk sabar dan
menerima semua ini sebagai sebuah takdir yang harus aku jalani.
Aku bertetangga dengan seorang wanita (sebut saja M) yang suaminya
mempunyai bisnis di luar jawa. M kurang lebih sama seperti aku, dalam
hal pemahaman agama dan berbusana. Awalnya kami sering bertemu dalam
majelis pengajian di pesantren. Akhirnya kami berkenalan dan kami merasa
ada kecocokan. Mengingat M ini juga ditinggal suaminya berbisnis di luar
jawa, sehingga dia di rumah hanya bersama ketiga anaknya yang masih
kecil. Itulah sebabnya aku sering bertandang ke rumahnya dan kami
menjadi akrab. Dia baik sama aku, suka membantu dan menolong.
Sampai suatu saat terjadilah musibah gempa bumi yg mengerikan di kotaku.
Musibah itu telah meluluhlantakkan hampir seluruh rumah dan bangunan di
desaku, termasuk rumahku. Alhamdulillah aku selamat. Itulah awal dari
persimpangan kisah hidupku. Setelah musibah itu aku ditawari untuk
tinggal di rumah M yang meskipun sederhana namun selamat dari kerusakan
parah
dan masih layak ditempati. Setelah itu aku jalani hari-hariku di
rumah keluarga ini. Selang beberapa hari setelah musibah itu suami M
(sebut saja AH) pulang dan akhirnya menutup usahanya di luar jawa demi

untuk bersama keluarganya yg sedang tertimpa musibah.
Aku menempati sebuah kamar yg sederhana. Tempat tidur tanpa dipan dan
ruang kamar itu tanpa pintu. Hanya ditutup kain korden. Meski demikian,
aku sangat bersyukur dalam kondisi sulit seperti ini ada tetangga yg
benar2 tulus mau membantu. Aku menjadi akrab dengan mereka dan anak2nya.
Setiap hari kami saling membantu membereskan rumah dan
pekerjaan-pekerjaan rumah lainnya serta mengurus anak-anak AH.
Dua minggu setelah musibah itu aku periksa ke bidan dan aku baru tahu

kalau ternyata aku hamil 2 bulan. Pantas saja, akhir-akhir ini badanku
sering terasa capek dan malas untuk beraktivitas seperti biasa. Aku
sangat gembira dengan kehamilan pertamaku ini. Aku berharap semoga
dengan kehamilanku ini bisa menambah perhatian suami terhadapku. Akupun
menyampaikan kabar bahagia ini kepada suamiku.
Hari2 berlalu…..
Namun harapanku akan perhatian suamiku nampaknya harus aku pupus.
Suamiku masih bersikap seperti biasanya. Dia masih lebih perhatian pada
istri pertamanya, sedangkan untuk diriku tidak lebih sebatas
kebutuhan-kebutuhan lahiriah yang dipenuhinya.
Akan tetapi aku sedikit terhibur dengan keberadaanku di keluarga AH ini.
Lama kelamaan kami menjadi seperti keluarga yang cukup akrab.
Keakrabanku dengan AH dan keluarganya terkadang membuat batas diantara
kami menjadi longgar. Terlebih lagi memang rumah keluarga AH ini tidak
luas. Terkadang aku kepergok AH dalam kondisi aku tanpa jilbab. Aku
merasa risih sebenarnya, tapi mau gimana lagi ?
Hari2 berlalu sejalan dengan keberadaanku di tengah2 keluarga mereka…
Suamiku seminggu sekali menjenguk aku di rumah AH ini. Terkadang kami
keluar berdua, dan sorenya aku dipulangkan ke rumah AH.
Keadaan seperti itu berlangsung kira2 sebulan.
Sampai suatu hari, AH menyatakan sesuatu kepadaku yang cukup membuat aku
terkejut.
Yang intinya memberikan harapan padaku bahwa dia bersedia menikahi aku
jika saja aku mau bepisah dg suamiku. Aku terkejut bukan main atas
niatnya itu. Awalnya aku menolak secara halus. Tapi ketika dia
mengatakan bahwa permasalahanku saat ini sudah dia konsultasikan dengan
para Kyai (di pesantren), dan semua menyarankan dalam kondisi suamiku
yang tidak bisa lagi berbuat adil maka lebih baik berpisah saja. Saat
itu aku mulai gamang…. Antara ya dan tidak.
Kadang aku merasa ada benarnya pendapat AH itu, tapi aku juga takut jika
harus berpisah dengan suamiku, dan menyandang predikat janda.
Aku, M dan AH terkadang mendiskusikan kondisiku saat itu. Dan dari
sekian argumen yang kami ajukan, selalu berujung pada kesimpulan "lebih
baik berpisah daripada terdholimi terus…"
Akan tetapi sampai sejauh itu, M belum tahu jika AH sudah mempunyai niat
untuk menikahi aku nantinya. AH bilang kepadaku untuk sementara waktu
menyimpan dulu hal itu sampai nanti dia sendiri yang akan menyampaikan
ke M kalau waktunya tepat.
Dari seringnya kami bertukar pikiran, dan terkadang di situ ada saat
saling curhat diantara kami, aku semakin merasa tentram. Sedikit demi
sedikit tanpa aku sadari aku merasa mendapat sandaran baru. Sebuah
sandaran yang bisa memberikan rasa tenang dan bisa menerima aku.
Sementara itu sandaran lamaku aku rasakan mulai usang, dan menjadi
hambar bahkan kadang menyakitkan.
Suatu malam ketika aku tertidur sangat lelap (mungkin karena kecapekan
dan kondisi kehamilanku)…. Tiba2 aku merasakan ada sensasi hangat
menjalar ke seluruh tubuhku….. Antara sadar dan tidak, aku merasa
suamiku mendatangi aku…. Akupun menyambutnya dengan perasaan sangat
bahagia, bagaikan orang yang telah lama tidak berjumpa dan memendam
rindu yang sangat dalam…
Dia mulai mencumbuiku, dari ujung kaki….naik ke betis, lalu paha dan
akhirnya ke bagian yg paling sensitive.. Dia cumbui bagian itu dg
lembutnya, sampai akupun merasakan sensasi nikmat yg sangat.. Antara
setengah sadar aku merespon semua itu dengan birahiku yg mulai memuncak…
Setelah itu aku rasakan dia melepas celana dalamku….akupun hanya
pasrah…karena memang aku juga sudah sampai puncak birahi.. Dia mencumbui
bagian itu sampai akhirnya dalam keadaan setengah sadar, aku merasakan
kenikmatan yang sangat.. Sampai ketika aku rasakan ada sesuatu yg mulai
mendesak masuk ke kemaluanku, aku tersadar dan membuka mata….
Dan alangkah tekejutnya aku, karena ternyata yg berada di atas tubuhku
adalah… AH..
Kaget, malu, marah dan apalah namanya berkecamuk jadi satu.. Dia
langsung membekap mulutku, sambil setengah mengancam dan
berbisik…"Jangan teriak..!"
Aku langsung sadar, kalau aku berada di rumah AH. Aku langsung sadar
bahwa kenikmatan yang barusan aku rasakan ternyata bukan mimpi. Spontan
aku teringat istri dan anak2nya…ingat keluarganya yg selama ini sudah
baik padaku. Maka aku pun diam sejenak, aku mencoba berpikir harus
bagaimana…. Yang pasti aku tidak ingin terjadi masalah dg keluarganya.
Lalu aku mencoba meronta, akan tetapi tenaganya jauh lebih kuat dariku.
Dia menindih dengan kuat sambil membekap mulutku…
Aku mencoba menutup kedua pahaku, tapi dengan posisi AH yang sudah
menindih dan berada diantara kedua pahaku, aku mendapatkan kesulitan
untuk itu. Kedua kaki AH mengunci kedua pahaku untuk terus terbuka.
Aku mencoba mendorong tubuhnya, akan tetapi tubuhku yang kecil nampaknya
tidak memiliki cukup tenaga untuk mendorong tubuh AH yang tinggi dan
berotot itu…
Tangan kanannya terus membekap mulutku dan tangan kirinya menekan tangan
kananku. Tangan kiriku mencoba untuk meronta, tapi semua itu sia-sia. AH
terlalu kuat tenaganya. Lama kelamaan aku lemas kehabisan tenaga…
Mungkin setelah dia rasa aku mulai lemah, dia mulai mengendorkan bekapannya.
Aku hanya bisa merintih memelas…"Abang…jangaaaann…"
"Jangaaann…" Aku terus memohon dengan memelas..
Akan tetapi rintihanku sia-sia, AH tetap mempertahankan posisi itu dan
mulai membelai kepalaku dan mencoba mengecup bibirku… Dikulumnya
bibirku, dan lidahnya berusaha menerobos masuk. Aku berusaha mengatupkan
kedua bibirku dengan kuat.
Perlahan-lahan tangan kirinya mulai meremas lembut payudaraku beberapa
saat….
"Abang….tolong lepas….jangan abang…." Aku terus memohon dengan rintihan
yang pelan nyaris tak terdengar. Bagaimanapun juga aku khawatir kalo aku
sampai membangunkan M, yang tentu akan memicu masalah yang lebih besar.
AH tidak juga bergeming, bahkan dia terus mempertahankan posisinya…
Setelah itu, aku rasakan kemaluannya mulai mencari-cari jalan untuk
menerobos liang senggamaku. Aku tersentak dan berusaha menghindarinya.
Akan tetapi dengan sisa-sisa tenagaku yang tidak seberapa, usahaku
sia-sia. Akhirnya, dengan dua atau tiga kali dorongan dia menemukan
liang itu dan mulai mendorong pelan kemaluannya masuk lebih dalam lagi
dan lagi…
"Sakiiit abang…." Aku merasakan agak perih ketika kepala kemaluan AH
mulai menerobos liang senggamaku. Dia mendorong terus kemaluannya sampai
akhirnya aku rasakan semua tenggelam dalam liang senggamaku. Aku menahan
nafas, dan AH menahan posisi itu beberapa saat. Setelah dirasa aku agak
tenang, AH meneruskan aksinya dengan gerakan-gerakan yang lembut dan
pelan-pelan….sambil terus dibelainya kepalaku dan sesekali dikecupnya
bibirku.
Kemaluannya terasa memenuhi seluruh ruang di liang senggamaku, berbeda
rasanya dengan punya suamiku.. terasa lebih besar dan padat.. AH terus
menariknya, dan mendorong dengan gerakan yang lembut dan teratur….
berulang-ulang….
Pada awalnya aku merasakan perih di liang senggamaku, barangkali karena
keterkejutanku ketika aku tersadar membuat nafsuku spontan hilang. Akan
tetapi dengan kejadian yang sudah berlangsung seperti itu lama-lama aku
rasakan senggamaku mulai bisa menerimanya. Cairanku pelan-pelan mulai
membasahi dinding-dindingnya dan otot-ototnyapun mulai merespon tanpa
bisa aku tahan sedikitpun. Beberapa kali kepala kemaluan AH terasa
menyentuh mulut rahimku.. uh, sedikit ngilu.. tapi nikmat.
Aku bingung, malu, takut, bercampur jadi satu dg sensasi aneh yg
pelan-pelan mulai merasuki…
Sensasi aneh yang membuat aku bingung. Perlahan tapi pasti getar-getar
rasa nikmat mulai menjalar ke seluruh nadiku…
Entah syetan apa yang berperan, lama-lama secara reflek aku mulai
mengimbanginya dengan gerakan-gerakan kecil pinggulku….
Aku tidak bisa lagi berpikir jernih …..
Yang ada waktu itu hanya rasa malu, bercampur bingung yang sudah
tertutup rasa nikmat yang mulai menjalar.
Malu karena aku yang selama ini selalu menjaga diri dengan menutup rapat
tubuhku, malam ini tubuhku nyaris telanjang di depan laki-laki yang
bukan suamiku.
Bingung,…mengapa getar-getar nikmat itu bisa ikut menjalar dalam
kejadian seperti ini??
AH mulai mempermainkan temponya, kadang dia percepat kemudian diperlambat….
Kadang dia benamkan dalam-dalam dan dia tahan sambil diputar-putarnya di
dalam rongga senggamaku.
Sensasi yang aku rasakan pun semakin dahsyat….
Aku masih mencoba berpikir jernih bahwa pebuatan itu terlarang, akan
tetapi gataran-getaran rasa nikmat itu seakan menepis semuanya…..
"Abang….aaaahhhhh…." Tiba-tiba AH mempercepat tempo permainannya
beberapa saat dan itu membuat aku tersentak terbelalak mencoba menahan
sesuatu yang mendesak kuat dari dalam…..
Akan tetapi tanpa bisa aku bendung, desakan-desakan itu semakin menguat
dan….. "Abang..bang….!! Aaaaccchhh……" Aku terbelalak, tanganku meremas
kuat kepala AH dan kedua kakiku terangkat tinggi sambil pahaku menjepit
kuat-kuat paha AH. Yaahh….sampailah aku pada orgasmeku….
Betapapun aku ingin menahannya, kenyataannya aku tidak mampu. Daguku
mendongak dan lenguhan kecilku tidak bisa aku sembunyikan lagi….
Otot-otot senggamaku terasa berdenyut-denyut meremas batang kemaluan AH
yang masih tertanam dalam-dalam.
AH tersenyum….entah apa arti senyumannya itu…
Sesaat kemudian aku terkulai lemas…
Mungkin karena dilihatnya aku mulai menikmati, dia semakin berani
meneruskan aksinya…
AH memulai lagi mendorong dan menarik kemaluannya, kali ini langsung
dengan tempo yang cepat…. Aku yang sudah lemas dibuatnya terengah-engah
menahan serangannya. Dan dengan mata terpejam, aku ikut menyambut
gerakannya dengan goyangan pinggulku. AH pun semakin liar menyetubuhiku.
Sambil menggenjotku, tangan AH menjalar, meremas kedua payudaraku dengan
gemas. Ditariknya penutup BH-ku ke atas, sehingga payudaraku pun kini
terbebas sempurna dari kekangan, dan dengan liarnya kedua payudaraku
ikut bergoyang ke kiri ke kanan, ke atas ke bawah seirama dengan
goyangan dan genjotan AH.
AH semakin bernapsu… sembari menggoyang tubuhku, puting merah muda
payudaraku yang sudah berdiri dengan tegak dijepit-nya dengan jari-nya,
dipilin dengan gemas. Mulutnya juga bergerak. Dikulum-nya kedua puting
payudaraku, dipermainkannya dengan lidah yang kasar. Aku hanya bisa
melenguh seperti anak sapi.. " Uuuuuugggghhhhhh.. ugggghhhhhh.."
Kemudian ditariknya tubuhku hingga sejajar dengan tubuhnya, pahaku pun
kemudian ditumpukannya di atas paha-nya. Dengan posisi duduk seperti
ini, clitorisku pun bergesekan langsung dengan batang kemaluannya. Ah,
aku hanya bisa menggigit bibir bawahku utk menahan sensasi yang timbul..
nikmat sekali rasanya. Kupeluk kepala AH dengan kedua tanganku.. tanpa
malu-malu kupagut bibirnya dengan bibirku. Lidah AH pun bergerak
lincah.. menerobos masuk ke dalam mulutku, membelit lidahku dengan ganas.
Aku semakin terbang..
Bersamaan dengan itu, tangan AH juga bergerak lincah.. diremas-nya kedua
payudaraku.. dan tak ketinggalan putingnya dipelintir dengan
jari-jari-nya. Bibirnya bergerak perlahan.. menyusuri bagian belakang
telinga..kemudian bergerak ke bawah menyusuri leherku yang jenjang.. dan
tiba-tiba, bagian ular Cobra, gigi-nya mematuk dan mulutnya mencupang
leherku dengan keras.
Aku hanya bisa menjerit lirih..
Tidak berselang lama, tangan AH memeluk tubuhku dengan erat.. puting
payudaraku terasa bergesekan lembut dengan rambut di dada-nya.. uh, geli
kurasakan.
Dirapatkannya kedua paha-nya.. bongkahan pantatku dipegang-nya dengan
kedua tangan. Dibantunya pergerakan naik turunku di atas pahanya..
semakin cepat dan cepat.
Bibirnya kembali mencari bibirku.. lidah kami berdua kembali bertaut.
Dan tiba-tiba dibenamkan kemaluannya dalam-dalam hingga ujung kepala-nya
terasa mentok di ujung rahimku, dan kemudian menahannya sambil
mengejan…."Uuurrgg…aaacchhhh…, saaayyyaaaang….." lenguhan panjangnya
tepat di telingaku yg lebih pas menyerupai bisikan tanpa getaran pita suara.
Rupanya dia mendapatkan orgasmenya. Aku rasakan batang kemaluannya
berdenyut-denyut di dalam liang senggamaku, dan terasa beberapa kali
semburan hangat benihnya dalam rahimku…
Ya….rahim yang saat itu sudah berisi janin dari suamiku…
Malam itu AH menuntaskan hajatnya denganku…
Setelah selesai dia ke kamar mandi, lalu kembali ke kamarnya.. Aku
termangu dan terkulai lemas di pembaringanku. Kulihat jam di hp-ku
menunjukkan pukul 2.48.Setelah itu kesadaran dan akal sehatku mulai
pulih…Aku menangis,… Aku merasa sangat bersalah…!Bersalah pada suamiku….
Bersalah pada M sahabatku…
Aku hanya bisa menangis dan terus menangis.. tak bisa tidur lagi sampe pagi.
Keesokan paginya AH sms ke hpku,"Maaf ya, aku khilaf tadi malam. Awalnya
aku takut, tapi waktu aku lihat Melati jg menikmatinya, jadi kebablasan
deh."
"Iya, abang kok bisa gitu sih ? Jangan diulangi ya…" Jawabku.
Aku termangu sendiri, berpikir mengapa itu bisa terjadi ??
Mengapa terjadi padaku..??
Dan parahnya lagi, mengapa aku semalam bisa menikmatinya…??
Aku mulai berfikir, apakah ini karena sebenarnya dalam alam bawah
sadarku aku merindukan kehangatan dari suami ?
Memang selama ini urusan tempat tidurku dengan suami lebih banyak terasa
hambar. . Mungkin karena banyaknya persoalan yang terpendam dan menumpuk
aku selalu hampir tidak pernah mencapai puncak. Apalagi setelah musibah
gampa bumi, boleh dikatakan tidak pernah suamiku menyentuhku. Sehingga
semalam ketika terjadi peristiwa itu aku hampir bisa dikatakan pasrah,
tanpa perlawanan yang berarti. Bahkan barangkali alam bawah sadarku
sebenarnya menginginkannya…
Ah…yang sudah terjadi biarlah berlalu, pikirku…
Aku hanya takut kalo kejadian tadi malam diketahui M, istrinya….
Mengingat M hanya tidur di kamar yang bersebelahan dengan kamarku…
Setelah malam itu hari-hari berlalu dan aku berusaha bersikap seperti
tidak pernah terjadi apa-apa…
Aku tidak ingin M, istrinya tahu peristiwa malam itu…
Begitu juga kepada suamiku…. Aku simpan rapat2 peristiwa malam itu….
Waktu itu aku mulai berpikir, barangkali benar apa yang dikatakan para
Kyai di Pesantren itu Barangkali memang sebaiknya aku berpisah dengan
suamiku. Bukankah dia tidak bisa lagi berlaku adil padaku ? Bukankah aku
juga punya hak yang sama dengan istri pertamanya ? Bukankah AH sudah
membuka pintu harapan bagiku ? Dan berbagai pernyataan batinku memenuhi
benakku sekedar untuk mencari pembenaran atas pemikiranku….
Dua minggu setelah peristiwa malam itu…..
Pagi-pagi AH pamit mau ikut gotong royong memperbaiki rumah warga yang
rusak karena gempa. Memang waktu itu masih banyak rumah warga yang rusak
dan kami di kampung itu menerapkan sistem gotong royong saling membantu
untuk memperbaikinya. Meskipun bantuan dari masyarakat luar desa juga
ada, akan tetapi kami selaku warga yang tinggal di desa itu merasa tidak
bisa berpangku tangan.
Setelah AH pergi, M istrinya juga pamit mengantar anak-anaknya sekolah.
Anaknya yang paling tua kelas 2 SD, kedua TK dan yang ketiga belum
sekolah. Sarana sekolah menjadi prioritas perbaikan di desa kami,
mengingat warga tidak bisa membiarkan anak-anak mereka berlama-lama
tidak sekolah. Jarak sekolah dari rumah AH kurang lebih 15 menit dengan
berjalan kaki. Jam 7.30 M berangkat dan biasanya pulang sampai rumah
sekitar jam 11.30 karena M harus menunggu anaknya yang duduk di bangku TK.
Setelah M pergi maka aku mengerjakan tugas-tugas di rumah mencuci baju
dan bersih-bersih. Itung-itung aku harus ikut meringankan pekerjaan M
mengingat aku sudah banyak dibantu selama ini. Sangat tidak pantas
rasanya kalau aku hanya berpangku tangan sementara mereka bekerja. Aku
berusaha mengerjakan tugas-tugas itu dengan baik, dan siang itu kurang
lebih jam 10 selesai sudah semua pekerjaan rumah. Badanku terasa capek
dan aku segera beristirahat di kamar.
Baru saja aku membaringkan badan, tiba2 ada suara salam dan ketukan di
pintu depan. Aku terkejut, karena itu suara AH. Aku segera mengenakan
jilbab besarku dan belum sempurna aku mengenakannya aku dengar langkah
kaki AH sudah memasuki rumah. Aku segera memberi tahu kalo M belum
pulang. Maksudku supaya AH tidak masuk rumah karena aku sendirian.
Sangat tidak enak kalo ada yang tahu, apalagi ini siang hari….
"Abang, M belum pulang. Abang jangan masuk…..!"
"Cuma mau ambil sekop kok,Dik…. Sebentar aja."
Terdengar suara gaduh AH di belakang mencari-cari sekop. Aku masih tetap
di balik tirai kamar, tidak berani keluar. Meski ada rasa khawatir, tapi
jantungku mulai berdetak lebih kencang. Bayangan-bayangan itu mulai
muncul lagi….
"Ah….enggak ! Jangan sampai !" pikirku.
"Adik, lihat sekop ga ya ? Kok ga ada di sini ?"
"Di belakang situ kayaknya…" jawabku
"Tolong bantu cari dong…keburu mau dipake nih…"
Dengan perasaan cemas dan jantung yang makin berdetak kencang aku keluar
dan menunjukkan posisi sekop yang tertindih barang-barang lain.
"Yups…ini dia…. Makasih ya… Adik udah makan belum ? lhoh, kok keliatan
pucat sih?"
"Adik sakit ya? Udah, istirahat. Kasian kan kandungannya…"
"Ga pa pa kok…." Jawabku.
Aku segera mengambil langkah untuk kembali masuk ke kamar melewati ruang
tengah. Tiba-tiba tanpa kuduga AH mendekap perutku dari belakang. Dia
lingkarkan tangan kanannya ke perut sambil sedikit ditariknya badanku,
sehingga sekarang aku berada dalam dekapannya. Belum hilang rasa
kagetku, dia langsung dongakkan wajahku dengan tangan kirinya sehingga
wajahku menengadah dan berhadapan dengan wajahnya. Spontan dia kulum
bibirku sambil tangan kanannya mulai meraba ke atas…..
"Jangan lagi Abang….Jangan…!" Aku memohon.
"Sebentar aja, Dik…" Jawabnya sambil terus mendekapku dengan kuat.
"Jangan….nanti M pulang lho… Akh..jangan….mmmhh….."
Dia terus mengulum bibirku sambil mengelus payudaraku. Birahiku pun
perlahan mulai bangkit.
Ya….sebuah rasa yang memang sudah agak lama tidak aku dapatkan. Dari
semenjak gempa, perjumpaanku dengan suami sangatlah terbatas. Kalaupun
berjumpa tidak pernah bisa ada ruang dan waktu untuk privasi.
Sehingga ketika siang ini aku mendapatkan perasaan itu maka terasa sulit
juga untuk mengelak. Meskipun aku juga khawatir kalau M tiba2 datang.
Akan tetapi aku merasa sedikit tenang, karena posisi ruang tengah ini
tepat menghadap ke jalan dimana jika M pulang maka 100 meter sebelum
sampai pintu pasti terlihat dari ruang ini, dan kami bisa segera
menghindarkan diri dari penglihatan M. AH bisa segera keluar dari pintu
belakang dan kembali bekerja bakti.
Aksi kami pun berlanjut…. AH semakin ganas mengulum bibir dan
lidahku….sambil diremasnya payudaraku dengan lembut…
Aku hanya bisa menggelinjang dan mendesah…..
"aaahhh….mmm…..abang…."
Dalam posisi masih bediri berhadapan AH menarik bagian bawah jubahku.
Rupanya dia mau menggarap bagian senggamaku. Aku memberikan jalan dengan
agak melonggarkan kakiku….
Benar saja, jari-jemari tangannya mulai menelusup menembus celana
dalamku. Dicarinya bagian clitorisku dan dielus-elus dengan lembutnya…
Clitorisku mulai terasa basah dan jari-jemarinya mulai terasa licin
menelusuri permukaannya. Nafasku mulai memburu dan aku mulai
memekikkecil…"uuhh…aaaa…hhh..mmmhh…."ketika ujung jari telunjuk-nya
menerobos masuk ke liang senggamaku..
Aku semakin menggelinjang dan aku jepit jari-jemarinya dengan pahaku…
"Dikkkk ….." bisik AH di telingaku….
AH memelorotkan celana dalamku, dan diapun membuka sedikit celananya
sebatas turun ke lututnya. Aku sedikit diangkatnya, rupanya AH
menginginkan posisi sambil berdiri.
Aku pasrah ketika kepala kemaluannya mulai menyeruak bibir senggamaku
dari bawah dan menekannya ke atas…..Bleesss…. Seluruh batang kemaluannya
langsung masuk ke senggamaku. senggamaku terasa penuh sesak dan
kurasakan rahimku tertekan ke atas…dan clitorisku langsung tertekan
pangkal kemaluannya yg berbulu lebat…
"Aaacchhhh……" Aku mendesah…
Seluruh batang kemaluannya tertanam di liang senggamaku. Kami berpelukan
dalam posisi aku dalam gendongannya. AH tidak banyak bergerak rupanya
dia faham kondisiku yang lagi hamil. Dia menekan dengan kuat pantatku
dengan tangannya dan memutar-mutar batang kemaluannya. Seluruh dinding
liang senggamakupun terasa diaduk aduk, serta merta clitorisku menerima
gesekan-gesekan lembut dari pangkal kemaluannya dan itu menimbulkan rasa
nikmat yang luar biasa….
Aku hanya terpejam menikmati permainan AH ini….
Hasratku naik dengan cepatnya, aku memeluk lehernya dengan kuat. Dan
bibir kami pun beradu dengan beringas….lidah kami saling beradu untuk
membelit dan akhirnya…..
"aaaaaaaaaaaa……mmmmmhh….abbaaaanng…." aku tak bisa membendung orgasmeku
yang datang begitu cepatnya. Aku remas kepala AH dengan kuat untuk
melepaskan energi yang besar itu.
Diputarnya tubuhku, sehingga posisi AH ada di belakang-ku. Didorongnya
tubuhku mendekati tembok.. diposisikannya kedua tanganku menempel ke
tembok. Diangkatnya kembali jubahku.. diposisikannya kembali kemaluannya
di bongkahan pantatku.. ah aku terkejut…
Akupun sedikit berteriak.. "..jangan abang.. jangan dimasukkan ke lubang
pantattttt.."
AH hanya tersenyum, dan hanya berkata.. "..nggaaaak, sayaaangg.. aku
cuma peengiiiin dari belakang..".
Dan dengan perlahan kepala kemaluannya menyeruak masuk ke bibir
senggamaku. Uh, rasanya menakjubkan ketika titik G-spot di dalam liang
kemaluanku tersodok kepala kemaluannya yang besar.
AH pun menggoyang kembali tubuhku..
Disingkapnya jubahku lebih ke atas.. tangannya kemudian meremas kedua
payudaraku dari belakang. Meski masih tertutup BH, tapi rasa geli akibat
remasan tangan AH cukup terasa di puting payudaraku yang sudah berdiri
tegak..
Tidak berapa lama, desakan orgasme-ku yang kedua pun mulai muncul.
Kupeluk dan kutarik leher AH ke arahku.. aku ingin sekali orgasme sambil
mencium bibir AH. Rupanya AH tahu keinginanku.. bibir-nya pun segera
mengulum bibirku, dan kemudian terasa ledakan orgasme-ku yang kedua.
Aarggghhhhhhhhhhhhhhh..
Setelah itu dibaringkannya aku di sofa, dan AH melanjutkan aksinya
dengan gerakan memompa dengan cepat.
Tak berselang lama AH mengejan….mendekap tubuhku merapat makin kuat…..
Dia memejamkan matanya sambil melenguh "aaaaaccchhhhh……….." Dan kemudian
liang senggamaku pun terasa mendapat kedutan-kedutan keras yang
berlanjut dengan rasa banjir lahar panas mengguyur di dalamnya.
Aaargggghhh.. aku pun mendapat orgasme yang ketiga.
Sesaat setelah itu, dia roboh ke sofa sambil nafasnya terengah-engah….
Batang kemaluannya terlepas dari senggamaku.
"Kamu luar biasa, Diiikkk…. hebat…"
Jam menunjukkan pukul 11.05…
Sudah dekat waktunya M pulang. Maka aku minta AH untuk segera keluar
rumah sebelum M pulang.
Aku membersihkan sofa, barangkali ada sisa-sisa sperma AH yang tumpah.
Setelah itu aku mandi membersihkan diri dan memulihkan kesegaranku.
Kurang lebih 2 bulan setelah itu aku benar-benar minta cerai dari
suamiku, dan akhirnya kamipun bercerai. Tapi anehnya… aku tidak merasa
terlalu berduka dengan perceraian itu. Waktu itu usia kandungankku 6
bulan. Berarti aku mempunyai masa idah selama kurang lebih 3 bulan
sampai anakku lahir.
Suamiku memang orang yang bertanggung jawab. Sebulan setelah
perceraianku, dia menyewakanku sebuah rumah (yang cukup sederhana karena
baru direnovasi seadanya setelah gempa). Rumah itu cukup mungil dan
berada di pinggir desa. Tepatnya agak terpisah dari desa dan berada di
areal persawahan dan itu satu-satunya rumah di situ. Tetangga terdekat
berjarak sekitar 100 meter dari rumah itu dan kurang lebih 300 meter
dari rumah AH. Aku menempati rumah itu seorang diri.
Terkadang aku masih bertandang ke rumah M untuk sekedar silaturahim.
Suamiku pun seminggu sekali masih datang menjengukku sekedar menanyakan
dan memenuhi kebutuhan sehari-hariku.
Suatu malam, nada sms di hp-ku berdering dan aku terkejut bangun karenanya.
Kulihat jam sudah menunjukkan pukul 23.45. Ternyata dari AH…"Adik…belum
tidur kan ??"
Aku tidak menjawabnya karena memang aku rasa sudah malam dan aku masih
mengantuk. Akan tetapi tidak berselang lama, nada panggilan berdering
dari hp-ku. AH misscall. Akhirnya dg agak malas aku jawab smsnya, "Da pa
sih ? Dah malam ni…"
Dia jawab lagi, "Jangan tidur dulu ya, 10 menit lagi aku datang…"
Deg…aku terperanjat….! Gila juga ni orang…
Tiba-tiba perasaanku campur aduk gak karuan….
Terbayang lagi peristiwa-peristiwa yang lalu….
Duh…Mau ngapain ini orang, pikirku. Dah malam gini……
"Eh…ngapain ?! Jangan gila ah….!" Jawabku
"Aku baru pulang dari Jakarta, ada oleh2 buat Adik nih… he he"
"Ga enak kalo aku bawa pulang, ntar ketauan M kan ?" Jawabnya.
Kurang lebih 15 menit berselang terdengar ketukan halus di pintu
depanku. Aku segera mengenakan jilbab hitam besarku dan berjalan
mendekati pintu dan mengintip dari balik tirai. Ternyata benar, AH yang
datang. Nekat juga AH ini…
Begitu slot kunci aku buka, dia langsung nyelonong menerobos masuk
rumah. Aku merasa gak enak dan khawatir kalau ada orang yang mengetahui
kedatangan AH ke rumahku malam2 begini.
"Ada apa sih ? Gak enak kalo ada yang tahu…"
"Tenang…aku dah survei keadaan, aman. Tadi aku turun di ujung jalan dan
jalan kaki ke sini…" Jawabnya.
Dia mengeluarkan bungkusan dari dalam tas dan memberikannya padaku.
Setelah aku buka, ternyata 2 stel baju. Satu stel jubah hijau tua
lengkap dengan jilbabnya dan satu lagi gaun tidur warna biru yang sangat
cantik.
"Makasih yaaa…. Udah, sana pulang…." Aku tidak bisa menyembunyikan
kegembiraankku…
"Kok langsung disuruh pulang…?! Abang pengen liat Adik pake dulu baju ini…"
Aku mencoba menolak karena memang sudah malam dan aku benar2 masih
khawatir kalau ada orang yang tahu. Akan tetapi bukan AH namanya kalau
mudah menyerah. Akhirnya aku turuti permintaannya. Aku ke kamar mandi
dan berganti baju yang baru dibelikannya.
Keluar dari kamar mandi aku mengenakan baju jubah hijau dan jilbab
besarnya. Terasa pas banget di badanku, seakan-akan baju ini memang
dijahit untukku. Aku melihat sudah ada 2 gelas teh panas di meja.
Rupanya selama aku di kamar mandi dia menyiapkan teh panas itu.
Hmmm….dasar AH, pikirku…
AH izin untuk mandi, karena dari perjalanan jauh badannya terasa capek
dan berkeringat. Akkupun mengizinkannya. Dia masuk ke kamar mandi sambil
membawa air panas sisa membuat teh barusan.
Setelah selesai mandi AH keluar dengan mengenakan kaos yang bersih dan
badannya terlihat segar.
Kami terlibat obrolan2 ringan sambil menikmati teh panas. Obrolan kami
berkisar cerita AH yang baru merintis usaha baru di Jakarta sampai
akhirnya ke kondisi kehamilanku yang waktu itu sudah memasuki usia 7
bulan. Dia sangat perhatian padaku dan banyak memberi saran ini itu
untuk kesehatanku dan kandunganku.
Diam-diam aku semakin merasa nyaman dan senang dengan perhatiannya…
Tanpa aku sadari tiba-tiba tangan kanan AH sudah berada di kepalaku dan
dibelainya jilbabku dengan lembut. Aku mencoba mengelak, tapi nampaknya
AH membaca kepura-puraanku. Dielusnya dari atas ke bawah….dan sampai di
tengkuk, dipijitnya dengan lembut dengan gerakan memutar ibu jarinya.
Lama kelamaan akupun sangat menikmati pijatan demi pijatannya. Karena
malam itu badanku memang terasa kaku dan capek sekali…
Akhirnya pijitannya turun ke lengan dan punggungku. Agak lama dia pijat
bagian tersebut dan akupun semakin menikmatinya…
Entah berapa lama aksi itu berlangsung, tiba2 kurasakan hembusan hawa
hangat di leherku. Ya,…AH mencium bagian belakang leherku dari balik
jilbabku. Aku agak kaget, tapi pasrah. Mungkin karena suasana yang
seperti itu membuat hasratku pelan-pelan bangkit. Rupanya AH faham akan
hal itu…
Dia terus menciumi leherku dari belakang, dan akhirnya dibalikkannya
tubuhku hingga kami berhadapan. Aksinyapun dilanjutkan dengan ciumannya
di bibirku…
Dilumatnya bibirku dengan lembutnya, dan akupun meresponnya. Aku buka
bibirku dan lidah kamipun beradu dengan beringasnya….
Untuk kesekian kalinya aku kehilangan akal sehatku. Tapi aku pikir sudah
kepalang basah. Bukankah aku sudah dicerai dan AH pun sudah memberikan
harapan untukku ?
Apalagi aku dalam kondisi hamil….
Jadi amanlah aku pikir…
Aksi kami pun berlanjut…
Sambil berciuman tangan AH menelusup di balik jilbab dan meraba-raba
dadaku. Nafasku mulai memburu dan kuberanikan diri meraba selangkang AH.
Terasa betapa kemaluannya sudah mengeras….besar dan panjang. AH membuka
resleting celananya untuk memberi jalan padaku supaya lebih leluasa
memegang kemaluannya.
"Deg…." Ternyata kemaluannya sangat besar dan keras terasa dalam
genggamanku. Aku tidak berani melihat, akan tetapi aku rasakan ada cukup
sisa panjang kemaluannya yang tersembul dari genggamanku.
Terdengar AH berbisik.. "adik.. tolong dikocok..".
Selama aku menikah, belum pernah sekalipun aku memegang kemaluan
suamiku.. apalagi kemudian mengocoknya. Dengan rasa takut,
perlahan-lahan, aku kocok batang kemaluan AH.. mulut kami pun kembali
saling beradu.
Tak berapa lama, kurasakan batang kemaluan AH semakin membesar dan
mengeras. Akhirnya kuberanikan diri untuk melirik kemaluan AH. Ahhhhhh..
tak kunyana tak kusangka, kepala kemaluan AH sangat besar.. dan terlihat
berkilap karena cairan mazi sudah mulai keluar dari celah di kepala
kemaluannya.
Kembali terdengar AH berbisik.. "adik.. tolong dicium.."
Aku kaget setengah mati mendengar permintaannya, dan kujawab "..maaf,
bang.. aku belum pernah.. aku takut…"
AH pun menjawab.. "ya sekarang dicoba.."
Pundakku pun ditekan kedua tangan AH yang kekar ke bawah.. kakiku pun
bertumpu pada kedua lututku.. posisi kepalaku menjadi sejajar dengan
kemaluan AH. Dan untuk pertama kali-nya dalam hidupku, aku melihat
kemaluan seorang pria dewasa yang sedang terangsang. Bentuknya aneh..
urat-uratnya terlihat jelas bagaikan akar yang mengelilingi batang
pohon.. rambut kemaluannya terlihat ikal dan cukup tebal. Dan ternyata
lebih aneh lagi pada saat kucium bau-nya.. tapi entah kenapa, tiba-tiba
aku semakin terangsang dengan kondisi itu.. kurasakan ada sedikit cairan
yang menetes keluar dari liang senggamaku..
Dengan hati berdebar karena takut.. kucoba mendekatkan diri ke kepala
kemaluan AH. Perlahan-lahan kujilat dengan ujung lidahku.. kemudian aku
menengadah ke atas.. kulihat muka AH, matanya terpejam menikmati
sentuhan ujung lidahku.. aku menjadi semakin bersemangat.. kujilat
kembali kepala kemaluannya.. berulang-ulang seperti anak kecil yang
sedang menikmati permen lolipop.. ujung lidahku pun bergerak menyelusuri
batang kemaluannya.. ke bawah dan terus ke bawah hingga pangkal-nya.
Kemudian kubalik arah-nya, kususuri dari pangkal hingga kepala..
berulang-ulang.
Mulut AH pun melenguh..
Tiba-tiba, pada saat mulutku menjilat kepala kemaluan untuk yang
kesekian kali, kedua tangan AH yang kekar memegang kepalaku.. dan
ditariknya kepalaku ke depan.. masuklah kepala kemaluan AH ke dalam
mulutku.. Akupun tersedak.. hueeekkksss… hampir muntah rasanya.
Akupun marah.. "..abang.. kenapa dimasukkan ke mulutku..?
AH menjawab.. "..aku sudah nggak tahan, dikkk.. tolong hisap…. tolong.."
Aku segera bangkit berdiri.. aku marah sekali.. kurapikan jubah yang
kukenakan.. dan duduk di sofa membelakangi AH.
Melihat aku marah, AH memeluku dari belakang.. dan berbisik di
telingaku.. "..maafkan abang yahhhhh.. kamu jangan marah.. abang janji
nggak akan mengulangi lagi..".
Diremasnya kedua payudaraku dengan lembut.. berulang-ulang.. mulutnya
pun menjilati bagian belakang telingaku. Meski masih tertutup jilbab,
tapi perbuatan AH di belakang telingaku membuat bulu kudukku meremang..
dan membuat menggelinjang menahan geli.
Mendapat perlakuakn seperti itu, aku-pun luluh.. kusambut mulut AH yang
ada disampingku telingaku dengan ciuman yang ganas.. lidah kamipun
saling memagut satu dengan yang lain..
Kami terlibat dalam percumbuan yang cukup dahsyat, masing-masing dari
kami saling merangsang dengan hebatnya. Aku sudah tidak peduli lagi apa
yang akan terjadi selanjutnya, saat AH mengangkat tubuhku ke dalam kamar.
Dibaringkannya tubuhku di kasur dan kami melanjutkan percumbuan kami.
Dia semakin berani, disibakkannya jilbab besar yang aku pakai dan
ciumannya kini mulai turun ke leher dan daerah payudara. Akupun semakin
menggelinjang gak karuan…
AH pun makin menggila, dibukanya kancing jubah yg aku kenakan sekaligus
celana dalamku. Dan untuk pertama kali-nya, aku telanjang bulat di depan
AH. Entah setan mana lagi yang meracuniku sampai rasa maluku malam itu
benar2 hilang. Yang ada hanya hasrat yang memuncak dalam birahi. Aku
selalu menantikan aksi selanjutnya dari AH….
Mulutnya kembali mengulum mulutku.. kemudian bergerak ke bawah,
menelusuri leher-ku yang jenjang.. turun dan terus turun.. dan secara
perlahan dikecup-nya pangkal payudara-ku yang putih.
Tiba-tiba aku tersentak dan menjerit lirih, ketika kecupan lembut AH
berubah menjadi cupangan dan gigitan yang terasa menyakitkan. ".. ah,
abang.. jangan digigit.. sakit..".
AH hanya tersenyum dan menjawab ".. maaf sayang.. aku gemas dengan
payudaramu.."
Lidahnya bergerak lincah.. puting payudaraku dipermainkannya..
bergantian kiri dan kanan.. berulang-ulang entah berapa kali. Dan
kembali aku tersentak dan hanya bisa menjerit lirih, ketika mendadak
puting payudaraku dihisap AH dengan keras. "..abaaaaanngggg..
uuuggghhhh.." Di tengah nafsu yang melanda, sulit sekali aku membedakan
antara sakit dan nikmat akibat hisapan itu.
Bosan bermain-main dengan dadaku, AH pun mulai mencumbui bagian bawahku.
Lidahnya mulai menjilati rambut kemaluanku.
Dengan suara gemetar karena menahan nafsu, terdengar AH berbisik
"..Aadiik.. rambut kemaluanmu bagus.. rapiiii.. abang juga kangen dengan
baunya.. harum..".
Aku hanya tersenyum malu, dan kedua tanganku pun meremas rambut kepala
AH dengan gemas. Duh, sudah tidak sabar rasanya merasakan clitorisku di
oral oleh AH.
Tidak berapa lama keinginanku pun terkabul, clitoriskumulai diisap-isap
dan dijilat-jilatnya. Aku menggelinjang sangat hebat sampai pantatku
terangkat-angkat tidak karuan….lenguhan-lenguhan kecilku menambah
panasnya ranjangku malam itu…. "hhh….ssshhh… aaachh…. abang… aaahh…mmmm…."
Dia bertahan beberapa saat di permainan itu sampai akhirnya aku setengah
berteriak,…"Aaaaccchhh…..abaaanggg….aaaaaaahhhhhh" Aku remas rambutnya
dan kakiku menjepit kuat lehernya. Yah….aku orgasme….
Suatu kenikmatan yang aku jadi merindukannya…..
Setelah beberapa saat aku terkulai lemas….
AH menciumi wajah dan bibirku sambil tersenyum puas…."Iiihhhh nikmat
banget ya….??? Sampe gitu-gitunya…." selorohnya menggoda.
Aku hanya terpejam…..terpejam sambil tersenyum puas….
Aku menarik selimut untuk menutupi tubuhku yang telanjang bulat.
Bagaimanapun juga masih ada rasa malu ketika aku tahu AH melihat tubuhku
tanpa busana seperti ini.
Beberapa saat setelah itu sambil aku masih terbaring berselimut AH
kembali mengurut kakiku. Rupanya dia memahami kondisiku malam itu.
Badanku yang memang terasa letih makin lemas rasanya ketika harus
meledakkan energi orgasme yang cukup dahsyat barusan. Dia mulai memijit
jari-jemari kakiku, kemudian telapak kaki. Dipijatnya dengan lembut
bagian itu sampai aku benar-benar merasa cukup. Kemudian pijatannya
mulai naik ke betis dan di kanan kiri tulang keringku, sampai ke lutut.
Setelah dirasa cukup, mulai telapak tanganku dipijatnya merata sampai ke
bahu. Benar-benar relaksasi yang bisa mengendorkan seluruh syaraf dan
otot tubuhku. Aku sangat menikmati pijatannya, sampai akhirnya
(barangkali) aku tertidur….
Tiba-tiba aku merasakan birahiku merambat naik lagi… Aku tersadar…
Ternyata AH mulai merangsangku lagi. Kali ini dia langsung ke
clitorisku. Pelan tapi pasti hasratku mulai memuncak lagi. Aku mulai
melenguh dan pantatku terangkat-angkat…
Digosoknya clitorisku yang sudah licin dengan jarinya, dan sesekali
dimasukkannya jarinya ke senggamaku dengan gerakan keluar masuk. Aku
terbelalak, nafasku mulai memburu lagi dan tanganku mencari-cari
kepalanya. Aku tarik kepalanya dan refleks kami bercumbu lagi dengan
hebatnya. Lidahnya menyapu langit-langit mulutku dan itu membuat aku
semakin beringas seakan mau menelan lidahnya bulat-bulat.
Setelah dia rasa aku cukup pemanasan, dia membuka kakiku dan memasang
posisi siap beraksi… "Gantian ya Dik, abang belum dapat tadi…." bisiknya
di telingaku.
Aku hanya terpejam….
"Hati-hati lho, perutku udah besar…" bisikku
"Tenang sayang, aku tahu caranya kok…nikmati saja ya.. coba kamu naik di
atasku, sayang…."
Akupun menuruti kemauannya. Aku segera naik ke atas tubuh AH. AH
mengelus pantatku sesaat, sebelum aku rasakan kemaluannya mulai
menyeruak bibir senggamaku. Mendesak masuk, pelan tapi pasti…
Agak susah masuknya, barangkali dengan posisi itu liang senggamaku
menjadi lebih rapat. Dia terus mendorong dengan mantap sampai akhirnya
seluruh batang kemaluannya tertanam di liangku.
Aku terbelalak….
AH mulai meremas kedua payudaraku.. dimainkannya kedua putingku dengan
ujung jari-nya. Akupun mengimbangi dengan gerakan naik turun.. kurasakan
clitorisku menggesek rambut kemaluannya.. uh geli dan nikmat.
Aku rasakan gesekan-gesekan kemaluan besarnya di dalam liang senggamaku
mengaduk-aduk G-spotnya. Aku mulai mendesah dan melenguh lagi dan pasrah
dalam kenikmatan yang semakin lama semakin memuncak….
Tak selang lama, AH melenguh panjang,…"Uuuuuuggghhhh…..diiikkkkk…."
Rupanya dia sudah orgasme duluan. Ditariknya pantatku kuat-kuat dan
dibenamkan seluruh batang kemaluannya dalam-dalam. Aku rasakan semburan
benihnya amat banyak di dalam rongga senggamaku, sampai aku merasakan
ada sebagian yang keluar mengalir turun di pahaku. Setelah itu
disuruhnya aku berbaring dan kembali kami berpelukan dengan kuatnya
melepaskan energi yg cukup besar itu.
Setelah nafasnya agak teratur, AH kembali memulai permainannya. Sekarang
posisi aku terlentang di bawah dan AH menopang badannya di atasku. Ia
mulai memasukkan dan memainkan lagi kemaluannya di dalam senggamaku.
Luar biasa, tahan lama juga rupanya…
Dia menopang badannya dengan kedua tangan, sehingga perutku aman dari
tekanan berat tubuhnya. Dia permainkan kemaluannya di dalam liang
senggamaku, diputar-putar dan ditarik keluar masuk
perlahan-lahan….kadang agak dipercepat. Terdengar bunyi "crot-crot…"
berulang-ulang karena beradunya kelamin kami yang sudah sangat basah.
Dalam gerakan-gerakan dan gesekan antar kelamin yang penuh birahi itu
tak lama kemudian aku mendapatkan lagi puncak orgasmeku…. Orgasme yang
kedua, yang aku rasakan jauh lebih dahsyat dari orgasmeku yang pertama
tadi..
Aku mengejan dan terbelalak, "Uuuuaaaacchhh….. abaanggg… aku sudah mau
keluar.."
AH membalas, ".. tahan sebentar ya.. aku juga sudah mau keluar.. kita
bareng-bareng yah.."
Dipercepatnya gerakan keluar masuk batang kemaluannya.. cepat, cepat,
cepat dan semakin cepat.. hingga akhirnya aku berteriakkk….
"..aaaaahhhhhh……..akh…akhhhh.. ……"
Seluruh otot di tubuhku serasa melepaskan beban yang sangat berat… Aku
peluk erat kepala AH dan kakiku menjepit kuat pinggangnya untuk kedua
kalinya malam itu. Dan AH pun menyusul berteriak..
"..aaaaahhhhhhhhhh..". Dibenamkannya kemaluannya dalam-dalam di liang
senggamaku.. terasa cairan panas memenuhi rahimku. Tubuhnya menggelepar
hebat di atas tubuhku.. tuntas sudah.
Nafas kami memburu beradu dengan nafasnya.
Ciuman kami beradu dengan kuatnya seakan tak mau kami lepaskan. Kami
sama-sama terengah-engah malam itu, bermandikan keringat.
Setelah itu,AH memeluk tubuhku dengan lembut dari arah belakang..
lengannya yang kekar melingkar di leherku.. dan kepalaku pun akhirnya
disandarkannya di dadanya yang bidang. Dikecup-nya keningku, kedua
mataku, kedua pipiku,ujung hidung-ku.. dan mulutku. Kupejamkan mataku..
damai sekali aku rasakan waktu itu, rasanya aku sudah memiliki suami
yang benar-benar bisa membuatku bahagia. Kami pun akhirnya tertidur pulas..
Sampai waktu terdengar adzan subuh kami terbangun, dan ternyata posisi
kami masih belum berubah.. tubuhku masih ada di dalam pelukan tangannya.
Hari-hari selanjutnya kami sering melakukan hubungan layaknya suami
istri di rumah itu.. dan aku pun akhirnya berani melakukan oral sex ke
AH. Bahkan, AH sengaja membawakan VCD porno untuk mengajariku bagaimana
melakukan oral sex.. sampai akhirnya kami berdua sering melakukan oral
sex secara bersamaan..
Kedatangan AH ke rumahku selalu malam hari, kadang langsung pulang dan
terkadang tidur sampai pagi. Jika sampai pagi biasanya AH pas dalam
perjalanan pulang dari luar kota.
Pernah suatu saat kami melakukannya di kawasan wisata di kota kami.
Dengan alasan kepada istrinya ada urusan bisnis di Jakarta. Kami
menginap selama 3 hari di kawasan pegunungan itu. Dengan penampilanku
yang seperti ini, tidak ada orang yang curiga apalagi aku dalam kondisi
hamil yang mulai besar. Orang pasti mengira kami pasangan suami istri….
Sebenarnya aku sadar bahwa aku telah melakukan dosa besar. Akan tetapi
aku selalu tidak mampu menolak rayuan AH dan aku selalu terjerumus
lagi….dan lagi….
Sampailah hari kelahiran anakku pada bulan Desember 2006. Aku diantar
suamiku ke rumah sakit untuk persalinan. Dia menunggui dan mendampingi
aku sampai anaknya benar2 lahir.
Setelah kelahiran anakku maka berakhirlah masa iddahku, yang berarti aku
benar-benar sudah lepas dari ikatan suamiku. Tidak berselang lama AH
benar-benar menikahi aku setelah mendapat persetujuan dari M istrinya.
Akan tetapi ternyata pernikahannku dengan AH tidak bertahan lama, karena
aku baru tahu sifat aslinya setelah aku menikah dengannya.
Memang dalam hal ranjang dia sangat memuaskan, akan tetapi tabiat
aslinya yang amat kasar ternyata baru muncul setelah menikah. Seringkali
hanya karena permasalahan kecil aku harus menerima pukulan darinya.
Belum lagi caci maki yang sering keluar kari mulutnya. Selama 3 bulan
aku menikah dengannya akhirnya aku tidak kuat dengan perlakuannya. Dan
kembali aku minta cerai darinya….
Akhirnya aku berpisah dengan AH dalam kondisi aku hamil 1 bulan.
Sekarang anakku dari AH sudah berumur 3 tahun dan aku masih hidup
menjanda bersama kedua anakku.
Barangkali saat ini adalah masa-masa aku menerima hukuman dari-Nya atas
dosa-dosaku yang lalu. Maka aku hanya berusaha pasrah pada-Nya dan
menerima takdir ini sambil terus memohon ampunan dari-Nya.

0 comments:

Post a Comment