Pages

Wednesday, May 30, 2012

Janda Nakal


Hari ini adalah hari pertamaku tinggal di kota Bandung. Karena tugas kantorku,
aku terpaksa tinggal di Bandung selama 5 hari dan week end di Jakarta. Di kota
kembang ini, aku menyewa kamar di rumah temanku. Menurutnya, rumah itu hanya
ditinggali oleh Ayahnya yang sudah pikun, seorang perawat, dan seorang pembantu.
"Rumah yang asri" gumamku dalam hati. Halaman yang hijau, penuh tanaman dan
bunga yang segar dikombinasikan dengan kolam ikan berbentuk oval. Aku mengetuk
pintu rumah tersebut beberapa kali sampai pintu dibukakan. Sesosok tubuh
semampai berbaju serba putih menyambutku dengan senyum manisnya. "Pak Rafi ya.."
"Ya.., saya temannya Mas Anto yang akan menyewa kamar disini..Lho, kamu kan
pernah kerja di tetanggaku?" jawabku surprise. Perawat ini memang pernah bekerja
pada tetanggaku di Bintaro sebagai baby sitter. "Iya.. saya dulu pengasuhnya
Aurelia. Saya keluar dari sana karena ada rencana untuk kawin lagi. Saya kan
dulu janda pak.. tapi mungkin belum jodo.. ee dianya pergi sama orang lain.. ya
sudah, akhirnnya saya kerja di sini.." Mataku memandangi sekujur tubuhnya. Tati
-- nama si perawat itu -- secara fisik memang tidak pantas menjadi seorang
perawat. Kulitnya putih mulus, wajahnya manis, rambutnya hitam sebahu, buah
dadanya sedang menantang, dan kakinya panjang semampai. Kedua matanya yang
bundar memandang langsung mataku, seakan ingin mengatakan sesuatu. Aku tergagap
dan berkata "Ee.. Mbak Tati, Bapak ada?" "Bapak sedang tidur. Tapi Mas Anto
sudah nitip sama saya. Mari saya antarkan ke kamar..". Tati menunjukkan kamar
yang sudah disediakan untukku. Kamar yang luas, ber AC, tempat tidur besar,
kamar mandi sendiri, dan sebuah meja kerja. Aku meletakkan, koporku di lantai
sambil meliat berkeliling, sementara Tati merunduk merapikan sprei ranjangku.
Tanpa sengaja aku melirik Tati yang sedang menunduk. Dari balik baju putihnya
yang kebetulan berdada rendah, terlihat dua buah dadanya yang ranum bergayut di
hadapanku. Ujung buah dada yang berwarna putih itu ditutup oleh BH berwarna
pink. Darahku terkesiap. Ahh.. perawat cantik, janda, di rumah yang relatif
kosong..
Sadar melihat aku terkesima akan keelokan buah dadanya, dengan tersipu-sipu Tati
menghalangi pemandangan indah itu dengan tangannya. "Semuanya sudah beres Pak..
silakan beristirahat.." "Ee.. ya.. terima kasih" jawabku seperti baru saja
terlepas dari lamunan panjang.
Sore itu aku berkenalan dengan ayah Anto yang sudah pikun itu. Ia tinggal
sendiri di rumah itu setelah ditinggalkan oleh istrinya 5 tahun yang lalu.
Selama beramah tamah dengan sang Bapak, mataku tak lepas memandangi Tati. Sore
itu ia menggunakan daster tipis yang dikombinasikan dengan celana kulot yang
juga tipis. Buah dadanya nampak semakin menyembul dengan dandanan seperti itu.
Di rumah itu ada seorang pembantu berumur sekitar 17 tahun. Mukanya manis,
walaupun tidak secantik Tati. Badannya bongsor dan motok. Ani namanya. Ia yang
sehari-hari menyediakan makan untukku.
Hari demi hari berlalu. Karena kepiawaianku dalam bergaul, aku sudah sangat
akrab dengan orang-orang di rumahku. Bahkan Ani sudah biasa mengurutku dan Tati
sudah berani untuk ngobrol di kamarku. Bagi janda muda itu, aku sudah merupakan
tempat mencurahkan isi hatinya. Begitu mudah keakraban itu terjadi hingga
kadang-kadang Tati merasa tidak perlu mengetuk pintu sebelum masuk ke kamarku.
Sampai suatu malam, ketika itu hujan turun dengan lebatnya. Aku, karena sedang
suntuk memasang VCD porno kesukaanku di laptopku. Tengah asik2nya aku menonton
tanpa sadar aku menoleh ke arah pintu, astaga.. Tati tengah berdiri disana
sambil juga ikut menonton. Rupanya aku lupa menutup pintu, dan ia tertarik akan
suara-suara erotis yang dikeluarkan oleh film produksi Vivid interactive itu.
Ketika sadar bahwa aku mengetahui kehadirannya, Tati tersipu dan berlari ke luar
kamar. "Mbak Tati.." panggilku seraya mengejarnya ke luar. Kuraih tangannya dan
kutarik kembali ke kamarku. "Mbak Tati.. mau nonton bareng? Ngga apa-apa kok.. "
"Ah, ngga Pak.. malu aku.." katanya sambil melengos. "Lho.. kok malu.. kayak
sama siapa saja.. kamu itu.. wong kamu sudah cerita banyak tentang diri kamu dan
keluarga..dari yang jelek sampai yang bagus.. masak masih ngomong malu sama
aku??" Kataku seraya menariknya ke arah ranjangku. "Yuk kita nonton bareng
yuk.." Aku mendudukkan Tati di ranjangku dan pintu kamarku kukunci. Dengan
santai aku duduk di samping Tati sambil mengeraskan suara laptop ku.
Adegan-adegan erotis yang diperlihatkan ke 2 bintang porno itu memang
menakjubkan. Mereka bergumul dengan buas dan saling menghisap. Aku melirik Tati
yang sedari tadi takjub memandangi adegan-adegan panas tersebut. Terlihat ia
berkali-kali menelan ludah. Nafasnya mulai memburu, dan buah dadanya terlihat
naik turun. Aku memberanikan diri untuk memegang tangannya yang putih mulus
itu.. Tati tampak sedikit kaget, namun ia membiarkan tanganku membelai telapak
tangannya. Terasa benar bahwa telapak tangan Tati basah oleh keringat. Aku
membelai-belai tangannya seraya perlahan-lahan mulai mengusap pergelangan
tangannya dan terus merayap ke arah ketiaknya. Tati nampak pasrah saja ketika
aku memberanikan diri melingkarkan tanganku ke bahunya sambil membelai mesra
bahunya. Namun ia belum berani untuk menatap mataku. Sambil memeluk bahunya,
tangan kananku kumasukkan ke dalam daster melalui lubang lehernya. Tanganku
mulai merasakan montoknya pangkal buah dada Tati. Kubelai-belai seraya sesekali
kupencet dagung empuk yang menggunung di dada bagian kanannnya. Ketika kulihat
tak ada reaksi dari Tati, secepat kilat kusisipkan tangganku ke dalam BH nya..
ku angkat cup BH nya dan… kugenggam buah dada ranum si janda muda itu.
"Ohhh..Pak.. jangan.." Bisiknya dengan serak seraya menoleh ke arahku dan
mencoba menolak dengan menahan pergelangan tangan kananku dengan tangannya.
"Sshh..ngga apa-apa mbak..ngga apa-apa.. " "Nnanti ketauanhh.." "Nggaa..jangan
takut.." Kataku seraya dengan sigap memegang ujung puting buah dada Tati dengan
ibu jari dan telunjukku, lalu kupelintir-pelintir ke kiri dan kanan. "Ooh..hhh..
Pak.. Ouh..jj..jjanganhh..ouh.." Tati mulai merintih-rintih sambil memejamkan
matanya. Pegangan tangannya mulai mengendor di pergelangan tanganku. Saat itu
juga, kusambar bibirnya yang sedari tadi sudah terbuka karena merintih-rintih.
"Ouhh..mmff..cuphh.. mpffhhh.." Dengan nafas tersengal-sengal Tati mulai
membalas ciumanku. Kucoba mengulum lidahnya yang mungil, ketika kurasakan ia
mulai membalas sedotanku. Bahkan ia kini mencoba menyedot lidahku ke dalam
mulutnya seakan ingin menelannya bulat-bulat. Tangannya kini sudah tidak menahan
pergelanganku lagi, namun kedua-duanya sudah melingkari leherku. Malahan tangan
kanannya digunakannya untuk menekan belakang kepalaku sehingga ciuman kami
berdua semakin lengket dan bergairah. Momentum ini tak kusia-siakan. Sementara
Tati melingkarkan kedua tangannya di leherku, aku pun melingkarkan kedua
tanganku di pinggangnya. Aku melepaskan bibirku dari kulumannya, dan aku mulai
menciumi leher putih Tati dengan buas. "Aaahh..Ouhh.." Tati menggelinjang
kegelian dan tanganku mulai menyingkap daster di bagian pinggangnya. Kedua
tanganku merayap cepat ke arah tali BH nya dan.. tasss.. terlepaslah BH nya dan
dengan sigap kualihkan kedua tanganku ke dadanya. Saat itulah lurasakan betapa
kencang dan ketatnya kedua buah dada Tati. Kenikmatan meremas-remas dan
mempermainkan putingnya itu terasa betul sampai ke ujung sarafku. Penisku yang
sedari tadi sudah menegang terasa semakin tegang dan keras. Rintihan-rintihan
Tati mulai berubah menjadi jeritan-jeritan kecil terutama saat kuremas buah
dadanya dengan keras. Tati sekarang lebih mengambil inisiatif. Dengan napasnya
yang sudah sangat terengah-engah, ia mulai menciumi leher dan mukaku. Ia bahkan
mulai berani menjilati dan menggigit daun telingaku ketika tangan kananku mulai
merayap ke arah selangkangannya. Dengan cepat aku menyelipkan jari-jariku ke
dalam kulotnya melalui perut, langsung ke dalam celana dalamnya. Walaupun kami
berdua masih dalam keadaan duduk berpelukan di atas ranjang, posisi paha Tati
saat itu sudah dalam keadaan mengangkang seakan memberi jalan bagi jari jemariku
untuk secepatnya mempermainkan kemaluannya.
Hujan semakin deras saja mengguyur kota Bandung. Sesekali terdengar suara guntur
bersahutan. Namun cuaca dingin tersebut sama sekali tidak mengurangi gairah kami
berdua di saat itu. Gairah seorang lajang yang memiliki libido yang sangat
tinggi dan seorang janda muda yang sudah lama sekali tidak menikmati sentuhan
lelaki. Tati mengeratkan pelukannya di leherku ketika jemariku menyentuh
bulu-bulu lebat di ujung vaginanya. Ia menghentikan ciumannya di kupingku dan
terdiam sambil terus memejamkan matanya. Tubuhnya terasa menegang ketika jari
tengahku mulai menyentuh vaginanya yang sudah terasa basah dan berlendir itu.
Aku mulai mempermainkan vagina itu dan membelainya keatas dan kebawah. "Ouuhh
Pak..ouhhh.. aaahhh..g..g.ggelliiihh…" Tati sudah tidak bisa berkata-kata lagi
selain merintih penuh nafsu ketika clitorisnya kutemukan dan kupermainkan.
Seluruh badan Tati bergetar dan bergelinjang. Ia nampak sudah tak dapat
mengendalikan dirinya lagi. Jeritan-jeritannya mulai terdengar keras. Sempat
juga aku kawatir dibuatnya. Jangan-jangan seisi rumah mendengar apa yang tengah
kami lakukan. Namun kerasnya suara hujan dan geledek di luar rumah
menenangkanku. Benda kecil sebesar kacang itu terasa nikmat diujung jari
tengahku ketika aku memutar-mutarnya. Sambil mempermainkan clitorisnya, aku
mulai menundukkan kepalaku dan menciumi buah dadanya yang masih tertutupi oleh
daster. Seolah mengerti, Tati menyingkapkan dasternya ke atas, sehingga dengan
jelas aku bisa melihat buah dadanya yang ramun, kenyal dan berwarna putih mulus
itu bergantung di hadapanku. Karena nafsuku sudah memuncak, dengan buas kusedot
dan kuhisap buah dada yang berputing merah jambu itu. Putingnya terasa keras di
dalam mulutku menandakan nafsu janda muda itu pun sudah sampai di puncak. Tati
mulai menjerit-jerit tidak karuan sambil menjambak rambutku. Sejenak kuhentikan
hisapanku dan bertanya "enak mbak ??". Sebagai jawabannya, Tati membenamkan
kembali kepalaku ke dalam ranumnya buah dadanya. Jari tengahku yang masih
mempermainkan clitorisnya kini kuarahkan ke lubang vagina Tati yang sudah
menganga karena basah dan posisi pahanya yang mengangkang. Dengan pelan tapi
pasti kubenamkan jari tengahku itu ke dalamnya dan… "Auuhhh… P.Paaaak..hhhh"
Tati menjerit dan menaikkan kedua kakinya ke atas ranjang "terrusshh..auhh.."
Kugerakkan jariku keluar masuk di vaginanya dan Tati menggoyangkan pingggulnya
mengikuti irama keluar masuknya jemariku itu. Aku menghentikan ciumanku di buah
dada Tati dan mulai mengecup bibir ranum janda itu. Matanya tak lagi terpejam,
tapi memandang sayu ke mataku seakan berharap kenikmatan yang ia rasakan ini
jangan pernah berakhir. Tangan kiriku yang masih bebas, membimbing tangan kanan
Tati ke balik celana pendekku. Ketika tangannya menyentuh penisku yang sudah
sangat keras dan besar itu, terlihat ia agak terbelalak karena belum pernah
melihat bentuk yang panjang dan besar seperti itu. Tati meremas penisku dan
mulai mengocoknya naik turun naik turun.. kocokan yang nikmat yang membuatku
tanpa sadar melenguh "Ahhh.. mbaaak.. enaknya…terusin..". Saat itu kami berdua
berada pada puncaknya nafsu. Aku yakin bahwa Mbak Tati sudah ingin secepatnya
memasukkan penisku kedalam vaginanya. Ia tidak mengatakannya secara langsung,
namun dari tingkahnya menarik penisku dan mendekatkannya ke vaginanya sudah
merupakan pertanda. Namun, di detik-detik yang paling menggairahkan itu terdegar
suara si Bapak tua berteriak "Tatiiii.. Tatiiii…". Kami berdua tersentak. Ku
keluarkan jemariku dari vaginanya, Tati melepaskan kocokannya dan ia membenahi
pakaian dan rambutnya yang berantakan. Sambil mengancingkan kembali BH nya ia
keluar dari kamarku menuju kamar Bapak tua itu. Sialan !! kepalaku terasa
pening. Begitulah penyakitku kalau libidoku tak tersalurkan.
Beberapa saat lamanya aku menanti siapa tahu janda muda itu akan kembali ke
kamarku. Tapi nampaknya ia sibuk mengurus orang tua pikun itu, sampai aku
tertidur. Entah berapa lama aku terlelap, tiba-tiba aku merasa napasku sesak.
Dadaku serasa tertindih suatu beban yang berat. Aku terbangun dan membuka
mataku. Aku terbelalak, karena tampak sesosok tubuh putih mulus telanjang bulat
menindih tubuhku. "Mbak Tati ?.." Tanyaku tergagap karena masih mengagumi
keindahan tubuh mulus yang berada di atas tubuhku. Lekukan pinggulnya terlihat
landai, dan perutnya terasa masih kencang. Buah dadanya yang lancip dan montok itu menindih dadaku yang masih terbalut piyama itu. Seketika, rasa kantukkuhilang.

Mbak Tati tersenyum simpul ketika tangannya memegang celanaku dan
merasakan betapa penisku sudah kembali menegang. "Kita tuntaskan ya mbak ?"
Kataku sambil menyambut kuluman lidahnya. Sambil dalam posisi tertindih aku
menanggalkan seluruh baju dan celanaku. Kegairahan yang sempat terputus itu,
mendadak kembali lagi dan terasa bahkan lebih menggila. Kami berdua yang sudah
dalam keadaan bugil saling meraba, meremas, mencium, merintih dengan keganasan
yang luar biasa. Mbak Tati sudah tidak malu-malu lagi menggoyangkan pinggulnya
diatas penisku sehingga bergesekan dengan vaginanya. Tidak lebih dari 5 menit,
aku merasakan bahwa nafsu syahwat kami sudah kembali berada dipuncak. Aku tak
ingin kehilangan momen lagi. Kubalikkan tubuh Tati, dan kutindih sehingga
keempukan buah dadanya terasa benar menempel di dadaku. Perutku menggesek nikmat
perutnya yang kencang, dan penisku yang sudah sangat menegang itu bergesekan
dengan vaginanya. "Mbak.. buka kakinya.. sekarang kamu akan merasakan sorganya
dunia mbak.." bisikku sambil mengangkangkan kedua pahanya. Sambil
tersengal-sengal Tati membuka pahanya selebar-lebarnya. Ia tersenyum manis
dengan mata sayunya yang penuh harap itu. "Ayo Pak.. masukkan sekarang…" Aku

menempelkan kepala penisku yang besar itu di mulut vagina Tati. Perlahan-lahan
aku memasukkannya ke dalam, semakin dalam, semakin dalam dan…"Aaa..
Aooohh..Pp.paakh…..aaaahh.." rintihnya sambil membelalakkan matanya ketika
hampir seluruh penisku kubenamkan ke dalam vaginanya. Setelah itu "Blesss…"
dengan sentakan yang kuat kubenamkan habis penisku diiringi jeritan erotisnya
"Ahhhhh…besarnyah…ennnakk ppaak..". Aku mulai memompakan penisku keluar masuk
keluar masuk. Gerakanku makin cepat dan cepat. Semakin cepat gerakanku, semakin
keras jeritan Tati terdengar di kamarku. Pinggul janda muda itu pun
berputar-putar dengan cepat mengikuti irama pompaanku. Kadang-kadang pinggulnya
sampai terangkat-angkat untuk mengimbangi kecepatan naik turunnya pinggulku.
Buah dadanya yang terlihat bulat dalam keadaan berbaring itu bergetar dan
bergoyang kesana kemari. Sungguh menggairahkan !! Tiba-tiba aku merasakan
pelukannya semakin mengeras. Terasa kuku-kukunya menancap di punggungku.
Otot-ototnya mulai menegang. Nafas perempuan itu juga semakin cepat. Tiba-tiba
tubuhnya mengejang, mulutnya terbuka, matanya terpejam,dan alisnya merengut
"Aaaaahhhhhhh.." Tati menjerit panjang seraya menjambak rambutku, dan penisku
yang masih bergerak masuk keluar itu terasa disiram oleh suatu cairan hangat.
Dari wajahnya yang menyeringai, tampak janda muda itu tengah menghayati
orgasmenya yang mungkin sudah lama tidak pernah ia alami itu. Aku tidak
mengendurkan goyangan pinggulku, karena aku sedang berada di puncak kenikmatanku
"Mbak.. goyang terus mbak.. aku juga mau keluar.." Tati kembali menggoyang
pinggulnya dengan cepat dan beberapa detik kemudian, seluruh tubuhku menegang
"keluarkan di dalam saja pak…" bisik Tati "aku masih pakai IUD…" Begitu Tati
selesai berbisik, aku melenguh "Mbak..aku keluar..aku keluarr….aaahhhh.." dan..
crat..crat.. craaaat.. kubenamkan penisku dalam-dalam di vagina perempuan itu.
Seakan mengerti, Tati mengangkat pinggulnya tinggi-tinggi sehingga puncak
kenikmatan ini terasa benar hingga ke tulang sum-sumku.
Kami berdua terkulai lemas sambil memejamkan mata. Pikiran kami melayang-layang
entah kemana. Tubuhku masih menindih tubuh montok Tati. Kami berdua masih saling
berpelukan dan aku pun membayangkan hari-hari penuh kenikmatan yang akan kualami
sesudah itu di Bandung.
Sejak kejadian malam itu, kesibukan di kantorku yang luar biasa membuatku sering
pulang larut malam. Kepenatanku selalu membuatku langsung tertidur lelap.
Kesibukan ini bahkan membuat aku jarang bisa berkomunikasi dengan Tati. Walaupun
begitu, sering juga aku mempergunakan waktu makan siangku untuk mampir ke rumah
dengan maksud untuk melakukan sex during lunch. Sayang, di waktu tersebut
ternyata Ayah Anto senantiasa dalam keadaan bangun sehingga niatku tak pernah
kesampaian. Namun suatu hari aku cukup beruntung walaupun orang tua itu tidak
tidur. Aku mendapat apa yang kuinginkan. Ceritanya sebagai berikut: Tati diminta
oleh Ayah Anto untuk mengambil sesuatu di kamarnya. Melihat peluang itu, aku
diam-diam mengikutinya dari belakang. Kamar ayah Anto memang tidak terlihat dari
tempat di mana orang tua itu biasa duduk. Sesampainya di kamar kuraih pinggang
semampai perawat itu dari belakang. Tati terkejut dan tertawa kecil ketika sadar
siapa yang memeluknya dan tanpa basa-basi langsung menyambut ciumanku dengan
bibirnya yang mungil itu sambil dengan buas mengulum lidahku. Ia memang sudah
tidak malu-malu lagi seperti awal pertemuan kami. Janda cantik itu sudah
menunjukkan karakternya sebagai seorang pecinta sejati yang tanpa malu-malu lagi
menunjukkan kebuasan gairahnya. Kadang aku tidak mengerti, kenapa suaminya tega
meninggalkannya. Namun analisaku mengatakan, suaminya tak mampu mengimbangi
gejolak gairah Tati di atas ranjang dan untuk menutupi rasa malu yang terus
menerus terpaksa ia meninggalkan perempuan muda itu untuk hidup bersama dengan
perempuan lain yang lebih 'low profile'. Aku memang belum sempat menanyakan pada
Tati bagaimana ia menyalurkan kebutuhan biologisnya disaat menjanda. Aku
berpikir, bawa masturbasi adalah jalan satu-satunya.
Kami berdua masih saling berciuman dengan ganas ketika dengan sigap aku
menyelipkan tanganku ke balik baju perawatnya yang putih itu. Sungguh terkejut
ketika aku sadar bahwa ia sama sekali tidak memakai BH sehingga dengan mudahnya
kuremas buah dada kanannya yang ranum itu. "Kok ngga pakai BH mbak..?" Sambil
menggelinjang dan mendesah, ia menjawab sambil tersenyum nakal "supaya gampang
diremas sama kamu.." Benar-benar jawaban yang menggemaskan! Kembali kukulum
bibir dan lidahnya yang menggairahkan itu sambil dengan cepat kubuka kancing
bajunya yang pertama, kedua, dan ketiga …. Lalu tanpa membuang waktu kutundukkan
kepalaku, dengan tangan kananku kukeluarkan buah dada kanannya dan kuhisap
sedemikian rupa sehingga hampir setengahnya masuk ke dalam mulutku. Tati mulai
mengerang kegelian "Ouhhh..geli mas.. geliii.. ahhh.." Sejak kejadian malam itu,
ia memang membiasakan dirinya untuk memanggilku mas. Sambil menggelinjang dan
merintih, tangan kanan Tati mulai mengelus-elus bagian depan celana kantorku.
Penisku yang terletak tepat di baliknya terasa semakin menegang dan menegang.
Jari-jari lentik perempuan itu berusaha untuk mencari letak kepala penisku untuk
kemudian digosok-gosoknya dari luar celana. Sensasi itu membuat nafasku semakin
memburu seperti layaknya nafas kuda yang tengah berlari kencang. Seakan tak mau
kalah darinya, tangan kiriku berusaha menyingkap rok janda muda itu dan dengan
sigap kugosokkan jari-jemariku di celana dalamnya. Tepat diatas vaginanya,
celana dalam Tati terasa sudah basah. Sungguh hebat! Hanya dalam beberapa menit
saja, ia sudah sedemikian terangsangnya sehingga vaginanya sudah siap untuk
dimasuki oleh penisku. Tanpa membuang waktu kuturunkan celana dalam tipis yang
kali ini berwarna hitam, kudorong tubuh montok perawat itu kedinding, lalu
kuangkat paha kanannya sehingga dengkulnya menempel dipinggangku. Dengan sigap
pula kubuka resleting celanaku dan kukeluarkan penisku yang sudah sangat tegang
dan besar itu. Tati sudah nampak pasrah. Ia hanya bersender di dinding sambil
memejamkan matanya dan memeluk bahuku.
"Tatiii.. mana minyak tawonnya.. kok lama betuul…". Suara orang tua itu
terdengar dengan keras. Sungguh menjengkelkan. Tati sempat terkejut dan nampak
panik ketika kemudian aku berbisik "Tenang mbak.. jawab aja.. kita selesaikan
dulu ini.. kamu mau kan ?" Ia mengangguk seraya tersenyum manis "Sebentar Pak.."
teriaknya "Minyak tawonnya keselip entah kemana.. ini lagi dicari kok…" Ia
tertawa cekikikan, geli mendengar jawaban spontannya sendiri. Namun tawanya itu
langsung berubah menjadi jerikan erotis kecil ketika kupukul-pukulkan kepala
penisku ke selangkangannya. Perlahan-lahan kutempelkan kepala penisku itu di
pintu vaginanya. Sambi kuputar-putar kecil kudorong pinggulku perlahan-lahan.
Tati ternganga sambil terengah-engah "Aaahhh..aaahh.. ouhhh..mas..besar
sekali..pelan-pelan mas..pelan-pelanhh.." dan.. "Aaaa…" Tati menjerit kecil
ketika kumasukkan seluruh penisku ke dalam vaginanya yang becek dan terasa
sangat sempit dalam posisi berdiri ini. Aku menyodokkan penisku maju mundur
dengan gerakan yang percepatannya meningkat dari waktu ke waktu. Tubuh Tati
terguncang-guncang, buah dadanya bergayut ke kiri dan kanan dan jeritannya
semakin menjadi-jadi. Aku sudah tak perduli kalau ayah Anton sampai mendengarkan
jeritan perempuan itu. Nafsuku sudah naik ke kepala. Janda muda ini memang
memiliki daya pikat sex yang luar biasa. Walaupun ia hanya seorang perawat,
namun kemulusan dan kemontokan badannya sungguh setara dengan perempuan kota
jaman sekarang. Sangat terawat dan nikmat sekali bila digesek-gesekkankan di
kulit kita. Gerakan pinggulku semakin cepat dan semakin cepat. Mulutku tak
puas-puasnya menciumi dan menghisap puting buah dadanya yang meruncing panjang
dan keras itu. Buah dadanya yang kenyal itu hampir seluruhnya dibasahi oleh air
liurku. Aku memang sedang nafsu berat. Aku merasakan bahwa sebentar lagi aku
akan orgasme dan bersamaan dengan itu juga tubuh Tati menegang. Kupercepat
gerakan pinggulku dan tiba-tiba "Aaahh..mas..masss…aku keluarrr……..
aaaaaahhhh…." Jeritnya. Saat itu juga kusodokkan penisku ke dalam vagina janda
muda itu sekeras-kerasnya dan….. craaat..craatt.craaaaaat….. "Ahhh…mbaaak…"
erangku sambil meringis menikmati puncak orgasme kami yang waktunya jatuh
bersamaan itu.

0 comments:

Post a Comment