Pages

Wednesday, May 2, 2012

Cleaning service

Peluang kadang-kadang datangnya tidak bisa diduga. Aku sudah lebih dari 10 tahun bekerja di kantor ini, tapi baru saja aku menemukan peluang yang sama sekali tidak aku sangka. Ceritanya begini. Sejak anakku masuk SMP, aku terpaksa mengantar sendiri dia kesekolah pagi-pagi. Sekolahnya lumayan jauh dari rumah, berjarak sekitar 45 menit. Aku setiap hari harus bangun pagi sekali agar aku bisa sampai ke sekolah anakku sekitar jam 7 kurang 10, karena sekolah dimulai jam 7 tepat. Dari mengantar sekolah aku tidak mungkin lagi kembali ke rumah, karena aku harus sampai di kantor jam 9. Jarak sekolah dengan kantorku sekitar 10 menit perjalanan. Jadi setiap pagi aku sudah berada di kantor jam 7 pagi. Kantorku menempati gedung bertingkat. Setiap aku sampai kantor, yang pertama aku lakukan adalah buang air kecil. Kebiasaanku setiap hari meminum air putih sekitar 1,5 liter pada saat menjelang berangkat dari rumah, sehingga sesampai di kantor aku sangat tersesak kencing. Ini aku lakukan merupakan terapi air putih untuk kesehatan.

Sering kali ketika aku akan kencing, wc sedang dibersihkan oleh petugas cleaning service. Biasanya aku tahan sebentar sambil menunggu wc rampung dibersihkan. Masalahnya yang membersihkan petugas cleaning servicenya adalah cewek, jadi aku agak segan juga. Suatu hari aku sudah sangat tersesak kencing. Rasanya menunggu Yani, begitu nama petugas cleaning service, merampung kerjanya tidak mungkin. Aku akhirnya menerobos saja lalu membuka celana dan langsung memancurkan air yang menyesak akan keluar. Pada saat itu Yani sedang mengepel lantai di bagian ujung WC sehingga dia tidak sempat keluar. Sebab jika keluar harus melalui tempatku berdiri. Maklum WCnya tidak terlalu luas. Aku berpikir, toh dia tidak bisa melihat karena posisinya agak dibelakangku. Seandainya ada orang juga kencing di sebelahku juga nggak bakal bisa melihat. Masalahnya nggak enak saja kencing sementara disitu ada cewe. Yani sudah lama aku kenal. Dia sering aku mintai tolong untuk membeli makan siang di warung yang banyak terdapat di depan gedung.
Tentu saja ada ongkos aku berikan, yang kadang-kadang ongkosnya sama atau kalau dibulatkan menjadi lebih besar dari harga pesananku. Jadinya dia memang akrab denganku. Yani umurnya masih sekitar 18 tahun. Dia drop out dari SMA kelas 2. Jika mengenakan seragam cleaning service, dia tidak terlihat sexy, tetapi jika memakai jeans dan kaus, kelihatan pahanya yang gempal dan susunya yang menggembung. “Sorry ya yan gue nggak tahan kebelet banget nih,” kataku. “Ah gak pa pa pak , nggak kelihatan kok,” katanya. “Ah kelihatan juga nggak apa-apa juga,” kataku menggoda sambil melampiaskan kencingku yang sangat mendesak. “Ih Bapak genit ah, “katanya sambil terus membersihkan lantai. “udah pernah liat apa belum,” tanyaku menggoda lagi. “Aslinya ya belum lah pak, kalau di film sudah beberapa kali. “Sini deh kalau pengen liat, yang asli,” kataku. “Ah bapak ….., saya malu ah,” katanya. “Lho yang malu emang harusnya siapa, kamu kok jadi kebalik.” kataku. “Emang Bapak gak malu,” jawabnya sambil mendekat. Rupanya ada juga keinginan dia melihat wujud asli alat paling rahasia seorang pria.

“Ih kok kecil ya pak, di film-film kayaknya gede banget,” kata yani sambil mengintai barangku dari samping.

“Ya iyalah, yang difilm itu kan barangnya orang bule dan negro yang badannya gede, lagian barangnya kan siap tempur, lha ini dia lagi males karena sedang mancur dan lagi orang Indonesia kan gak segede orang barat,” kataku. “ O gitu ya pak,” katanya Pembicaraan singkat itu membuat barangku pelan-pelan memuai. Aku kencing memang cukup lama karena yang dikeluarkan rasanya memang banyak sekali. Yani masih memperhatikan barangku. Dia tidak malu-malu lagi karena dia mengambil posisi yang lebih jelas untuk melihat. Setelah semua keluar aku mencuci ujung penisku dengan air yang mancur keluar dari toilet. Yani masih antusias melihat barangku. “Bentuknya lucu pak, kaya pakai topi,” katanya. “Kalau mau pegang, boleh kok, pegang aja.” Kataku. Yani tidak punya keberanian menjangkau barangku. Ku pegang tangannya dan kubimbing ke arah penisku. Mulanya dia malu sehingga tangannya agak dikakukan, tetapi karena aku tarik terus akhirnya dia melemas. Tangannya kubekapkan ke penisku yang sudah berdiri sempurna. Kuremas tangannya agar dia juga meremas barangku. Dia meremas dan aku merasakan nikmat. “ Idih kok keras dan anget gini sih Pak,” katanya. Aku tidak menjawab karena menikmati sensasi remasan Yani. “Udah ah pak nanti saya gak kerja-kerja,” katanya mengakhiri remasan di penisku. Aku pun menutup resleting dan keluar wc menuju meja kerjaku. Sepagi ini belum ada pegawai yang datang. Aku puas menikmati sensasi pagi. Sambil menunggu pegawai lainnya datang, aku browsing di internet sambil berkhayal untuk lebih jauh dengan Yani. Dalam benakku berkecamuk, dia cleaning service, sementara aku dikantor ini cukup punya jabatan yang terpandang. Kalau misalnya aku ada affair dengan Yanti lalu terbongkar, wah malunya bukan main. Tapi dibalik itu, Yanti cukup menarik. Sejauh ini sudah lebih mudah mengolahnya untuk tindak lanjut. Wah gimana ya aku bingung juga. Seandainya saja dia bukan bekerja sebagai cleaning service di gedung tempat kantorku berada, aku pasti tidak pikir panjang mengarapnya.

Hari berikutnya aku datang agak lebih pagi, karena jalanan agak longgar. Sesampai dikantor, Yani masih membersihkan ruang kerja. Melihat aku datang dan langsung menuju WC, Yani pun ikut pula masuk. “Pak penasaran pengen liat lagi, semalaman jadi kepikiran pak gara-gara Bapak sih,” katanya. Aku tentu saja membiarkan dia ikut masuk dan menonton barangku. Kali ini dia kusuruh memegangi batang penisku yang sedang mancur. Celana agak aku turunkan, sehingga tidak saja batang penis yang bebas, tetapi kantong menyan di bawahnya juga terbebas. Di pegang Yani penisku jadi memuai, dan kencing nya menjadi mengecil, sehingga penuntasannya jadi lebih lama. Selesai semua keluar aku ajarkan bagaimana mencuci sisa air seni di ujung penisku. Yani kelihatannya penasaran sekali, sehingga dia menurut saja perintahku. Lepas itu di sentuh-sentuh bagian kantong menyan. “ Pak ini apa kok empuk-empuk,” tanyanya. Aku jelaskan dan aku ingatkan agar dia tidak meremas kantong pelirku, karena rasanya sakit dan sengal, kalausempat dia remas bagian itu. Kantong pelirku ditimang-timangnya, lalu batangku di genggamnya.

“ Ih gemes deh pak rasanya pengen ngremes aja,” kata Yani. Yani gadis yang agak agresif dan keingintahuannya cukup besar.

Padahal dia belum pernah punya pacar. Pacaran di sekolah dulu hanya sekedar jalan bareng, nonton, tidak lebih dari itu. Jadi dia sebenarnya belum pernah dijamah laki-laki. Aku tidak bisa tinggal diam, tanganku menjamah susunya yang lumayan menggembung. Dari luar bajunya aku remas-remas. Yani kutarik dan kupeluk dari belakang. Tanganku dengan segera menyusup ke balik bajunya dan masuk ke dalam bhnya. Bongkahan susu yang empuk dan kenyal aku remas-remas. Terasa pentilnya yang masih kecil aku pelintir-pelintir. Puas meremas susunya tanganku yang satu lagi membuka celana panjangnya dan langsung menelusup ke balik celana dalamnya. Disana aku meraba bulu-bulu yang tidak terlalu lebat. Ketika jari tengahku menemukan celah belahan memeknya terasa ada lendir di rongganya. Kumainkan sebentar jari tengahku di rongganya lalu aku tekan-tekan clitorisnya. Yani mendesah-desah. Aku makin bersemangat, karena Yani kelihatannya sudah pasrah. Kugosok terus clitorisnya sekitar 5 menit sampai dia akhirnya mencapai orgasme. Setelah itu kami mengakhiri permainan dan kembali membenahi baju kami masing-masing.

Akhirnya hampir setiap hari aku melakukan petting berat di wc dengan Yani. Aku sudah tidak perduli lagi soal statusku dibanding dengan status Yani. Apalagi di depan orang lain dia terlihat normal dalam berhubungan denganku. Yang membedakannya upah membeli makan siang, sekarang makin besar. Tapi itu atas kemauanku sendiri. Hubunganku dengan Yani tidak terendus sedikitpun oleh pegawai-pegawai di kantorku. Jadinya aku merasa aman-aman saja. Setelah acara petting berjalan beberapa waktu, aku penasaran untuk mendapatkan yang lebih. Pagi itu aku sengaja datang setengah jam dari biasanya. Yani ketika itu juga lagi menyapu ruang kerja. Kutarik dia masuk ke wc perempuan. Pegawai perempuan di lantai ini tidak terlalu banyak. Mereka biasanya baru muncul sekitar jam 10. Rasanya lebih aman bercumbu di wc perempuan. Aku tarik Yani masuk ke salah satu bilik wc perempuan. Toilet duduknya aku tutup dan aku segera menurunkan celanaku. Baju Yani aku buka kancingnya dan BHnya aku lepas. Sedangkan celananya aku lepas semuanya. Yani aku pangku berhadapan. Aku berusaha memasukkan penisku ke celah kemaluannya.

Setelah posisinya tepat aku menarik Yani agar menurunkan badannya. Barangku perlahan-lahan ambles ke dalam rongga hangat kemaluan Yani. Pikiranku segera berproses. Rasanya dia sudah tidak perawan lagi, karena penisku tidak menemukan kesulitan berarti untuk tenggelam seluruhnya. Tapi nanti sajalah pertanyaan ini dicari jawabnya. Yani aku arah kan agar bergerak-gerak sehingga aku merasa penisku di remas-remas. Aku lalu bersandar ke toilet dan memberi ruang lebih leluasa bagi Yani. Dia bergerak mengikuti nalurinya sambil tangannya berstumpu di kedua pundakku. Sensasi hidden sex begini memang luar biasa nikmatnya. Payudaranya berguncang-guncang karena gerakan liar Yani. Gerakan susu yang cukup besar ini merupakan pemandangan yang sangat mempesona. Kami bermain sekitar 10 menit. Rasanya Yani sempat mencapai orgasme lalu menjelang aku orgasme aku buru-bur mencabut penis dari lubang nikmat. Meski dalam keadaan sange aku sadar bahwa jika dia hamil, karirku bisa hancur. Setelah kami menyelesaikan permainan dan masih berpelukan, aku tanyakan ke Yani, apakah dia sudah pernah melakukan seperti ini.

Dia terus terang mengaku bahwa dia pernah dikerjai pamannya ketika dia masih kelas 2 SMP. Pamannya sempat 3 kali menggumulinya. Tapi kata Yani dia waktu itu tidak tau apa-apa. Aku manjadi terbiasa main dengan Yani di WC perempuan di pagi hari. Memang tidak tiap hari, tetapi seminggu paling tidak kami melakukannya 2 kali. Aku kemudian menjadi khawatir juga kalau Yani hamil. Melalui bidan kenalanku dia dipasangsi spiral. Asyiknya yani tidak malu-malu mengajakku main, jika di merasa ingin. Jadi rasanya lebih sering dia mengajak main dibanding aku. Yani memiliki nafsu yang cukup tinggi. Permainan satu ronde bagi dia masih belum cukup. Aku beberapa kali mengajaknya menginap di hotel. Kami melampiaskan hasrat sepuas-puasnya. Meskipun hubunganku dengan Yani sudah sangat jauh, tetapi dia tidak menuntut apa-apa dari ku. Bahkan di depan pegawai lain dia bersikap wajar. Aku yang tidak tega, sehingga kemudian aku memberi uang bulanan yang agak lebih besar dari gajinya. Sekitar setahun hubunganku dengan Yani, dia mengadu bahwa dia sudah punya cowok. Kata dia cowoknya cakep dan sudah kerja di asuransi.

“Pak aku tiap malam main ama cowokku, abis kalau lagi kepengin kepalaku rasanya pening,” kata Yani. Permainan denganku masih terus sampai akhirnya dia menikah dengan cowoknya. Menjelang pernikahannya aku minta bidan temanku untuk mencabut spiralnya. Kata yani, cowoknya tidak tahu kalau dia pakai spiral.

Tamat

0 comments:

Post a Comment