Pages

Saturday, April 21, 2012

AB Three in Bondage 2

Tubuhnya masih tergantung dengan tangan terikat ke langit-langit dan kakinya masih terbuka lebar. Kuda-kuda tadi dipindahkan, Dildo logam juga dikeluarkan dari vagina Widi. Ikatan pada kaki Widi dikendorkan, sedangkan tali pada pergelangan tangan Widi ditarik. Sekarang Widi tergantung terangkat dari lantai dengan kaki terbuka lebar dan seluruh berat badannya bergantung pada ikatan pada tangannya. Persis dengan posisi Lucy pada permulaan tadi. Widi baru berusaha mengumpulkan tenaganya kembali ketika Botak mendekati dirinya. Botak kemudian menuangkan minuman keras dari botol yang dipegangnya ke dalam mulut Widi.

Widi menelan cairan itu, lalu terbatuk-batuk ketika tenggorokannya terasa panas karena minuman itu.Kemudian ikatan pada tangan Widi dilepaskan dan Widi dibantu untuk berdiri di kedua kakinya. Botak terus menuangkan minuman keras ke mulut Widi, perlahan pucat dari wajah Widi mulai menghilang. Ketika kesadaran Widi pulih seluruhnya, ia melihat Lucy yang tergantung di dinding dan Nola yang digantung pada kedua tangan dan kakinya di tengah ruangan. Kedua polisi tadi telah melepaskan seluruh pakaiannya.

Botak kemudian mendorong tubuh Widi hingga jatuh berlutut.Kemudian Botak mendekatkan penisnya yang masih lemas ke mulut Widi dan memerintahkannya untuk mengulum penis itu. Widi teringat pada sebuah film dewasa yang pernah dilihatnya bersama Lucy dan Nola, dan ia menyadari apa yang diinginkan oleh polisi itu, Widi juga terlalu takut untuk menolak perintah itu. Widi kemudian memasukan penis itu dalam mulutnya dan mulai mengulumnya membuat penis itu mengeras dan membesar.Hitam berbalik mendekati Nola. Kepala dan vagina Nola tepat tergantung setinggi pinggang Hitam.

Hitam kemudian mendekati kepala Nola. Nola berusaha mengangkat kepalanya berusaha melihat semua yang dilakukan oleh kedua polisi tadi. Hitam menarik kepala Nola hingga terdongak ke atas lagi dan mendekatkan penisnya pada mulut Nola. Nola juga menuruti kemauan Hitam, mengulum dan menjilati penisnya, takut akan apa yang mungkin akan terjadi jika ia menolaknya.Kedua penis polisi tadi segera mengeras dan membesar. Keduanya sudah sangat bernafsu. Botak yang sedang memperkosa mulut Widi sedang bersiap-siap untuk memperkosa Lucy.
Karena tubuh Lucy yang tergantung tinggi dari lantai, Botak membutuhkan sebuah kotak untuk bisa menambah tingginya hingga penisnya bisa masuk ke vagina Lucy. Tapi ternyata kotak itu terlalu tinggi hingga terpaksa Botak menekuk kakinya untuk bisa mengarahkan kepala penisnya ke bibir vagina Lucy. Ketika Botak meluruskan kakinya, penis Botak terdorong masuk ke vagina Lucy yang terluka karena penyiksaan tadi. Lucy kembali mengeluarkan jerit kesakitan.

Kakinya yang terikat erat membuat ia tidak ikut terangkat ke atas ketika penis Botak mulai masuk ke vaginanya. Botak mulai bergerak keluar masuk, membuat vagina Lucy yang sudah terluka bertambah sakit dan nyeri. Botak terus bergerak selama beberapa menit sebelum akhirnya mengerang dan menyemburkan spermanya ke dalam vagina Lucy. Hitam sudah mulai memperkosa Nola. Dengan tubuh tergantung demikian, Hitam dengan mudah dapat berdiri di antara kedua kaki Nola dan memasukan penisnya ke dalam vagina Nola. Tali-tali yang mengikat Nola membuat tubuh Nola dapat berayun ke segala arah. Hitam berdiri tepat di depan selangkangan Nola. Ia memasukan dua jarinya ke dalam vagina Nola dan mulai menggerakannya keluar masuk sampai cairan keluar dari vagina Nola.

Hitam kemudian mendekat dan memasukan penisnya ke dalam vagina Nola. Tubuh Nola mulai berayun ke depan. Hitam memegangi pinggang Nola dan menariknya kembali ke belakang membuat penisnya terbenam makin dalam ke vagina Nola. Kemudian Hitam hanya perlu berdiri dan memegangi pinggang Nola sambil menarik dan mendorong tubuh Nola ke depan dan ke belakang membuat penisnya keluar masuk vagina Nola. Hitam terus menikmati vagina Nola untuk beberapa saat. Sedangkan Nola hanya bisa berteriak kesakitan setiap kali penis Hitam yang besar menerobos masuk ke vaginanya yang masih sempit.

Akhirnya setelah beberapa menit Hitam mencapai orgasme, dan menyemprotkan spermanya ke vagina Nola. Kedua polisi itu sudah puas dengan orgasme pertama mereka, dan mereka berdua bersiap untuk kembali mempermaikan ketiga gadis itu lagi. Widi, Nola dan Lucy masing-masing diberi minuman keras oleh mereka untuk menyadarkan mereka dari shock perkosaan yang baru mereka alami. Lucy dan Nola dibiarkan tergantung pada posisi mereka ketika diperkosa tadi.

Hitam mendekati lemari dan kembali dengan membawa sebuah alat kejutan listrik. Di ujung alat yang berbentuk seperti ketapel itu terdapat bulatan lugam. Jika bulatan logam itu ditempelkan pada tubuh seseorang maka tubuh orang itu akan disengat oleh aliran listrik yang kuat. Hitam mendekat pada Widi dan menempelkan ujung alat itu pada pantat Widi. Kejutan listrik yang terjadi membuat tubuh Widi terlompat dan mengejang disertai jerit kesakitan Widi. Kemudian Widi ditarik mendekat pada Lucy. Widi berlutut di hadapan Lucy.

Kemudian ia diperintahkan untuk memasukan jarinya ke vagina Lucy. Widi mulanya menolak, tapi ia berubah pikiran melihat ujung alat yang dipegang oleh Hitam mendekat ke buah dadanya. Widi mulai memasukan dua buah jarinya ke vagina Lucy yang baru saja diperkosa oleh Botak. Jari Widi dengan mudah masuk karena sperma Botak masih terlihat mengalir keluar dari vagina Lucy. Hitam kemudian memerintahkan agar Widi memasukan satu jari lagi. Tiga jari Widi masih dapat dengan mudah masuk ke vagina Lucy. Ketika Widi mendorong masuk keempat jarinya sekaligus, vagina Lucy mulai terasa sempit. Widi harus mendorong lebih keras agar jari-jarinya bisa masuk, yang mengakibatkan Lucy mengerang kesakitan. Akhirnya dengan dorongan keras keemapt jari Widi bisa masuk ke vagina Lucy.

Setelah itu Hitam akhirnya menyuruh Widi memasukan seluruh jari dan tangannya masuk ke vagina Lucy. Widi menarik jarinya dari vagina Lucy dan menggelengkan kepalnya menolak perintah Hitam. Ujung alat Hitam menempel ke buah dada Widi. Widi berteriak kesakitan, dan tubuhnya terlempar ke lantai. Hitam terus mendekati tubuh Widi. Alat itu selanjutnya menempel di selangkangan Widi. Widi kembali berteriak kesakitan. Widi kemudian merangkak mendekati Lucy yang tergantung di dinding. Ketika tubuh Widi kembali disentuh oleh alat tadi, Widi memasukan seluruh jarinya ke vagina Lucy. Lucy menjerit-jerit kesakitan. Widi berusaha keras agar dirinya tidak disakiti lagi oleh Hitam, berusaha memasukan tangannya ke vagina Lucy yang makin lama menjerit makin keras dan memilukan. Widi terus berusaha mendorong kelima jarinya masuk ke vagina Lucy, perlahan berusaha mengurangai rasa sakit yang diderita oleh Lucy.

Tapi tangan Widi adalah benda terbesar yang pernah berusaha masuk ke vagina Lucy. Dan ketika bibir vagina Lucy melebar berusaha dimasuki oleh tangan Widi, rasa sakit yang ditimbul semakin menjadi-jadi. Akhirnya dengan satu dorongan keras seluruh jari Widi masuk ke dalam vagina Lucy. Ketika pangkal ibu jari Widi masuk bersamaan dengan keempat jari Widi dan membuat bibir vagina Lucy membuka tambah lebar, Lucy berteriak dan menronta-ronta kesakitan. Ketika seluruh telapak tangan Widi masuk, bibir vagina Lucy menjepit erat pergelangan tangan Widi. Widi dapat merasakan bagian dalam vagina Lucy berdenyut-denyut. Sedangkan Lucy merasa dirinya seperti hamil merasakan tangan Widi masuk seluruhnya.

Hitam kemudian menempelkan kembali alat listrik tadi ke buah dada Widi. Ketika tubuh Widi terlompat kesakitan, tangan Widi tertarik dari vagina Lucy. Tangan Widi tertarik sebagian keluar dan tersangkutpadavagina Lucy. Lucy kembali menjerit kesakitan. Sedangkan Widi hanya bisa menangis. Perlahan Widi berhasil menguasai dirinya dan menyadari sebagian tangannya masih ada di dalam vagina Lucy. Widi kemudian berusaha menarik tangannya dan setelah beberapa saat tangan itu berhasil ditariknya keluar dari vagina Lucy. Lucy terus berteriak dan menjerit kesakitan sementara Botak dan Hitam menonton sambil tertawa senang melihat Lucy meronta-ronta kesakitan. Hitam kemudian mendekatkan alatnya pada vagina Lucy. Jeritan Lucy, terdengar seperti binatang yang sangat kesakitan, melolong tinggi. Lucy terus dibiarkan tergantung pada dinding.

Sementara itu Lucy sendiri masih terus menangis dan merintih kesakitan, merasakan vaginanya yang bagaikan terobek oleh masuknya tangan Widi tadi. Kedua polisi itu bersiap untuk menyiksa Widi sekarang. Pertama-tama mereka membawa Widi kembali ke tengah ruangan. Botak kemudian mengambil sebuah benda yang membuat wajah Widi memucat ketakutan. Benda itu berupa logam sepanjang satu meter dengan dua buah dildo logam dilas pada tengah-tengahnya. Dildo yang satu berukuran besar, sekitar 25 senti panjang dan berdiameter 10 senti. Yang satu lagi panjangnya 15 senti dan berdiameter sekitar 3 senti.

Tangan Widi kembali diborgol ke belakang. Kedua puting susunya dijepit oleh jepitan yang pernah dijepitkan pada puting susunya tadi. Jepitan yang akan menjepit makin keras jika kabel yang ada diujungnya ditarik. Kembali Widi menjerit ketika puting susunya yang sekarang berwarna ungu kembali dijepit oleh jepitan buaya itu. Kemudian kabel tadi ditarik dankemudiandiikatkan pada gelang besi yang ada di langit-langit. Sekarang puting susu dan buah dada Widi tertarik keatas sehingga Widi berusaha berjinjit untuk mengurangi rasa sakit yang timbul. Selanjutnya batang besi tadi diletakan diantara kedua kaki Widi dengan dildo yang berukuran besar di depan. Tali-tali dari langit-langit diikatkan pada kedua ujung batang logam tadi dan untuk kemudian tali itu ditarik hingga batang logam tadi terangkat ke atas, menuju ke arah vagina dan anus Widi. Dildo yang besar bersentuhan dengan bibir vagina Widi. Hitam mengarahkan agar ujung dildo logam itu tepat di liang vagina Widi.

Botak terus menarik tali yang mengikat batang tadi. Dildo itu mulai membuka bibir vagina Widi dan menerobos masuk. Widi menjerit kesakitan ketika vaginanya melebar berusaha dibuka oleh dildo logam tadi yang terus masuk karena batang tadi ditarik ke atas oleh Botak. Kemudian dildo yang lebih kecil mulai menempel ke liang anus Widi. Widi menjerit ketakutan menyadari apa yang akan terjadi selanjutnya. Ketika dildo kecil itu mulai menempel, tubuh Widi ikut terangkat ke atas. Liang anusnya tidak membuka untuk dildo yang kecil itu. Tapi berat tubuh Widi, membuat tubuh Widi yang pada mulanya ikut terangkat perlahan turun. Dan itu menyebabkan liang anus Widi mulai membuka perlahan dimasuki oleh dildo kecil tadi. Rasa sakit yang dirasakan oleh Widi tak terkira. Widi belum pernah merasakan satu bendapun masuk ke dalam anusnya yang kecil dan sempit. Tapi sekarang liang anus itu terbuka perlahan, diterobos oleh dildo logam itu. Untuk sesaat Widi melupakan dildo besar yang juga terus terbenam masuk ke vaginanya karena sakit yang terasa amat sangat terdapat pada anusnya.

Perlahan seluruh dildo tadi terbenam seluruhnya ke vagina dan anus Widi. Tapi logam itu terus terangkat membuat tubuh Widi juga ikut terangkat dari lantai. Dengan tangan terborgol ke belakang Widi tidak bisa menjaga keseimbangannya ketika tubuhnya terangkat dari lantai. Tubuh Widi mulai terjatuh ke depan, sampai akhirnya tertahan oleh kabel yang terikat pada jepitan di puting susu Widi. Widi menjerit-jerit ketika jepitan itu menjepit makin dalam karena tertarik oleh tubuhnya yang jatuh ke depan. Widi terus menerus menjerit sampai akhirnya tubuh Widi benar-benar terangkat dari lantai dengan tergantung pada kabel yang ada diputing susunya dan dua dildo yang masuk dan mengangkat tubuhnya dari lantai. Ketika selesai, tubuh Widi tergantung sekitar satu meter dari lantai.

Kedua polisi itu bergantian mendorong tubuh Widi hingga terayun-ayun membuat Widi menjerit kesakitan karena kabel jepitan yang ada di puting susunya ikut tertarik. Puting susu dan buah dada Widi tampak memerah dan kemudian berubah menjadi ungu karena terus menerus ditarik dan dijepit makin keras. Akhirnya mereka puas mendengar jerit kesakitan dari Widi. Mereka menurunkan batang logam tadi sehingga sekarang Widi bisa berdiri di atas kedua kakinya tapi kedua dildo yang jepitan tadi masih ada di tempatnya masing-masing. Penyiksaan pada diri Widi membuat nafsu pada kedua polisi itu bangkit lagi. Satu-satunya gadis yang masih tersisa adalah Nola, yang masih tergantung terlentang pada kaki dan tangannya. Mereka berdua mendekati Nola.

Hitam mendekati kepala Nola sedangkan Botak berdiri di depan selangkangan Nola. Hitam memasukan penisnya yang masih lemas ke mulut Nola, sementara Botak memasukan tiga jarinya ke dalam vagina Nola dan melebarkan bibir vagina Nola. Nola meronta kesakitan, tapi ia hanya bisa berayun-ayun dalam ikatannya, sedangkan mulutnya sudah dipenuhi oleh penis yang terus membesar dan mengeras. Ketika penis telah mengeras seluruhnya, ia memberi tanda pada Botak dan mereka bertukar tempat. Mereka mulai memperkosa Nola secara bersamaan. Sebuah penis yang lemas kembali masuk ke dalam mulutnya dan penis Hitam yang keras dan tegang masuk ke dalam vaginanya. Kembali tubuh Nola berayun kedepan dan belakang. Dan ketika penis Botak telah mengeras seluruhnya ia mendorong penis itu makin dalam ke tenggorokan Nola.

Dalam sesaat vagina dan tenggorokan Nola mulai diperkosa oleh penis Hitam dan Botak. Setelah beberapa menit kedua polisi itu mencapai puncak dan keduanya menyemburkan spermanya ke vagina dan mulut Nola. Ketiga gadis itu tergantung kesakitan dalam ruangan itu. Lucy tergantung di dinding. Kakinya terikat pada lantai dan terbuka lebar. Tangannya terasa sakit karena terikat dan menanggung berat tubuhnya. Widi berdiri dengan tangan terborgol ke belakang. Jepitan pada puting susunya membuat Widi tidak berani bergerak sedikitpun. Dan di antara kedua kakinya terdapat batang logam dengan dua buah dildo logam yang terbenam masuk ke vagina dan anusnya. Nola terikat dan tergantung pada kedua kai dan tangannya. Vaginanya teluka karena dipecuti dan dirinya baru diperkosa secara bersamaan. Setelah beristirahat sejenak kedua polisi tadi mulai lagi membuat ketiga gadis itu saling menyiksa temannya masing-masing. Nola diturunkan dari ikatan.

Hitam memberinya minuman keras untuk memulihkan seluruh kesadarannya. Hitam kemudian menyerahkan pecut yang tadi dipergunakannya pada Nola sendiri. Sedangkan Lucy serta Widi masih terikat dan tergantung di ruangan itu. Hitam kemudian memerintahkan Nola agar mulai memecuti mereka, sampai mereka menyuruh Nola berhenti. Dan jika ia tidak menuruti perintah itu, Noal sendir yang akan merasakan pecut itu sekali lagi. Nola tidak punya pilihan lain selain menuruti perintah itu. Nola mendekati tubuh Lucy yang masih tergantung. Seluruh tubuh Lucy terpampang dan dapat dipecuti oleh Nola. Nola berbisik mohon maaf ketika dirinya makin dekat dengan Lucy. Dengan ragu-ragu ia mengayunkan pecutnya ke paha Lucy. Lucy menjerit kesakitan, tapi Hitam berteriak agar Nola mengayunkan pecut itu lebih keras lagi. Kembali Nola mengayunkan pecutnya ke paha Lucy, yang membuat Lucy menjerit lebih keras lagi.

Hitam kemudian merampas pecut itu dari tangan Nola dan menyuruh Nola membungkukan badannya. Nola terdiam. Hitam mengancam akan menghukum Nola lebih menyakitkan jika Nola tidak menuruti perintahnya. Nola berbalik dan membungkukan badannya. Hitam mengayunkan pecut tadi sekuat tenaga mengarah pada pantat Nola. Nola menjerit dan jatuh tersungkur ke lantai, tangannya menutupi bekas merah yang timbul pada pantatnya. "Bangun!" Hitam berteriak. Tubuh Nola tidak bertenaga untuk bangkit setelah pecutan yang sangat menyakitkan tadi. Ketika melihat Nola tetap berbaring di lantai Hitam mulai mengayukan pecutnya lagi. Pecut itu mendarat di perut Nola kemudian pada punggung Nola. Nola berusaha bangkit untuk menghentikan pecutan tersebut. Dan ketika ia berhasil berdiri dengan sempoyongan, Hitam menghentikan pecutannya. Hitam menunggu hingga Nola membungkuk lagi. Pecutan yang datang lebih keras dari sebelumnya. Nola berusaha bertahan dengan menggigit bibirnya agar tidak tersungkur lagi. Ia terus menjerit kesakitan tapi tetap berdiri membungkuk.

Hitam kemudian menyerahkan pecutnya kembali ke Nola dan menyuruhnya agar menggunakan tenaganya. Nola mengambil pecut itu dan berjalan tertatih-tatih mendekati Lucy. Pantatnya terasa sangat sakit dan ia tidak ingin Hitam kembali memecutnya. Nola kemudian mengayunkan pecut pada paha Lucy sekuat tenaganya. Lucy kembali menjerit. Hitam mengangguk dan melihat Nola mengayunkan pecutnya lagi. Kembali jeritan Lucy terdengar. Hitam kemudian menyuruh Nola memecuti Lucy dari depan. Nola menangis selain karena sakit yang dirasakannya pada pantatnya, juga karena ia menyiksa sahabatnya Lucy. Nola mengayunkan pecutnya ke puting susu Lucy. Lucy menjerit dan mengejang. Kembali pecut itu mendarat di puting susu Lucy. Selanjutnya pecut itu mengarah ke vagina Lucy. Jeritan Lucy makin tinggi dan keras sekarang. Hitam membiarkan Nola memecuti puting susu dan vagina Lucy untuk beberapa saat. Hitam kemudian memerintahkan agar Nola memasukan gagang pecut yang berbentuk penis itu ke vagina Lucy. Nola memandang gagang itu ketakutan, tapi Hitam mendekatinya membuat ia segera melaksanakan perintah tadi.

Nola mulai mendorong gagang pecut tadi masuk ke vagina Lucy. Lucy mengerang kesakitan ketika dirasakannya ujung gagang itu mulai memasuki vagina yang terluka tadi. Nola perlahan berhasil memasukan sekitar 20 senti dari gagang itu ke dalam vagina Lucy. Sementara Lucy terus merintih kesakitan. Hitam kemudian menyuruh Nola menggerakan gagang pecut itu. Nola segera menggerakan gagang pecut tadi keluar masuk vagina Lucy. Lucy menrintih dan meronta-ronta ketika vagina yang telah terluka karena tangan Widi tadi kembali digesek-gesek oleh gagang pecut yang kasar. Nola terus menggerakan gagang tadi selama beberapa menit, sebelum Hitam menyuruhnya untuk berhenti. Botak kemudian mendekati Lucy dan melepaskan ikatannya.

Tubuh Lucy langsung ambruk ke tanah. Memau-memar dan garis-garis merah terlihat di sekujur tubuh Lucy. Botak kembali menuangkan minuman keras ke mulut Lucy untuk menyadarkannya. Setelah beberapa saat Lucy mampu berdiri di atas kakinya. Sementara itu Nola kembali diperintahkan untuk memecuti tubuh Widi. Nola mengayunkan pecutnya ke punggung Widi. Tubuh Widi terlonjak sehingga puting susunya makin terjepit dan membuat ia berteriak kesakitan. Nola memecut Widi sebanyak empat kali. Perut, pantat, dan buah dadanya mendapat pecutan dari Nola dan Widi menangis keras ketika akhirnya Nola berhenti. Widi kemudian dilepaskan. Jepitan dari puting susunya dilepaskan dan kedua tangannya juga dibebaskan dari borgol. Widi berusaha mengeluarkan kedua dildo tadi dari vagina dan anusnya tapi ia merasa kesakitan setiap kali ia berusaha menariknya keluar.

Akhirnya Botak dan Hitam secara bersamaan menarik batang loga tadi dengan brutal. Ketika mereka menarik batang logam tadi, kedua dildo itu tertarik keluar dan membuat Widi menjerit, dan terlihat darah melumuri kedua dildo tadi. Widi menutupi vagina dan anusnya denga tangannya berharap bisa mengurangi rasa sakit yang dideritanya. Sekarang ketiga gadis itu telah selesai disiksa oleh botak dan Hitam. Kelima orang di ruangan itu semuanya telanjang bulat. Ketiga gadis itu telah dibebaskan dari semua ikatan mereka. Boatk dan Hitam lalu berpakaian kembali, dan memakaikan pakaian penjara kepada ketiga gadis itu. Sekarang mereka bertiga terbaring lemah dalam sebuah sel yang terkunci. Botak dan Hitam akan mulai menanyai mereka lagi keesokan harinya.

Tamat

0 comments:

Post a Comment