Pages

Friday, April 20, 2012

AB Three in Bondage 1

AB Three in Bondage 1


Widi, Lucy, Nola dari kelompok vokal AB-Three sedang berlibur di salah satu pulau di kepulauan Seribu. Mereka ingin sekali pergi dari hiruk-pikuk kota Jakarta, dan juga memanfaatkan waktu kosong selama tiga bulan karena sepinya panggilan untuk show. Akan tetapi ternyata liburan itu berubah menjadi sebuah mimpi bagi mereka bertiga. Mereka sedang beristirahat di pondok, setelah sehari penuh berlari-lari dan bersenang-senang di pantai, ketika terdengar ketukan di pintu. Widi membuka pintu.


Dan dengan segera tiga orang polisi masuk ke pondok itu. Ketiga gadis itu tidak mempunyai kesempatan bertanya apa yang terjadi karena dengan segera tangan mereka diborgol dan mereka digiring ke mobil tahanan yang menunggu di luar. Ketiga polisi itu juga mengemasi semua pakaian ketiga gadis itu dan membawanya pergi sehingga tidak ada tanda-tanda seseorang pernah tinggal di pondok itu. Kemudian mereka dibawa ke sebuah markas polisi. Setelah sampai mereka digiring ke ruang interogasi di bawah tanah.
Ketiga gadis itu dituduh menggunakan exctasy selama mereka berlibur di pulau itu. Mreka memprotes tuduhan itu tapi polisi itu tidak peduli atas sanggahan Widi, Lucy dan Nola. Ketiga gadis itu ditanyai secara bersamaan pada awal pemeriksaan. Mereka sangat ketakutan, tapi karena tuduhan itu sama sekali tidak benar, mereka sama sekali tidak bisa menjawab pertanyaan dari para polisi itu.

Dua dari polisi tersebut yang satu berbadan besar dan hitam, sedang yang satu lagi berkepala botak. Kemudian Widi ditarik berdiri untuk digeledah. Sedangkan Lucy dan Nola masih terborgol dan duduk di atas kursi melihat penggeledahan tersebut. Hitam berdiri di belakang Widi dan memegangi bahunya. Tangan Widi masih terborgol ke belakang. Hitam mulai menggeledah seluruh tubuh Widi, mulai dari dada, pinggang kemudian turun ke paha dan kakinya. Ketika Hitam tidak menemukan apapun ia mengangguk kepada Botak dan melanjutkan pencarian secara lebih seksama. Botak mendekat dan mulai melepaskan kancing baju Widi. Widi ketakutan dan mulai berteriak dan meronta-ronta. Botak menutup mulut Widi dengan tangannya dan menyuruhnya untuk diam.Widi terus berteriak, Botak kemudian menjepit hidung Widi dan menutup mulut Widi. Widi mulai kehabisan nafas dan terus meronta-ronta.

Hitam menyuruhnya untuk diam. Botak melepaskan tangannya dan berkata "Diam, atau kamu mati!" Widi tidak dapat berbuat apa-apa selain mematuhi perintah itu. Botak melanjutkan menelanjangi Widi. Ia melepaskan kancing baju Widi dan melepaskannya hingga bagian depan tubuh Widi terbuka. Kedua polisi itu sejenak memandangi buah dada Widi yang tertutup oleh BH putih berenda. Hitam meraba buah dada Widi yang masih tertutup BH itu.
 Kemudian ia mulai melepaskan kancing dan restleting jeans Widi. Jenas itu dengan segera dapat ditarik turun. Hitam menarik sepatu Widi dan kemudian melepaskan jeans dan kaki Widi. Selangkangan Widi juga tertutup oleh celana dalam putih yang dihiasi oleh renda kecil. Hitam langsung menarik celana dalam itu membuat vagina Widi terlihat. Rambut vagina yang halus membuat kedua polisi itu masih bisa melihat samar-samar bibir vagina Widi. Keduanya memperhatian bibir vagina itu selama beberapa saat tapi tanpa menyentuhnya. Karena tangan Widi masih terborgol ke belakang, baju dan BH Widi tidak bisa dilepaskan. Botak mengambil kunci borgol dan melepaskan borgol itu dari tangan Widi.

Kemudian baju dan BH Widi segera dilucuti dari tubuh Widi. Itu membuat buah dada Widi yang bulat sedang terpampang dengan jelas dihadapan kedua polisi itu. Widi sekarang berdiri telanjang bulat ditengah ruangan dihadapan polisi itu. Kedua polisi itu seakan-akan lupa dengan tugas penggeladahannya dan mulai merabai tubuh Widi. Ketika Widi mulai meronta, Hitam memukul buah dada Widi dengan tangannya keras-keras. Jerit kesakitan Widi segera diredam oleh tangan Botak yang menutup mulutnya. Widi diperingati untuk tetap diam dan tidak bersuara. Widi denga putus asa diam ketika tubuhnya diraba-raba oleh tangan kedua polisi tadi. Sementara Lucy dan Nola melihat semua yang terjadi dan ketakutan menyadari mereka akan mendapat perlakuan yang sama.

Widi yang kadang masih meronta, membuat kedua polisi tersebut sadar tujuan mereka menelanjangi Widi. Mereka segera mulai menggeledah tubuh Widi secara seksama. Rambut Widi diperiksa diikuti dengan mulut kemudian kulitnya. Kemudian Widi dibaringkan di atas sebuah meja dan dipaksa untuk menangkat kakinya hingga menempel ke dadanya, membuat vagina terlihat jelas ke atas. Hitam memasukan jari tengahnya ke dalam vagina Widi dan mulai mencari-cari dengan jarinya itu. Widi merasa sangat kesakitan, dan malu mendapati seseorang memasukan jarinya ke dalam alat kelaminya. Ketika tidak juga ditemukan sesuatu, kedua polisi tadi memutuskan untuk memeriksa anus Widi. Widi ditarik berdiri dan diperintahkan untuk membungkuk berpegangan pada meja tadi. Hitam membuka kaki Widi dan berjongkok di belakang Widi.

Kemudian ia mendorong jari tengahnya masuk ke dalam liang anus Widi. Widi mulai menjerit kesakitan lagi, tapi Botak mendekatinya dan mengancamnya akan memukuli Widi jika ia terus berteriak. Widi dipaksa untuk merasakan anusnya diperiksa secara brutal oleh Hitam tanpa mengeluarkan suara. Lucy dan Nola dapat mendengar nafas Widi tersentak dan tubuh Widi mengejang setiap kali jari Hitam berputar-putar di dalam anus Widi. Setelah mereka selesai memeriksa tubuh Widi, dengan tangan kembali terborgol ke belakang dan telanjang bulat, Widi dibawa mendekati Lucy dan Nola.
Widi didudukan di atas kursi sementara kedua polisi tadi membawa Lucy ke tengah ruangan. Proses pencarian pada Lucy sama dengan yang dilakukan pada Widi, tapi Lucy ditemukan membawa beberapa obat-obatan untuk dirinya. Ketika polisi menemukan itu, Hitam langsung segera menelanjangi Lucy kembali memeriksa tubuh Lucy secara seksama. Kedua polisi itu secara bergantian memasukan jari mereka ke vagina dan anus Lucy. Setelah mereka selesai air mata sudah meleleh di seluruh wajah Lucy. Selanjutnya Nola mendapat giliran untuk diperiksa. Dan tetap tidak ditemukan sesuatu.

Kedua polisi itu juga memeriksa vagina dan anus Nola dengan jarinya. Rontaan Nola hanya membuat mereka semakin brutal memeriksa vagina dan anusnya. Hitam memasukan jari tengah dan telunjuknya ke dalam vagina Nola, kemudian menekuknya dan memutarnya sehingga ia bisa memeriksa seluruh bagian dalam vagina Nola. Kemudian setelah mereka selesai mereka mulai menanyai ketiga gadis itu yang masih duduk terborgol, telanjang bulat. Karena obat yang ditemukan pada dirinya kedua polisi itu mulai menanyai Lucy. Ketiga gadis itu digiring masuk ke ruangan kedua. Ketika masuk terlihat bahwa ruangan itu kedap suara. Borgol pada tangan Widi dan Nola diikatkan pada rantai di dinding ruangan itu sehingga terikat di atas kepala mereka. Sedangkan Lucy dibawa di tengah ruangan. Tangan dan kaki Lucy diikat, pertama kedua tangannya ditarik oleh tali itu hingga tubuh Lucy terangkat dari lantai dengan hanya bergantung pada tangannya. Kemudian kaki Lucy dikat dan ditarik hingga terbuka dan kedua talinya diikat ke gelang besi di lantai.

Sekarang Lucy tergantung tanpa menyentuh lantai menyerupai huruf X, seluruh berat badan Lucy bergantung pada tangan Lucy yang terikat ke atas. Kedua polisi itu mulai menanyai Lucy mengenai obat yang dibawanya. Lucy berusaha keras menjelaskan itu adalah obat yang diberikan dokter pada dirinya dan bukan obat terlarang. Keterangan itu hanya membuat polisi itu semakin marah. Hitam mendekati lemari yang ada di ruangan itu dan kembali dengan membawa sebuah pecut. Pecutannya yang pertama tepat mendarat di puting susu Lucy. Sunyi sejenak selama Lucy berusaha menghirup udara, sebelum akhirnya sebuah jerit kesakitan terdengar dari mulutnya.

Lucy merasa puting susunya serasa terbakar. Pecutan kembali datang dan jeritan Lucy kembali membahana ke seluruh ruangan. Kedua polisi itu menyiksa Lucy dengan sekuat tenaga, tanpa peduli dengan aturan dalam menanyai seorang tersangka. Dua pecutan kembali diarahkan ke kedua puting susu Lucy. Kemudian Hitam berhenti sejenak menunggu hingga Lucy dapat mengumpulkan tenaga untuk berbicara lagi. Lucy memohon pada mereka untuk berhenti menyiksanya, tapi mereka tetap terus menanyai Lucy tentang obat yang ia punyai dan hubungannya dengan para pengedar exctasy. Botak kemudian berbalik menuju lemari, dan kembali dengan mendorong sebuah unit yang mirip dengan mesin las yang biasa dibawa oleh tukang las keliling.

Unit itu disambungkan dengan saluran listrik di dinding. Botak kemudian mengambil dua buah sambungan dari mesin itu dan mendekati Lucy. Diujung sambungan itu terdapat jepitan buaya berukuran besar yang biasa digunakan untuk mengisi sebuah aki. Botak kemudian memilin dan memijat puting susu Lucy hingga perlahan tapi pasti puting susu Lucy mengeras dan mengacung, yang dengan segera dijepit oleh jepitan buaya tadi. Kembali Lucy menjerit-jerit kesakitan. Botak kembali mengulangi itu pada puting susu Lucy yang lain. Lucy hanya bisa menjerit-jerit ketika rasa sakit menyerang kedua puting susunya sekaligus.

Mesin yang terletak dihadapan Lucy mempunyai tombol putar yang berguna untuk mengatur besar arus listrik yang mengalir ke kabel yang tersambung ke jepitan buaya tadi. Lucy melihat dengan mata ketakutan melihat Botak meletakan tangannya di atas tombol putar tadi. Botak memutar tombol itu sedikit dan jarum penunjuk tampak melompat sedikit. Lucy dapat merasakan getaran di kedua puting susunya. Kembali Botak menanyai Lucy tentang obat-obatan tadi. Dan ketika jawaban Lucy tidak memuaskan dirinya, Botak memutar tombol tadi lebih jauh. Lucy kembali menjerit kesakitan ketika getaran di puting susunya berubah menjadi sesuatu yang menyakitkan dan terus menyebar hingga menyakiti seluruh buah dadanya. Akhirnya rasa sakit itu menjalar keseluruh tubuhnya yang terkejang-kejang. Itu berlangsung selama beberapa menit, dan setiap kali Botak memutar tombol itu lebih jauh lagi setelah berhenti untuk beberapa detik. Dan setiap kali rasa sakit yang terasa membuat Lucy menjerit semakin keras.

Kemudian Botak melepaskan salah satu jepitan buaya tadi dari puting susu Lucy dan menjepitkannya ke clitoris Lucy. Lucy sangat berharap ia bisa pingsan saat itu juga tapi tidak berhasil, dan ia harus merasakan rasa sakit yang kali ini menyerang puting susu dan clitorisnya sekaligus. Lucy masih tetap tidak bisa memberikan jawaban yang memuaskan pada Botak. Dan ia hampir tidak bisa menahan rasa sakit karena aliran listrik yang dialirkan ke seluruh tubunya. Tetapi tetap saja kedua polisi tadi terus menyiksanya. Kaki Lucy terbuka lebar membuat vaginanya terbuka terlihat jelas dengan tubuhnya yang tergantung. Botak kemudian melepaskan jepitan buaya itu dari puting susu dan clitoris Lucy. Dan mengambil sebuah dildo –penis buatan- yang terbuat dari logam. Panjangnya sekitar 30 senti dengan diameter sekitar 5 senti.

Botak kemudian menyambungkan kabel yang tadi tersambung ke jepitan buaya tadi, ke pangkal dildo tadi. Botak kemudian mendekati Lucy. Ia mengacungkan dildo tadi di wajah Lucy sambil mengulangi pertanyaannya soal obat tadi. Lucy sangat ingin menjawab pertanyaan itu, tapi ia sama sekali tidak tahu menahu soal obat-obatan terlarang yang selalu ditanyakan. Botak kemudian menyalakan mesin tadi. Botak memegang dildo tadi pada pangkalnya yang dilapisi oleh karet dan plastik keras. Dan ujung dildo tadi didekatkan pada vagina Lucy.Botak menyeringai ketika ia menempelkan ujung dildo itu pada clitoris Lucy. Dan arus listrik kembali mengalir dari dildo tadi ke clitoris Lucy. Tubuh Lucy kembali mengejang kesakitan ketika aliran listrik kembali mengalir ke seluruh tubuhnya. Lucy kembali menjerit kesakitan. Botak kemudian mengarahkan ujung dildo tadi ke bibir vagina Lucy dan memasukannya ke dalam vagina Lucy.

Rasa sakit karena aliran listrik tadi dan masuknya dildo besar tadi yang membuka vagina dan merobek selaput daranya dengan brutal, membuat Lucy tidak bisa lagi bertahan, setelah dua puluh detik Lucy jatuh lemas dan pingsan.Botak terus menggerakan dildo tadi keluar masuk vagina Lucy selama sepuluh detik lagi. Kemudian ia menarik dildo itu keluar dan mematikan mesin tadi. Ia membiarkan Lucy yang tak sadarkan diri tetap tergantung dan berbalik mendekati Widi dan Nola. Kedua gadis itu melihat semua penyiksaan pada diri Lucy dengan penuh ketakutan.

Mereka sangat ketakutan membayangkan apa yang akan terjadi pada diri mereka selanjutnya.Kedua polisi itu sudah menyadari ketiga gadis itu tidak ada hubungannya sama sekali dengan pengedar obat terlarang tapi mereka memutuskan untuk tetap menanyai Widi dan Nola. Giliran selanjutnya adalah Widi. Widi dibawa ke tengah ruangan tepat disebelah Lucy dan diikat dengan cara yang sama dengan Lucy. Tapi tangan dan kakinya tidak terlalu ditarik hingga Widi bisa berdiri di atas kedua kakinya di lantai. Dan Widi kembali ditanyai, dan jawaban yang di dapat tetap tidak memuaskan.Hitam mengambil sebuah kuda-kuda dari lemari. Kemudian ia memasang dildo logam tadi pada kuda-kuda tadi hingga berdiri tegak dengan ujung menghadap ke atas.

Hitam kemudian mendorong kuda-kuda tadi hingga terletak diantara kedua kaki Widi yang terbuka. Hitam kemudian merendahkan kuda-kuda tadi untuk kemudian memasukan dildo tadi ke vagina Widi. Mesin tadi masih belum dinyalakan sehingga dildo tadi tidak dialiri oleh listrik. Ketika kuda-kuda tadi telah mencapai tingginya, dildo tadi telah masuk sekitar 20 senti ke vagina Widi. Widi dengan kesakitan berusaha berjingkat untuk mengurangi rasa nyeri di selangkangannya. Botak kemudian mengambil sepasang jepitan dan menjepitkannya ke kedua puting susu Widi. Jepitan itu mempunyai desain khusus, sehingga setiap kali kabel yang ada diujungnya ditarik, jepitan itu akan semakin menjepit dengan gigi-giginya yang tajam.

Widi menjerit kesakitan ketika kedua puting susunya dijepit oleh jepitan tadi. Botak kemudian memasukan kabel yang ada diujung jepitan itu pada gelang besi yang ada di langit-langit hingga sekarang setiap kali kabel itu ditarik Widi akan menjerit kesakitan karena gigi jepitan itu menancap makin dalam diputing susunya. Dan kedua polisi tadi mulai penyiksaan pada Widi. Hitam memulai dengan menanyai Widi. Dan setiap kali jawaban Widi tidak memuaskan, sebuah pemberat digantungkan pada ujung kabel tadi. Dengan pemberat tadi kabel itu langsung tertarik dan menyebabkan jepitan tadi makin menancap ke puting susu Widi. Dengan segera puting susu dan buah dada Widi tertarik oleh pemberat yang terus ditambah di ujung kabel tadi. Widi berusaha bergerak maju untuk mengurangi rasa sakit yang ditimbulkan, tapi kuda-kuda dan dildo yang dimasukan dalam vaginanya membuat ia tidak bisa bergerak.

Setiap pemberat ditambah semakin keras Widi menjerit-jerit minta ampun. Jeritan Widi makin lama makin keras, karena Widi merasa puting susunya seakan telah dijepit hampir putus oleh jepitan tadi. Akhirnya, Hitam mendekati mesin listrik tadi dan mulai menyalakannya. Tubuh Widi melonjak ketika aliran listrik tiba-tiba mengalir, membuat tubuhnya menarik jepitan itu mundur dan membuat puting susunya makin sakit. Setiap lima detik sekali sebuah kejutan listrik mengalir melalui dildo tadi. Dan Botak terus menambah pemberat di ujung kabel jepitan tadi. Hitam terus menanyai Widi, tapi Widi terlalu kesakitan untuk bisa menjawab setiap pertanyaan. Widi hanya bisa menagis dan menjerit-jerit, berteriak minta ampun setiap kali kejutan listrik itu mengaliri tubuhnya.

Kedua polisi tadi akhirnya memutuskan bahwa Widi tidak bisa memberikan keterangan apapun. Aliran listrik tadi mulai dilemahkan kekuatannya hingga tidak sekuat tadi, tapi Widi tetap dibiarkan tergantung pada posisi seperti semula, sementara kedua polisi itu mendekati Nola untuk mulai menanyainya. Lucy masih tergantung tak sadarkan diri, sementara Widi dengan kaki terbuka, dan dildo logam dengan aliran listrik dimasukan dalam vaginanya, dan Nola mulai dipersiapkan untuk mulai ditanyai. Kedua polisi tadi menurunkan Lucy dan memborgolnya untuk kemudian menggantungkan borgol tadi pada gelang besi di dinding dan kakinya yang tergantung diikat pada gelang besi di lantai. Borgol di tangan Nola dilepaskan dan Nola digiring ke tengah ruangan tepat di tempat Lucy tergantung tadi.

Nola diperintahkan untuk berbaring terlentang. Kemudian kedua pergelangan kakinya diikat dengan tali yang tergantung pada gelang di langit-langit. Kemudian tali-tali itu ditarik, menyebabkan Nola tergantung dengan kepala di bawah, dan kakinya di atas terbuka lebar. Kepala Nola tergantung sekitar 15 senti dari lantai, dan kedua tangannya diikatkan pada gelang besi yang ada di lantai.Hitam mulai menanyai Nola, masih tentang pengedar obat terlarang. Hitam menyadari Nola juga tidak akan bisa memberinya informasi, tapi ia dan Botak akan tetap menanyainya untuk memuaskan mereka.Botak mendekati Nola dari belakang. Dengan posisi tergantung terbalik dan kaki terbuka lebar, vagina Nola terlihat jelas oleh Botak. Botak kemudian mengambil pentung polisi yang dibawanya dan memasukkanya ke dalam vagina Nola. Nola menjerit-jerit kesakitan, berteriak memohon Botak berhenti menyakiti dirinya, tapi Botak tidak mempedulikannya. Botak malah terus menekan petungannya makin dalam ke vagina Nola. Nola meronta-ronta menarik-narik ikatan di tangannya tanpa hasil.

Botak mulai menggerakan pentungan itu keluar masuk vagina Nola, sementara Hitam melihatnya sambil tertawa senang. Botak akhirnya menarik pentungan itu keluar dan memasukan jarinya ke dalam vagina Nola untuk memeriksa apakah vagina Nola sudah mengeluarkan cairan.Botak melihat selain cairan menempel pada jarinya, darah perawan Nola yang terlihat melumuri jarinya. Hitam masih terus menanyai Nola tanpa bisa dijawab oleh Nola. Hitam kemudian mengambil sebuah pecut.
Pegangan pecut tadi adalah sebuah dildo dan pecut itu terdiri dari sepuluh jalinan sekaligus dengan panjang sekitar 40 senti. Hitam memperlihatkan pecut itu pada Nola, dan Nola kembali menjerit-jerit minta ampun.

Hitam hanya tersenyum dan kembali menanyainya. Ketika Nola masih tidak bisa menjawab, Hitam mendekati Nola dan mengayunkan pecutnya ke selangkangan Nola. Sepuluh jalinan pecut tadi tepat mendarat di vagina Nola, berlanjut ke perutnya. Rasa sakit yang ditimbulkan membuat Nola tersentak dan tidak bisa bernafas selama beberapa detik. Selanjutnya jerit kesakitan Nola terdengar melengking. Hitam terus mengayunkan pecutnya ke selangkangan Nola. Sebelum akhirnya ia berhenti sejenak beristirahat. Sedangkan Nola terus menjerit-jerit ketika rasa sakit di vaginanya terus menyegat menyakiti seluruh tubuhnya. Ketika jeritan Nola berhenti, kembali Hitam mengajukan pertanyaan. Ketika masih tidak bisa dijawab oleh Nola, empat ayunan pecut kembali diayukan ke selangkangan Nola. Jeritan Nola kembali terdengar. Nola tak berdaya melindungi dirinya. Dan ia tidak bisa menjawab pertanyaan Hitam untuk bisa menghentikan ia terus memecuti dirinya. Nola masih terus dipecut untuk beberapa menit kemudian.Akhirnya kedua polisi tadi berhenti dan menjauhi Nola sambil berdiskusi. Mereka berbisik dan menunjuk-nunjuk ketiga gadis itu, kadang tertawa senang, sampai akhirnya mencapai sebuah keputusan.

Botak mengambil sebuah botol minuman keras dari lemari. Kedua polisi itu masing-masing meneguk botol itu, sebelum mereka kembali mendekati ketiga gadis itu. Tangan Nola dilepaskan dari ikatan di lantai. Kemudian kedua pergelangan tangan Nola diikat dengan tali yang tergantung pada langit-langit. Ketika tali-tali itu ditarik dan dikencangkan, Nola sudah tergantung pada kaki dan tangannya. Posisi tubuh Nola tergantung dengan bagian depan menghadap ke atas, kepalanya terdongak tergantung, dengan ketinggian tepat untuk diperkosa. Sedangkan Widi hampir kehabisan nafas, setelah sekian lama disengat oleh aliran listrik setiap lima detik sekali. Setiap kali listrik itu mneyengat rintihan terdengar dari bibir Widi yang memucat. Hitam kemudian mematikan mesin listrik tadi, membuat tubuh Widi terjatuh lemah lunglai, membuat dildo logam tadi terbenam makin dalam ke vagina Widi, dan Widi mengerang kesakitan.

0 comments:

Post a Comment