Pages

Friday, March 16, 2012

Ranjang yang Ternoda 11A: Anissa Teraniaya

STANDARD DISCLAIMER

Cerita ini ditulis dimaksudkan sebagai hiburan bagi mereka yang sudah dewasa baik dari segi umur maupun pikiran dan berpandangan terbuka. Di dalamnya termuat kisah erotis yang menceritakan detail hubungan seksual yang bersifat konsensual dan non – konsensual (normal ataupun paksaan). Jika anda termasuk dalam golongan minor yang masih berusia di bawah umur dan atau tersinggung serta tidak menyukai hal – hal yang berkenaan dengan hal tersebut di atas, tolong JANGAN DIBACA. Masih banyak cerita milik penulis lain yang mungkin memenuhi selera dan usia anda.

Cerita ini adalah karya fiksi. Semua karakter dan peristiwa yang termuat di dalamnya bukanlah tokoh dan peristiwa nyata dan lahir dari fantasi belaka. Kemiripan akan nama dan perilaku ataupun kejadian yang terdapat dalam cerita ini murni ketidaksengajaan dan hanya kebetulan saja. Penulis tidak menganjurkan dan/atau mendukung aktivitas seperti yang diceritakan. Kalau anda mengalami kesulitan membedakan kenyataan dan khayalan silahkan hubungi dokter dan jangan membaca cerita saya lagi sampai sembuh.

Cerita ini diperbolehkan disebarluaskan secara gratis namun tidak boleh digunakan untuk kepentingan komersil tanpa menghubungi penulis dan teamnya terlebih dahulu, kita yang bikin loe yang dapet duit, enak aja. Bagi mereka yang ingin menyebarluaskan cerita ini secara gratis, diharapkan untuk tetap mencantumkan disclaimer ini. Kita udah capek - capek bikin, tolong hormati dikit ya.


Copyright (c) 2011 Pujangga Binal & Friends.
Special Script & Credits : Jay, LustInc, L’esp, Liboy.
Thank you all for your support & permission!)


pujanggabinal.wordpress.com
*********************************

SERIAL: RANJANG YANG TERNODA
BAGIAN SEBELAS A (PART 11(a) OF 12)
ANISSA TERANIAYA

Oleh Pujangga Binal & Friends

Anissa

Anissa melamun. Si manis itu tenggelam dalam lembah pikirannya yang curam, kadang menukik kadang mendaki, tak tentu arah. Tatap bulat matanya yang indah kosong tanpa arah. Ia seperti menatap ke depan namun lamunannya melayang jauh. Bibirnya berulang kali mengucapkan gumaman tanpa arti dan tangannya sering bergetar tak berhenti. Gadis manis itu gugup dan gelisah tanpa alasan. Sikapnya ini jelas tak biasa karena dulu Anissa adalah seorang gadis yang ceria, sikapnya kali ini berbeda 180 derajat dengan sikapnya yang dulu.

“Nis? Anis? Kamu kenapa?”

Suara panggilan lembut seorang gadis membangunkan Anissa dari lamunan yang memenuhi pikiran. Si cantik itu tak sadar kalau sebenarnya ia telah dipanggil lebih dari empat kali sebelum akhirnya sadar dan menjawab.

“I…. iya…” gugup Anis menjawab. Ia menyeka pelupuk matanya yang seperti berair.

“Kamu kenapa, say?” tanya Ussy, gadis yang saat itu duduk berdua dengan Anissa. Aprilia Ussy Indriani adalah seorang sahabat yang sudah paham luar dalam Anis, oleh sebab itu sikap Anissa yang berbeda dari biasanya membuatnya khawatir.

“A… aku nggak apa – apa.” Secara reflek Anissa membenahi rok dan rambutnya yang sebenarnya masih rapi, Ia mencoba tersenyum pada Ussy. Anis tidak sadar lamunannya baru saja melayang begitu jauh tanpa bisa ia kendalikan sampai – sampai ia tidak mendengar Ussy mengajaknya berbincang. Banyak yang ia pendam, banyak yang ia simpan, namun walaupun Ussy adalah sahabat sejatinya, tentu saja ia tak bisa menceritakan segala sesuatunya begitu saja, terlebih lagi… masalah itu… rahasia itu… pria tua bajingan yang telah merenggut kebahagiaannya itu…

Ussy mengernyit ragu, “…yakin? Aku di sini, say. Kamu bisa cerita apa saja. Sejak dulu kita selalu berbagi susah dan senang. Kamu percaya kan sama aku?”

“Beneran, aku nggak apa – apa.” Anissa tersenyum manis, senyuman yang telah merontokkan hati banyak pria di kampus yang hanya bisa menikmati dari jauh. Siapapun tahu Anissa telah menyerahkan hatinya pada Dodit sehingga sebagian besar dari mereka sudah mundur teratur. Mereka yang mundur biasanya mengalihkan sasaran dengan mengejar Ussy, sahabat Anis. Ussy sendiri memang tidak kalah cantik dari Anis, bahkan ia lebih tinggi dan beberapa kali menjadi model iklan walaupun skalanya lokal. Namun hingga saat ini, Ussy lebih memilih untuk sendiri, ia belum ingin berpacaran dengan siapapun. Dibandingkan Anis yang introvert, Ussy lebih terbuka dan banyak bicara, namun demikian ia tidak ingin memilih tambatan hati sampai nanti selesai kuliah.

Saat itu Anis dan Ussy sedang duduk di kursi taman yang ada di samping kantin kampus X yang asri. Keduanya tengah menikmati milkshake yang baru saja mereka beli. Ussy tentu saja sadar kalau sahabatnya tidak menaruh perhatian pada minuman yang terhidang di hadapan mereka. Sejak pulang dari berlibur ke rumah kakaknya beberapa bulan yang lalu, ada yang berbeda dengan Anis. Ia jadi pendiam dan terlihat selalu gelisah. Apa yang telah terjadi pada sahabatnya ini?

“Say… aku ini sahabatmu. Kita kenal sejak SMP. Aku tahu kamu luar dalam, dari A sampai Z, dari ujung rambut ke ujung jempol kaki. Aku tahu dimana letak semua tahi lalatmu, aku tahu dimana kamu menyimpan foto idolamu, aku tahu berapa uang yang ada di dompetmu. Singkatnya, aku tahu kalau ada yang salah sama kamu.” Ussy menepuk lutut Anis. “Berjanjilah padaku kalau ada apa – apa kamu bakal cerita sama aku?”

Anissa tersenyum, “janji.”

“Halo gadis – gadis cantik… apa kabar kalian hari ini?” satu suara serak tiba – tiba datang menghampiri. Ussy dan Anissa mengerlingkan mata dengan sebal, mereka tahu pasti siapa pria pemilik suara yang lantang dan tidak enak didengar itu.

“Aku kira Non Anis yang cantik jelita bagai bidadari khayangan turun ke bumi sudah tidak lagi menginjakkan kakinya yang jenjang panjang indah dan menawan ke kampus? Sungguh bagaikan sebuah kejutan yang menyejukkan hati di hari yang gersang.” Pria yang baru datang itu langsung duduk di samping Anis sambil mengucapkan kata – kata yang ia pikir sangat romantis dan puitis padahal amat gombal. Ussy dan Anis malah berpegangan tangan erat dan berusaha sekuat tenaga menahan tawa. “Bagaimana kabar kalian, wahai kaum wanita jelita idaman semua pria? Aku begitu rindu pada kehadiran kalian berdua di kampus, kehadiran kalian ibarat tetesan air hujan yang bening yang turun menyegarkan hari.”

Tubuh Ussy gemetaran menahan tawa dan matanya berkaca – kaca. Melihat temannya sudah tak mampu lagi menahan cekikikan, Anissa dengan sangat terpaksa meladeni kicauan tak enak agar pemuda bersuara parau tidak marah karena mereka tertawakan. “Kabar kami baik. Kabarmu bagaimana, Din?”

Udin meringis lebar mendengar Anissa membalas sapaannya. Ia tak mempedulikan wajah Ussy yang sudah merah menahan tawa.

“Kamu semester ini selesai kan, Nis?” tanya Udin lagi.

“Iya, seharusnya sudah selesai. Tinggal menyusun skripsi dan ambil satu mata kuliah buat perbaikan nilai.” Jawab Anis sambil menganggukkan kepala, ketika ia melirik ke sebelah rupanya Ussy lebih memilih tenggelam menyusuri dunia maya melalui telepon genggam daripada melayani obrolan Udin. Dasar curang, batin Anissa sambil tertawa dalam hati ketika melihat kedipan mata Ussy.

“Tidak kusangka nona sepintar Anissa ini juga harus mengulang kuliah?” Udin mulai gombal lagi, “mata kuliah apa yang kau ulang, wahai Anissa yang mempesona?”

“Aku ambil ulang kuliah manajemennya Pak Doni, dulu di semester – semester awal aku banyak bolosnya.”

“Pak Doni yang mana? Di kampus ini kan ada dua Pak Doninya. Pak Doni yang orangnya kurus rambutnya beruban atau Pak Doni yang gemuk item?”

“Pak Doni yang gemuk dong, memang Pak Doni yang kurus mengajar mata kuliah X? Nggak kan?” senyum Anis. Wajahnya yang manis membuat Udin makin berdebar, seandainya saja si molek ini belum memiliki tunangan, hanya seandainya saja, betapa bahagianya dia…

Sesosok tubuh gemuk milik Pak Doni yang baru saja mereka bicarakan terlihat meninggalkan mobil dari tempat parkir dan melangkah menuju kelas. Anis yang melihat kedatangan Pak Doni segera mengemas bawaannya. “Eh, aku duluan ya, itu Pak Doni udah datang.” Ucap Anis yang langsung disambut guratan wajah kecewa Udin.

“Ok, say.” Angguk Ussy, “Ingat yang tadi ya, kalau ada apa – apa cerita sama aku.”

Anis terdiam, seperti hendak menjawabnya dengan sebuah kalimat yang panjang, tapi dia kemudian hanya menunduk dan mengangguk tanpa mengeluarkan kata – kata tambahan. Sedetik kemudian ia berlalu pergi menuju kelas. Ussy hanya bisa memandang sahabatnya yang melangkah meninggalkan mereka tanpa berucap, ia bersumpah bisa melihat setitik air mata di ujung pelupuk mata Anissa. Ayolah Anis, apa yang telah terjadi? Kenapa kamu jadi seperti ini?

“Cerita apa memangnya?” Udin bertanya sambil menggaruk – garuk kepala. “aku juga mau dong diceritain.”

Ussy menggerutu, uh. Kok jadi dia berduaan sama Udin begini? “Kapan – kapan ya, din. Eh, aku cabut dulu ya. Mau ketemuan sama dosen juga.”

“Dosen siapa?”

“Siapa aja yang mau ditemuin.” Cibir Ussy.

Udin kembali menggaruk kepala.

###

Lidah Anissa terasa kelu saat Pak Doni duduk di meja kerja dan memeriksa pekerjaan yang dikumpulkannya. Sebagai dosen yang dianggap sudah senior, Pak Doni memiliki ruangannya sendiri di kampus, dia sering duduk berjam – jam di tempat ini dan memberikan bimbingan pada para mahasiswanya mengenai skripsi atau keperluan lain. Ruangan Pak Doni terletak di lantai empat gedung perkuliahan kampus X, sore ini hanya dialah satu – satunya dosen yang masih memberikan bimbingan untuk mahasiswanya dan dari antrian bimbingan, Anissa adalah yang terakhir.

Ketika langit mulai gelap, barulah Anis bisa masuk.

“Silahkan duduk.”

“Terima kasih, Pak.”

Dengan sopan Anissa duduk di kursi yang terletak tepat di depan meja kerja Pak Doni. Keringatnya menetes deras, tubuhnya bergetar dan ia tidak nyaman duduk di kursi. Pikirannya melayang sementara pandangan matanya mulai kabur. Anissa berusaha keras untuk bisa fokus.

“Saya sebenarnya heran kenapa kamu mau mengulang di kelas saya. Nilai kamu lebih dari cukup untuk mendapatkan IPK yang di atas rata – rata. Bahkan cukup tinggi dibandingkan kawan – kawanmu. Tanpa nilai dari sayapun, kamu sudah bisa lulus dengan memuaskan seandainya ujian skripsimu sukses.” Pak Doni tersenyum puas melihat hasil kerja Anissa, “ini bisa dibuktikan dari revisi laporan kerja praktek yang baru saja kamu kumpulkan, walaupun bukan hasil yang terbaik, ini sudah lebih dari cukup.”

“Mungkin saya termasuk tipe perfeksionis, Pak. Saya ingin yang terbaik.”

“Begitu ya….”

“Karena Pak Doni juga dosen pembimbing PKL saya, maka saya pikir lebih baik saya mengulang mata kuliah terakhir ini di kelas Pak Doni. Lagipula, kalau saya mengulang di kelas Pak Untung, saya takut tidak bisa mendapatkan nilai yang saya inginkan. Pak Untung membenci saya, Pak.” Keluh Anissa sembari menundukkan kepala.

Anissa memang tidak bohong, dulu gadis itu pernah secara tidak sengaja bertemu dosennya yang bernama Untung itu sedang bermesraan dengan seorang wanita muda yang bukan istrinya di salah satu pusat perbelanjaan. Sejak saat itu Pak Untung membencinya, kebencian Pak Untung terhadap Anissa juga sudah diketahui dosen sejawat termasuk Pak Doni sehingga sudah jadi rahasia umum. Anissa melanjutkan keluhannya, “beliau pernah bilang kalau saya ini mahasiswi yang sok tahu dan senang berdandan menor. Beliau juga bilang… kalau saya norak dan…”

“Aku tidak bisa mengerti kenapa dia mengatakan itu, dandanan kamu natural. Kamu sangat cantik dan mempesona, seksi dan…” kata yang keluar dari mulut dosen setengah baya itu bagaikan terbang menyesaki isi ruangan, membuat kedua insan yang berada di dalamnya terhenyak kaget saat menyadari apa yang baru saja terucap.

Mata Pak Doni terbelalak lebar menyadari kesalahucapannya, dia berusaha memperbaikinya dengan gugup, “ma… maksud saya, kamu menarik dan pintar dan…”

“Menurut saya bapak juga… gagah dan tampan.”

Kata manis yang keluar dari mulut Anis itu bagaikan petir yang segera menyambar sang dosen, wajah Anissa pun menjadi merah ketika ia sadar kata – katanya membuat Pak Doni salah tingkah, kalau dibilang gagah tubuh besar Pak Doni memang masih cukup gagah, namun kalau tampan? Sepertinya itu jauh dari khayalan. Polah tingkah Pak Doni mendadak menjadi aneh, dia bangkit dari kursinya, melangkah dengan ragu menuju ke arah pintu, wajahnya menunduk seperti memikirkan sesuatu dengan sangat serius.

Dosen setengah baya itu membuka mulut tanpa mengeluarkan suara, melihat ke bawah, menyunggingkan senyum malu dan memastikan pintu benar – benar sudah tertutup, gerakannya seperti ragu – ragu dan penuh dilema. Ia bersandar di pintu dan memasukkan tangannya ke kantong celana. Ia menatap Anissa lekat – lekat.

“Anissa, apa kamu tidak sadar? Kata – katamu yang manis tadi membuat dosen tua seperti aku ini merasa muda kembali. Jangan buat aku canggung.” Senyum mengembang di bibir Pak Doni. “Jangan kau ulangi lagi, ya…”

Anissa menggeleng, keringatnya terus mengalir, ia berusaha keras untuk tidak menunjukkan perasaan ini, mencoba bertahan dari gejolak yang terus menggerogoti dan merangsek menghancurkan ketabahannya… tapi… perasaan ini muncul tanpa bisa ia kendalikan, begitu berdentum, mengeras dan makin mendaki, Anis tak tahan lagi… dia ingin memeluk Pak Doni, menciumnya, membiarkan tangan dosen tua itu menyentuh paha dan dadanya, membiarkan pria setengah baya itu memeluk dan menyetubuhinya… membuatnya merasa… astaga!! Apa yang dia pikirkan?!! Anissa! Apa kamu sudah gila?!!

Gejolak batin Anissa berperang dalam diri gadis muda itu.

Dia dosennya, dia dosennya, dia dosennya… berulang – ulang kali kata – kata itu berusaha ditusukkan ke dalam sanubari Anissa. Tapi… perasaan dalam hatinya ini tidak bisa ia tipu… ia menginginkannya, Anis menginginkan Pak Doni. Ia ingin bercinta dengan Pak Doni…! Saat ini juga!

Si cantik itu terkejut sendiri dengan perasaannya yang tiba – tiba saja menjadi liar. Sedari tadi ia sudah berusaha menahan, namun sepertinya ia tidak tahan lagi… perasaan ini membuatnya ingin mati saja… Anissa mengutuk orang yang telah dengan kejam membuat ia jadi haus seks seperti ini…

Tiba – tiba Anissa menyadari sesuatu.

Celaka! Hanya berdekatan begini saja sudah membuat selangkangan si cantik itu mulai basah! Gadis itupun menggigit bibir bawahnya. Bagaimana menghentikan perasaan ini? Bagaimana meredamnya? Bagaimana membuat dirinya sendiri sadar? Ia benci sekali perasaan yang muncul ini! Benci!

“Anissa…?” panggil Pak Doni heran, suaranya terdengar parau karena ia berulangkali meneguk ludah berusaha menghadang pesona Anissa yang luar biasa menggoda. Batin Pak Doni berperang… ini gawat sekali, kenapa ia tidak bisa mengalihkan pandangan matanya sekejap saja? Mengapa ia tak bisa melepaskan mata dari pesona Anissa? “…ke… kenapa kamu? A..Apa kamu sakit? Ada yang bisa aku… bantu…?”

“Ma… maaf, Pak. Saya tidak bermaksud menyinggung Bapak… maksud sa… saya…”

“Apa yang kamu katakan tadi sama sekali tidak menyinggung aku sedikitpun.” Kata Pak Doni lembut, ia berusaha bijak… namun mata dosen tua itu langsung terbelalak kaget ketika melihat tangan Anis mulai menyingkap rok yang ia kenakan sedikit demi sedikit untuk memperlihatkan paha putih mulus bagai pualam. Pak Doni sampai mundur karena takut dan kaget.

“Anissa…? Apa yang kamu lakukan?” Pak Doni menjadi sangat kebingungan oleh ulah mahasiswinya yang sangat seksi ini. Apa yang harus dia lakukan? Kenapa Anissa malah mulai menggodanya? “Apa yang ingin kamu…” suaranya tercekat karena ia tak mampu menahan panasnya nafsu birahi menggelegak memakan jiwanya.

“Tidak ada…” Dengan sengaja Anis mengangkat roknya hingga terlihat semakin pendek. Gerakannya begitu jelas terlihat sehingga Pak Doni bisa menduga hal itu disengaja, celana dalam hitam yang kontras dengan kulit putih mulus sang dara menjadi terlihat jelas oleh Pak Doni. Mata dosen setengah baya itu kian terbelalak dengan lebar. Suara mendesah Anissa kian parau, “…Bapak tidak suka?”

Pak Doni berhenti sejenak, kepalanya berputar keras memikirkan sesuatu. Bagaimana ini? Apa yang harus dilakukan? Apa yang harus diperbuat? Kenapa ini terjadi? Dosen setengah baya itu mulai berpikir mempertimbangkan logika. Ia mencoba menekan nafsunya sekuat tenaga.

Tapi… tapi sebenarnya ada yang aneh… ini baru pertamakalinya dia menyaksikan Anissa bertingkah laku aneh seperti ini, apakah mungkin…

“Kamu sengaja mengambil ulang mata kuliah yang aku ajarkan… untuk menarik perhatianku… agar bisa merayuku?” tanya Pak Doni yang terheran – heran, ia memandang ke arah Anis dengan pandangan tajam yang tak bisa dielakkan oleh gadis itu. Tidak mungkin wanita secantik Anissa yang bisa dengan mudah mendapatkan pria manapun yang ia mau mencoba merayu dosen tua seperti dirinya, pasti ada udang di balik batu. Anis menggeleng kepala, mencoba fokus pada apa yang ia kerjakan, mencoba menghindar sebisa mungkin dari nasib buruk yang akan segera menimpa mereka berdua, tapi itu sangat tidak mungkin. Ada pertentangan di batin Anissa, antara apa yang dia inginkan berbeda dengan apa dibutuhkan tubuhnya. Anis tahu ia tidak bisa menghindar. Seorang dosen dan mahasiswi… berdua saja… ini akan jadi skandal di kampus, reputasi keduanya jadi taruhan… tapi… ia benar – benar tidak tahan lagi… ia ingin segera… melakukannya…

Anis menghunjukkan dadanya ke depan, berharap sang dosen juga melihat keindahan payudaranya. “Apa yang saya lakukan salah, Pak?” tanya Anis dengan suara yang dibuat – buat. Dia bukan perayu ulung, tapi… ada sesuatu yang mempengaruhi alam bawah sadarnya yang membuat Anis ingin mengucapkan kata – kata itu dengan mesra. Ketika melihat ke selangkangan Pak Doni, Anis bisa melihat gundukan kubah yang membesar di bawah sana. Anissa menelan ludahnya. Pak Doni yang menyadari pandangan Anissa tertumbuk pada bagian bawah celananya yang membesar menjadi tersadar dan malu, secara reflek dosen tua itu menutupinya. Wajah Anissa menjadi memerah turut malu.

“Anissa, mengapa kau harus begitu mempesona?” suara itu tipis bagaikan kabut, lembut hampir tak terdengar. Kewibawaannya menghilang berganti dengan parau penuh nafsu. Dosen hebat itu, yang berwibawa dan dihormati, ternyata juga manusia biasa. Anissa menatap wajah sang dosen yang penuh kerut dan sedikit menyeruak penyesalan tak berdasar dalam batinnya, kenapa… kenapa harus Pak Doni?

Pak Doni mengunci pintu dan Anis pun bangkit, degup dadanya makin menghebat. Ia makin tegang menanti apa yang akan datang.

Anissa bingung tidak tahu apa yang harus dilakukan, apakah Pak Doni akan melakukannya? Apakah dia… akan… menyetubuhinya di sini? Di ruang dosen ini? Ruangannya cukup tertutup dan saat ini mereka hanya sendirian di lantai 4 gedung ini sehingga mungkin saja Pak Doni akan… atau… atau jangan – jangan Pak Doni justru akan mengusirnya? Tidak mungkin, pintunya baru saja dikunci. Atau akan mempermalukannya karena telah merayu dosen sendiri? Masa sih? Pikiran si cantik itu mengalir deras tanpa bisa dibendung, dadanya berdentum karena detakan jantung yang menghebat. Anissa sadar sepenuhnya melihat gundukan di selangkangan Pak Doni makin membesar.

Tiba – tiba saja Pak Doni melangkah mendekati Anis, jemari tua itu bergetar saat menyentuhnya. Dengan gemetar Pak Doni menarik pundak Anis untuk mendekat hingga bibir mereka hanya beberapa centimeter saja jaraknya. Pak Doni menyentuhkan telunjuknya untuk menelusuri bibir merah Anissa dan sensasinya membuat si cantik itu merinding. Tiba – tiba saja Pak Doni mencengkeram pelan wajah Anis yang mungil dan mendorong bibirnya untuk bisa mencium lembut si cantik itu. Anissa mendesah pelan merasakan ciuman Pak Doni, ia menempelkan tubuhnya pada sang dosen, menarik dasi yang ia kenakan dan memintanya mencium lebih hangat lagi.

Anis memang sudah tidak peduli lagi apa yang akan ia lakukan. Ia bisa merasakan benda mengeras di selangkangan Pak Doni bertumbukan dengan pahanya. Mata keduanya terbuka dan Anissa mundur perlahan, tiba – tiba saja menyadari sesuatu dan merasa malu, tapi kini justru Pak Doni yang sudah bangkit nafsunya tidak bisa berhenti begitu saja, ia menginginkan Anissa!

Pak Doni yang sudah hilang akal kembali mencium bibir Anissa lagi, kali ini tidak lagi dengan kelembutan, ciumannya keras, menuntut, menginginkan. Lidah pria setengah baya itu maju menusuk bibir Anis, mencari pasangannya. Si cantik pun melenguh mesra ketika lidahnya juga ingin segera bertemu, saling merasakan manisnya bercinta. Tangan mungil Anissa tanpa sadar bergerak naik untuk melepas kancing baju pakaian yang dikenakan oleh sang dosen. Satu persatu kancing lepas dengan mudah, Anissa tak perlu waktu lama untuk meloloskan pakaian luar dan pakaian dalam yang dikenakan oleh Pak Doni. Kulit yang mulai berkerut tidak menjijikkan bagi Anis, ia merasakan gerakan otot yang bergerak di bawah kulit itu. Saat masih muda Pak Doni pasti gemar berolahraga karena dadanya masih menyisakan sedikit keperkasaan masa lalu. Jemari lembut yang menari di atas dada membuat Pak Doni gelagapan, ia memejamkan mata karena keenakan.

Anissa mencium bibir Pak Doni sekali lagi dan mata pria setengah baya itu mengejap terbuka ketika tangannya diangkat oleh Anis dan diletakkan didadanya yang montok. Anis memejamkan mata sekejap ketika merasakan pentil susunya mengeras di bawah behanya. Si cantik itu mendesah ketika Pak Doni mulai melucuti pakaiannya, sama seperti yang ia lakukan pada sang dosen. Pria setengah baya itu berdecak kagum, ia tengah menyaksikan tubuh terindah yang pernah ia saksikan seumur hidup. Setiap centimeter lekuk tubuh Anissa begitu sempurna. Pak Doni benar – benar terperangah menyaksikan keseksian mahasiswinya ini. Kalau boleh jujur dia pernah membayangkan seperti apa tubuh Anissa, tapi ini tidak seperti bayangannya. Ini jauh lebih menggiurkan!

Ketika kesabarannya mulai menipis, Pak Doni menyingkirkan baju Anis yang sudah ia copot untuk melepas kaitan beha di punggung si cantik. Sembari mencopot, Pak Doni menghembuskan nafasnya di belahan dadanya. Ini membuat Anis merinding, terlebih lagi ketika dosen itu juga mencium dan menjilati gunung kembarnya ketika behanya sudah terlepas. Tak tahan melihat buah dada yang begitu montok, Pak Doni mendekap erat Anis hingga dada mereka saling menempel, kulit yang bergesekan bagaikan baja yang diasah, menimbulkan percikan nafsu yang makin bergemuruh. Begitu indahnya perasaan itu sehingga tidak bisa dituliskan dengan kata – kata.

Pak Doni makin tak sabar, ia mengangkat tubuh Anis, mendudukkannya di tepi meja, lalu secara beruntun mengangkat rok yang dikenakan si cantik itu hingga sampai ke pinggang, paha mulus bidadari itu menggugah semangat Pak Doni, apalagi ketika pria setengah baya itu juga melihat celana dalam hitam mungil yang dikenakan. Wajah Anissa memerah karena malu, selain Pak Bejo yang dulu pernah memperkosanya, Pak Doni adalah pria kedua yang bisa mendapatkan akses ke selangkangannya. Padahal tunangannya sendiri, Dodit, malah belum pernah sekalipun menyentuhnya. Ketelanjangannya mulai menyergap relung batin Anis, aneh sekali rasanya ia tampil tanpa busana di hadapan seorang dosen yang biasa mengajarnya. Malu dan aneh.

Seperti menyadari wajah Anis yang terus saja semburat memerah, Pak Doni mendoyongkan badan ke depan dan berbisik tepat di samping telinga si cantik itu. “Aku menginginkanmu, cantik. Ijinkan aku memiliki tubuhmu…”

Tanpa perlawanan sedikitpun, Anis menutup mata dan mengangguk. Ia membayangkannya seperti sebuah mimpi, seperti bayangan dalam angan yang berselimutkan hawa nafsu. Dengan senyum nakal si cantik itupun menurunkan celana dalamnya. Melihat ini, Pak Doni buru – buru melepas celana dan boxernya, dia membiarkannya jatuh ke pangkal kaki, Pak Donipun kini telah telanjang menyusul Anis. Pria setengah baya itu mendekati Anis dengan batang kemaluan yang mengeras tegak seperti pancang yang berdenyut dan tebal.

Ketika membuka mata Anissa terbelalak melihat benda itu telah menegak di hadapannya. Ukurannya yang jauh lebih besar dari milik Pak Bejo juga membuatnya kaget. Anissa menggigil, dia takut… takut sekali… tapi… di tengah rasa takutnya ada… ada perasaan ingin… ingin merasakan benda itu masuk dan menghunjam di dalam liang kewanitaannya. Perasaan menggebu yang membuat jantungnya serasa ingin terlepas.

Pak Doni menatap mahasiswinya yang molek bagai bidadari itu lekat – lekat. Mereka pernah saling bertatapan saat berada di dalam kelas, tapi tidak seperti ini. Anissa membuka lebar kakinya yang jenjang supaya Pak Doni bisa menyeruak masuk. Tanpa aba – aba, pria setengah baya itu menggiring pancang kemaluannya tepat di mulut liang kewanitaan Anis. Ia mulai menggerakkan batang itu naik turun di bibir kemaluan si cantik, merasakan cairan pelumas yang keluar dari mulut kemaluan dan membuat mahasiswinya itu menyentak – nyentak penuh nikmat. Anissa makin terangsang, itu tidak bisa dipungkiri, terlebih ketika pancang kemaluan Pak Doni menggesek perlahan klitorisnya yang menegang. Anissa mendesah panjang. Merasa tepat sasaran, Pak Doni mengulanginya lagi dan lagi dan lagi dan lagi… tiap kali ujung gundul pancang kemaluan Pak Doni menggesek klitoris Anis, gadis cantik itu melenguh keenakan. Ia benar – benar tak berdaya.

Namun saat Anis sudah menanti benda keras itu masuk ke dalam liang kewanitaannya, Pak Doni malah menarik tubuhnya, membuat si cantik itu terheran – heran. Mereka bertatapan lagi, kali ini wajah Anis yang sudah penuh nafsu tidak bisa disembunyikan lagi, dia ingin Pak Doni segera melakukannya! Cepat Pak… cepat… setubuhi aku! Batin Anis yang sudah mulai tak sabar.

Pak Doni rupanya memang ingin bermain sebentar, ia justru menyodokan jemarinya masuk ke dalam liang vagina Anis secara tiba – tiba. Karena tak siap, Anissa pun menjerit tertahan!

Jemari Pak Doni bergerak cepat menyodok – nyodok di dalam liang kewanitaan Anis, membuat cairan cintanya kian membanjir di atas meja. Dengan wajah yang penuh nafsu Pak Doni menarik jemarinya, mengangkatnya dan menjilati cairan cinta yang ada di telunjuknya dengan penuh kenikmatan.

Melihat apa yang dilakukan Pak Doni membuat wajah Anis kembali memerah, ia sama sekali tidak menyangka dosennya yang tenang dan berwibawa itu ternyata begitu liar saat bermain cinta. Ini membuat Anissa merasa sangat malu.

Sekali lagi Pak Doni mendorong tubuhnya ke depan untuk berbisik langsung di telinga Anissa, begitu dekatnya bibir itu sehingga saat terbuka, ia bersentuhan dengan telinga si cantik. “cairan cintamu manis sekali rasanya…”

Sekali lagi Pak Doni mengambil posisi seperti semula, tiang penisnya berada di depan mulut vagina Anissa yang telah menanti. Anis melirik ke mata sang dosen dan Pak Doni memberikan senyuman selintas. Anis mendengus dan menjilat bibir dengan gerakan manja. Gila! Apa yang ia lakukan? Batin Anis tanpa sadar, apa yang telah ia lakukan? Sekali lagi si cantik itu mendesah penuh penantian, betapa ia menginginkan batang kemaluan Pak Doni segera masuk ke dalam liang cintanya dan mengakhiri penderitaan yang nikmat ini.

Pak Doni ternyata juga sudah tidak tahan, dengan gerakan pelan tapi pasti dia menyodokkan penisnya masuk ke dalam vagina Anis. Bidadari jelita itu melenguh dalam lautan kenikmatan, penis itu begitu besar dan penuh dalam liang kewanitaannya yang mulai membanjir. Tekanan yang datang dari pinggul Pak Doni mengeraskan batang kemaluan sang dosen dan itu membuat Anissa makin tak tertahankan. Hawa nafsu binatang memenuhi relung batin sang bidadari, dia hanya ingin disetubuhi, terus menerus, keras dan lebih keras lagi, ia sendiri tak tahu bagaimana perasaan ini bisa datang. Namun ketika dahaga nafsu itu datang, Anis harus menenggak kenikmatan kalau tak ingin kehausan!

Si cantik melakukan hal yang tak disangka – sangka lagi, ia menarik pantat Pak Doni dan menghantamkan kemaluannya ke dalam berulang – ulang dengan sangat keras seakan ingin meremukkan selangkangannya sendiri. Mata Pak Doni terbelalak dan pria setengah baya itu melenguh sangat keras karena kenikmatan yang tak terperi. Begitu juga dengan Anissa, rasa nikmat tak terbayangkan itu membuatnya menjerit tak tertahan, ia harus menutup mulutnya sendiri supaya teriakan itu tak terdengar dari manapun.

Dosen setengah baya itu hanya diam saja untuk sesaat, membiarkan Anis terbiasa dengan ukuran penisnya yang terus menerus membuat bidadari mungil itu melenguh antara sakit dan nikmat, ketika Anis sudah mulai enak, Pak Doni kembali mendorong kemaluannya dengan kecepatan yang makin mendaki, Anis menarik kepala Pak Doni dan membisikkan kata – kata yang ia sendiri kaget bisa ia ucapkan pada lelaki yang bukan Dodit.

“Aku mohon… aku mohon… le… lebih cepat… lebih cepat lagi…”

Pak Doni yang sempat terkejut mendengar bisikan itu berhenti bergerak dan menatap ke arah Anis, ia menggigit bibir bawahnya ketika menyaksikan kemolekan wanita yang kini sedang ia tiduri. Matanya tak berhenti mengamati, rambut panjang yang halus dan indah, wajah cantik dengan mata bulat yang menyipit karena keenakan, alis tajam bagai burung elang, hidung indah bagai ukiran, bibir mungil yang nikmat dikulum, kulit putih mulus sehalus pualam, buah dada montok yang kenyal, memek yang sempit dan menekan, paha halus mulus, kaki panjang jenjang. Semuanya luar biasa. Pak Doni tengah berada di surga. Pria setengah baya itu bisa merasakan kemaluannya berdenyut di dalam vagina si cantik, seakan menanti. Pak Doni menarik penisnya keluar sedikit… sedikit saja… lalu…

Jleb! Jleb! Jleb! Tiba – tiba, dengan gerakan yang tak bisa diduga pria setengah baya itu mulai bergerak dengan sangat cepat! Meja tempat mereka bercinta ikut bergoyang dengan kerasnya, menimbulkan bunyi yang tak bisa ditahan. Anissa berkeringat deras, nafas mereka beradu. Dengusan Pak Doni makin keras terdengar, menghembus dengan sangat terasa di buah dada Anis yang telah bermandikan keringat. Anis yang kehabisan nafas mendorong dosennya supaya menjauh dan membagi udara untuk sesaat. Pak Doni melihat ke bawah keheranan ketika Anis tiba – tiba saja memegang lengannya untuk memutar.

Anis menarik lengan Pak Doni, memutar tubuh mereka, lalu menghempaskan keduanya ke atas meja, tangan pria setengah baya itu bergerak cepat untuk menyingkirkan apa saja yang ada di atas meja yang tadi belum sempat dibersihkan. Anis mengangkat kemaluannya di atas Pak Doni untuk beberapa saat lamanya, menggoda pria tua yang kembali menjadi tidak sabar itu. Si cantik itu menurunkan tubuhnya dan mulai mengendarai penis yang tegak seperti tugu. Mereka berdua kembali bergerak maju mundur, sama – sama memejamkan mata dan menikmati kerja selangkangan mereka yang memberikan kenikmatan hingga ke ujung ubun – ubun. Lenguhan terdengar dari bibir keduanya, lenguhan itu tak lama karena Pak Doni dan Anis seakan tak bisa memisahkan mulut mereka, sebentar saja berpisah, keduanya langsung berpagutan, saling mencium dan menjilat. Anissa merem melek, merasakan gerakan benda panjang dan keras di dalam tubuhnya membuat si cantik itu tak tahan lagi, apalagi ketika tangan Pak Doni mulai meraih pinggang Anis dan ia menarik pantat Anis ke bawah supaya penisnya bisa masuk makin dalam.

Anissa melenguh dan terengah, keringat sebesar jagung menetes menuruni kening, turun hingga ke buah dadanya yang melonjak – lonjak. Anissa melemparkan kepalanya ke belakang ketika Pak Doni menyentuh klitorisnya dengan satu tangan sementara tangan yang lain meremas – remas buah dadanya. Berulangkali si cantik itu mengeluarkan lenguhan keenakan yang membuat Pak Doni makin mempercepat kocokannya pada klitoris Anissa. Tak perlu waktu lama untuk membuat vagina Anis banjir cairan cinta. Terus menerus didera kenikmatan, Anis memejamkan mata karena ia merasakan dirinya mulai mendaki ke arah puncak, si cantik itu memeluk Pak Doni erat dan merasakan dinding vaginanya meremas penis yang masih terus bergerak maju mundur.

Rasa nikmat itu juga dirasakan sang dosen yang meneriakkan kenikmatan, “…ouuughhh Anisssaaa!!” suaranya yang biasanya berwibawa kini penuh dengan nuansa nafsu binatang, Pak Doni tak tahan lagi dan dalam beberapa kali sentakan dosen setengah baya itu akhirnya mengeluarkan cairan cintanya di mulut vagina Anis tanpa halangan, sebagian masuk ke dalam. Cairan cinta meleleh dari mulut kemaluan Anis, ke atas meja tempat mereka bersenggama melalui pahanya yang mulus seputih pualam.

Setelah beberapa saat saling menarik nafas, Anis menarik tubuhnya, melepaskan diri dari pelukan Pak Doni dan merasakan penis dosennya itu mulai mengecil sebelum akhirnya ditarik keluar.

Suasana menjadi tenang, tanpa desahan, tanpa lenguhan, tanpa teriakan.

Anissa mengejapkan mata seakan tidak percaya apa yang telah dia lakukan. Dia sedang berada di ruang dosen, terbaring di atas meja. Dingin kayu yang menyentak membuatnya sadar dan ingin bangkit, namun tangan besar yang lembut memeluk tubuhnya dan melindunginya dari dingin. Anis mengejap sekali lagi, melihat sepasang mata yang menatapnya dan tubuhnya pun luruh lemas. Senyum lembut sang dosen membuat Anis tak tega untuk berontak, ia paksakan dirinya untuk tersenyum sementara dentum dadanya perlahan mulai kembali normal, dada mereka saling menumpuk. Pak Doni menurunkan kepala untuk kembali mengecup bibir mungil Anis dan mereka berciuman dengan lembut selama beberapa detik, saling menimpa dan melumat. Pak Doni merasa sangat beruntung ia masih bisa menikmati gadis secantik Anis di usianya yang sekarang. Ia berulangkali menggelengkan kepala merasa sangat beruntung.

“Aku tidak pernah menyangka aku akan tidur dengan mahasiswiku sendiri.” Kata Pak Doni yang masih sedikit terengah. Ketika ia melirik ke samping, si cantik itu masih memeluk tubuhnya sendiri yang tanpa busana, “Nis…?”

“Ya?” lirih jawaban Anis, seperti merintih. Memang kemaluannya masih terasa perih.

“Kamu benar – benar luar biasa. Luar biasa… aku belum pernah… maksudku… tubuhmu… kamu… ah, aku kehabisan kata – kata, sayang…”

Mereka berbaring beberapa saat lamanya tanpa kata, tanpa melanjutkan percakapan. Hanya saling menggugat impian dan bayangan apa yang telah dan akan mereka lakukan selanjutnya.

Anis menjadi yang pertama membuka suara.

“Pak Doni… saya ingin Bapak tahu, kalau… jujur… saya bukan wanita nakal, saya bukan wanita penggoda dan saya… saya tidak pernah menggoda suami wanita lain. Saya… saya belum pernah melakukan ini sebelumnya… apalagi dengan… dengan seorang dosen yang saya hormati. Saya minta maaf…” gelimang air mata menyeruak di ujung tipis kelopak mata indah Anissa. “saya minta maaf telah membuat Pak Doni melupakan ibu… dan…”

Pak Doni mengangkat telunjuk tangannya ke bibir Anissa dan menggelengkan kepalanya, menatap si cantik itu lekat dan berbisik perlahan. “aku tahu kamu bukan gadis semacam itu, kamu spesial, cantik.”

Pak Doni mencium kening Anissa dan tersenyum, ia menarik lembut kepala Anis ke dadanya. Anis memejamkan mata dengan penuh penyesalan, dia merasa sangat bodoh sekali, dia tidak sanggup menahan air mata yang sudah siap meledak. Seandainya… seandainya saja Pak Doni tahu…

Keheningan menyelimuti kamar yang kini tenang, lampu pun diredupkan.

###

Dengan langkah yang tertatih karena selangkangannya masih perih usai ditiduri Pak Doni, Anissa menyusuri lorong kampus yang telah gelap. Hanya satu dua orang masih ada di lantai bawah, tapi mereka sibuk dengan kegiatan masing – masing tanpa mempedulikan si cantik yang melewati mereka. Mereka juga tak menyadari air mata belum lagi kering menetes di pipi Anis.

Langkah kakinya terhenti ketika ia sampai di halaman parkir, sebuah mobil kijang berwarna merah tua berhenti tepat didepannya. Kaca mobil turun dan memperlihatkan wajah seorang pria tua gemuk yang langsung menyapa Anis. “Halo, apa kabar?”

Kepala si cantik yang sedari tadi menunduk menengadah untuk melihat siapa yang ada di balik kemudi, benar saja… orang yang paling ia benci, Pak Bejo Suharso! Pandangan mata mereka saling beradu.

“Sukses?” tanya Pak Bejo sambil memamerkan senyumnya yang menjijikkan.

Anis menatap preman tua itu dengan pandangan benci, si cantik itu meludah ke tanah. Pak Bejo hanya tertawa melihatnya, ia menelengkan kepala sekali untuk meminta Anis masuk ke mobil. Dalam situasi normal, Anissa tidak akan sudi masuk ke mobil Pak Bejo. Dibayar berapapun, dengan imbalan apapun, matipun ia tidak akan mau. Tapi ini bukan situasi normal, Anissa membuka pintu mobil dan duduk di samping Pak Bejo.

Pak Bejo tersenyum puas. Ia menginjak gas dan mobil itupun melaju.

###

Pak Doni bangkit dari duduknya, ia mengerang, sudah berapa jam ia ada di ruangannya? Ia merasa aneh, seperti hilang ingatan. Ia baru saja bercinta dengan Anissa, salah satu mahasiswi terbaik dan tercantik di kampus.

Ia… Ia baru saja mengkhianati janji pernikahannya.

Pak Doni menepuk wajahnya berulang – ulang kali, ia tidak bisa percaya pada dirinya sendiri, kenapa ia tergiur pada kemolekan Anis? Kenapa harus terjadi?

“Apa yang sudah terjadi jangan disesali.”

Pak Doni hampir melompat karena terkejut. Suara siapa itu?

Ternyata wajah yang sangat dikenalinya! Orang itu duduk di kursi yang ada di sudut ruangan, sejak kapan ia ada di sana? Kenapa ia sampai tidak menyadarinya?

“Kamu?! Apa yang kamu lakukan di sini?” Pak Doni bangkit dari duduknya dan mulai mengeluarkan suara bernada tinggi. “Keluar dari ruanganku!”

“Enak tidak ngewe Neng Anissa?” kata orang itu tanpa ekspresi, “pasti memeknya masih sempit ya? Permainan kalian cukup hot, cukup lama juga.”

Wajah Pak Doni langsung pucat pasi. “A… apa yang kamu maksud?”

“Pura – pura bodoh rupanya. Tidak apa – apa, akan coba saya jelaskan. Suara teriakan Neng Anissa menggema hingga ujung ruangan, mana mungkin saya tidak dengar. Pintu bapak sudah dikunci rapat, ruangan ini juga tertutup, tapi jangan lupa masih ada jendela angin di atas. Tinggal naik di atas kursi saya sudah bisa menonton adegan porno paling hot sore ini. Karena cukup hot itulah saya rekam kejadiannya di telepon genggam saya.”

Tubuh Pak Doni langsung lemas, tulangnya seperti lolos dari tubuh.

“Ketika keluar tadi Neng Anissa lupa menutup pintu, jadi saya bisa masuk. Herannya Pak Doni baru sadar sekarang saya masuk. Saya sudah cukup lama menunggu di kursi ini.”

“Apa maumu?” lemas suara sang dosen.

Orang itu hanya tersenyum, ia malah berdiri dan melangkah keluar. Sambil menutup pintu, ia memalingkan kepala dan berkata pelan, “Saya sudah dapat apa yang saya butuhkan. Pertunjukan luar biasa dari seorang dosen dan mahasiswi yang sama – sama menjadi idola di kampus ini. Saya salut, Pak. Sayang saya tidak bisa bicara sekarang, saya ada pekerjaan yang harus diselesaikan. Kita bicarakan lagi ini semua di lain hari.”

Orang itu melangkah keluar sambil bersiul.

Pak Doni hanya bisa terdiam mematung.

Apa ini?

Apa yang telah terjadi?

###

Ruangan tempatnya berada menjadi terasa gelap di bawah lampu yang redup dan hanya menyala dengan kekuatan 5 watt, namun wajah cantik Anissa seperti memiliki aura yang menyala dan sangat enak dinikmati. Sayang wajah itu kini muram dan sedih, mulutnya membungkam seribu bahasa. Anehnya, bagi beberapa orang, justru wajah seorang wanita yang takluk seperti ini yang indah dipandang.

Setidaknya itu yang dirasakan Pak Bejo yang sedang menikmati rokoknya. Dia duduk di sebuah kursi di samping meja kecil sementara Anissa berada di hadapannya, duduk di tepian pembaringan. Mereka belum bercinta hari ini dan Anis berharap pria tua itu sedang lelah sehingga dia tidak memperkosanya.

Ruangan tempat keduanya berada hanyalah sebuah kamar kecil di losmen kelas Melati yang menjadi tempat Pak Bejo biasa meniduri Anis, sebuah losmen milik teman Pak Bejo yang bernama Kobar. Pak Bejo dan Kobar kawan akrab sehingga ia tidak perlu membayar sepeserpun untuk menginap di tempat ini. Sejak diperkosa Pak Bejo, Anis memang tak bisa lepas dari cengkraman pria bejat itu. Termasuk ketika ia meninggalkan rumah Mas Hendra dan pulang ke rumah orangtuanya, Anis tetap berada di bawah pantauan Pak Bejo yang terus menerus mengikuti setiap jejaknya. Kemanapun Anis pergi, Pak Bejo akan membuntuti.

Anissa begitu takut Pak Bejo akan menyebarkan semua gambar dan video rekaman ketika mereka bersetubuh sehingga ia menuruti semua permintaan dan perintah orang tua cabul itu, sepahit apapun permintaannya. Anissa tunduk pada semua perintah Pak Bejo termasuk perintah untuk datang setiap hari ke losmen ini setelah pulang kuliah. Untungnya Dodit akhir – akhir ini juga sering sibuk sehingga tidak mencurigai kepergian Anis yang berkelanjutan setiap pulang dari kampus.

Adalah Pak Bejo yang memaksa Anis merayu Pak Doni.

Pak Bejo sadar betul kalau tidak ada satu orang pun di dunia ini yang mampu menolak kemolekan Anis, terlebih seorang dosen setengah baya yang mungkin sudah tidak lagi dilayani oleh istrinya. Kecantikan Anissa tepat sekali untuk merayu Pak Doni yang tengah mengalami puber kedua dan membuat pria tua itu jatuh ke dalam perangkap yang telah ia dan teman – temannya persiapkan. Anissa tentu saja terpaksa melakukannya.

Lelehan air mata yang menetes di pipi Anissa seakan tak mampu meluruhkan rasa bersalahnya yang berdentam menghajar relung batin terdalam. Banjir air mata itu tak mampu membersihkannya dari perasaan kotor yang menempel lekat dan tak bisa lepas, membuatnya merasa jijik pada diri sendiri setiap saat. Anis malu, malu sekali, sangat malu, ia bahkan malu saat berkaca dan melihat dirinya dalam cermin, wajahnya seperti berlumuran dosa. Betapa hinanya dia, betapa menjijikkan dan rendahnya dia! Bukankah apa yang telah ia lakukan membuktikan kalau dia tak lebih rendah dari seorang pelacur?! Mengapa dia menuruti saja semua perintah Pak Bejo? Mengapa dia justru terlihat seperti menikmati peran yang rendah dan hina ini? Ketika Anissa memejamkan mata, air mata itu tak berhenti menetes di pipi.

Pak Bejo yang menyaksikan air mata deras mengaliri pipi mulus gadis yang mirip jelmaan bidadari jelita itu malah tertawa terbahak – bahak. “Kenapa kamu menangis? Aku justru telah memberimu kenikmatan, bukan penderitaan.”

“Biadab! Bejat!” hardik Anis penuh kemarahan. Dia marah dan takut pada saat yang bersamaan. “Aku melakukan ini semua karena terpaksa!!! Pak Bejo meminumkan obat perangsang itu!! Tega sekali Pak Bejo melakukan ini kepadaku! Aku salah apa, Pak? Kenapa Bapak tega? Kenapa memaksaku?!!”

Pak Bejo memberikan senyuman menghina, “terpaksa katamu? Terpaksa kok bisa sampai orgasme… lelehan air cintamu membuktikan kalau apa yang telah kamu perbuat dengan dosen sendiri bukanlah paksaan. Akui saja kalau kamu juga menikmati. Kamera hape yang dipakai untuk merekam kejadian di ruang Pak Doni bekerja sempurna hingga aku bisa mengetahui detail sekecil apapun.”

Anissa naik pitam. “Aku terpaksa!! Aku di bawah pengaruh obat perangsang!!”

Pak Bejo mengangkat bahu, “memangnya aku peduli? Yang penting apa yang aku perintahkan kepadamu sudah berjalan dengan sempurna. Kerja yang bagus, sayang. Aku akan menghapus satu foto vulgarmu dari telepon genggamku.”

“Satu??” mata Anis terbelalak, “hanya satu saja? Tapi Bapak sudah janji…!!!”

“Kamu pikir aku akan menghapus semua fotomu yang ada padaku? Jangan mimpi di siang bolong, anak manis.” Pak Bejo tertawa, “Semua akan aku hapus asal kamu menuruti semua yang aku minta. Aku punya pengharapan besar dengan memanfaatkan tubuhmu yang indah itu… apa yang aku inginkan bisa menjadi kenyataan.”

Mata Anissa terbelalak karena marah. Dia telah ditipu! Bajingan tua ini memanfaatkan situasinya untuk memerasnya habis – habisan. Luar dalam. Tidak saja ia dipaksa untuk merayu seorang dosen yang baik, ia juga berniat untuk memerasnya! Laki – laki hina macam apa Pak Bejo ini?

“Kurang ajar… Pak Bejo pikir saya ini siapa? Pelacur yang bisa dijajakan pada langganan Pak Bejo setiap saat? Enak saja! Jual saja istri Pak Bejo! Jual anak Pak Bejo!!! Jangan saya!!!”

PLAKKKKKK!!!!!!!!!!!

Anis hampir saja terlempar tubuhnya karena tamparan Pak Bejo yang sangat keras mendarat dipipinya. Belum lagi panas tamparan itu mendingin dan Anissa mampu bangkit dari sempoyongan, tiba – tiba saja tangan pria tua gemuk yang buruk rupa itu mencekik leher mungil Anis dengan sangat kuat. Gadis itupun megap – megap karena tak mampu bernafas, matanya terbelalak dan mulutnya terbuka lebar, tangannya bergerak cepat mencoba menggapai sesuatu atau mendorong Pak Bejo, namun semua gagal karena pria tua itu lebih kuat dan cekatan.

“Jangan pernah menghinaku dan jangan pernah menghina keluargaku.” Pak Bejo membisikkan kata ke telinga Anis. Cengkraman tangan di leher Anis masih belum mengendur, membuat nafas gadis itu makin sesak dan tersengal – sengal, tangan Anis mencoba memukul – mukul lengan Pak Bejo, tapi tentu apa daya gadis lemah sepertinya? Melihat Anis sangat tersiksa, Pak Bejo bukannya berhenti malah semakin menjadi. Lidahnya menjulur keluar dan dengan sangat menjijikkan ia menjilati seluruh wajah Anis yang berkeringat. Bau mulut bekas rokok dan minuman keras membuat Anis ingin muntah.

“Kamu paham, anak manis?” tanya Pak Bejo, ia menarik tubuh Anis ke belakang agar tangannya bisa menjangkau meja untuk meletakkan puntung rokok ke asbak.

Anis mengangguk sekuat tenaga, ia menyerah, terserah apa mau si tua brengsek ini, ia sudah tak bisa lagi menarik nafas. Ia bisa mati!!

Pak Bejo akhirnya melepaskan cengkeraman tangannya. Anissa langsung terbatuk – batuk, ludahnya keluar membanjir dan tubuhnya luruh ke bawah. Orang tua bejat ini hampir saja membunuhnya!

“Aku tidak pernah memaksa kamu melakukan hal yang tidak kamu sukai, kamu bahkan bebas untuk pergi dan tidak lagi menemuiku. Tapi lebih baik kamu pertimbangkan juga nasib orang lain yang kamu sayangi. Kalau kamu meninggalkan aku, aku akan melakukan hal – hal yang tidak nyaman pada orang – orang itu.” Ancam si tua bejat itu sambil berkacak pinggang. Ia kembali duduk di kursi dan menarik satu batang rokok dari bungkusnya kemudian menyalakannya.

“A… uhuk huk…! huk..!. A… A… Apa maksud Pak Bejo?” Anissa mengerutkan kening sambil mencoba menahan batuknya, perasaannya tidak enak.

Pak Bejo menghembuskan asap rokoknya membentuk bulatan, ia membuka telepon genggamnya dan menelusuri aplikasi, membuka sebuah folder penuh foto dan memperlihatkannya pada Anissa.

“Ini hanya sekedar contoh. Aku sudah memindahkan salinan fotonya jadi kalau kamu mencoba merebut telepon genggam ini atau membantingnya, aku tidak akan takut karena aku tetap bisa menyebarkannya.” Kata Pak Bejo. “pilihan sekarang ada di tanganmu, anak manis. Mau menyelamatkan dirimu dan orang – orang yang kamu cintai? Tetap turuti semua permintaanku, tanpa membantah sedikitpun. Mau membelot dan melarikan diri dariku? Semua foto yang ada di sini akan tersebar. Mengerti?”

Mata Anissa terbelalak lebar melihat foto Mbak Alya dalam posisi – posisi vulgar yang sangat menantang birahi! Beberapa foto juga memperlihatkan Mbak Alya dalam kondisi telanjang atau tengah bersenggama! Foto – foto ini… foto – foto ini bukan rekayasa! Apakah… apakah… benarkah… tidak mungkin… tidak mungkin… ini pasti… tapi ini benar – benar terjadi! Pak Bejo rupanya sudah pernah memperkosa Mbak Alya juga?!!

Anissa menatap layar telepon genggam Pak Bejo dengan pandangan tak percaya ketika menyusuri folder dan melihat satu demi satu foto yang ada sementara orang tua bejat itu tertawa terbahak – bahak. Tidak hanya Mbak Alya, Pak Bejo juga telah merekam kaki jenjang, belahan buah dada yang tidak sengaja terbuka dan paha yang tak sengaja tersingkap dari Mbak Dina dan Mbak Lidya! Benar – benar orang yang sangat bejat!

Tubuh Anissa menjadi gemetar dan panas karena menahan amarah. “Bajingan bejat… tidak tahu diri… Pak Bejo… benar – benar bejat…”

“Bukan bejat, aku hanya mengagumi tubuh molek kalian. Aku sudah merasakan memekmu dan Alya. Tinggal memek Dina dan Lidya yang aku incar, sepertinya masih sempit juga.”

Anis menatap Pak Bejo dengan geram, “Jangan. Pernah. Dekati. Atau. Sakiti. Mereka. Lagi.” Katanya terpatah – patah karena menahan amarah yang menggelegak. Rasa sakit di lehernya juga masih membuatnya tak mampu mengucapkan kata – kata dengan lancar.

Pak Bejo mencibir hina, ia menebaskan abu rokok ke asbak. “maka dari itu, ikuti semua kemauanku, mengerti? Semudah itu saja syaratnya.”

“Mengerti…” desahan lirih penuh kekalahan bercampur geram tertahan keluar dari mulut mungil si cantik itu. Apalagi yang bisa ia lakukan selain menyerahkan tubuhnya pada orang bejat ini? Dia tidak punya pilihan, Anissa benar – benar geram karenanya. Tidak ada pilihan selain memberikan jawaban yang sangat ia benci.

Sebuah jawaban yang akan sangat ia sesali.

###

Hujan yang turun deras disertai guntur di sekitar kampus menjelang sore itu tak membuat Pak Doni beranjak dari mejanya untuk pulang ke rumah. Ia tak mempedulikan guntur yang menderu di luar ruangan dan menyebabkan kacanya sedikit berderak karena bergetar. Sebaliknya, dosen paruh baya itu justru sibuk berkutat dengan skripsi yang dikumpulkan oleh beberapa mahasiswa bimbingannya.

Pak Doni menarik nafas panjang dengan berat, entah mengapa ia tak bersemangat pulang cepat beberapa hari terakhir ini, ia lebih memilih lembur di kantor walaupun alasan lembur itu ia buat – buat sendiri. Terlebih sekali hari ini, ruang dosen yang kaku dan tak bersahabat ini justru membuatnya betah dan ingin berlama – lama. Walaupun barisan teks yang berjajar di buku – buku skripsi bagaikan kumpulan tentara berukuran mini yang menembaki matanya hingga terasa pedih karena terlalu banyak dibaca, namun ia tetap urung pulang ke rumah.

Pak Doni melambaikan lamunannya.

Dia ingin sendiri, ingin disibukkan, ingin bekerja, ingin melakukan sesuatu yang tidak akan mengingatkannya pada hal yang membuatnya gelisah dan merasa bersalah…

Pria setengah baya itu tertegun dalam renungannya.

Benar. Inikah yang dinamakan rasa bersalah? Inikah yang dinamakan pelarian? Apakah pelarian ini bisa menenangkan rasa bersalah yang membuat beban hidupnya sedemikian berat? Ia tahu apa yang ia lakukan beberapa hari yang lalu adalah perbuatan yang salah dan terkutuk. Tak pantas dilakukan oleh seorang guru dengan muridnya, seorang dosen dengan mahasiswinya, seorang pengajar dengan anak didiknya… apa yang telah ia lakukan? Apa sebenarnya yang telah membuat keteguhannya melayang? Kesetiaannya terbuang?

Pintu ruangan diketuk dari luar, membangunkan Pak Doni dari lamunannya yang lelap.

“Permisi. Apa Pak Doni ada di dalam?” terdengar suara dari luar, suara laki – laki. Jika orang ini bisa sampai di depan pintu ruangannya, tentunya satpam sudah mengijinkannya masuk. Ia pun tak curiga. Tapi aneh, kenapa satpam tidak menelponnya dulu untuk memberitahukan kedatangan tamu?

“Masuk saja, pintunya tidak dikunci.” Jawab Pak Doni dengan suara agak keras agar orang yang berada di luar bisa mendengar.

Pintu dibuka dengan sedikit berderak, seorang laki – laki memasuki ruangan. Mata bertemu mata dan dosen itupun terbelalak karena terkejut.

“Kamu!!??” Pak Doni seperti tersengat listrik ribuan watt.

“Saya.” Orang itu adalah Imron, sang penjaga sekolah.

Imron! Orang yang tempo hari memergokinya bercinta dengan Anissa!

Penjaga kampus berwajah buruk itu menebarkan senyuman tipis yang membuat Pak Doni jengah.

Dia memang sudah menduga Imron akan datang kepadanya karena si penjaga kampus itu telah memergokinya menggauli Anis bahkan telah merekamnya! Walaupun begitu ia tetap saja kaget karena tak menyangka si penjaga kampus itu akan menemuinya secepat ini. Dada Pak Doni berdegup kencang melihat senyuman hina dari wajah pria itu.

“Merasa muda kembali setelah kejadian itu, pak dosen yang terhomat?” Imron sengaja memberi tekanan pada kata terhormat untuk membuat Pak Doni makin gerah.

“Apa maumu? Aku sedang sibuk.” Kata Pak Doni ketus. Keringat dingin membasahi seluruh tubuh dosen yang tengah berhadapan dengan Imron itu, dia tahu Dewi Fortuna sedang tidak memihak kepadanya. Keluarganya, istri dan anak – anaknya, orangtuanya, karirnya, segalanya, semuanya bisa lenyap hanya gara – gara kebodohan dan nafsu buta semata. Semua gara – gara dia tak mampu mengendalikan hasrat binatangnya, semua hancur karena dia tergiur kemolekan mahasiswinya yang memang sangat aduhai. Parahnya orang gila bernama Imron ini melihatnya bermain cinta dengan Anis dan semuanya bisa hancur berantakan. Hancur semudah membalikkan telapak tangan.

Kartu as jelas ada di tangan Imron. Pak Doni ingin melihat bagaimana penjaga sekolah ini memainkan kartunya.

“Tidak perlu cemberut seperti itu, Pak Doni. Saya cuma ingin berbincang – bicang sejenak sambil membicarakan sebuah proyek yang sepertinya mau tidak mau akan Pak Doni setujui.” Imron kegirangan melihat Pak Doni mulai gelisah, wajahnya yang sejak tadi menampilkan cengiran penuh kemenangan berubah menjadi wajah serius yang menyeramkan. Ia menatap Pak Doni lekat tanpa rasa takut sedikitpun, “tentu saja Pak Doni harus setuju karena kalau tidak rahasia busuk dosen paling terkemuka di kampus ini akan hancur berantakan.”

“…bajingan kamu, Imron.”

“Cih… ada maling teriak maling.” Imron mencibir, “Kita kembali ke akar permasalahan, Pak Doni. Siapa suruh bapak meniduri Anissa? Siapa suruh bapak meniduri mahasiswi sendiri? Saya tidak pernah meminta bapak melakukannya, kan? BAPAK MELAKUKANNYA DENGAN KESADARAN SENDIRI!!” Penjaga kampus berwajah buruk rupa itu menggebrak meja Pak Doni yang langsung bergetar karena kaget sekaligus takut, wajahnya pucat pasi. “Jangan lupa kalau bapak sendiri yang telah melakukan perbuatan itu tanpa ada paksaan, ingat itu baik – baik! Semua dilakukan dengan kemauan sendiri! Tidak ada yang meminta dan tidak ada yang menyuruh. Jangan sedikitpun berlagak seperti orang suci karena Bapak tidak pernah menolak ketika Anissa datang kesini dan menawarkan tubuhnya! Kalau Bapak memang orang yang tahu diri, ingat keluarga, ingat anak istri… bapak tidak akan pernah mau dirayu gadis itu! Laki – laki macam apa bapak ini… menggauli gadis yang lebih pantas jadi anaknya dan menolak mengakui perbuatannya…”

“… dasar… bajingan…”

“Jangan salah, saya juga tahu logika. Saya tidak akan pernah menyalahkan Pak Doni. Kenapa? Karena saya tahu tidak ada lelaki normal manapun di dunia ini yang sanggup menolak gadis semolek Anissa. Omong – omong, bagaimana rasanya? Pasti enak sekali ya? Paha seputih itu, kulit yang mulus, wajah cantik, tubuh tinggi, susu yang besar… bagaimana memeknya? Masih sempit? Saya sendiri belum pernah mencicipi anak ayam satu itu, mungkin nanti kalau ada waktu…”

“Begitu rupanya. Ini semua pasti sudah kamu rencanakan. Anissa juga jadi pion kamu, kan? Kalian memang berniat menjebakku… apa mau yang kalian inginkan? Apa untungnya ini semua buat kalian?”

“Kalau baru tahu sekarang ini semua jebakan, itu bodoh namanya. Yah, tidak percuma Pak Doni jadi dosen senior karena akhirnya berhasil menebak arah tujuan kita. Kami memang ada tujuan tertentu melakukan semua ini.”

“Baik… baik… BAIK! Kuturuti kemauanmu… bajingan tengik kamu, Imron…” deru nafas Pak Doni menggerus seperti seekor banteng yang hendak melabrak matador yang menggoyangkan kain merah. “Apa maumu? Berapa yang kamu inginkan?”

“Cih… lagi – lagi sikap meremehkan. Aku tahu berapa gaji bapak dan walaupun cukup besar, uang segitu tidaklah cukup untuk tutup mulut.” Imron memajukan tubuhnya, mendekatkan diri dengan Pak Doni yang menahan amarah. “Kampus ini kampus favorit, Pak Doni. Banyak calon mahasiswa yang bersedia mengorbankan apa saja untuk masuk ke sini namun gagal karena ketatnya persaingan dan susahnya tes masuk…”

Pak Doni mengernyitkan dahi, apalagi mau Imron tengik ini? Apa yang sebenarnya dia incar?

“…bayangkan kalau setiap orangtua yang mau memasukkan anaknya ke kampus ini kita tarik bayaran antara empat puluh sampai tujuh puluh juta perkepala untuk memastikan anak mereka bisa menjadi mahasiswa tanpa harus lulus tes tertulis. Kita bahkan akan menyediakan joki resmi sebagai pelengkap administrasi. Dengan mengesampingkan semua birokrasi, anak itu hanya tinggal datang pada saat kuliah dimulai.”

Pak Doni terbelalak saat menyadari apa yang diinginkan oleh Imron. “Gila kamu Imron… kamu… mau jadi calo?”

Imron menebarkan senyum sinis, “Boleh jujur? Aku tidak punya waktu untuk hal semacam itu. Males banget.” Imron duduk dengan santai dan menyilangkan kedua tangan di dada. “Sebetulnya, bukan aku yang akan mengerjakan semua ini, aku bukan tipe orang yang butuh cari uang, yang aku butuhkan gadis – gadis muda yang segar dan seksi.” Imron tertawa terbahak dengan suara yang tidak nyaman didengarkan. “…tapi ada beberapa orang yang aku kenal yang mau masuk ke bisnis ini dan sebagai teman yang baik tugasku adalah menyediakan lahan dan tugas anda, Pak Doni yang terhormat… adalah memastikan kalau segepok uang itu sanggup membawa para pelanggan masuk tanpa halangan ke kampus kita, tentu setelah dikurangi pajak administrasi dari aku dan teman-teman lain.”

“Gila! Aku tidak mungkin melakukannya. Kampus ini kampus terhormat! Di sini punya sistem, tidak punya celah, aku tidak bisa…”

“Aku tidak peduli bagaimana caranya. Bapak kan punya banyak kenalan di bagian akademik dan petinggi kampus, Bapak juga punya banyak uang. Aku akan memberikan sebagian dari pembayaran ‘pelanggan’ kita untuk menambah uang pelicin kalau diperlukan.” Imron semakin mendekatkan wajahnya yang sangat bau. “aku akan tutup mulut tentang perilaku liar Pak Doni kalau proyek kita ini lancar, yang mana tentu saja aku tidak akan ikut campur karena semuanya ada di bawah komando seorang teman. Aku hanyalah seorang pengawas yang menjadi perantara.”

Pak Doni menundukkan kepalanya.

Apa yang harus dilakukannya? Apa yang sebaiknya dia perbuat? Haruskah dia menuruti kemauan orang – orang yang hendak memerasnya ini?

Cukup lama dosen yang cukup disegani di kampus itu terdiam. Wajahnya mengerut karena pikirannya kalut. Imron menunggu dengan santai, ia tahu hasilnya karena ia sudah sering memeras orang. Apapun pilihan Pak Doni, dia akan kalah, Imron yakin sekali.

Dengan lemas Pak Doni mengangguk, sepertinya memang tidak ada pilihan lain, “…kalian menang.”

Imron tertawa menghina, dia berdiri, melenggang keluar sambil terlebih dahulu menepuk pundak Pak Doni dengan kurang ajar. “Prosedurnya kita bicarakan lagi nanti. Terima kasih atas kerjasamanya. Saya tidak sabar lagi memulai proyek kita ini.”

Pak Doni menunduk kalah ketika Imron melangkah keluar dari ruangan sambil bersiul.

###

“Kamu kenapa, sayang?” tanya Dodit saat mobilnya melintas di jalan tol yang lengang.

Tidak ada jawaban. Mulut Anis seperti terkunci dengan rapat, bahkan tipis semburat senyumpun tak nampak. Anissa seperti bukan Anissa, dia seperti batu karang teguh tak tergoyahkan. Mereka baru saja berangkat untuk makan malam di malam minggu pertama yang bisa dilalui bersama setelah beberapa bulan meninggalkan rumah Mas Hendra.

“Anis?”

Masih belum ada jawaban.

Sejak tinggal di rumah Mas Hendra beberapa bulan yang lalu Anissa terlihat berubah, perangainya yang lembut dan ceria kini hilang ditelan sosok pendiam yang menutup diri dan pemarah. Dia jarang sekali tersenyum dan lebih senang melamun. Anissa dan Dodit sendiri sudah cukup lama tidak jalan berdua, calon suami istri ini seperti kehilangan gairah cinta di antara mereka.

“Kemarin aku sudah bertanya kesana kemari tentang jadwal gedung – gedung yang mungkin kosong pada tanggal yang sudah kita rencanakan tahun depan. Ada tiga gedung, hampir semuanya punya biaya sewa mahal, tapi salah satunya ternyata dikelola teman omku, kita bisa menyewanya dengan potongan harga yang lumayan.” Kata Dodit membuka cerita, ia membicarakan rencana pernikahan mereka. “Untuk pre – wedding kita bisa pergi ke studio foto milik Dimas, dia cukup bisa diandalkan. Baik untuk foto maupun pembuatan kartu undangan. Yang masih bikin bingung itu masalah catering dan baju… bagaimana sayang?”

Mendengar pernyataan Dodit itu Anis seperti ingin menangis, ingin berteriak dan ingin melemparkan dirinya ke api. Tahukah kamu, Mas Dodit… kalau kekasihmu ini, kalau wanita yang kami cintai ini… telah menjadi wanita yang sangat kotor? Yang telah bersetubuh tidak hanya dengan Pak Bejo yang sangat menjijikkan itu melainkan juga dengan Pak Doni, dosennya sendiri? Kekasihmu ini sudah tidak pantas lagi mendapatkan cinta sejatimu, Mas Dodit. Sudah tidak pantas lagi memperoleh kasih yang tulus… dia telah kotor… sangat – sangat kotor…

“Aku tidak pantas lagi…”

“Apa maksudmu, sayang?”

Anis mendesah kecewa, pandangannya kembali dilemparkan ke luar, “tidak apa – apa. Lupakan saja. Lupakan…”

Dodit mengernyitkan kening. Ada apa lagi ini?

“Lupakan apa, sayang?”

“Bukan apa – apa. Aku… ceritakan lagi mengenai gedungnya….”

Malam itu berlalu begitu saja dan Anissa masih terdiam seribu bahasa. Bahkan ketika mereka berdua duduk di sebuah kafe sambil menikmati minuman hangat. Sepasang calon pengantin yang biasanya mesra dan saling memuji ini bagaikan kehilangan nyala api mereka. Tidak ada canda, tidak ada kata. Sepi, senyap, kaku dan menjemukan.

“Sebenarnya kamu ini kenapa, Nis? Kenapa diam terus? Ini tidak seperti biasanya…”

Anissa terdiam.

“Apa aku telah melakukan kesalahan? Apa aku membuatmu jengkel?”

Tidak ada jawaban.

“Apa karena aku terlalu sibuk sehingga beberapa hari terakhir ini aku tidak menjemputmu?”

Anissa menggelengkan kepala, suara lirih keluar dari mulut mungilnya. “Tidak ada apa – apa. Aku hanya capek saja. Akhir – akhir ini aku mudah capek. Kita pulang yuk, aku pusing sekali, mau tidur.”

Dodit mendesah kecewa, apa yang terjadi padamu, sayang? Kenapa kamu tidak mau cerita? Adakah sesuatu yang kamu sembunyikan? Tapi Dodit tidak menolak ketika Anissa sudah bangkit dari duduk dan ingin segera pulang. Paling tidak hanya itu yang bisa dilakukannya untuk sang tunangan saat ini, melakukan apa yang diinginkan Anissa tanpa banyak berucap.

###

“Gadis ini berbakat jadi pelacur. Wajah cantiknya seperti tanpa dosa, mana ia juga sangat lembut. Ia penggoda yang hebat tanpa harus mengeluarkan sepatah katapun. Tidak ada laki – laki yang bisa menolak cewek seperti ini. Dia bisa seksi tanpa harus menjadi seksi.” Kata Pak Dahlan memuji kemolekan Anissa. “hebat kamu menemukan barang bagus seperti ini, Bejo.”

Pak Bejo mengangguk – angguk dengan bangga. “Pastinya.”

“Lain kali aku ajak kamu keliling kampus buat belanja barang dagangan baru, Jo. Jadi tidak fokus cuma ke tetangga – tetanggamu saja.” Susul Imron yang langsung disetujui oleh Pak Dahlan dan Pak Kobar. Mulut penjaga kampus itu komat – kamit sibuk mengunyah makanan yang sepertinya sangat lezat. “Tapi yang ada di hapemu itu semuanya memang seksi. Lebih lagi yang namanya Alya dan Lidya…”

“Terima kasih, Bro… tapi saat ini aku cuma pengen kipas – kipas pake duit yang disetor ke kita. Dosen goblok satu itu ternyata menepati janjinya. Kalau begini terus, kita bisa kaya.” Jawab Pak Bejo jumawa.

“He he he, jangan melecehkan institusi kampus, aku kan juga dosen. Tapi Pak Doni itu memang sok alim, giliran dapet anak ayam saja dia jadi penakut. Dia kan sebenarnya ada niat buat mencalonkan diri jadi rektor di tahun mendatang, satu skandal seperti kemarin bakal menghancurkan reputasinya. Tahu rasa dia sekarang, dasar sok alim, sukanya cari muka.” kembali Pak Dahlan pegang peranan menjelaskan. “Aku tahu awalnya kalian meminta aku menjadi orang dalam, tapi bukankah cara seperti ini lebih seru? Lagipula dengan reputasi yang bersih aku bisa mencalonkan diri menjadi rektor di tahun mendatang tanpa gangguan. Posisiku aman, uangpun datang.”

Pak Dahlan menghentikan ucapannya dan segera beralih ke orang – orang di sekitarnya, “Silahkan, silahkan dimakan… perjamuan makan seperti ini konsepnya dari Jepang, kebetulan aku baru belajar dan dengan bantuan salah satu lontenya Imron untuk memasak, kami bisa menyajikannya.” Pak Dahlan mempersilahkan semua yang ada di ruangan itu untuk makan, berbagai macam jenis penganan disajikan di tatakan besar.

Pak Kobar meneguk ludah, “Aku baru tahu ada jamuan makan seperti ini, siapa yang punya ide?” dia mencomot satu makanan berlapis daun. “Ini apa ya? Lemper?”

Pak Dahlan tergelak, “jamuan makan seperti ini ideku, dan yang anda makan itu namanya Makizushi, bisa dibilang semacam lemper Jepang.”

“Aneh – aneh aja, lemper ya lemper bukan mitsubishi. Aku sih tidak peduli lempernya, aku peduli sama tatakannya ini…” kata Pak Kobar mengedipkan mata sambil mencolek tatakan makanan yang ia maksud.

Terdengar suara erangan.

Pak Bejo dan Pak Dahlan tertawa, sementara Imron berusaha menahan tawa karena masih mengunyah makanan.

“Lemper yang ini rasanya manis.” Kata Pak Kobar lagi setelah mencicipi makanan yang ia ambil, “ambil lagi boleh, kan?”

Pak Dahlan mengangguk – angguk sembari juga menjumput satu penganan, “silahkan pak, silahkan…”

Ketika mengambil sekali lagi, secara sengaja… atau mungkin juga tidak, makanan yang diambil Pak Kobar jatuh ke tatakan. “Aduh… cerobohnya aku. Makanan enak sebaiknya jangan disia – siakan!” Pak Kobar memajukan kepalanya dan memakan apa yang tadi jatuh langsung di tatakan! Mulutnya mengunyah dan menjilat di tatakan itu.

Saat lidah Pak Kobar menjilat, tatakan itupun bergetar.

Bukannya jijik, bapak – bapak itu justru tertawa bersamaan.

Bibir Pak Kobar tidak berhenti begitu saja, ia masih terus menjilat dan mencium, sementara tatakannya juga tidak berhenti bergetar.

Kenapa bisa demikian?

Wajar saja, karena apa yang disebut tatakan itu sebenarnya adalah Anissa! Gadis malang itu berbaring telanjang dengan bagian mata ditutup handuk yang dilipat, tubuhnya yang indah dihidangkan tepat di muka Pak Dahlan, Pak Bejo, Imron dan Pak Kobar yang duduk bersila. Di atas tubuh Anis dihidangkan makanan – makanan kecil, ada yang makanan asli lokal, ada yang ala Jepang. Selama makanan dihidangkan dan belum habis, Anissa harus diam saja terbaring mematung tanpa boleh bergerak sedikitpun.

“Konsep jamuan makan menggunakan tatakan hidangan cewek telanjang seperti ini namanya nyotaimori dan asalnya dari Jepang,” kata Pak Dahlan. “Agar bisa menghidangkan makanan di atas tubuh cewek telanjang seperti ini, tubuh si cewek harus benar – benar bersih. Dimandikan dengan sabun khusus yang memiliki aroma wangi spesial agar membangkitkan selera. Itu sebabnya si Anis ini tadi sudah saya minta mandi sampai bersih. Tentu saja, Pak Bejo yang memandikannya.”

Pak Bejo terkekeh sementara Pak Kobar tidak peduli apa yang dikatakan oleh Pak Dahlan, ia terus saja menjilati perut Anis, pemilik hotel melati tempat mereka berkumpul saat ini itu mengincar buah dada sang dara jelita. Namun rupanya Imron jauh lebih cepat, dengan cekatan penjaga kampus itu mengambil makanan yang mirip lemper yang diletakkan di atas buah dada Anissa. Geliat lidah Imron yang menyusuri lekuk dada membulat milik Anissa membuat si cantik itu menggelinjang tak henti, antara geli dan jijik. Ia mengeluarkan desahan dan erangan.

Walaupun mata si cantik itu ditutup oleh handuk, namun Pak Bejo bisa melihat air mata menetes di pipi Anissa. Ia hanya tertawa, “eh, kalau jadi tatakan kamu tidak boleh menangis. Lagipula kamu kan tidak diapa – apain.”

“Jangan lama – lama ya kalian, kalau makanannya sudah habis aku mau mencicipi tatakannya.” Kata Pak Dahlan. “Aku sudah mengeluarkan uang buat mempersiapkan jamuan ini, jadi pantas kalau aku duluan yang pakai hari ini.”

Pak Kobar mengerang kecewa karena sebenarnya dia berharap bisa memakai Anissa.

Pak Dahlan tertawa nakal, dia memberi tanda dengan menyilangkan telunjuk secara vertikal di depan mulut pada Imron dan Pak Kobar agar mereka tidak mempermasalahkan siapa yang akan memakai Anissa hari ini. Imron geleng – geleng kepala, “dasar otak kontol. Tidak bisa lihat barang bagus nganggur sebentar saja.”

Mendengar apa yang akan terjadi pada dirinya sebentar lagi, lelehan tangis Anissa makin deras turun meski tidak sampai bersuara. Tubuhnya menggigil saat ia senggugukan.

Imron memberi tanda pada Pak Bejo yang langsung berbisik pada Anis. “Kalau kamu tidak diam, kami yang ada di sini akan langsung memperkosamu beramai – ramai sampai pagi. Kalau kamu tidak mau itu terjadi biar kami selesaikan makan dengan tenang dan nanti kamu hanya perlu melayani Pak Dahlan. Mengerti?”

Anissa mengangguk karena ketakutan.

“Ayo kita lanjutkan pestanya!” teriak Pak Bejo dengan senang. Iapun mengambil kesempatan untuk mencium bibir Anissa yang tengah merekah. Bibir mereka bertemu dan bertumbuk, bibir tebal milik seorang pria berusia lanjut dengan seorang gadis muda yang sangat seksi.

Lidah Pak Bejo menggeliat cepat di antara struktur manis bibir Anis, menjelajahi dan mengelilinginya. Membuat si cantik itu menggelinjang karena selain dicium begitu nafsu oleh Pak Bejo, Imron tengah menjelajahi buah dadanya sementara perutnya menjadi bagian dari serangan Pak Kobar.

Pak Dahlan sendiri tidak ikut menyerang karena setelah ini, dialah yang akan meniduri Anissa. Dia menyimpan tenaganya.

Anissa hanya bisa diam dan pasrah membiarkan para pria tua ini menjilati tubuhnya beramai – ramai. Ia teringat wajah Dodit yang kecewa kemarin, wajah orangtuanya, wajah Pak Doni… mengapa dia sampai jatuh ke perangkap Pak Bejo seperti ini?

Kenapa dia setuju mengikuti semua perintahnya?

Anissa kembali melelehkan air mata.

###

Sepeninggal Pak Dahlan dan Anissa yang masuk ke kamar berdua, Imron, Pak Kobar dan Pak Bejo melanjutkan bersenda gurau. Setelah cukup lama berbincang – bincang, tiba – tiba telepon genggam Pak Kobar berdering nyaring.

“Halo? Ya, aku masih di motel. Kamu mau kesini? Boleh, ya kesini saja.” Pak Kobar menutup hape dan kembali mengantonginya, “Keponakanku. Minta duit buat pinjem bokep di rental, aku suruh kesini saja.” Kata Pak Kobar. “Walaupun sudah sering ngewe tapi ponakanku ini masih malu – malu kucing, kucingnya ya kucing garong, dibilang malu tapi suka nyolong. Daripada belajar dari bokep, mending kita kasih dia pertunjukan langsungnya.”

Pak Bejo dan Imron tertawa bersama.

Tak sampai lima menit kemudian terdengar ketukan di pintu, ketika Pak Kobar membukanya masuklah seorang pemuda. Kulitnya gelap dan wajahnya jauh dari tampan. Rambutnya yang keriting tak terawat membuatnya makin terlihat kumal. Usianya sebenarnya baru menjelang 20, tapi wajahnya terlihat lebih tua dari itu.

“Ini keponakan saya, Bahrudin, tapi panggilannya Udin.” Kata Pak Kobar.

Pemuda yang berpenampilan kusut dengan rambut semrawut itu segera menyalami kedua orang yang ada di hadapan Pak Kobar. Sambil menunjuk, Pak Kobar mengenalkan mereka, “yang ini Imron, yang itu Pak Bejo. Mereka berdua kawan bisnisku.”

“Selamat datang, Din.” Kata Imron sambil memberi salam.

“Salam kenal, santai saja di sini.” Kata Bejo.

“Rasanya wajahmu nggak asing, Din?” tanya Imron. “kamu kuliah di Universitas X?”

“Betul. Saya kuliah di sana di Fakultas X.”

“Ooo, pantes aja kok aku sepertinya pernah lihat.” Lanjut Imron. “Dunia memang sempit. Aku penjaga kampus itu, tapi lebih sering berkeliaran di Fakultas XX.”

“Oooh, itu sebabnya tadi wajah Om Imron tidak asing.” Kata Udin sambil cengar cengir.

“Ayo duduk sini, itu ada bir atau kalau tidak minum bir, di sana ada teh botol.” kata Pak Bejo sambil menunjuk ke arah meja sajian. “Kamu sedikit terlambat, tadi di sini ada sajian spesial.” Katanya sambil tersenyum lebar.

“Iya, Pak.” Udin mengangguk sopan dan duduk di samping Pak Kobar.

“Gimana, Din? Kamu nggak jadi pinjem bokep ke rental?” tanya Pak Kobar yang disambut gelak tawa Imron dan Pak Bejo. “Di sini saja banyak live show, kenapa harus pinjem di rental?”

“Itulah, Pakde.” Kata Udin ikut tergelak, “saya jadi tertarik waktu tadi Pakde bilang ada live show. Memangnya live show macam apa?”

“Pakdemu itu kan orang kreatif, Din.” Timpal Imron, “begitu punya duit, dia langsung pasang CCTV di semua sudut kamar, hasilnya kalau ada pasangan ngewe, pakdemu ini dapat tontonan gratis. Kalau kamu mau lihat, bisa nonton di TV yang ada di kamar pojok. Aku yang bantuin masang kabel CCTVnya tempo hari.”

“Oooo, gitu. Wah menarik sekali, saya boleh lihat dong, Pakde?”

“Boleh aja, mau langsung sekarang?” tanya Pak Kobar, melihat anggukan Udin, iapun geleng – geleng sambil tersenyum lebar. “Dasar anak jaman sekarang, otak gak jauh dari selangkangan. Pak Bejo mau ke belakang? Sekalian tolong anterin ya si Udin ya?”

“Oke.” Pak Bejo yang sedikit mabuk karena kebanyakan minum bir berdiri sempoyongan. Ia harus menjejakkan kaki beberapa kali untuk bisa berdiri tegak. Setelah yakin bisa berdiri, pria tua itu merangkul Udin tanpa lupa menarik satu botol minuman keras. Mulutnya yang bau bir membuat Udin agak sedikit jengah namun dia tetap tersenyum, jangan sampai gagal nonton live show nih!

Sembari berangkulan Pak Bejo dan Udin berjalan keluar ruangan penjaga motel dan berjalan menuju sebuah kamar kecil di pojok. Kamar itu sebenarnya disediakan Pak Kobar untuk karyawannya yang mau tidur usai jaga malam, tapi hari ini kamar itu sepi karena Pak Kobar meliburkan karyawannya berkaitan dengan jamuan makan spesial bersama Pak Dahlan, Pak Bejo dan Imron.

Masuk ke ruangan, Udin mengajak Pak Bejo untuk menonton bersama namun orang tua itu menolak, karena mabuk gelengan kepalanya lebih kencang dari seharusnya.

“Tidak usah, aku mau ke belakang dan tidur setelah ini. Kamu nonton saja di situ, gambarnya lumayan jelas. Aku juga sering nonton kalau lagi ada pasangan ngewe.” Kata Pak Bejo sambil menyalakan layar CCTV, suara desahan terdengar cukup keras ketika suara dikencangkan. Pak Bejo tergelak ketawa, “Itu Pak Dahlan sedang ngentotin kembang baruku, masih muda dan cantik. Kamu kenal Pak Dahlan kan?”

“Tahu, Pak. Dosen di Universitas X. Saya kan juga kuliah di sana, cuma beda jurusan. Pakde Kobar yang cerita.”

“Iya betul. Ya sudah, nonton saja.”

“Iya, Pak. Terima kasih.”

“Aku tinggal dulu ya,” kata Pak Bejo sambil menenggak birnya sekali lagi.

“Iya Pak.”

Udin mengeluskan telapak tangannya mengusir dingin, ini nih! Nonton live show! Seru!

Layar CCTV itu berwarna dan memiliki suara yang jernih walaupun hanya bisa ditonton melalui sebuah tv berukuran 14”, tapi bagi Udin semua jadi serasa high-def karena dia ingin sekali menyaksikan live show seks semacam ini. Udin cekikikan melihat di layar ada seorang pria yang sudah berumur menggumuli seorang gadis yang sepertinya cukup cantik dan muda belia.

Ya, gadis itu sangat cantik. Terlalu cantik malah untuk pria seperti Pak Dahlan, wajahnya yang cantik itu…

Udin memicingkan matanya, kenapa kok rasanya dia mengenal gadis itu ya? Pernah lihat dimana ya? Seperti…

Udin terbelalak kaget!

ITU KAN ANISSA??!!

Lampunya redup, tapi Udin bisa melihat dengan jelas. Gadis yang sangat ia kenal, yang pernah mengisi relung hatinya, yang membuatnya tak bisa tidur siang malam, yang ia inginkan seumur hidup, yang ingin ia jadikan ibu dari anak – anaknya, gadis yang ia cintai… bagaimana mungkin gadis itu sekarang berada di sana sedang bergumul tanpa busana dengan Pak Dahlan?!

Tak salah lagi, ia hapal benar wajah dan lekuk tubuh Anis! Benar itu Anissa! Anissa ada di sana! Terbaring telanjang di samping Pak Dahlan, salah seorang dosen Universitas X. Tangan Anis bergerak lincah menyusuri penis Pak Dahlan dan mengocoknya pelan sementara dosen itu memainkan payudara Anissa dengan bebas.

Udin benar – benar terkejut, dia tak mampu menggerakkan badan sedikitpun.

Bangsat tua itu!! Apa ia lakukan pada Anissa?!

Namun Udin perlahan menyadari, Anissa tidak seperti terpaksa melakukan ini semua, dia diam saja dan menerima perlakuan Pak Dahlan dengan pasrah, bahkan terkadang membalas perlakukan pria tua itu dengan lembut.

Apakah… apakah Anis sebenarnya adalah seorang pelacur?

Tidak mungkin.

Tidak mungkin…

Tidak mungkin!

Tidak mungkin itu Anissa?!!!

Walaupun besar keinginan Udin untuk mengingkari perasaannya bahwa gadis yang tengah bergumul dan berpagutan dengan Pak Dahlan di ruangan itu adalah Anissa, namun setelah detik demi detik berlalu untuk memastikan gerak tubuh yang sangat ia hapal itu memang benar yang ia kenal, Udin semakin dihadapkan pada kenyataan bahwa gadis itu memang benar Anissa.

Jemari Pak Dahlan terus saja memainkan puting susu Anissa dengan bebasnya, gadis itu menggelinjang karena rangsangan yang terus ia terima. Pak Dahlan tak berlama – lama di sana, tangan dosen tua itu akhirnya sampai di bibir kemaluan Anis.

“Ja, jangan, Pak…” protes si cantik itu ketakutan.

Pak Dahlan tentunya tidak mau berhenti begitu saja, jari tengahnya dengan lembut mengelus ujung kelentit Anissa.

“Sa, saya puaskan cuma pakai tangan saja boleh, Pak?” Anis masih terdengar takut.

“Aku mau merasakan memekmu.” Tangan dosen itu menangkup kemaluan Anis yang merekah merah dengan malu.

Anissa mendesah ketika jemari Pak Dahlan makin nakal, membuat si cantik itu mau tak mau membuka jenjang kakinya lebar. Salah satu tangan Anis mencoba menahan jemari Pak Dahlan agar tidak terus menerus menggoyang kelentitnya yang makin membuat Anissa gila.

“Ja, jangan… pak…”

Pak Dahlan tidak menjawab, bibirnyalah yang bergerak maju untuk mencium bibir mungil Anis. Udin tidak bisa mendengar bunyi ciuman mereka dari tempat ia menonton, tapi ia seakan bisa mendengar kecupan yang berkecipak cukup keras, basah dan lengket. Jelas mereka melakukannya dengan mulut yang terbuka. Tangan Pak Dahlan makin maju, kini masuk ke dalam liang cinta Anis dan bergerak memutar di dalam. Pemandangan ini, suara desahan yang kian lama terdengar makin keras dari keduanya, membuat Udin makin panas, ia tak bisa bergerak sedikitpun.

Udin bersumpah ia bisa melihat jempol Pak Dahlan bergerak untuk menstimulasi kelentit Anis menggantikan jari tengahnya yang kini masuk ke dalam memek Anissa menemani jari telunjuknya. Kaki Anissa yang jenjang ditekuk lututnya ke kanan dan kiri untuk memudahkan Pak Dahlan bermain. Bahkan pantat Anis pun kini bergerak seiring dengan gerakan jemari nakal Pak Dahlan. Udin bahkan bisa melihat saat Pak Dahlan membuka bibir kemaluan si cantik itu lebar – lebar untuk memperlihatkan bagian dalam liang yang berwarna merah muda. Udin gemetar, itu adalah bibir kemaluan gadis yang ia cintai!

Detak jantung Udin makin lama makin keras, ia tidak tau apakah sebaiknya menangis atau berteriak. Ia tidak rela Anissa diperlakukan seperti ini, namun ia juga tak bisa mengingkari kalau pemandangan ini membuatnya terangsang hebat. Udin hanya bisa terpaku karena tak percaya apa yang ia lihat, ia bahkan tak percaya ia masih bisa bernafas setelah melihat semua ini.

Tangan Pak Dahlan kini bergerak dari bawah ke atas kembali, mengincar buah dada sempurna milik Anis, ia meremas – remas kenyal payudara itu dan memilin pentilnya yang mungil. Ia tak lama melakukannya karena kemudian salah satu tangannya segera membimbing penisnya yang sudah mengeras ke bibir kemaluan Anissa. Udin bisa melihat kalau Anis ketakutan melihat penis itu mulai bergerak tanpa henti di mulut vaginanya, benar saja, dengan satu sodokan tanpa aba – aba Pak Dahlan melesakkan kontolnya ke dalam memek Anissa, membelahnya tanpa ampun, Anis hanya bisa menjerit karena sakit. Udin gemetar karena marah dan cemburu, pria itu tak pantas menyetubuhi Anis! Ia tak rela penis Pak Dahlan masuk ke dalam vagina Anissa yang ia cintai! Tapi… tapi pemandangan ini membuatnya… sangat panas… emosi dan nafsu Udin berbaur menjadi satu menimbulkan percikan perasaan yang tak bisa ia gambarkan.

Bibir kemaluan Anissa merekah menyambut penis Pak Dahlan yang keluar masuk tanpa ampun, bergerak cepat penuh tuntutan. Tubuh Udin gemetar antara tak tega melihat Anis diperlakukan seperti itu dan nafsu birahi binatang yang menggelegak dalam tubuhnya. Gadis yang cantik itu, yang jadi pujaan di kampus, yang telah bertunangan dengan seorang pria yang baik, sedang digauli oleh seorang serigala tua yang buas. Udin masih terus menatap tak percaya.

Ujung gundul penis Pak Dahlan menumbuk Anissa seperti pejuang yang hendak meruntuhkan tembok pertahanan musuh, cepat dan keras, tubuh Anis berulangkali terlonjak antara rasa sakit dan desakan yang sangat keras dari bawah. Udin sadar tak ada gunanya ia memprotes apa yang terjadi. Dalam alam bawah sadarnya ia ingin ini terjadi, ia ingin Anissa yang telah menolaknya itu dihakimi dan direndahkan seperti ini. Namun kecipak ciuman yang terjadi antara dosen dan mahasiswi dengan rentang usia jauh itu membuat Udin sakit hati.

Kenapa bukan dia yang ada di sana memeluk sang buah hati?

Kenapa bukan dia yang ada di sana mencium Anissa?

“Kamu manis sekali.” kata Pak Dahlan yang masih memeluk Anis.

Pak Dahlan mencium bibir Anis sekali lagi dan membisikkan beberapa kata yang terlalu pelan bagi Udin untuk bisa mendengarkannya. Tapi ia bisa melihat dengan jelas penis Pak Dahlan masih terus keluar masuk, menguasai vagina Anissa.

Yang bisa didengarkan Udin adalah suara erangan penuh nafsu yang dikeluarkan dari mulut manis Anissa. Gadis itu mendesah, mengembik dan mengerang ketika penis lelaki tua yang pantas menjadi ayahnya itu menguasai liang cintanya yang mungil.

Air mata hampir menetes di pelupuk mata Udin.

Sudah cukup. Sepertinya itu semua sudah cukup, batin Udin sambil berdiri dan mematikan TV. Ia tidak butuh melihat ini lebih lama lagi. Ia berhenti bukan karena ia tidak ingin melihat kemolekan Anissa, ia berhenti karena tidak kuat menahan gejolak cemburu dan nafsu yang terus menggelegak dan memangsanya dari dalam. Dengan pilu Udin meninggalkan tempatnya menonton. Pedih rasanya melihat Anissa seperti itu. Kenapa, Nis? Kenapa kamu lakukan ini? Kenapa kamu jatuh ke dalam situsasi hina seperti itu? Apa yang telah terjadi?

Tangan pemuda itu terkepal dan nafasnya menjadi tak teratur.

Ya. Udin tahu apa yang ia inginkan.

Bukan. Ia tidak menginginkan jawaban kenapa Anissa berbuat demikian.

Yang ia inginkan adalah Anissa. Ia ingin tubuh indah itu jadi miliknya.

Ketika ia kembali ke ruangan tempat Pak Kobar, Pak Bejo dan Imron berada, mereka masih saja bersenda gurau dan bermabuk-mabukan. Udin menolak tawaran bir, duduk di pojok dan langsung memeras otak. Besok dia harus bicara dari hati ke hati dengan Anissa.

Oh ya, hati – hatilah Anissa.

Udin yang baru telah datang.

…dan kamu akan membayar mahal atas semua ini.

###

0 comments:

Post a Comment