Pages

Thursday, February 9, 2012

Villa Upon the Hill

Senja telah tiba, matahari mulai tenggelam di ufuk barat mewarnai langit dengan warna jingga yang indah sebelum pergi ke belahan bumi yang lain. Pemandangan senja di daerah pegunungan itu nampak begitu asri, perbukitan yang hijau, pohon-pohon rindang dan langit yang menguning. Waktu saat itu telah menunjukkan pukul setengah enam sore. Beberapa orang pekerja di sebuah kawasan villa elit nampak sedang beres-beres dan menyelesaikan pekerjaan yang tanggung di sebuah villa yang sedang direnovasi.

“Huah…segernya, ayo-ayo siapa lagi nih !”

Parjo mengelap rambutnya dengan handuk yang tergantung di lehernya, ia keluar dengan bertelanjang dada dan hanya memakai celana panjangnya saja.

“Gua dulu yah, udah gerah nih daritadi” kata salah seorang dari kuli bangunan itu yang mukanya agak bopengan itu.

“Wei…wei, gua dulu aja, lu mah mandinya kaya ganti kulit, tobat dah nunggu lu mandi!” sela yang kurus berkumis tipis.

“Ya udah kita bareng aja yuk mandinya kalau males nungguin mah !” kata si muka bopeng.

“Macem-macem aja, masa gua mandi bareng laki-laki, apa kata dunia nanti !” balas si kurus sambil berjalan ke dalam, “udah gua dulu aja !”

“Heh…heh, udah-udah, kok kaya anak kecil aja sih mandi sampe rebutan gitu !” Parjo, si mandor itu berkacak pinggang menegor anak buahnya.

Seorang lagi yang sedang membereskan peralatan tersenyum-senyum saja melihat tingkah mereka. Saat itu, sebuah mobil panther merah datang dan berbelok memasuki pekarangan villa di seberang mereka sehingga mengalihkan perhatian para kuli yang sedang rebutan giliran mandi itu.

Keempatnya terpana ketika pintu kemudi terbuka, dari dalamnya keluar seorang gadis cantik berkacamata hitam dan berambut dikuncir ke belakang dengan pakaian minim yaitu tanktop pink dipadu celana hotpants yang sangat pendek sehingga mengekspos bentuk tubuhnya yang indah terutama sepasang pahanya yang jenjang dan putih mulus itu. Setelah itu pintu sebelah dan belakang juga terbuka dan keluar gadis lain yang tidak kalah cantik dari gadis berkacamata hitam yang mengemudikan mobil itu.

Jumlah mereka seluruhnya ada empat, salah seorang diantaranya seorang gadis bule berambut pirang, mereka rata-rata berusia awal duapuluhan atau mungkin kurang, keempatnya memakai pakaian santai yang minim dan menggoda mata setiap pria untuk memelototinya. Dilihat dari penampilan, mereka sepertinya mahasiswi anak-anak orang kaya yang menghabiskan liburan di villanya. Canda tawa cekikikan khas gadis muda terdengar begitu mereka turun dari mobil. Si gadis berkacamata hitam itu melemparkan kunci pada seorang dari mereka yang berambut panjang lurus dan menyuruhnya membuka pintu, sementara ia berjalan ke belakang mobil untuk membuka bagasi.

Keempat kuli bangunan itu makin terpesona ketika gadis itu menaikan kacamata hitamnya ke atas sehingga memperlihatkan matanya yang indah, apalagi ketiga gadis itu ternyata melihat ke arah mereka. Seperti mau copot saja jantung keempat pria itu. Gadis itu tersenyum manis sebagai basa-basi lalu mengambil travel bag dari bagasi.

“Gila tuh bos, bodynya mantep banget, jadi gemes pengen noel !” kata si kurus terus memandangi ke seberang sana.

“Edan tuh paha bisa mulus gitu, kalau dipegang kaya apa rasanya yah” timpal yang bertopi caping yang terakhir membereskan peralatan tadi.

“Ada bulenya segala lagi, wah-wah coba kalau bisa mandi sama dia, ck..ck !” si muka bopeng geleng-geleng kepala mulai berfantasi.

“Hee…udah-udah mupeng melulu lu orang pada, ayo mandi-mandi sana buru, udah mau gelap nih !” Parjo membuyarkan lamunan mesum anak buahnya sekalian jaga wibawa setelah gadis itu masuk ke dalam.

“Huehehe…si bos juga bengong gitu tadi, hayo sama-sama mupeng dong !” ledek si muka bopeng.

“Sialan, gua gergaji juga nih lo !”

Si bopeng segera berlari kecil ke dalam sambil tertawa-tawa. Parjo mengambil kemejanya dan memakainya, lalu ia menyelipkan sebatang rokok pada bibir tebalnya. Di pikirannya masih terbayang kecantikan dan keseksian empat gadis dari villa seberang itu.

“Ini malem kita nginep disini kayanya lebih enak nih Jo, ya ga hehehe !” kata si topi caping itu menepuk bahu Parjo dan duduk di sebelahnya.

“Ah bisa aja lo Min, enak apa susah tidur gara-gara ga tahan liat yang di seberang sana !” ujarnya sambil menghembuskan asap rokok dari mulutnya.

Sudah lima hari ini Parjo dan anak buahnya bekerja merenovasi villa itu..Pemilik baru villa itu merombak beberapa bagian villa itu agar sesuai seleranya, tadi siang orang itu datang dan mengomel karena ada sedikit kesalahan tata letak sehingga mereka harus mengubahnya sedikit, karena itulah kerja hari ini sedikit lebih lama dari biasanya. Dalam hati kecil sebenarnya ingin mengintip mereka, siapa tahu beruntung melihat mereka sedang berenang atau ganti baju, tapi ia segera tersadar dan mengingat lagi anak istrinya di ibukota sehingga membuyarkan pikiran kotor itu. Ia lalu mengecek pekerjaan hari itu sambil ngobrol-ngobrol santai dengan dua pekerjanya.

“Nah gini nih maunya si tante cerewet itu, semoga besok-besok dia kesini gak ngomel lagi kaya tadi, dasar ibu-ibu” katanya mengamati pekerjaaan yang telah diperbaiki.

“Kalau bagian sini perlu dilapis marmer lagi ga bos ?” tanya si kurus.

“Lapisin aja biar bagus, takutnya si tante itu ribut lagi”

“Udah tuh Mat, gua ga lama kan, tuh mandi sana !” si bopeng keluar dengan handuk tergantung di bahu.

“Tumben cepet lu, kenapa, ada kuntilanak di kamar mandi ?” goda si kurus berkumis yang bernama Mamat itu.

Mamat baru saja hendak masuk ke dalam ketika tiba-tiba gadis dari villa seberang itu memanggil ke arah mereka. Keempatnya sempat celingak-celinguk karena tidak ada siapa-siapa lagi selain mereka disitu. Gadis itu lalu menyeberangi jalan yang tidak terlalu lebar itu dan mendekati mereka.

“Bisa tolong turunin barang di bagasi gak Pak ? lumayan berat sih.” tanya gadis yang mengemudikan mobil tadi, ia masih memakai bajunya yang tadi kecuali kacamata hitamnya.

“Ooo…iya, iya Non, bisa !” jawab Parjo tanpa mampu berkonsentrasi.

Maklumlah gadis di hadapannya ini benar-benar mempesona, jauh diatas standar wanita-wanita di warung remang-remang ataupun lokalisasi murahan. Seperti kerbau dicocok hidungnya mereka mengikuti si gadis itu ke seberang.

“Omong-omong Non-non ini lagi liburan disini yah ?” Mamat mencoba mengajak ngobrol tanpa bisa melepas pandangan matanya dari tubuh gadis itu,

“Non yang punya villa ini yah ?” tanya Parjo yang dijawab gadis itu dengan anggukan.

Aroma harum parfum mahal tercium dari tubuh gadis ini, begitu menggoda dan membangkitkan gairah. Suatu ketika lengan kekar Parjo bersentuhan dengan lengan halus gadis itu.

“Gile mulusnya, bener-bener kaya sutra !” diam-diam ia bersyukur dalam hati.
Si bopeng dan Amin yang berjalan di belakangnya juga terus memperhatikan pinggul gadis itu yang padat di balik celana hotpantsnya yang pendek, tangan mereka gatal ingin mengelusnya tapi takut kena damprat.

“Nah ini Pak, isinya bahan-bahan makanan buat barbeque-an sama alat masak, tolong yah Pak !” pintanya setelah membuka bagasi menunjuk sebuah box plastik.

“Ooo…ini sih gampang Non, mari sini saya angkatin !” sekali angkat box itu sudah pindah ke dekapan Parjo, si mandor itu.

“Makasih yah Pak, ayo kita ke dalam !” gadis itu berterima kasih dengan mengembangkan senyumnya yang manis sambil menutup bagasi.

Kalau saja para kuli bangunan itu jeli dan pandangan mereka tidak melulu pada gadis jelita ini, mereka akan dengan jelas melihat di bawah karpet bagasi itu terdapat genangan darah dan rambut manusia. Mereka mengikuti gadis itu masuk ke villa dengan hati girang, setidaknya bisa berkenalan atau diberi minum kopi juga sudah cukuplah.

“Taro sini aja Pak!” gadis itu menyuruh Parjo meletakan kotak itu meja dapur,

“makasih ya, Bapak-bapak mau minum apa ?”

“Apa aja deh Non hehee…air putih juga ga apa-apa, bisa nolongin Non juga udah seneng kok kita !” Amin menjawab terbata-bata.

Gadis itu mempersilakan keempatnya masuk ke ruang tengah. Mereka terkagum-kagum melihat interior dan perabotan elegan di dalamnya.

“Hai…apakabar !” sapa seseorang di ruang tengah ketika mereka masuk.

Ternyata si gadis bule tadi sedang nonton TV sambil selonjoran di sofa. Ia segera memperbaiki duduknya dan mempersilakan mereka duduk. Bahasa Indonesianya lumayan juga walau logat bulenya masih kental, sepertinya ia sudah cukup lama tinggal di Indonesia.

“Gile bos, kaya masuk surga aja nih hari ya !” kata Mamat setengah berbisik pada mandornya.

Begitu dipersilakan duduk si bopeng langsung dengan sigap mengambil tempat di sebelah si bule itu.

“Sialan lu, gua udah pengen disitu malah keburu lu ambil !” gerutu Mamat dalam hati.

Yang lain juga mengambil tempatnya masing-masing.
Mereka mulai berbasa-basi tanpa melepas pandangannya dari gadis bule itu. Pria normal mana yang tidak tergiur melihat gadis cantik berambut pirang sebahu dan bermata hijau yang menawan. Gaun terusannya yang mini memamerkan sepasang paha jenjangnya yang mulus, juga potongan dadanya yang rendah itu memperlihatkan belahan dadanya.

“Eenngg…Non ini namanya siapa ?” tanya Parjo.

“Samantha…panggil saja Sam !” jawab gadis itu ramah, pembawaannya santai saja tidak nampak risih walau duduk di antara kuli-kuli bangunan yang memandang lapar padanya.

“Silakan Pak, diminum dulu tehnya !” gadis pemilik villa itu datang dengan membawa empat gelas teh panas dengan sebuah baki.

“Makasih Non, padahal kita kan cuma nolongin dikit nih !” kata Amin.

Jakun Mamat dan Parjo nampak naik turun melihat belahan dada gadis itu ketika menunduk untuk meletakkan gelas di depan mereka.
Parjo memperkenalkan teman-temannya pada kedua gadis itu. Mamat si kurus yang berkumis itu berumur 37 tahun, yang mukanya agak bopengan dan bertubuh agak pendek itu usianya 40 tahun bernama Ghozi, serta Amin yang berusia 51 tahun, sebaya dengan Parjo, namun rambutnya sudah agak beruban dan tipis. Kulit keempatnya begitu kontras dengan kedua gadis di ruang itu, mereka berkulit gelap dan kasar sementara kedua gadis ini begitu cantik dan berkulit putih mulus.

Gadis itu lalu menjatuhkan pantatnya di sofa tunggal yang berseberangan dengan Samantha dan Ghozi. Ia memperkenalkan diri sebagai Arlene (21 th), seorang mahasiswi fakultas psikologi dari sebuah universitas swasta di ibukota.

“Teman saya ini juga sekampus kok, cuma beda fakultas” ujarnya memperkenalkan Samantha.

“Ooohh…emang kalau Non Sam dari fakultas apa nih ?” tanya Gozhi.

“Eemm…saya fakultas arsitektur, ya tugasnya gambar-gambar sketsa rumah seperti itu” jawab Samantha dengan logatnya yang khas.

“Asik yah Non liburan ke tempat yang tenang gini, bikin otak seger lagi hehe” kata Amin

“Omong-omong tadi sepertinya kita liat ada empat orang yah Non, yang lain lagi ngapain nih ?” tanya Mamat.

Arlene
“Lagi pada mandi tuh keliatannya, cape dijalan seharian” jawab Arlene seraya menunjuk pada pintu yang tertutup di belakangnya.

Keempat pria itu terdiam beberapa saat, bingung mau omong apa lagi karena deg-degan mengagumi kecantikan dan keseksian kedua dara ini, ada yang meneguk tehnya, ada juga yang membayangkan tubuh-tubuh telanjang yang sedang diguyur air dibalik pintu itu.

“Sam, don’t you feel he looks like want to eat you?” kata Arlene sambil tersenyum pada teman bulenya.

Samantha

“Yea…their eyes has told it, also to you” jawab Samantha.

“I’m sure they will ‘do’ us, if they stay here longer” Arlene membuat tanda kutip dengan kedua jari tengah dan telunjuknya.

“Hayo lagi ngomongin apa nih, kok pake Bahasa Inggris nih biar kita ga tau?” tanya Parjo.

“Ada deh, urusan cewek kok pokoknya ga perlu tau” Arlene tersenyum nakal.

“Iya…bukan masalah penting kok, ayo silakan diminum” Samantha mengalihkan pembicaraan.

Tiba-tiba pintu di belakang Arlene membuka dari dalam dan keluar seorang gadis mengenakan kimono kuning dan handuk yang masih tergulung di atas kepalanya. Gadis itu adalah yang tadi menerima kunci yang dilemparkan Arlene ketika baru turun dari mobil.

“Uuppss…ada tamu nih ?” gadis itu agak terkejut melihat ruang tengah itu penuh orang.

“Yang ngebangun villa di seberang tuh, tadi bantuin angkatin box ransum kita”

Arlene memperkenalkan, “Nah ini Grace namanya, sama-sama temen kuliahan juga.”

“Hai” Grace menyapa ramah sambil tersenyum manis.

Sungguh keempat pasang mata itu terpana melihat kemunculan Grace, saat itu wajahnya sudah bersih dari make-up karena baru selesai mandi, namun itu tidak mengurangi kecantikannya, dengan kimononya yang menggantung 10 cm diatas lutut penampilannya sangat mempesona. Tatapan nakal mereka nampaknya membuat Grace sedikit nervous, walau begitu ia berusaha tetap ramah pada mereka.

“Permisi yah Non, bisa saya numpang ke toilet sebentar?” Amin berdiri bermaksud ke kamar mandi itu.

“Eh…jangan disini Pak, masih ada orangnya didalem” kata Grace, “mari saya anterin aja ke toilet yang satu lagi”

“Maaf yah Non, jadi ngerepotin nih” pria setengah baya itu diam-diam merasa senang, setidaknya ada kesempatan berduaan dengan gadis ayu itu.

Amin pun permisi pada mereka untuk mengikuti Grace ke toilet.

“Have a good time, baby !” kata Samantha tersenyum pada temannya.

“You too, girls” balas Grace sambil mengedipkan sebelah mata dan menepuk bahu gadis bule itu ketika melintas di sebelahnya.

*****

Amin mengikuti Grace yang membawanya keluar ke halaman samping villa. Amin tampak kagum memandangi villa yang besar dan mewah itu. Mereka berjalan menyusuri koridor yang sebelahnya terdapat halaman berumput dengan sebuah paviliun untuk bersantai. Saat itu langit sudah gelap, lampu taman telah menyala membuat suasana terasa lebih indah.

“Bagus yah villanya Non, kalau liburan kalian sering kesini yah ?” tanya Amin sambil terus memandangi Grace yang berjalan di depannya, seolah-olah matanya melihat tembus pandang ke balik kimono gadis itu.

“Ya gantianlah kadang kita ngumpul di villa temen lain juga, jadi suasananya bervariasi” jawabnya, “bapak sendiri udah berapa lama kerja di seberang sana ?”

“Belum lama, baru seminggu kurang kok” jawabnya, “ini yah toiletnya Non ?”

Grace menekan sakelar di sebelah pintu sehingga lampu menyala. Toilet itu berukuran kecil, sekitar 2x3 meter, dengan WC jongkok dan bak air berlapis ubin krem. Walau demikian kondisinya bersih dan tidak bau apek, air di dalam bak juga jernih karena berasal dari gunung. Tidak terasa mereka telah jauh dari ruang tengah tempat yang lain berkumpul, yang terdengar di sekitar mereka hanya suara jangkrik dan desiran angin malam.

“Disini Pak, saya tinggal ke kamar dulu yah, mau pakai baju nih” kata Grace.

“Eee…entar Non, jangan pergi dulu, ntar saya nyasar gimana, kan villanya lumayan gede nih” cegah Amin yang tak rela gadis itu pergi begitu saja.

“Gak bakal lah Pak, itu tinggal lurus belok kanan terus kanan lagi kan udah sampe ruang tengah”

“Tapi tungguin bentar aja yah Non, Bapak kan orang asing, ga enak sendirian disini” pintanya, “takut-takut malah ketemunya kuntilanak hehehe” ia mencoba bercanda agar lebih dekat dengan gadis itu.

“Hhhmm…ya udah gih, cepetan saya tunggu di luar sini” katanya.

Di dalam toilet, Amin membuka celananya dan mengeluarkan air seninya dengan lega. Penisnya sudah ereksi akibat membayangkan yang jorok-jorok daritadi sehingga ia harus menekannya agar mengarah ke lubang WC. Amin tidak menyadari ketika sedang asyik buang air sepasang mata mengawasinya dari jendela kaca di atas pintu di belakangnya. Wajah pucat yang menyeramkan itu memiliki rambut hitam panjang yang kasar yang menutupi wajahnya sebelah, matanya begitu cekung ke dalam dengan lingkaran mata yang hitam.

Entah bagaimana sosok menyeramkan itu bisa mengintip dari jendela kaca itu, mungkin melayang di udara, mungkin memiliki leher panjang, atau mungkin juga tidak memiliki badan. Amin bersiul-siul sambil menyelesaikan buang air kecilnya. WC ini sangat bersih dan rapi, tapi entah kenapa terasa sangat sepi dan dingin. Semilir angin pelan yang menghembus membuat Amin sedikit tegang. Jengkel juga ia karena terlalu sering mendengarkan cerita seram dari teman-temannya, kadang membuat ia berpikiran yang aneh-aneh. Tapi di tengah angin yang berhembus pelan itu sekonyong-konyong tercium bau wangi kembang, ada yang aneh di tempat ini. Ia merasa seperti sedang diawasi... oleh seseorang.
‘tuk !’ wajah seram itu menyentuh sedikit kaca itu sehingga memancing perhatian Amin.
Pria itu berbalik dan memandang sekeliling, tidak ada apa-apa termasuk di jendela atas pintu itu, ia merasa bulu kuduknya merinding.

“Serangga sialan !” omelnya dalam hati, “bikin orang mikir aneh-aneh aja”

“Non Grace, ternyata masih disini, makasih nih mau nungguin saya !” katanya setelah membuka pintu dan menemukan gadis itu masih di luar.

Grace sedang menghanduki rambut panjangnya dengan handuk yang tadi digulung di atas kepalanya. Ia terlihat semakin cantik dengan rambutnya yang masih basah itu.

“Ayo Pak, kita kembali ke dalam, disini dingin, banyak nyamuk lagi.”

“Sebentar Non, coba kesini sebentar, krannya kok ga mau nutup ini”

“Gak mau nutup gimana?” Grace melangkah masuk ke kamar mandi.

Begitu ia menjejakan kaki ke dalam, Amin dengan sigap menutup pintu dan menguncinya. Kemudian ia meraih lengan dan pinggang gadis itu untuk memeluknya, juga didorongnya ke belakang sehingga memepet ke tembok. Tentu saja Grace terkejut dan meronta-ronta untuk melepaskan diri dari pelukannya.

“Pak, apa-apaan ini, jangan kurang ajar yah !” kata Grace kaget sambil terus meronta.

“Ayo dong Non, kan tadi Non bilang dingin, makannya kita berbagi kehangatan sebentar disini” jawab Amin tepat di dekat wajah Grace sehingga hembusan nafasnya terasa menerpa pipinya yang halus.

“Nggak….gak mau, lepasin, lepas…mmmhhh !” kata-katanya tidak sempat terselesaikan karena pria itu membungkam mulutnya dengan bibirnya yang tebal.
Grace mengatupkan bibirnya rapat-rapat, ia merasa jijik lidah kuli bangunan itu memasuki mulutnya, namun ia tidak berdaya melawan karena Amin mendekapnya dengan kuat. Semakin ia meronta malah semakin menimbulkan kontak dan gesekan dengan tubuh Amin yang malah makin menaikkan gairah pria itu.

Tangan kasar pria itu meraba-raba di bagian bawah menyingkap kimononya dan menyusup ke dalam. Dielusnya kulit paha gadis itu yang mulus terus naik hingga menyentuh bongkahan pantatnya, sesuai dugaan, Grace tidak memakai apapun di balik kimononya. Dengan gemas Amin mengelus dan meremasi pantat yang sekal itu, lalu tangannya merambat ke depan dan menyentuh kemaluan gadis itu yang berbulu lebat. Tubuh Grace tersentak seperti kena setrum saat jari-jari pria itu menyentuh bibir vaginanya yang sensitif.

Rasa jijik yang menyelimutinya mulai berubah menjadi kenikmatan, darahnya berdesir karena elusan-elusan nakal pada daerah sensitifnya sehingga perlawanannya pun mengendur. Amin terus menggesek-gesekan tubuhnya mereka, terasa sekali buah dada yang empuk itu bersentuhan dengan tubuhnya dibalik pakaian.

“Eeemm…mmmm !” bibir Grace akhirnya mulai membuka karena susah bernafas, saat itulah lidah kuli bangunan itu menerobos masuk dan langsung menyapu telak rongga mulutnya.

Grace pasrah saja ketika lidah pria itu berhasil mengulum dan membelit lidahnya. Ia dapat merasakan bau mulut dan ludah pria itu yang tidak sedap, namun ia sudah lelah untuk melawan dan semakin terseret dalam birahinya. Secara naluriah Grace merespon rangsangan yang diterimanya, lidahnya mulai menari-nari membalas lidah kasap pria itu.

Tubuhnya menggelinjang tak tertahankan karena pria itu terus mengaduk-aduk vaginanya dengan jarinya, ia merapatkan paha karena menahan geli namun itu malah membuat pria itu menikmati kemulusan pahanya. Merasa sudah diatas angin, Amin melepaskan cengkeramannya pada pergelangan tangan Grace dan tangannya turun ke bawah membuka simpul tali pinggang kimono itu. Sekali tarik terbukalah simpul itu, tidak berhenti sampai situ, tangan itu terus menyusup ke balik kimono yang sudah terbuka dan meraba-raba tubuhnya.

“Hhnnghh…oohh !” lenguh Grace begitu Amin melepas lumatannya pada bibirnya, nafasnya sudah tak teratur.

Amin menyeringai memandangi tubuh Grace yang tersaji di hadapannya. Mata Amin seperti mau copot saking takjubnya, seumur hidup baru pernah ia menyaksikan tubuh sesempurna itu. Payudaranya yang berukuran sedang dengan puting kecoklatan, perut rata tanpa lipatan, dan kemaluannya yang berbulu lebat sungguh membuatnya menelan ludah. Gadis ini bagaikan langit dan bumi bila dibandingkan dengan pelacur-pelacur kelas bawah yang pernah ditidurinya, bahkan istrinya sendiri ketika muda.

“Non Grace cantik banget, saya bener-bener ga tahan deh” gumamnya sambil buru-buru melepas kemeja lusuh dan celananya.

Setelah bugil Amin kembali mendekap Grace yang masih terengah-engah mengatur nafas, kini dirasakan kulitnya yang gelap dan kasar itu bergesekan dengan kulit Grace yang lembut serta buah dadanya yang kenyal.

“Eemmghh !” desah Grace ketika kuli bangunan itu meremas payudara kanannya.
Bibir pria itu menyusuri leher jenjangnya, menjilati hingga telinganya memberi sensasi geli yang nikmat. Jari-jarinya yang nakal memilin-milin putingnya hingga semakin lama semakin mengeras sementara tangan satunya bergerilya menyusuri lekuk tubuhnya yang indah. Sambil menjilati lehernya, Amin menghirup aroma harum dari tubuh gadis itu karena baru saja selesai mandi.

“MMhhh…Pak !” akhirnya erangan nikmat Grace keluar juga.

Tubuhnya tidak bisa berbohong dan semakin larut menikmati perlakuan Amin padanya. Ia melingkarkan tangannya memeluk pria itu. Ia merasa vaginanya semakin basah dan berdenyut karena pria itu sengaja menggesekkan penisnya yang telah mengeras ke wilayah itu.

“Jangan Pak, cukup…nanti yang lain tau !” pinta Grace saat pria itu menekan penisnya untuk memasuki vaginanya, kepala penis bersunat itu telah tepat berada di belahan bibir gadis itu.

“Tanggung Non, sebentar aja kok…udah enak gini !” Amin tidak menggubris permintaannya dan mengangkat paha kiri gadis itu.

“Aauuhh !” rintih Grace menahan nyeri pada vaginanya yang dibobol penis pria itu,

“jangan kasar-kasar Pak…aahh !” ia mempererat cengkeramannya pada lengan pria itu.

“Uuhhh…masuk juga, enaknya, sempit banget Non” Amin meresapi kehangatan dan kelegitan vagina Grace pada penisnya yang telah tertancap itu.

“Duh…kasar banget sih Pak !” keluh gadis itu dengan wajah meringis karena masih terasa sakit pada vaginanya.

“Maaf Non, abis ga bisa nahan nafsu, Non cantik banget sih, bahenol lagi !”

Namun disamping rasa sakit itu, Grace tidak bisa mengingkari bahwa ada rasa nikmat juga yang menjalari tubuhnya, terlebih setelah penis itu tertancap di vaginanya pria itu mencumbunya dengan lembut sehingga menciptakan peralihan yang tepat antara kasar dan lembut. Sambil berciuman, Amin mulai menggoyangkan pinggulnya menyebabkan gadis itu mendesah tertahan. Tangannya yang menopang paha kiri gadis itu mengelusi kulitnya yang lembut, kadang juga mengelusi pinggulnya.

Penis pria itu yang menyesaki vaginanya dan himpitan dinding vaginanya yang kurat membuat Grace seperti melayang tinggi. Tubuhnya menggelinjang hebat dan bergoncang seirama hentakan pria itu, dari mulutnya keluar erangan-erangan nikmat tanpa bisa ditahan. Tak lama kemudian ia merasakan kakinya yang satu lagi juga diangkat sehingga tidak lagi menginjak bumi, refleks ia pun memeluk pria itu lebih erat.

Amin mendudukannya di pinggir bak air lalu kembali menggenjotnya. Posisi demikian memungkinkan Amin untuk melumat payudaranya. Disedotnya buah dada itu dengan rakus, seluruh permukaan payudara itu ia jilati hingga berlumuran air liurnya, setelah puas ia sedoti dengan kuat. Wajah Grace mendongak ke langit-langit dengan mata terpejam, ia begitu menikmatinya sampai tubuhnya menggelinjang tak terkendali.

“Pak…oohh…oohh…iya, kerasan…ahhh !” mulutnya menceracau tak jelas sambil menggigit bibir bawahnya.

Saat itu yang terdengar di sana hanya dengus nafas dan erangan kedua insan yang sedang bersenggama itu. Seekor cicak di dinding dan serangga-serangga kecil yang berputar-putar di sekitar bohlam 25 watt di plafon menjadi saksi atas perbuatan mereka. Persetubuhan itu semakin panas saja, sodokan-sodokan Amin semakin bertenaga sehingga tubuh Grace pun tersentak-sentak.

‘Duk !” gayung yang diletakkan di bibir bak terjatuh karena tersenggol lengan Grace, mereka tidak mempedulikannya dan terus bergumul hebat. Mereka saling cium, saling raba dan berpelukan. Kimono yang masih melekat di tubuh Grace sudah berantakan dan melorot di bahu kirinya.

“Uuhh…Non Grace…enakkhh…oohhh…uuuhh !” pria itu melenguh sambil menusuk-nusukkan penisnya lebih dalam.

Kembali mulutnya melumat bibir gadis itu dan kembali mereka terlibat percumbuan panas. Pada saat itu, Grace juga merasakan vaginanya berkontraksi semakin cepat, sebentar lagi ia juga akan mencapai orgasmenya. Sepasang kakinya yang jenjang itu melingkari pinggang si kuli bangunan itu dan lengannya memeluk makin erat.

“Aarrrgghh !!” seperti suara koor, mereka menggeram bersamaan.

Amin merasakan penisnya seperti dihisap dan diremas-remas oleh dinding vagina Grace yang sempit dan bergerinjal-gerinjal. Beberapa kali penisnya menyemburkan spermanya di dalam sana. Akhirnya tubuh mereka bersama-sama melemas kembali, deru nafas keduanya terdengar di toilet itu. Mereka masih saling berpelukan dan alat kelaminnya masih menyatu.

Dalam hati Amin merasa sangat puas, tidak disangka orang seperti dirinya bisa beroleh kesempatan main dengan gadis kelas elite seperti ini. Ia meresapi sisa-sisa orgasmenya dengan memberikan kecupan-kecupan ringan di bibir gadis itu dan memijati payudaranya.

“Ayo Pak, kita harus kembali, supaya ga dicariin !” Grace melepas pelukannya setelah cukup pulih.

“Bentar lagi Non, kapan lagi kan kita bisa ginian, saya pengen ngerasain mulut Non dulu, boleh kan ?” pinta pria itu tanpa malu-malu, nampaknya ia ingin memanfaatkan kesempatan langka ini semaksimal mungkin.

Awalnya Grace menolak karena takut yang lain akan mencari kesini, tapi Amin terus membujuknya, ia sudah tidak peduli ada orang yang datang kesini yang penting bisa menikmati gadis cantik itu sepuas-puasnya dalam waktu yang sangat terbatas. Dengan agak terpaksa Grace pun berlutut dan meraih penis pria itu yang berlumuran sisa sperma dan cairan vaginanya,ukurannya sudah menyusut, tapi lumayan besar juga.

“Uuuu…gitu Non…mantaphhh !” desahnya ketika gadis itu menyapukan lidah pada batang penisnya.

Setelah melakukan cleaning service, Grace mulai memasukan penis itu ke mulutnya, mula-mula ia emut-emut sebentar kepala penisnya yang seperti jamur, lalu masuk lebih dalam lagi hingga menyentuh kerongkongannya. Amin mendesah sambil meremas-remas rambut gadis itu, matanya merem-melek menahan nikmat. Grace cukup pandai memanjakan penis itu sehingga benda itu mulai mengeras di mulutnya. Lima menit kemudian, Amin menyuruhnya menghentikan oral seksnya.

“Sekali lagi yah, Non, ini yang terakhir, saya janji deh” katanya sambil membalikan tubuh gadis itu.

Kini Grace berdiri menghadap tembok dengan bertumpu pada kedua lengannya. Amin mendorong punggungnya hingga agak condong ke depan. Lalu disibaknya kimono yang menutupi bagian bawah tubuhnya.

“Ouch…aahh…hhgghh !” Grace berkali-kali mendesis menahan nikmat yang mulai kembali menjalari tubuhnya.

Keduanya sama-sama menahan nafas ketika penis itu masuk ke vaginanya hingga ke pangkalnya. Grace merasa vaginanya makin berdenyut-denyut meremas penis Amin yang menjejalinya.

Sambil berpegangan pada kedua payudara Grace, Amin menyodok-nyodokan penisnya. Gerakan penisnya semakin lancar dan cepat karena vagina gadis itu sudah sangat becek.

“Ohh…Non, memeknya rapat banget…uuhh…enaknya !” Amin bergumam tak karuan, tangannya sesekali menepuk pantat gadis itu.

Tanpa diperintah, Grace pun menggoyangkan pantatnya mengikuti irama tusukan penis pria itu.

“Teruss…yahhh…terushh Pak !” desahan Grace begitu ribut sehingga membuat Amin semakin bernafsu menyetubuhinya.

Akhirnya setelah sepuluh menitan, gadis itu mengerang histeris. Tubuhnya tersentak-sentak dalam dekapan Amin yang juga mencapai orgasme. Amin menusukan penisnya dalam-dalam sambil memuncratkan isinya. Mereka berpelukan erat dengan nafas menderu-deru hingga gelombang kenikmatan itu reda. Berangsur-angsur penis pria itu mulai melembek hingga terlepas dari vaginanya.

“Makasih yah Non Grace” katanya dekat telinga gadis itu.

Grace hanya terdiam tidak tahu harus omong apa, dia baru saja menikmati kenikmatan seksual dengan orang asing yang baru saja ditemuinya. Ia menggayung air lalu menyiramkannya ke kewanitaannya untuk membersihan lelehan sperma di sekitarnya.

“Kita harus bilang apa ke mereka Pak ?” tanyanya sambil mengikatkan kembali kimononya.

“Bilang aja saya buang air besar, tapi kalau mereka tau juga masabodolah hehehe !” jawab Amin asal.

“Dasar laki-laki !” omel Grace sambil membuka pintu dan melangkah keluar.
Mereka kembali menyusuri koridor menuju ke ruang tengah. Keduanya terperangah begitu kembali tempat itu dan melihat apa yang mereka dapati disana.

*******

“Kalian ini rencananya berapa hari nginep disini ?” tanya Mamat.

“Gak lama sih paling dua hari satu malam, masih banyak kerjaan lain, jadi perlu refreshing sebentar” jawab Arlene.

“Yang masih mandi itu siapa Non namanya?” tanya Parjo.

“Katherine” Sam menjawabnya.

Mereka ngobrol-ngobrol basa-basi sambil menonton acara di TV. Sudah hampir sepuluh menit tapi Amin yang daritadi ke toilet ditemani Grace masih belum kembali juga.

“Omong-omong si Amin mana sih ? kok lama sekali tuh ?” tanya Parjo merasa agak aneh.

“Boker kali dia, udah biarin ajalah” kata Mamat.

“I think Grace is enjoying herself now” kata Arlene pada Samantha.

“Surely, and how about us ?” balas Samantha.

“Tuh…omong Inggris lagi nih, apaan sih? Kok kita gak boleh tau ?” Gozhi penasaran sambil menyenggol lengan Samantha.

“Gak…gak apa-apa, cuma omongin acara buat nanti” jawab gadis bule itu.

“Emangnya acaranya ngapain biasanya Non kalau di villa gini ?” tanya Parjo.

“Ya seneng-seneng lah, berenanglah, barbequeanlah, nonton, ya macem-macem” jawab Arlene.

“Oo…disini ada kolam renangnya juga yah Non, baru tau saya” kata Gozhi.

“Ada itu tuh diluar sana mau liat ? Oh iya omong-omong kolam renang, bisa ga Pak bantuin saya sekali lagi ?” jawabnya sambil menoleh ke sebuah pintu diantara dua jendela kaca besar yang tirainya sudah ditutup.

“Boleh Non, bantu apa lagi nih ?” Parjo kelihatannya bersemangat.

“Itu, payung di pinggir kolam kan baru dibetulin, tapi belum dipasang lagi”

“Ooo…bisa-bisa, ayo kita kesana !” pria itu bangkit berdiri.

Ia mencegah ketika Mamat baru mau beranjak dari sofa, rupanya ia juga ingin berduaan dengan salah satu dari keempat gadis cantik ini seperti temannya tadi.

“Udah lu orang tunggu sini aja, gua sendirian aja bisa kok, kan disini ada Non Sam, gak enak dong ditinggal sendiri” katanya.

Mamat pun terpaksa tinggal, hatinya agak dongkol, tapi cuma sebentar karena di ruang itu masih ada si dara Australia, Samantha. Sedangkan Gozhi sejak tadi ia justru berharap bisa lebih dekat dengan gadis bule di sebelahnya itu sehingga dia tidak begitu tertarik ikut membantu memasang payung itu. Parjo mengikuti Arlene keluar dimana terdapat sebuah kolam renang berukuran sedang.

“Ini Pak, tolong bantuin saya angkat ke sana dong !” gadis itu berjongkok hendak mengangkat sebuah payung matahari yang lumayan besar.

Parjo pun membantunya menggotong payung itu ke dekat kursi santai. Dengan hati-hati dia memasukan ujung bawah payung itu ke lubang yang tersedia sementara Arlene menopang benda itu dari ujung yang lain.

“Oke Non, udah beres nih !” katanya sambil membuka payung itu hingga terkembang.

“Phew…makasih ya Pak, kita kalau cewek-cewek sendirian susah loh masangnya” kata gadis itu tersenyum.

“Ini toh kolam renangnya, airnya lumayan bersih yah, tapi udah jam segini sih pasti dingin yah” kata Parjo memandangi kolam itu.

“Dingin-dingin amat sih nggak juga yah, saya sering kok berenang sore atau malem gini, asal jangan terlalu malamlah, takut rematik hehehe” jawabnya.

“Eee…eehh…Non…mau ngapain nih !?” Parjo tercengang melihat gadis itu dengan santai membuka baju di dekatnya.

“Mau berenang lah, biasa kita berenang bugil kok, lebih enak !” jawabnya tanpa malu-malu.

Parjo masih terbengong-bengong menyaksikan tubuh Arlene yang makin polos dengan mata tak berkedip. Sungguh indah tubuh gadis itu, payudaranya tidak terlalu besar namun bentuknya bulat dan padat dengan putingnya yang pink. Kemaluannya ditumbuhi bulu-bulu lebat yang dicukur rapi memanjang ke atas. Setelah melepas sandalnya ia segera melompat ke air.

“Kok bengong gitu Pak, mau ikut berenang gak ?” tanyanya sambil menggosok rambutnya ke belakang.

“Mau-mau-mau…tunggu, tunggu saya ya !” Parjo seperti terhipnotis dan langsung buru-buru melepas seluruh pakaiannya, burungnya yang sudah menegang daritadi seperti keluar dari sangkarnya.

Ia segera lompat ke air dan menghampiri Arlene yang menunggunya di tengah kolam. Tangan kanannya yang kokoh dan bertato di lengan atasnya itu langsung mendekap gadis itu. Ia masih deg-degan dan merasa semua ini mimpi, tangannya gemetaran memegang payudara gadis itu.

“Bapak belum pernah berenang bareng cewek yah ?” tanyanya sambil tertawa.

“Pernah Non, dulu di kampung waktu kecil hehehe…tapi kalau sama cewek seseksi Non ini baru kali ini” jawabnya sambil menatap wajah Arlene yang semakin cantik ketika basah itu.

Tangannya mulai menggerayangi tubuh gadis itu, istri dan anaknya langsung terlupakan saat itu juga. Biasanya di warung remang-remang atau klub-klub dangdut pun tidak lebih dari ngobrol-ngobrol dengan para kupu-kupu malam disana. Namun pria normal mana yang bisa menahan ajakan seorang gadis cantik yang membuka pakaian di hadapannya lalu mengajaknya ikut berenang bugil.

Parjo meremas payudara gadis itu dan memain-mainkan putingnya. Suara desahan pelan terdengar dari bibirnya yang indah itu. Gadis itu melingkarkan tangannya ke leher Parjo dan menciumnya dengan agresif, tanpa ragu ia bermain lidah dengan pria yang seusia ayahnya itu. Keduanya terlibat percumbuan yang panas di tengah air kolam yang merendam sebatas dada atas mereka.

Parjo menggerakan tangannya yang meremas pantat Arlene sehingga tubuh gadis itu setengah terangkat dan payudaranya tepat di depan wajah pria itu. Parjo langsung melumatnya dengan penuh nafsu, Arlene menikmatinya dengan mata terpejam dan mengeluarkan desahan nikmat. Kumis pria itu bergesekan dengan kulit payudara dan putingnya, sehingga menimbulkan sensasi geli yang nikmat.

Selama lima menitan Parjo menjilat, menggigit dan menarik-narik kedua payudara itu dengan mulutnya sambil tangannya menggerayangi tubuh mulus itu. Masih sambil menyusu, Parjo membawa tubuh gadis itu ke pinggir, lalu diangkatnya lagi tubuhnya sehingga terduduk di pinggir kolam. Parjo yang masih di air memposisikan dirinya diantara kedua paha mulus Arlene. Wajahnya semakin mendekat ke pangkal paha gadis itu dan dengus nafasnya mulai terasa.

“Oohh…Pak !” desah Arlene saat lidah pria itu menyapu bibir vaginanya.
Gadis itu tidak mampu menahan kenikmatan yang melandanya, ia mendesah sambil meremas-remas rambut pria yang sedang menjilat dan menyedot vaginanya itu. Butir-butir air nampak membasahi tubuhnya yang menggelinjang dibawah sinar bulan yang, sungguh sebuah pemandangan yang menggairahkan.

‘srek…kresek !’ seekor kucing menyelinap masuk ke kolam melalui pagar yang ditumbuhi tanaman rambat. Binatang itu muncul tidak jauh dari belakang sang gadis yang sedang menggelinjang dan mendesah. Matanya yang kuning menyala di kegelapan, kaki depannya diangkat ragu-ragu hendak melangkah. Sang kucing mengeong pelan dan menggeram, melihat tidak ada reaksi dari kedua orang yg tengah asyik, binatang itu bergerak maju perlahan.

Matanya masih awas mengawasi, gerakannya patah-patah, antara takut dan siaga. Kembali dia mengeong pelan untuk memancing, tetap tak ada reaksi. Tiba-tiba kepala gadis itu menengok 180 derajat ke arah si kucing. Bulu-bulu binatang itu berdiri karena ketakutan. Wajah gadis itu menyeringai padanya itu dan perlahan-lahan mulai menunjukan perubahan mengerikan, tatapan matanya memerah, wajahnya berubah menjadi sepucat mayat dengan kerut-kerut buas.

“Meeeoowww !” kucing itu kabur ketakutan melalui tempat masuknya tadi.

“Apa tuh…apa !?” suara itu memecahkan konsentrasi Parjo yang sedang asyik menjilati vagina Arlene.

“Nggak kok Pak, cuma kucing, udah pergi kok” jawab gadis itu dengan tersenyum manis, “ayo dong, kok berhenti ?” ia kembali turun ke air dan memeluk pria yang usianya dua kali dirinya itu.

“Ehh…iya, iya Non” ditatapnya wajah gadis itu sejenak sebelum melumat bibirnya.

Tangan gadis itu mengelusi dadanya yang bidang dengan lembut, elusannya terus turun hingga akhirnya mencapai selangkangan. Diraihnya penis itu di bawah air sana dan didekatkan pada vaginanya. Tanpa diberi aba-aba Parjo mendorong penis itu sehingga kepalanya melesak ke dalam vagina Arlene.

“Nnnggghh !” lenguhnya ketika penis itu masuk semakin dalam.
Parjo juga ikut melenguh merasakan himpitan dinding vagina gadis itu pada penisnya. Ia mulai menggerakan pinggulnya menusuk-nusuk vagina gadis itu sambil berciuman dengannya. Suara desahan tertahan terdengar dari mulut mereka yang saling menempel. Parjo benar-benar tidak menyangka bisa ada gadis sekaliber Arlene yang mau bercinta dengannya, ia merasa seperti mendapat durian runtuh saja sehingga begitu bersemangat menyetubuhi gadis itu, ia juga sudah tidak peduli kemungkinan dipergoki oleh mereka yang masih berkumpul di ruang tengah

“Aaahh…iyah enak…lebih dalam Pak…aahhh….aahhh !” Arlene mendesah tak karuan dengan tubuh tersentak-sentak menerima sodokan penis pria itu.

Air di sekeliling mereka makin beriak karena goncangan tubuh keduanya. Parjo memegangi kedua paha gadis itu sehingga tubuhnya melayang di dalam air. Dengan posisi demikian ia dapat menekan penis itu sedalam-dalamnya ke vagina gadis itu hingga terasa sesekali kepalanya menyentuh dinding rahimnya. Frekuensi genjotan Parjo semakin cepat sehingga membuat gadis itu semakin hanyut dalam birahi, desahannya semakin menjadi-jadi. Arlene akhirnya tidak sanggup lagi bertahan, ia merasakan sesuatu yang mau meledak dalam tubuhnya, dipeluknya erat-erat pria yang sedang menyetubuhinya itu, kedua pahanya melingkari pinggang pria itu.

“Aakkhhh…!!” Arlene mengerang kuat-kuat dengan badan melengkung sehingga payudaranya menekan dada Parjo.

Parjo merasakan vagina gadis itu berkontraksi makin cepat dan meremas-remas penisnya, ia juga merasa hangat pada penisnya karena cairan orgasme yang keluar ketika klimaks. Wajah Arlene ketika klimaks ditambah vaginanya yang sempit itu menyebabkan Parjo semakin ganas. Ia menyentakan penisnya dengan keras ke dalam vagina gadis itu sambil meremas payudaranya dengan agak keras. Setelah beberapa sodokan kuat ia pun tidak tahan lagi. Lenguhan panjang keluar dari mulut pria yang sedang mencapai orgasme itu, penisnya ia tekan dalam-dalam sambil menyemburkan spermanya. Tubuh mereka akhirnya melemas setelah menegang beberapa saat akibat gelombang orgasme.

“Wuihh…enaknya Non, bener-bener legit memek Non !” kata Parjo lirih di telinga Arlene.

Nafas mereka masih saling memburu, Arlene belum sanggup berbicara menanggapi komentar Parjo karena masih memulihkan tenaganya.

Lima menit kemudian, setelah beristirahat sejenak dengan ciuman-ciuman ringan dan obrolan nakal, Arlene mengajak Parjo ke daerah dangkal. Pria itu dengan girang menggendong tubuhnya di dalam air. Sesampainya di daerah dangkal ia menyuruh pria itu duduk selonjoran bersandar pada dinding kolam, lalu ia naik ke pangkuannya dan mulai menciumi serta menjilati tubuhnya. Parjo benar-benar terbuai dengan jurus mandi kucing Arlene, istrinya pun tidak pernah memanjakannya seperti ini. Ia merem-melek dan mendesah keenakan ketika putingnya dijilati dan dihisap gadis itu, penisnya mulai mengeras lagi di tangan Arlene yang memijatinya perlahan.

“Whuuuii…asoy banget Non…uhh….kok Non mau sih ngelakuin ini ?” tanyanya masih tidak percaya ini bukan mimpi.

“Jangan tanya-tanya, nikmati aja Pak selagi bisa, ingat ini cuma sekali” jawabnya tersenyum nakal lalu menjatuhkan ciumannya ke bibir pria itu.

Sambil berciuman Arlene mengarahkan batang penis itu ke vaginanya lalu perlahan-lahan ia turunkan tubuhnya. Desahan tertahan terdengar di sela-sela percumbuan mereka. Kembali Parjo merasakan kenikmatan liang vagina yang tidak perawan tapi masih sempit itu menjepit penisnya. Gadis itu mulai menaik-turunkan pinggulnya dengan gerakan perlahan, menggesekan dinding vaginanya dengan penis pria itu, dalam posisi duduk itu, air kolam merendam hingga sebatas pinggangnya. Di tengah kenikmatan itu tiba-tiba Parjo menyentakan pinggulnya ke atas sehingga penisnya menusuk vagina gadis itu dengan kencang.

“Aaaah !!” Arlene tersentak, ciumannya terlepas dan badannya menggeliat, “nakal yah, ngagetin aja !” katanya.

“Abis gak tahan sih, Non cantik banget, servisnya asyik lagi hehehe”

Sekali lagi ia menyentakan pinggulnya membuat gadis itu kembali mendesah. Kali ini ia mengikuti irama sentakan lawan mainnya sehingga pergumulan mereka semakin seru.

Gerakan turun-naik Arlene semakin ganas sampai Parjo merasa buah pelirnya agak ngilu karena tumbukan alat kelamin mereka.

“Uuuoohh…oohhh…terushh Non !” erangnya di tengah kenikmatan yang luar biasa.
Tangannya meraih payudara yang bergoyang-goyang mengikuti goyangan badan gadis itu dan meremasnya dengan gemas. Tak lama kemudian ia membenamkan wajahnya ke dada gadis itu. Mulutnya mengenyoti payudara itu seperti bayi besar yang sedang menetek. Arlene yang dilanda birahi itu juga tidak bisa menahan desahannya, kepalanya menggeleng ke kiri dan kanan, kadang mendongak ke langit. Ia menekan kepala Parjo yang sedang mengisapi payudaranya, seakan tidak rela melepaskannya. Ketika dirasanya klimaks sudah dekat, ia semakin gencar memacu tubuhnya menyebabkan bunyi kecipak air semakin ramai.

“Uu….uuuh…udah mau…udahh !!” desah gadis itu sambil terus bergoyang.

“Yah….Non…sama, uuuhh…enak terushhh !” balas Parjo yang juga merasakan hal yang sama.

Akhirnya sebuah erangan panjang menandai orgasmenya gadis itu, tubuhnya menggelinjang hebat, vaginanya kembali mengeluarkan cairan orgasme yang meleleh keluar bercampur dengan air kolam. Setelah mengejang beberapa saat goyangan gadis itu makin melemah dan tubuhnya pun tumbang dalam dekapan Parjo.

Saat itu Parjo masih belum menuntaskan hasratnya, maka ia pun menurunkan tubuh gadis itu sehingga setengah berbaring di kolam. Ia berlutut di antara kedua belah pahanya lalu melanjutkan genjotannya terhadap vaginanya. Arlene hanya menggunakan pantat dan kedua sikunya untuk bertumpu di lantai kolam agar wajahnya tidak masuk di air. Parjo menggenjotnya dengan frekuensi cukup tinggi karena ia pun segera akan mencapai orgasmenya.

Tidak sampai sepuluh menit, pria itu menarik lepas penisnya lalu ia berdiri dan mengangkat tubuh gadis itu melalui lengannya hingga berlutut di lantai kolam. Tangannya yang lain mengocoki penisnya sendiri di depan wajah si gadis.

“Ooohh…Non !” Parjo melenguh keras, spermanya menyembur deras membasahi wajah cantik Arlene.

Arlene membuka mulutnya membiarkan cipratan sperma itu masuk ke mulutnya, dia nampak menikmatinya tanpa merasa jijik. Dilihat dari gayanya, sepertinya seks bukanlah hal yang asing bagi gadis itu.

“Sepong yah Non !” pinta Parjo masih dengan nafas memburu.

Segera gadis itu meraih penis itu dan mengulumnya, di dalam mulut lidahnya bermain dengan liar menyapu-nyapu kepala penisnya yang bersunat sementara jemarinya yang lentik memijati pelirnya. Parjo melenguh puas menuntaskan ejakulasinya di mulut gadis itu.

Penis itu menyusut di dalam mulut Arlene sehingga ia makin leluasa menggerakan lidahnya menjilati dan menghisap benda itu sampai tidak ada lagi sperma yang tersisa. Karena lemas, Parjo menjatuhkan diri bersandar di tembok kolam dengan nafas ngos-ngosan. Arlene naik ke pangkuan pria itu dan menyandarkan punggungnya ke dadanya yang bidang.

“Nikmat banget Non, sepongan Non bikin gak tahan, Bapak jadi kesengsem deh sama Non !” katanya sambil melingkarkan lengannya memeluk tubuh gadis itu.

“Hihi…Bapak juga, kuat banget sampai bikin saya keluar dua kali” jawabnya manja.

“Eh…iya omong-omong yang lain kemana yah ? kok daritadi gak ada yang nyariin kita ?” Parjo baru ingat pada yang lain, ia heran mengapa tidak ada satupun dari mereka yang menyusul, masa mereka tidak mendengar suara-suara di kolam yang hanya dipisah tembok dengan ruang tamu itu.

“Saya rasa teman-teman Bapak juga lagi seperti kita di dalam sana”

Baru saja Arlene selesai menjawab pintu ruang tengah terbuka sehingga menyebabkan mereka menoleh untuk melihat siapa yang datang.

0 comments:

Post a Comment